Senin, 14 Mei 2012

Antara Working Mom dan Full Mom

Tulisan pertama saya untuk blog ini, saya dedikasikan untuk para full mommy dan para mommy yang bekerja paruh waktu.

Awalnya begini, saya adalah seorang new mommy satu baby mungil (saya dan suami memanggilnya ‘Puku’ padahal nama sebenarnya adalah Arya) yang bekerja sebagai guru BK di dua sekolah. Pagi sampai siang sekitar pukul 1, saya kerja di SMP. Dan pukul 1 sampai 6 sore, saya di MTs. Walhasil, semenjak saya masih belum menikah sampai punya baby, kalau sudah siang datang, bawaannya terburu-buru. Mampir ke rumah cuma buat makan siang? Mana sempat. Beli gado-gado deket MTs, itu udah bagus. Apalagi setelah saya menikah dan memiliki baby mungil. Walah, mata kebayang terus pengen cium. Sesempatnya saya mampir bentar ke rumah buat cium gemas pipi si Puku. Dan itu membawa dampak untuk rutinitas saya.

Saya jadi sering telat datang ke MTs. Walah, kepseknya sampai pernah negur. *ampun Pak..*

Tidak cium Puku? Mana bisa, Sodara. Melihat dia tersenyum setelah dicium, melihat senyum puasnya setelah saya teteki, rasanya nggak rela tergantikan dengan pergi tepat waktu ke MTs. Teguran kepsek, kadang-kadang saya abaikan *pegawai tidak baik, jangan ditiru*.


Tetapi bukan ini cerita dari saya sebagai full working mom. Karena si Puku ketika itu masih berumur 2 bulan, banyak yang harus saya biasakan kepada Puku supaya dia disiplin semenjak kecil terutama jadwal tidurnya. Membiasakan rutinitas kepada baby yang masih kecil sekali *sebutan saya untuk bayi yang umurnya kurang dari 5 bulan*, ternyata membutuhkan energi dan ketahanan emosi tingkat dewa. Kalau lengah sedikit, maka rutinitas ini akan hilang dalam waktu sekejap. Dengan bekerjanya saya di dua tempat dari pagi sampai petang, benar-benar membuat saya stres dan capek badan. Akibatnya, pembiasaan rutinitas untuk Puku jadi terganggu.



Ketika malam sudah tiba dan saya sudah berada di rumah, tugas ngemong Puku beralih dari ibu saya ke saya dan suami. Karena suami pulang kerjanya sering di atas jam 7 malam, mau tidak mau, titah Tuhan untuk ngemong Puku seringnya saya kerjakan sendiri. Memang seh, pada malam hari si Puku tinggal tidurnya aja. Tapi ketika Puku rewel tidurnya di tengah malam atau ketika sakit, mana bisa istirahat? Mau berbagi tugas dengan suami? Banyak nggak suksesnya. Soalnya liat suami tidur nyenyak, nggak tega mau bangunin. Badan masih capek karena digempur tugas kantor seharian, mengurus Puku yang rewel *meskipun nggak tiap hari*, bener-bener harus siapkan energi double. Kalau Puku sudah nyenyak tidurnya, saya tersenyum bahagia kemudian tewas seketika sampai subuh.

Dan ketika masih full working mom, yang membuat tidak rela adalah ketika kehilangan waktu untuk bersama Puku seharian. Mana tahan coba berpaling dari pipi Puku yang gembul? Dan lagi, saya jadi tidak mengikuti perkembangan Puku secara mendetail. Saya berangkat kerja, Puku tidur. Saya pulang kerja, eh, tidur lagi. Lha kapan taunya tuh anak udah bisa ngapain aja? Iri 100% sama ibu saya yang tahu si Puku dah bisa apa saja.

Akhirnya, demi kebaikan bersama, 3 bulan yang lalu saya memutuskan untuk melepas pekerjaan saya di MTs dan hanya fokus pada pekerjaan di SMP. Rutinitas saya pun berganti sekarang. Berangkat pagi, siang saya sudah ada di rumah. Kelebihannya, saya lebih mengikuti perkembangan dia dan memiliki waktu lebih banyak untuk ngemong Puku. Hubungan antara saya dan Puku menjadi lebih dekat dan saya lebih mudah memberikan pelajaran tentang rules dalam keluarga inti saya.

Memang, saya harus rela melepaskan sebagian sumber penghasilan saya. Saya masih tidak bisa sepenuhnya melepas pekerjaan saya dan menjadi full mommy di rumah. Karena saya masih membutuhkan sesuatu untuk mengapresiasikan otak saya pada pekerjaan. Tapi bukankah hidup adalah pilihan? Memilih jalan keluar yang sekiranya baik untuk kita dan untuk orang-orang di sekitar kita. Dan untuk perkembangan psikis Puku serta terbinanya hubungan yang baik antara anak dan orang tua *jiah, istilahnya sedikit keren*, saya rela melepas pekerjaan saya di MTs. Itu adalah pilihan yang akhirnya saya pilih. Dan pilihan serta alasannya, pasti berbeda antara saya dengan kalian semua. Benar tidak?

2 komentar:

  1. makkkkk..mau dong diciummm...MWAH TLEPOKSSSSS >_<

    BalasHapus
    Balasan
    1. hoohoooo, muah, muah, aku cium dirimu Iis..
      haduh, aku kok baru tahu ada komen darimu. kwkwk,

      Hapus

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^