Parenting - Lifestyle - Crafting

Teknik Untuk Melatih Kemampuan Bicara Arya

| on
Tuesday, April 30, 2013
credit
Arya sekarang umurnya sudah tujuhbelas bulan dan sudah waktunya untuk menguasai beberapa kata tunggal sebagai bentuk perkembangan kognitifnya. Karena saya enggak tahu jumlah kata yang harusnya udah dikuasai Arya kalau umurnya udah tujuhbelas bulan, akhirnya saya coba search di google. Ketemu di sini. Ternyata seharusnya Arya sudah bisa menghasilkan setidaknya 10 kata.

(Flash Fiction) MFF #10 : Shioban dan Kereta Kuda

| on
Saturday, April 27, 2013

credit
Setelah sampai di rimbunan perdu, Shioban mengeluarkan pedang. Ditebas perdu-perdu yang menghalangi jalannya dan mulai tampak sebuah pohon mapple yang tinggi, dengan batang bagian bawah membelah dua. Kakinya melangkah mendekati pohon itu. Tiba-tiba muncul asap tebal berwarna putih. Muncul  jin dengan badan yang kekar muncul di depannya.

“Apa maksud kedatanganmu, manusia?!” Tanya jin penjaga.

“Aku mau bertemu Bytaru.”

“Setelah bertemu Bytaru, apa yang akan kamu pinta?!” Tanya jin penjaga itu sambil terbang mengitari tubuh Shiobian berulang-ulang. Nyali Shioban sejenak menciut.

“Aku ingin kereta kuda.” Shioban berucap mantap.

Jin penjaga itu mendelik, tepat di depan wajah Shioban. “Manusia tak pantas meminta kereta kuda!!” Ucapnya garang. "Kereta kuda hanya untuk ratu dan penyihir.”

"Memangnya apa yang akan kamu lakukan jika aku menginginkannya?" Kata Shioban sambil mendelik ke arah jin penjaga. Jin penjaga tersinggung dengan ucapan Shioban. Saat jin penjaga hendak mengacungkan tombaknya ke arah Shioban, tiba-tiba muncul asap pekat berwarna ungu kelam bertabur kepingan sinar di antara mereka berdua.

Bytaru!

“Apa yang membuatmu datang kemari, manusia?!” Byratu bertanya dengan nada tinggi.

“Aku ingin sebuah kereta kuda,” Ucap Shioban mantap.

Bytaru tersenyum, lalu berjalan menjauh dari Shioban dengan gerakan gemulai. “Kamu tahu kalau kereta kuda hanya untuk raja dan penyihir, bukan?”

Hanya dengan sebuah lirikan, Bytaru tahu kalau Shioban mengangguk. Kemudian dengan gerakan tiba-tiba, dia meleset terbang ke arah Shioban dan mendorong Shioban ke tanah. Menahan tubuh Shioban dengan tongkat. Dipandangi wajah Shioban, seakan Bytaru tak ingin melepaskan apa yang tergambar di mata Shioban yang mengisahkan tentang sesuatu. Setelah puas menyelami apa yang tersimpan di mata Shioban, Bytaru melepas tekanan pada tongkatnya.

“Kenapa kamu ingin hadiahkan kakak tirimu sebuah kereta kuda?” Tanya Bytaru.

Dipandangi tubuh Bytaru sebelum akhirnya Shioban mengatakan alasan sebenarnya kepadanya. “Aku hanya ingin membalas kebaikan kakak tiriku.”

Bytaru menghentikan siulannya lalu menoleh ke Shioban. “Kebaikan apa yang dipunya kakak tirimu? Dia suka menyiksamu, hai Shioban!”

Shioban tersentak. “Ya, kakakku memang sering berulah. Tapi dia menganggap baik ayahku. Hanya saja, saat ayah hidup, sepertinya dia iri karena ayah terlalu memperhatikanku dan hal itulah yang menjadikan dia suka menyiksaku setelah ayah meninggal.”

