Parenting - Lifestyle - Crafting

Mencoba Mahir Memasak untuk si Kecil

| on
Thursday, August 30, 2012
Memasak? Aduh, memasak adalah hal yang sangat sulit saya lakukan. Kenapa? Saya sangat tidak terampil dengan yang namanya mengolah bumbu dan menunggui masakan hingga matang. Saya gampang lupa menghafal nama-nama bumbu. Pernah saya salah memasukkan antara ketumbar dengan merica ketika memasak sop. Sama-sama bulat, tapi satunya gampang digerus, satunya lagi bulat besar. Saya juga gampang sekali lupa resep masakan. Resep masakan yang mudah saja, saya gampang lupa apalagi yang ribet dengan tambahan santan. Wah, langsung bingung ampun-ampun deh. Dan yang lebih parah lagi, lidah saya ini nggak peka sekali sama masakan saya sendiri. Parah! Kalau disuruh mengincipi masakan orang, saya paling suka. Tapi kalau disuruh mencicipi masakan sendiri, rasanya selalu ada yang kurang. Walhasil, selalu nambah bumbu lagi, lagi, dan rasanya jadi nggak karuan.

[Arya] Ketika Si Kecil Belajar Memegang Makanannya Sendiri

| on
Wednesday, August 29, 2012
Apa yang anda rasakan sebagai ibu ketika tahu anak anda sudah mampu makan sendiri padahal dia masih kecil? Aih, saya senang sekali lho, buibu. Perkenalkan dulu, anak saya namanya Arya. Kami kadang memanggil dia dengan nama ‘Puku’ gara-gara papanya nyeletuk manggil dia seperti itu. umurnya 9 bulan. Sejak dia umur 7 bulan, saya sudah membuatkan dia nasi tim halus. Padahal, menurut aturan MPASI tradisional, nasi tim halus itu diberikan pada saat usia bayi sekitar 9 bulan. Awal si Puku MPASI, saya beri buah. Saya parut sampai lembut. yang paling dia suka aladalah pir dan yang paling dia benci adalah pepaya. Sepertinya karena bau pepaya yang menyengat.

Mungkin karena dia nggak terasa kenyang kalau diberi buah saja, akhirnya pada usia 6 bulan 2 minggu saya nekat memberi dia bubur susu *atas paksaan kakeknya juga seh*. Lahap sekali makannya dan menjadi tidak mudah rewel. Karena saya juga kerja, setelah browsing sana-sini, saya menemukan artikel menarik tentang freezing baby food. Coba dan sukses *bahkan sampai sekarang*. Untuk buah, kalau saya sedang makan buah, si Puku malah mencoba meraih buah yang saya makan. Ya saya berikan aja, tapi saya yang pegangi dan dia menghisap air yang ada di buah itu *caranya saya nggak ngerti, kok bisa ya?*

Tips Ketika Stok ASIP (ASI Perah) Menipis

| on
Tuesday, August 14, 2012


ASI. nggak ada habisnya ngomongin ASI. Tanya mbah Google, sekali klik sudah ada rentetan situs yang berbicara tentang ASI. Saya mau menambah daftar situs yang bisa dikunjungi lewat google, kali aja bisa naruh di nomer 1 daftar pencarian google *mengamini sendiri*. Tapi, saya tidak berbicara masalah teori karena sudah hafal diluar kepala tentunya, buibu sekalian. Saya hanya mau bercerita tentang kegalauan saya ketika stok ASIP (ASI Perah) saya menipis.

Eits, tunggu dulu. Saya cerita dulu kenapa saya lebih suka ASI daripada susu formula. Supaya nggak ada salah sangka untuk ibu-ibu yang memberi babynya formula terhadap cerita saya.

Si Puku lahir dengan cara operasi caesar. Colostrum saya baru keluar 5 jam pasca operasi, itupun dengan dibantu susternya *sakit banget waktu putingku dipencet*. Karena ASI nggak keluar deras dan si Puku tampak ogah-ogahan minum, akhirnya dia diberi formula dengan sendok kecil dan dot sebagai medianya. ASI saya baru keluar deras setelah 2 hari pasca operasi. Karena Puku sudah terbiasa dengan dot, Puku jadi ogah-ogahan netek. Terpaksalah saya memberikan jurus memaksa ke Puku biar dia mau netek dengan semangatnya. Tapi kembali karena terbiasa dengan dot, tetap saja meskipun saya berusaha penuh tenaga mengatur supaya Puku mau netek langsung ke saya, tampaknya usaha saya hanya mendapatkan satu bintang sebagai reward-nya. Puku tetap malas-malasan netek.

