Parenting - Lifestyle - Crafting

Happy Birthday To Me ..!!!

| on
Sunday, July 29, 2012
Wow, wow, wow, mama Arkananta alias saya, hari ini ulang tahun...!!!
Ups, segitunya ini emak senangnya sampai cerita di blog.. hm, bukan begitu kawan. Hanya saja, saya merasa perlu untuk mengatakannya kepada kalian semua karena memang ini adalah kebahagiaan saya sebelum berumur 30 tahun. Hayhay, semakin pelan menjajah umur 30, rasanya deg-degan.


Alat Perang MPASI? Bisa Kok Nggak Beli yang Mahal

| on
Wednesday, July 25, 2012
Apa yang anda semua rasakan ketika baby anda sudah waktunya MPASI? Kalau saya, bingung. Pengetahuan saya tentang MPASI sungguh sungguh sungguh dangkal. Berbeda dengan ketika saya memilih untuk memberikan ASI pada anak saya. Informasi yang saya peroleh banyak sekali karena saya bergabung di suatu grup di facebook yang khusus membahas tentang ASI. Sedangkan untuk MPASI ini, saya nilai 70 untuk persiapan MPASI anak saya. Misal neh, ketika saya butuh alat saring bubur, saya baru beli ketika saya sudah mentok sekali mencari alat pengganti saring bubur *ketika itu saya pakai saringan kelapa*.

Persiapan perang MPASI yang belum komplit ada 2 bagi saya, alat dan pengetahuan. Saya bahas satu-satu ya, buibu. Alat apa saja yang anda butuhkan untuk membuat MPASI si kecil? Kalau saya, jawabannya hanya mangkuk stanlis, 2 panci kecil dan besar untuk membuat nasi tim, kotak es batu untuk membuat bubur nasi ketika Puku usia 6 bulan, wadah-wadah penyimpanan untuk menyimpan frozen baby food, kompor, pemeras jeruk, parutan kelapa untuk memarut bahan makanan, mangkuk bubur bayi dan sendok bayi. Hanya itu lho! Saya tidak memiliki slowcooker, warmer, highchair, sendok rupa-rupa *ada yang pakai tempat juga*, penghancur makanan/bumbu, atau thermos makanan untuk travelling. Bagi saya, barang-barang itu mahal harganya dan fungsinya bisa digantikan dengan benda lain yang sudah ada di rumah.

Hanya ini peralatan perang MPASI say. Kotak blok es & kotak penyimpanan frozen baby food, lupa nggak ikut kejepret :)

8 Tips Bugar ketika Puasa untuk Ibu Hamil dan Menyusui

| on
Sunday, July 22, 2012
Menjalankan ibadah puasa merupakan hal yang penting bagi umat Islam, baik dalam kondisi sehat maupun sakit. Karena puasa adalah kegiatan wajib yang dijalankan umat Islam dan apabila tidak melaksanakannya akan merasakan penyesalan yang sangat karena di dalam pelaksanaan ibadah puasa terdapat banyak hal yang memberikan kita keuntungan.

Karena alasan itulah yang mendorong saya untuk ingin memenuhi sebulan penuh puasa Ramadhan pada tahun ini, meskipun saya masih pada masa menyusui. Memang ada aturan khusus dalam Islam yang memperbolehkan seorang wanita yang sedang hamil atau menyusui untuk tidak melaksanakan puasa Ramadhan demi alasan kesehatan si ibu atau bayinya. Tetapi, karena puasa Ramadhan merupakan kewajiban setahun sekali, maka saya bertekad untuk melaksanakannya sebulan penuh. Bismillahirrahmanirrahim.

http://kuekeringlebaran.com/hikmah-puasa-ramadhan

Dan sungguh, puasa dalam kondisi hamil atau menyusui adalah pengalaman tersendiri bagi saya sebagai ibu baru. Tahun lalu, saya melaksanakan puasa dalam kondisi hamil tua. Dengan kandungan yang semakin berat dan nutrisi yang terbagi dengan si janin juga rutinitas pekerjaan, menjadikan puasa saya tahun lalu sebagai puasa penuh kesabaran. Dan kesabaran itu ternyata harus terpupuk lagi di tahun ini. Saya menyusui bayi yang berusia 8 bulan. Membagi makanan yang saya makan dengan bayi saya melalui ASI, menjaga bayi saya dalam setiap geraknya karena dia adalah bayi yang sangat aktif dan membagi waktu juga dengan bekerja. Makanan yang saya makan ketika sahur, seolah sudah terkuras habis di tengah hari. Badan seolah tinggal menggantungkan saja di gantungan baju.

Kegemukan, Masalah yang Dihadapi Wanita Pasca Kehamilan

| on
Monday, July 16, 2012
Masalah apa yang harus keras kita cari jalan keluarnya, setelah kita melahirkan? Yupz, betul. Berat badan. Hohoho, bukan hanya anda, anda, dan anda saja *sambil nunjuk para pembaca* yang puyeng gimana caranya menurunkan berat badan setelah melahirkan. Saya juga lho *mengaku*.


Berat badan saya, yang awalnya masih di kisaran 50, sekarang sudah di kisaran 60. Naiknya sekitar 10 kg sendiri. Padahal buibu, ketika saya hamil, berat badan saya hanya naik 8 kg saja. Tidak banyak bukan? Senangnya minta ampun setelah tahu kalau berat badan saya turun setelah melahirkan, meskipun nggak kembali ke berat badan sebelum hamil. Tapi, kesenangan saya hanya sekejap *mewek berulang-ulang*. Saking pengennya anak saya saya beri ASI eksklusif, saya jadi kalap makan! Porsi yang awalnya sedikit sekali, melonjak jadi porsi tukang bangunan. Ampun, saya baru sadar setelah bapak saya terheran-heran dengan porsi makan saya. Walhasil, berat badan saya jadi bertambah berkilo-kilo gram banyaknya daripada ketika saya hamil. *haduh, tepok jidat*

Awalnya saya cuek-cuek saja, tapi baru kepikiran dengan badan saya yang tambah melar setelah saya masuk kerja dan banyak teman kerja yang komentar kalau saya tambah ndut. Ohmigosh, segitunya kah berbedaan besar badan saya sebelum dan sesudah melahirkan? Galau? Jelas dong. Malah kegalauan saya sepertinya melebihi kegalauan anak SMP yang diputus pacarnya. Hahaha,

Custom Post Signature

Custom Post  Signature