Shioban menarik nafas sejenak. “Namun, sekarang setelah ibu tiriku meninggal, dia terlihat sangat sedih. Baginya, tak ada lagi yang menyayangi dia sebesar cinta ibu tiri dan ayahku kepadanya.”

“Dengan kereta kuda yang kupinta, aku akan mengajak kakak tiriku keliling dunia dengan merasakan berbagai macam tempat yang mampu membangkitkan kegairahan hidupnya kembali.” Shioban berucap sambil membayangkan kalau-kalau permintaannya dikabulkan oleh Bytaru.

“Setiap permintaan yang diajukan kepadaku, selalu aku minta gantinya. Aku mau sesuatu yang pantas untuk kamu korbankan untukku, Shioban.” Bytaru berucap sambil mengangkat ujung bibir kanannya.

Shioban terhenyak, tak disangka kalau dia akan diminta sesuatu sebagai pengganti permintaannya. Sedangkan saat ini, dia tidak membawa apapun karena memang dia tidak memiliki apapun.

“Hai manusia, jawab Bytaru!” Bentak jin penjaga

Shioban  berusaha sekuat tenaga menenangkan pikirannya. Setelah dirasa perasaannya mulai tenang, dia mulai berbicara. “Kabulkan dulu permintaanku, maka aku akan memberimu penggantinya.”

Bytaru mengeram, kemudian menghentakkan tongkatnya sekali ke tanah dan melesat cepat ke arah Shioban. Mencekiknya kuat.

“Apa aku tampak membohongimu?” Tanya Shioban kepada Bytaru dengan nafas tersengal-sengal. Bytaru mendengus, kemudian melepaskan jarinya dari leher Shioban yang membuat Shioban terbatuk-batuk.

“Baiklah, aku penuhi permintaanmu,” Ucap Bytaru sambil menghentakkan tongkatnya ke tanah. Setelah hentakan pertama, muncul sebuah kereta kuda yang indah sesuai dengan permintaan Shiobian yang membuat Shioban kagum. “Sekarang, aku tagih janjimu!"

“Ambil rasa takutku!” Teriak Shioban mantap. Bytaru tak banyak bicara, hanya tangannya yang diulurkan Bytaru dan menyuruh Shiobian menggenggamnya. Tak ragu, Shioban langsung menggenggam tangan Bytaru dan memandang wajah Bytaru yang sedang mengucapkan sebuah mantra. Genggaman Bytaru semakin erat, dia mengerang, kepalanya berputar-putar dan matanya melotot. Shioban pun begitu, mengerang dan berteriak kencang sekali. Seolah ada sesuatu yang dia ambil paksa dari dalam tubuhnya.

Beberapa menit berlalu. Bytaru melepas genggamannya dan menghentak tangan Shioban dengan kasar. Shioban terjatuh, terkulai lemas. Dengan sisa tenaganya, dia naik ke atas kereta kuda dan memegang tali kekang yang mengikat dua kuda hitam, bersiap-siap pergi karena merasa urusannya sudah selesai dengan Bytaru.

“Hei manusia!” Teriak Bytaru. “Kenapa kamu berikan rasa takutmu padaku?!”

Shioban tersenyum. “Aku tahu kamu akan mengambil kereta kuda ini setelah aku puas berkeliling dunia dengan kakak tiriku. Saat itulah, aku akan melawanmu dengan pedangku karena aku tak lagi memiliki rasa takut untuk menghadapimu.”

______

Karena merasa kalau eksplorasi tema ini kurang, silahkan baca versi panjangnya disini yah ^_^

Review Buku : Surat Cinta Untuk Kisha

| on
Friday, April 26, 2013
credit
Judul       : Surat Cinta Untuk Kisha
Penulis     : Bintang Berkisah
Penerbit    : DIVA Press
Halaman     : 374 halaman
Terbit      : Januari 2013
ISBN        : 978-602-7640-55-9

Surat Cinta Untuk Kisha adalah serangkaian surat cinta yang dikirim oleh Ramu kepada seorang wanita yang dulu menjadi sahabat masa kecilnya. Surat cinta Ramu terdapat tujuh belas surat, yang mana tiap babnya memiliki cerita-cerita tersendiri yang menjadi topik untuk tiap babnya. Di dalam surat-surat tersebut, Ramu mengungkapkan kenangan-kenangan tentang cinta terpendamnya, kisah perjalanan hidup, serta pemikirannya dalam menghadapi setiap warna yang tertoreh dalam hidupnya.

