Parenting - Lifestyle - Crafting

(DIY Kreasi Kain) Fabric Fluffy Flower Broach

| on
Thursday, May 24, 2012

Sekarang lagi musimnya yang namanya DIY alias Do It Your self. Para ibu-ibu yang suka banget bikin kreasi dari bahan-bahan yang ada disekitar dia.

Saya nech, sekarang juga lagi semangat ’45 ikutin arus DIY. Gara-garanya nech, saya kepengeeen banget punya bros yang seperti dijual di internet-internet gitu, yang modelnya girly banget. Kalau mau beli online, waduh, harganya mahal sekaleeee. Sepertinya nggak cocok dengan bentuknya yang kecil itu dan penggunaannya yang jarang. Kan sayang tuh mau keluar duit banyak *emak perhitungan*
Setelah klik sana-sini di internet buat cari tutorialnya, akhirnya saya menemukan sebuah blog pribadi yang memberi tutorial pembuatan Fabric Fluffy Flower Broach. Tutorialnya, gampang banget dimengerti. Dan, vioooollllaaa... jadilah bros kreasi saya yang pertama.

Hasil karya saya nech. Amburadul, tapi menyenangkan liatnya :)

Belajar tentang Makna Perkawinan dari Pernikahan Cina

| on
Monday, May 21, 2012

Semalam, saya dan suami mendatangi pernikahan teman suami yang keturunan Cina. Acaranya, berdasarkan yang tercantum di undangan mulainya pukul 6 sore. Walhasil, dari pukul setengah 4 sore udah siap-siap. Maklum sodara, saya kan seorang emak satu anak. Selain siapkan kebutuhan saya sendiri, saya juga siapin kebutuhan suami dan baby Puku. Memang seh, baby Puku nggak saya ajak ke resepsinya dan saya titipkan ke ibu saya. Tapi kan tetep, siapin ASI buat baby Puku, meneteki baby Puku sebelum dia tidur, kan juga masih tugas saya. Belum lagi saya itu perempuan, rempong banget bo... Milih baju aja lama, apalagi dandannya.

Eh, udah hampir siap, suami masih ngorok kecapekan gara-gara habis benerin kipas angin yang nggak bisa nyala. Rencana berangkat setengah lima, molor sampai jam lima. Pas mau berangkat, baby Puku bangun tidur dan nangis terus gara-gara tidurnya nggak nyenyak. Hadeh, molor lagi sampai lima seperempat. Setelah situasi aman dan baby Puku udah bisa ditenangin, wush.. berangkat. Karena resepsinya mulai jam 6 dan waktunya dah mepet banget, ngebutlah suami nyetir motornya. Gresik – Surabaya setidaknya sejam kalau ngebut. Tapi kan ntar kepotong berhenti di jalan buat sholat Maghrib, so, harus perkirakan sampainya jam berapa.

Pukul setengah tujuh, sampailah saya dan suami di tempat resepsi yang ternyata adalah sebuah restoran yang diubah menjadi tempat resepsi yang indah dan sangat formal. Berbeda dengan resepsi kebanyakan yang biasanya saya hadiri. Kebanyakan resepsi yang saya hadiri itu standing party, tapi kalau yang ini, setiap undangan mendapat kursi kehormatan sesuai dengan kategori pertemanan *saya sebut gitu aja yah, biar nggak repot neranginnya*. Jadinya, ntar teman semeja saya dan suami adalah teman-teman kantornya suami *dan setelah semua teman kantor datang, saya baru tahu kalau yang seduduk dengan kami adalah para pejabat kantor =_=’

Udah ngebut ala Batman, setelah kami duduk manis, kami baru tahu kalau acara mundur pukul 7 malam dan kami harus mengikuti ceremony acara sampai tuntas. Ohmigosh, pasti lama dwong.. Padahal biasanya resepsi yang saya datangi itu setelah mengucapkan selamat kepada kedua mempelai, makan, pulang. Nggak sampai satu jam terjebak di lokasi. Tetapi, nggak rugi kok dateng ke resepsi yang sekarang. Gimana nggak, tatanan dekorasinya *mulai dari meja, kuade, hiasan ruangan*, penampilan kreasi, susunan acara yang adat Cina sekali bahkan tamu undangan yang sedap dipandang, benar-benar menjadi obat pelupa kami bahwa kami datang terlalu awal.

Tatanan meja dan perangkatnya yang menarik sekali :)

Antara Working Mom dan Full Mom

| on
Monday, May 14, 2012
Tulisan pertama saya untuk blog ini, saya dedikasikan untuk para full mommy dan para mommy yang bekerja paruh waktu.

Awalnya begini, saya adalah seorang new mommy satu baby mungil (saya dan suami memanggilnya ‘Puku’ padahal nama sebenarnya adalah Arya) yang bekerja sebagai guru BK di dua sekolah. Pagi sampai siang sekitar pukul 1, saya kerja di SMP. Dan pukul 1 sampai 6 sore, saya di MTs. Walhasil, semenjak saya masih belum menikah sampai punya baby, kalau sudah siang datang, bawaannya terburu-buru. Mampir ke rumah cuma buat makan siang? Mana sempat. Beli gado-gado deket MTs, itu udah bagus. Apalagi setelah saya menikah dan memiliki baby mungil. Walah, mata kebayang terus pengen cium. Sesempatnya saya mampir bentar ke rumah buat cium gemas pipi si Puku. Dan itu membawa dampak untuk rutinitas saya.

Saya jadi sering telat datang ke MTs. Walah, kepseknya sampai pernah negur. *ampun Pak..*

Tidak cium Puku? Mana bisa, Sodara. Melihat dia tersenyum setelah dicium, melihat senyum puasnya setelah saya teteki, rasanya nggak rela tergantikan dengan pergi tepat waktu ke MTs. Teguran kepsek, kadang-kadang saya abaikan *pegawai tidak baik, jangan ditiru*.


Tetapi bukan ini cerita dari saya sebagai full working mom. Karena si Puku ketika itu masih berumur 2 bulan, banyak yang harus saya biasakan kepada Puku supaya dia disiplin semenjak kecil terutama jadwal tidurnya. Membiasakan rutinitas kepada baby yang masih kecil sekali *sebutan saya untuk bayi yang umurnya kurang dari 5 bulan*, ternyata membutuhkan energi dan ketahanan emosi tingkat dewa. Kalau lengah sedikit, maka rutinitas ini akan hilang dalam waktu sekejap. Dengan bekerjanya saya di dua tempat dari pagi sampai petang, benar-benar membuat saya stres dan capek badan. Akibatnya, pembiasaan rutinitas untuk Puku jadi terganggu.


Custom Post Signature

Custom Post  Signature