Sepertinya Saya Phobia Kucing (Happy Furrday Maru Bunny Town)

| on
Thursday, August 09, 2012
Kalau berbicara tentang binatang, entah kenapa saya tidak terlalu ngeh. Ups, saya jujur aja yah. Sejak kecil memang sepertinya saya membatasi diri ‘bergaul’ dengan binatang. Padahal, usaha orang tua saya untuk mendekatkan saya dengan hewan, nggak kurang-kurang lho. Om saya pernah membawa pulang seekor kucing yang lucu sekali *menurut pandangan awal saya*. Bulunya putih bersih dengan ekor yang mengembang berwarna kuning. Menyeringai lucu sekali. Mempesona kan? Akhirnya kami memelihara dia. Awalnya seh, baik-baik saja sampai bulan kedua. Eh, ulah dia mulai kurang ajar seperti sering pup di kasur, mengambil makanan di meja makan, mencakar-cakar. Sekeluarga mengambil keputusan untuk dikembalikan ke alam saja alias dibuang *maaf ya, Manis*.

Lalu, bapak pernah membuat sebuah kolam kecil di samping rumah. Isinya, lele dumbo!!! Nggak tanggung-tanggung lho, bapak langsung ngisi 5 lele dan berhasil dipelihara sampai besar sekali. Saking besarnya dan nggak ngerti mau dikasih makan apa lagi *lele ternyata makannya banyak sekali, makanya gampang besar*, akhirnya direlakan untuk digoreng. Awalnya saya pikir yang ada di piring adalah daging ayam fillet. Tapi waktu saya makan, dagingnya lembut sekali. Ternyata, ibu bercerita kalau lelenya terpaksa digoreng karena kolamnya sudah nggak cukup ruang buat bergeraknya 5 lele tadi. Selain lele, dikolam tadi dipelihara kura-kura. Sukses juga terpelihara sampai besar sekali. Tapi karena pup-nya besar-besar dan menyebar di dalam kolam sehingga membuat kolamnya tidak jernih lagi, akhirnya itu kura-kura di berikan ke temannya bapak dengan suka rela alias gratis.

Kembali ke kucing, kawan.

Ketika Orang Lain Beranggapan Operasi Caesar itu Menyenangkan

| on
Monday, August 06, 2012
Banyak calon ibu-ibu yang sedang melaksanakan program kehamilan atau sedang melalui masa kehamilan, berharap untuk bisa melahirkan secara normal. Ketika ditanya, jawabannya hampir sama semua yaitu supaya bisa merasakan menjadi ibu sepenuhnya.

Dulu, ketika belum jadi ibu dan belum hamil, saya oke-oke aja dengar pernyataan seperti itu dari teman-teman saya atau mendengarkan artis-artis di tv yang akan melahirkan. Tapi, setelah saya merasakan sakitnya melahirkan melalui operasi caesar, saya jadi berfikir ulang apakah tetap menerima pernyataan tadi ataukah menolak. Hmmm..

Kata ibu saya, rekan kerja dan teman-teman saya, memang melahirkan secara normal adalah hal yang paling mendebarkan dan paling berkesan. Karena ada tahapan yang harus dilalui si ibu yang katanya nggak bisa dilupakan rasanya, seperti proses mulas yang terus bertahap semakin cepat menjelang kelahiran, mengejan dengan nafas teratur, inisiasi menyusui dini, dan lain-lainnya *maaf, saya tidak bisa menjabarkan panjang lebar. Karena saya tidak melahirkan normal*

Mendengar proses-proses itu secara terus-menerus, otak saya otomatis banget tercetak kata 'melahirkan normal' ketika saya hamil. Sehingga saya memutuskan untuk melahirkan normal saja daripada operasi caesar. Secara, biayanya lebih murah juga. Hehehe.. Itu saya sampaikan ke orang-orang *dengan rasa bangga lho* kalau saya ditanya mau melahirkan normal atau operasi caesar.

Custom Post Signature

Custom Post  Signature