Ramu memulai ceritanya dengan kenangan masa kecilnya dengan Keisha di sebuah kota pesisir bernama Sammoa. Ramu adalah anak kampung asli, sedangkan Kisha adalah anak dari seorang warga yang baru saja pindah ke Sammoa. Kala itu, usia mereka masih enam tahun.

Mereka pertama kali bertemu saat ibu Ramu mengantar bubur khas Sammoa kepada ibu Kisha yang terlebih dahulu memberi mereka kue. Sejak itu, hubungan mereka menjadi akrab sebagai sahabat. Ramu banyak mengajak Kisha pada tempat-tempat yang indah atau permainan-permainan seru di Sammoa. Sedangkan kepandaian Kisha mengajarkan Ramu untuk selalu berusaha lebih baik lagi di pelajaran di sekolah.

Hubungan yang murni persahabatan ini bukan terus berlanjut jika tidak diganggu dengan kejadian yang menyangkut Romi, teman mereka berdua, yang mengajak Kisha berpacaran. Ramu cemburu saat Romi mempersembahkan layang-layang terkuat di angkasa untuk Kisha. Ramu cemburu saat Romi menuliskan pernyataan cintanya untuk Kisha di layangan. Dan sejak itulah Ramu menyadari bahwa dia mencintai Kisha. Namun memilih untuk tidak menyampaikan perasaanya kepada Kisha demi kelanggengan persahabatan mereka.

Hingga pada akhirnya di surat ke enam, Ramu mengingatkan Kisha tentang perpisahan mereka. Ayah Ramu yang terlilit utang pada renteiner, memaksa keluarganya pindah ke Gulama dan memulai hidup baru di sana. Namun sayangnya, komunikasi antara Ramu dan Kisha tak berlanjut setelah itu. Dan sejak itulah, surat-surat Ramu berkisah tentang dirinya sendiri dan berbagai proses pendewasaan dirinya hingga pada pengambilan keputusan pada perjalanan hidupnya.

Pada surat ketujuh sampai surat ketiga belas, Ramu menceritakan kisahnya sejak pindah di Gulama. Tentang kesulitan-kesulitan adaptasi di kota berunya karena harus menumpang di rumah pamannya, kepandaiannya di sekolah, memiliki cinta lain selain Kisha, pernikahan yang berujung perceraian, hingga pedihnya kehilangan ayah, ibu dan anak satu-satunya.

Dan pada surat keempat belas sampai ketujuh belas, Ramu menceritakan tentang alasan mengapa dia berkirim surat kepada Kisha dengan segera sehingga tidak ada lagi beban dalam hidupnya. Dengan detail Ramu menuturkan kekecewaannya terhadap pemerintah sehingga membuat dia memutuskan untuk bergabung pada gerakan jihad yang memiliki misi pengeboman.

Novel ini, bagi saya adalah kumpulan curahan hati kepada kekasih hati yang mampu dilukiskan oleh Bintang Berkisah dengan indah. Pada beberapa bab awal, Bintang Berkisah mampu membawa saya untuk membayangkan bagaimana suasana Sammoa yang hangat, hubungan persahabatan Ramu dan Kisha yang menyenangkan hingga konflik batin yang dialami oleh Ramu. Bintang Berkisah berhasil melukiskan kejadian-kejadian yang dialami Ramu dengan begitu dramatis karena banyak menggunakan kata-kata romantis yang dimunculkan untuk menunjukkan sisi bahagia dan kesedihan secara bersamaan.

