Rabu, 29 Agustus 2012

[Arya] Ketika Si Kecil Belajar Memegang Makanannya Sendiri

Apa yang anda rasakan sebagai ibu ketika tahu anak anda sudah mampu makan sendiri padahal dia masih kecil? Aih, saya senang sekali lho, buibu. Perkenalkan dulu, anak saya namanya Arya. Kami kadang memanggil dia dengan nama ‘Puku’ gara-gara papanya nyeletuk manggil dia seperti itu. umurnya 9 bulan. Sejak dia umur 7 bulan, saya sudah membuatkan dia nasi tim halus. Padahal, menurut aturan MPASI tradisional, nasi tim halus itu diberikan pada saat usia bayi sekitar 9 bulan. Awal si Puku MPASI, saya beri buah. Saya parut sampai lembut. yang paling dia suka aladalah pir dan yang paling dia benci adalah pepaya. Sepertinya karena bau pepaya yang menyengat.

Mungkin karena dia nggak terasa kenyang kalau diberi buah saja, akhirnya pada usia 6 bulan 2 minggu saya nekat memberi dia bubur susu *atas paksaan kakeknya juga seh*. Lahap sekali makannya dan menjadi tidak mudah rewel. Karena saya juga kerja, setelah browsing sana-sini, saya menemukan artikel menarik tentang freezing baby food. Coba dan sukses *bahkan sampai sekarang*. Untuk buah, kalau saya sedang makan buah, si Puku malah mencoba meraih buah yang saya makan. Ya saya berikan aja, tapi saya yang pegangi dan dia menghisap air yang ada di buah itu *caranya saya nggak ngerti, kok bisa ya?*

Saya jadi mikir, apa anak ini nggak suka buah parutan ya? Tapi itu hanya pertanyaan berlalu saja. Umur 7 bulan 2 minggu, saya mulai nekat mencobakan bubur saring. Tapi hanya sekali saja. Hehehe, ternyata kemampuan tangan saya tidak mencukupi untuk terus menyaring tiap dia makan. Saya nilai nggak sukses. Dan nekat lagi, saya buatkan nasi tim halus. Dan ternyata dia lahap lagi makannya, Alhamdulillah *pegangin kompor sambil deg-degan*. Untuk buah, saya gantungkan parutan saya. Buah saya potong dadu kecil-kecil untuk cemilan dia di siang hari. Meskipun makannya lama, ternyata Puku doyan dan habis lebih banyak daripada ketika saya parut *untung nggak kesedak*. Sampai muncullah kesenangan baru saya, Puku jadi lebih menikmati makan pepaya dan melon, buah yang ketika diparut si Puku selalu menolak. Aih, sesuatu sekali lho..!!!

Puku ketika makan blewah sambil duduk di atas stroller dan mengamati jalan. :)

Sejak itu, saya tidak pernah rempong lagi untuk masalah  makannya si Puku karena Puku nggak pernah menolak makanan yang disodorkan ke dia. Misal neh, ada seorang teman yang bingung bikin sari kurma *saya lupa namanya apa* buat babynya. Maunya saya bikinin si Puku karena manfaat kurma yang banyak sekali. Ternyata, tanpa saya bentuk cair, kurmanya saya suwir-suwir aja dia dah doyan. Ada juga seorang teman mengajar yang menyarankan saya untuk membeli biskuit bayi yang mudah lumer ketika diberi susu. Melihat harganya yang mahal, saya batalkan niatan untuk membeli biskuit tersebut dan saya ganti dengan biskuit yang sedikit lebih murah *emak perhitungan*. Tidak saya lumerkan di susu, tapi saya potong kecil-kecil dan saya suapkan. Begitu saja.

Dan yang membuat saya tidak kerepotan lagi adalah si Puku mau memegang makanannya sendiri dan berusaha untuk dia makan sendiri sejak dia berusia 7 bulan. Apa saja yang bisa dia genggam, dia genggam. Umur 7 bulan, dia hanya bisa memegang yang ukurannya besar. Contohnya, biskuit yang saya bagi dua bagian, buah yang saya potong panjang-panjang atau roti yang saya belah agak lebar. Meskipun awalnya belepotan dan jatuh kemana-mana, saya biarkan saja. Kalau sudah ukurannya kecil atau masih ada dalam genggaman dia, baru saya suapkan. Di pertengahan usia 8 bulan, dia mulai belajar dengan ukuran makanan yang lebih kecil. Seperti memegang suwiran kurma, potongan biskuit yang ukurannya kecil, buah yang saya potong dadu, memakan nasi-nasi yang menempel di tangannya, memakan suwiran ayam yang ditaruh di tangannya. Bahkan pernah saya menemui kalau Puku mencoba mengambil 1 butir nasi yang terjatuh di lantai!!! *geleng-geleng*.

Puku ketika makan pepaya. coba lihat, serius sekali dia mengambil potongan pepaya yang jatuh :)

Melihat perkembangan dia yang pesat, saya merasa hore sekali. Sampai suami saya mungkin bosan mendengar saya selalu menceritakan tentang kemajuan Puku. Dan memang menyenangkan sekali, buibu. Sekarang, ketika umurnya sudah 9 bulan, dia sudah mulai belajar memasukkan sendok makannya sendiri ke mulut seolah-olah dia makan dengan sendok tanpa disuapi. Ya, meskipun memang belum bisa dan masih harus saya yang membetulkan dan mengisi sendoknya dengan makanan yang potongannya kecil.

Belepotan dimana-mana, karpet busa kotor, baju kotor, wajah Puku belepotan, saya syukuri saja. Karena fase ini melatih Puku untuk mengembangkan motorik halusnya dan melatih kejelian dia memegang sesuatu sesuai dengan aturan. Semoga sampai kelak, Puku bisa belajar mandiri meskipun awalnya masih salah dan kami sebagai orang tua berharap bisa menjadi pembetul kesalahannya.

____

Klik Kompasiana untuk membaca tulisan saya yang lain.

8 komentar:

  1. karna udah bisa maem sendiri, dedenya lebih dipantau mba karna takutnya benda-benda kecil yang dia pegang juga dimakan

    BalasHapus
  2. wah, benar mas. ini tadi dia memasukkan manik-manik kreasi ke mulutnya dan marah waktu saya mau ambil

    BalasHapus
  3. lucu bangeeeet aw aw ngebayangin makannya belepotan ahhahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Linda, lucu banget. apalagi kalau makanannya licin gara-gara ada airnya. hahaha, maunya aku bantu nggak tega, tapi biar deh. biar mandiri

      Hapus
  4. Allowww....salam sayang Puku dr kk kk RaDiAl yaa.. cpt gede byk maem biar salto2 sm bang Alva heee

    BalasHapus
    Balasan
    1. ih, salto ya? kemaren bisa salto..!!! walah, kaget setengah kejedot ini kepalaku mbak. hehehe,
      salam sayang juda buat kakak radial :)

      Hapus
  5. Balasan
    1. memang menyenangkan punya anak. lebih memiliki tanggung jawab :)

      Hapus

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^