Senin, 16 Juli 2012

Kegemukan, Masalah yang Dihadapi Wanita Pasca Kehamilan

Masalah apa yang harus keras kita cari jalan keluarnya, setelah kita melahirkan? Yupz, betul. Berat badan. Hohoho, bukan hanya anda, anda, dan anda saja *sambil nunjuk para pembaca* yang puyeng gimana caranya menurunkan berat badan setelah melahirkan. Saya juga lho *mengaku*.


Berat badan saya, yang awalnya masih di kisaran 50, sekarang sudah di kisaran 60. Naiknya sekitar 10 kg sendiri. Padahal buibu, ketika saya hamil, berat badan saya hanya naik 8 kg saja. Tidak banyak bukan? Senangnya minta ampun setelah tahu kalau berat badan saya turun setelah melahirkan, meskipun nggak kembali ke berat badan sebelum hamil. Tapi, kesenangan saya hanya sekejap *mewek berulang-ulang*. Saking pengennya anak saya saya beri ASI eksklusif, saya jadi kalap makan! Porsi yang awalnya sedikit sekali, melonjak jadi porsi tukang bangunan. Ampun, saya baru sadar setelah bapak saya terheran-heran dengan porsi makan saya. Walhasil, berat badan saya jadi bertambah berkilo-kilo gram banyaknya daripada ketika saya hamil. *haduh, tepok jidat*

Awalnya saya cuek-cuek saja, tapi baru kepikiran dengan badan saya yang tambah melar setelah saya masuk kerja dan banyak teman kerja yang komentar kalau saya tambah ndut. Ohmigosh, segitunya kah berbedaan besar badan saya sebelum dan sesudah melahirkan? Galau? Jelas dong. Malah kegalauan saya sepertinya melebihi kegalauan anak SMP yang diputus pacarnya. Hahaha,


Apakah saya berusaha menurunkan berat badan? Jelas sekali! Mulai dari mengurangi porsi makan, mengatur makanan yang masuk ke perut, olah raga bahkan secara instan juga. Tapi sepertinya tetap tidak berpengaruh, timbangan saya tetap menunjukkan angka yang sama. Semakin streslah saya. Bahkan kegalauan saya membuat suami saya ikutan galau gara-gara jengah mendengar saya selalu mengeluh tentang badan saya yang nggak lagi seksi *maaf yah Sayang*.

Tadi kan saya cerita kalau saya berusaha keras menurunkan berat badan. Stts, rahasia yah, menurunkan berat badan saat menyusui, ternyata bisa mengurangi produksi ASI lho. Kok bisa? Untuk saya ternyata terjadi lho buibu. Pertama kali saya ingin diet, saya mengurangi porsi makan. Yang awalnya di piring itu tinggi membumbung, langsung saya tebas banyak. Efeknya langsung terasa. Hasil pompa ASI saya jadi nggak banyak seperti biasanya. Dan botol-botol ASIP di freezer jadi nggak banyak seperti dulu sebelum mengurangi porsi makan. Si Puku juga jadi malas-malasan netek karena ASI yang keluar cuma sedikit. Yang lebih parah, berat badan Puku nggak naik banyak. *tambah galau kan?*

Akhirnya, dengan berat hati dan menahan tangis *berlebihan yee*, saya mantapkan niat saya lagi untuk kembali ke porsi tukang bangunan. Demi ASI yang banyak dan si Puku biar netek dengan nyaman. Lalu saya pilih opsi selanjutnya yaitu olah raga. Pilihan saya adalah senam 2x dalam seminggu. Senamnya gratis, karena yang mengadakan itu salah satu perusahaan di Gresik untuk karyawannya yang punya masalah kesehatan. Kita, para ibu-ibu, ikut-ikutan saja. Lumayan, bebas biaya pendaftaran dan biaya bulanan *emak perhitungan*. Niat tidak akan jalan buibu, kalau kita nggak serius bertindak. Sama dengan nasib program senam saya. Awalnya rajin, berat badan mulai turun. Tapi lama-lama, kok jadi malas ya? Alasannya ada aja untuk nggak ikut senam. Hadeh, apa karena gratis itu ya, jadinya kurang tanggung jawab?

Dan program senam, saya nilai gagal.

Saya menyerah? Tidak. Meskipun saya sudah nggak lagi buat program pengurusan badan karena banyak kendala *alasan hoi*, saya akhirnya mengambil keputusan untuk terus menjaga berat badan saya tetap pada angka yang sekarang. Tidak naik, turun malah syukur. Dan berhasil saudara-saudara..!! *kegirangan sampai terbentur meja*.

Ternyata, betul kata suami saya. Gemuk bahagia. Meskipun gemuk, dinikmati aja, hati pun bahagia karena tidak stres. Saya akhirnya berfikir, saya masih punya tanggung jawab untuk menyusui Puku. Kalau tanggung jawab itu terganggu dalam hal perjalanan prosesnya, otomatis si Puku pun tidak terawat. Stresnya dobel kan jadinya? Sekarang, saya nikmati saja berat badan saya yang sekarang. Tidak bisa kembali seperti dulu? Tidak masalah. Toh ntar kalau si Puku dah agak gedhean bisa diulang program dietnya. Memang harus sabar menunggu beberapa tahun *sambil berusaha berat badan tetap*.

So, jangan gundah gulana dengan berat badan yang naik yah. Semua orang pernah merasakan kok. Tapi yang membedakan antara orang satu dengan yang lain adalah kesiapan mental kita menerima kondisi yang berubah dan tidak sesuai ekspektasi kita :)

4 komentar:

  1. Gue banget tuhh...
    5 kali melahirkan, 5 kali lipat menyisakan kelebihan. Banyak usaha malah cuma kayak yoyo aja. Sekarang berusaha aja spy tidak makin nambah dan mencintai apa yg ada.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahah, ternyata kita sama mbak lovely little garden..
      cuma, sekarang aku masih anak satu, BB dah berasa sekarung beras. sempat usaha diet, eh, malah berkurang produksi ASI. akhirnya, stop dulu usahanya. :)

      Hapus
  2. semoga kenaikan berat badan mba rochma diikuti pula dengan kenaikan cinta sang suami

    BalasHapus
    Balasan
    1. suami sebenarnya tidak mempermasalahkan itu, mas Sugiantoro. hanya saja, namanya wanita, penampilan masih juga menjadi salah satu masalah penting dalam hidup :)

      Hapus

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^