Sedangkan setelah melewati bab pertengahan, Bintang Berkisah mulai menghilangkan kalimat-kalimat romantis karena kisah Ramu tak lagi melulu tentang kenangan masa kecilnya. Dengan bahasa yang lebih padat, Bintang Berkisah sanggup menuturkan kisah-kisah Ramu yang nantinya sanggup merubah prinsip hidupnya layaknya jalur roller coaster. Misalnya adalah saat Ramu mendadak ingin berhenti dari gerakan jihad karena mendengar kisah seorang anak yang kehilangan seorang ayah dalam kejadian pengeboman yang dilakukan Ramu dan kawan-kawan.

Keistimewaan yang lain dari novel ini adalah kepiawaian Bintang Berkisah menyampaikan nasehat-nasehat kehidupan di setiap babnya dengan bahasa yang tidak menggurui. Nasehat-nasehat itu diramu dengan baik dalam kalimat-kalimat pembuka di tiap surat untuk Kisha dan disempurnakan di kalimat-kalimat penutupnya dengan menggunakan kalimat yang lebih singkat.

Tapi, selain keistimewaan, tentu ada kekurangannya. Di pertengahan bab, ada plot yang terkesan lambat sehingga membosankan untuk di baca yaitu saat Ramu bercerita tentang putus cintanya dengan Rossa dan proses move on-nya. Dan kisah dia tergabung di gerakan jihad, terkesan tergesa-gesa untuk diselesaikan. Padahal, kisah inilah yang menjadi inti mengapa dia mengirimi Kisha beberapa surat sebelum dia mati ditembak untuk menjalani hukuman.

Dan, selebihnya, novel ini jempol. Pantas buat kado kepada kekasih lho.

Selamat Hari Buku Sedunia!

| on
Tuesday, April 23, 2013
Buku adalah jendela dunia. Ya, istilah itu sudah sering banget kan ya kita dengar di mana-mana. Dannn... Istilah itu saya perdengarkan lagi tuh di murid-murid saya waktu ngasih bimbingan kelompok di kelas.

Quiz MFF #2 - Mesin Jahit Eyang Canggah

| on
Friday, April 19, 2013



"Mesin jahit ini berharga, Mas." Rani menyentuh mesin jahit tua peninggalan eyang canggah.

"Ya, berharga," Ucap Arif sambil bergerak perlahan ke arah Rani yang asyik mengayuh pijakan mesin jahit sambil mengulir benang yang berputar. Kaki Arif tinggal beberapa langkah saat Rani menoleh dan terkesiap karena Arif sudah memegang pisau lipat dengan erat.

"Mas, kenapa kamu bawa pisau milik bapak?"

Arif tidak menjawab, malah mengarahkan pisau itu ke Rani. Rani berteriak keras, lari, menabrak apapun yang ada di depannya. Badannya basah oleh keringat yang keluar karena ketakutan.

"Mas, jangan!! Maksudmu apa?! Salahku apa?!"

Arif terus mengejar Rani. Tak satu pun jawaban keluar dari bibirnya. Matanya garang, mulai kalap.

Bruk! Rani tersandung mobil remote milik Dio, anaknya. Saat akan bangkit untuk menghindari tangkapan Arif, Rani tak sanggup berdiri. Kakinya keseleo. Nyeri sekali di pergelangan kaki kanannya. Dia limbung.

"Mas, maksudmu apa?! Sadar, Mas!" Rintihan Rani tak digubris sama sekali oleh Arif. Sekarang dia hanya bisa mundur, menggeret badannya.

"Ingat enggak Ran, tentang kesialan keluarga kita akibat ulah eyang canggah yang rela menumbalkan keturunannya yang menjadi anak pertama?" Arif bertanya, masih dengan langkah mendekati Rani yang telah terhenti di belakang pintu. Rani mengerutkan dahi, tapi tak ayal dia juga mengangguk ketika kakaknya bertanya.

"Aku ingin mengakhiri kesengsaraan kita, Ran."

"Kesengsaraan apa, Mas? Kita baik-baik saja. Usaha konveksi ini maju, cukup untuk keluarga kita."

