Bismillah. Mari Menyeduh Manfaat dari Secangkir Kata

Bicara Soal Zodiak. Cocok atau Tidak? [Day 14]

| on
Tuesday, December 04, 2018
Kalau bicara soal zodiak, sepertinya saya akan bicara soal gaya hidupnya anak 90an. Yang seusia saya, paling kan masih inget ya reaksi kita dulu sama yang namanya zodiak itu gimana.

Masa usia senang dengan zodiak, waktu itu saya masih sekolah, SMP lebih tepatnya. Dan kalian tahu sendirilah, masa SMP itu adalah masa di mana galau-galaunya remaja. Ya dibilang masih anak-anak, tapi badan udah gedhe. Kadang emosi berubah-ubah kaya anak-anak. Tantrum juga kadang. Tapi dibilang masih anak-anak juga ngga boleh lah. Secara udah bisa menentukan masa depan seperti apa meskipun belum sepenuhnya sempurna.

Karena masa kegalauan yang ngga pasti itu, hadirnya zodiak dan ramalannya, seperti jadi angin segar dan pemberi harapan. Haha. Pertama kali yang dilihat saat membeli majalah adalah ramalan zodiak. Saat melihat majalah teman, kitanya pinjem sebentar buat lihat bagian zodiak mingguan atau bulannya. Pas dengerin radio, paling seneng kalau penyiarnya membacakan ramalan zodiak untuk seminggu ke depan, pun soal asmaranya. Hahaha.


Zodiak saya Leo. Yang katanya Leo itu suka memimpin, dermawan dan murah hati, penuh gaya, congkak, dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Ah, saya melihat, Leo ini kok suka sekali ya jadi pusat perhatian? Haha. 

Soal pengerjaan tugas harian, Leo ini sukanya kerja diam-diam tapi kelar. Mudah pengerjaannya karena ya si Leo ini suka terus terang sih ada kesulitan apa ajah di kerjaannya. Tapi susahnya, namanya juga Leo, gampang banget marah.

Lalu muncul pertanyaan lain, apakah soal zodiak ini, sesuai sama kepribadian saya? 

Kalau boleh jujur, saya akan jawab ngga semua yang dibilang soal Leo, sesuai sama kepribadian saya. 

Saya memang orangnya pemarah. Malah saat saya remaja nih, marah saya bisa meluap-luap kalau ada sedikit saja yang ngga sesuai sama keinginan. Untungnya, kedua orang tua saya ini sabar dan ngga banyak bicara, bentuk dari menyeimbangkan sifat saya ini. Ah, mungkin bukan hanya orang tua saya, tapi adik saya juga.

Tapi begini, saya tidak sepenuhnya percaya dengan hal-hal seperti ini. Kenapa? Karena saya sangat percaya bahwa sifat seseorang itu juga hasil dari didikan kehidupan yang dia jalani. Kadang ada orang yang bertanya, 'Dulu dia kalem banget lho, kok sekarang ketawanya saja lebar banget?' 

Iya, hasil dari tempaan kehidupan yang dia jalani. Begitupun dengan saya.

Apalagi semakin bertambahnya usia seseorang, maka dia akan semakin matang. Harapannya begitu karena orang juga akan terus belajar bagaimana menghadapi sesuatu, bagaimana menjalankan keputusan yang dia ambil, bagaimana menanggung resiko yang dia pilih.

Demikian.
Be First to Post Comment !
Post a Comment

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^

Custom Post Signature

Custom Post  Signature