"Iya, cukup! Tapi usaha ini malah merenggut nyawa bapak dan ibu!" Teriak Arif, membuat Rani semakin ketakutan.

"Mas! Bapak dan ibu meninggal bukan karena jadi tumbal! Tapi karena kecelakaan! Beda dengan pakdhe Umar yang tak jelas sakit apa!"

"Ah, sama saja! Nyatanya bapak ibu mati kan?"

"Lalu, mau Mas apa?"

"Aku enggak mau mati, Ran! Aku enggak mau jadi tumbal buat mesin jahit pertama eyang canggah!"

"Nyebut, Mas! Nyebut! Yang bikin kamu mati itu Gusti Allah, bukan mesin jahit!" Rani berteriak. Arif menutup telinganya dengan kedua tangannya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aku maunya kamu yang jadi tumbal, penggantiku!" Arif berteriak. Kali ini sambil mengayunkan pisaunya ke arah Rani.

Cress! Ujung pisau itu menggores lengan Rani. Meskipun berdarah, lengan Rani masih bisa mendorong tangan Arif sehingga pisau pun terpelanting jauh.

"Mas! Sadar Mas! Usaha eyang canggah memang sukses. Dan itu diturunkan ke anak cucunya. Itu usaha beliau sendiri, Mas! Bukan karena mengorbankan kita jadi tumbal! Itu hanya berita miring dari orang yang iri pada beliau!" Rani berteriak, masih berusaha menenangkan kakak satu-satunya.

Namun telinga Arif sudah buntu oleh gelitik setan. Rani yang semakin lemas karena darah yang mengucur deras di lengannya, membuat Arif semakin mudah menjangkaunya. Mencekiknya sekuat tenaga.

Rani terkapar. Arif tertawa.

"Konveksi ini aku saja yang melanjutkan, Ran. Tumbalnya sudah lengkap, lima keturunan." Arif kembali tertawa sambil menggeret jasad Rani ke kebun belakang untuk dikuburkan dekat kolam ikan.

Di balik korden yang memisahkan ruang usaha konveksi dengan ruang tengah, Dio menutup mulutnya rapat-rapat supaya tak ada suara yang keluar dari mulutnya saat menyaksikan ibunya tewas di tangan pamannya. Arif sepertinya salah menghitung. Jika gosip tumbal lima keturunan itu benar, artinya masih ada satu keturunan lagi di bawah dia yang akan menjadikan dia tumbal. 


______

*Eyang canggah adalah salah satu istilah pada level keturunan leluhur dalam bahasa jawa. Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat di : http://orgawam.wordpress.com/2012/11/02/10-level-istilah-silsilah/


QUIZ MONDAY FLASHFICTION #2 - Sekilas Sekitarmu

Yuk Ke Museum Satwa di Batu, Jawa Timur

| on
Tuesday, April 16, 2013
Hai Keke dan Naima, apa kabar? Semoga sehat selalu. Gimana kabar bunda dan ayah? salam dari tante Rochma buat bunda dan ayah yah ^_^

Bunda sering lho, posting di blognya Keke dan Naima tentang acara jalan-jalannya kalian. Kali ini, gantian tante deh yang ajak kalian jalan-jalan. Nama tempatnya, Museum Wisata yang lokasinya di Batu Secret Zoo. Uh? Masa museum seh? Eits, jangan kecewa dulu yah Keke dan Naima. Museumnya kali ini beda.

Yuk, tetep sama tante yah buat nyimak Museum Satwa itu seperti apa. Tapi, lebih dulu tante kenalin tentang Batu Secret Zoo yah.

Batu Secret Zoo adalah tempat wisata dan kebun binatang modern yang terletak di Kota Batu, Jawa Timur. Batu Secret Zoo yang berada di tanah seluas 14 hektar tersebut merupakan bagian dari Jatim Park 2, selain Pohon Inn dan Museum Satwa. Beberapa koleksi hewan dari berbagai habitat yang sebagian besar berasal dari Asia dan Afrika (sumber dari Wikipedia).

credit

Waktu ke sana, tante lagi dapat tugas dari pihak sekolah buat nganterin siswanya tante yang masuk di program inklusi, untuk kegiatan out class. Program inklusi itu apa ya? Gini, sekolah tante tuh menerima sebelas anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama siswa lain yang lebih normal daripada mereka (siswa reguler). Siswa ABK tante ini, memiliki diagnosa autis, down syndrome, kesulitan belajar dan tuna daksa. Nah, salah satu programnya selama satu tahun adalah out class. Dan out class kali ini adalah ke Museum Satwa.


Lobby Museum Satwa. Gambarnya di ambil dari sini yah :)
 
Museum ini menyajikan satwa-satwa yang diawetkan dan fosil-fosil purba yang didatangkan dari berbagai negara diseluruh benua, seperti benua Amerika, Afrika, Asia, Australia, Eropa, Artik, dan Antartika. Sesuai dengan tujuan didirikannya yaitu sebagai Lembaga Konservasi Ex-Situ Satwa Liar, maka seluruh satwa awetan yang ada di Museum Satwa diperoleh tidak dengan sengaja diburu tetapi diawetkan dari satwa yang telah mati. Yuk, tante ajak jalan-jalan buat lihat koleksinya.

 
Kurungan burung yang lebarnya 5 meter. sumber dari sini yah :)

Zona kumbang :)


Ini kalajengking dah pada mati, trus diawetkan :)


Ini yang paling tante sukaaaaa.. Kalau diliat dari dekat, MasyaAllah bagusnya :)

Diorama kehidupan rusa kutub :)
siswa tante yang down syndrome lagi ngerjakan tugas dan dibantu ibunya :)

Nah, disetiap koleksi, pasti ada keterangannya lho. Jadinya pengunjung tahu berbagai hal tentang hewan yang kita liat. Mulai dari asalnya, jumlahnya dan status kepunahan.

Keterangan tentang hewan. Maaf ya nggak jelas, pakai hape motretnya :)

Selain itu Museum Satwa juga menyajikan replika satwa purba seperti Apatosaurus, Tyrannosaurus-Rex, Stegosaurus, Mammoth, dan replika satwa purba lainnya.

Replikanya Mamoth. Sepertinya dari semen. Kalau mau asli, perijinannya pasti sulit.

Replika kepala dinosaurus ukuran kecil :)
 Nah, segitu dulu yah jalan-jalan kita. Kalau Keke dan Naima mau ke sana, hubungi tante deh. tante mau kok dijadikan guide ^_^

1st Giveaway : Jalan-jalan Seru untuk Keke dan Nai

Giveaway Ultah BBI yang Kedua

| on
Monday, April 15, 2013
Sebelumnya, ucapin selamat dulu ah, buat Blogger Buku Indonesia (BBI) yang kedua. Hepi bday, BBI..!!!

Nah, ceritanya, BBI ngadain giveaway buat menyambut ultahnya yang kedua. Nama GA-nya 'Giveaway Hop'. Apaan tuh? Para anggota BBI serentak ngadain giveaway dalam waktu yang bersamaan ^_^


Yuk, ceki-ceki di blog 'My Little World' yah buat dapetin info lengkapnya.


Surprise..!!!

| on
Saturday, April 13, 2013
Kemarin adalah hari yang.... menyenangkan!!! Gimana enggak, saya dapat kiriman dadakan alias dapat surprise..!!

Pulang ngajar, eh, ada titipan dari mas-mas JNE yang kurus tinggi. Bukan dari mas-mas itu kirimannya, tapi dari sahabat paling nature dan paling oke sip, HM Zwan. Iih.. waktu dia publish tulisan yang juga ngabari kalau mau kirim surprise buat seorang sahabat, enggak nyangka kalau itu saya. *menangis senang di pojokan kamar*

Isinya?

(Flash Fiction) MFF #9 : Koleksi

| on
Friday, April 12, 2013
credit
"Wow, kamu punya banyak parfum ya. Boleh aku minta satu?"

Sandra hendak meraih sebuah botol kaca dengan tutup berbentuk mawar. Namun tangannya segera ditarik saat Erik lebih dulu meraih botol itu.

"Dilihat saja ya." Ucap Erik sambil mengembalikan botol parfum itu ke tempatnya semula, setelah yakin Sandra tak lagi berkeinginan meraih botol itu.

Sebenarnya, Sandra kaget dengan sikap Erik barusan. Tapi lekas dia bersikap biasa karena dia beranggapan bahwa Erik mungkin tak ingin koleksinya pecah. Diayunkan ringan kakinya menuju ujung kasur. Duduk, kemudian menyilangkan kakinya. Sikapnya kali ini lebih santai, sembari menunggu Erik yang masuk di sebuah ruang yang letaknya sedang dia punggungi sekarang.

"Tapi, kenapa semua parfummu buat cewek ya? Kesannya jadi kamu itu suka barang-barang perempuan deh."

"Ohya, Aku pernah cerita kan, kalau aku punya beberapa parfum yang biasa aku pakai? Ini, aku bawa sekarang." Sandra terus berbicara tanpa henti, menunjukkan dia wanita yang cerewet. Dikeluarkan beberapa botol parfum dari tasnya, lalu dia gelar di atas kasur.

"Erik, nih parfumku." Sandra menoleh saat mendengar suara langkah Erik. Tapi sedetik itu juga Sandra melompat, menjauh dari Erik karena ada sebilah pisau dapur di tangan Erik.

"Erik, kenapa bawa pisau segala?" Tanya Sandra ketakutan. Langkahnya semakin lama, semakin mundur dan akhirnya terhenti pada ujung ruangan. Kakinya gemetar, wajahnya pasi, tangannya menggenggam korden dengan erat dan tak ada waktu untuk dirinya berteriak saat Erik menancapkan pisau di dadanya. Tepat di jantungnya.

Erik tersenyum saat melihat Sandra meregang nyawa. Diambilnya parfum-parfum Sandra, lalu diletakkan di meja bersama parfum-parfum miliknya.

"Sudah banyak juga ternyata koleksiku. Bau parfum milik perawan itu ternyata memang lebih segar." Erik mengendus-endus bau parfum milik Sandra.

(Flash Fiction) MFF #9 : Parfum Lintang

| on
Thursday, April 11, 2013
Hm, pasti aku wangi habis pakai ini. Kenapa Lintang enggak bilang-bilang kalau punya parfum yang di tipi itu ya?

Ijah mencium aroma yang muncul dari dalam botol yang dia pegang. Dia kocok-kocok sebentar, lalu mencium aroma yang muncul lagi. Ada bunyi klontang-klontang dari dalam botol. Ijah heran bunyi apa itu, tapi dia tidak peduli. Segera dia menekan tombol yang digunakan untuk mengeluarkan cairan dari dalam botol dan mengarahkannya ke sekitar leher dan dadanya.

"Uwaaa!!!!" Ijah berteriak keras sekali. Tangannya menggosok-gosok leher dan dadanya yang penuh dengan warna merah menyala.

"Lintang!!!" Kali ini Ijah berteriak lebih keras sambil jalan dengan tergopoh-gopoh menuju belakang rumah. Disana terlihat Lintang yang sedang asyik berdendang mengikuti alunan lagu yang keluar dari earphone.

"Lintang!" Panggil Ijah sambil menepuk punggung Lintang.

"Ada apa seh?"

"Ini lho! Liat! Merah gini."

Lintang melihat leher neneknya. Sebenarnya dia ingin tertawa, tapi dia tahan. Takut kualat.

"Lha kok tanya Lintang seh, Nek?"

"Ya jelas aku tanya kamu. Soalnya nenek habis pakai parfum punyamu."

"Parfum?"

"Iya, yang ada di dalam kamarmu itu lho."

Lintang mengernyitkan dahinya. Seingat dia, dia bukan termasuk orang yang suka memakai parfum.

"Parfum mana sih, Nek?" Tanya Lintang sambil mengajak neneknya ke kamarnya. Sampai di kamar Lintang, neneknya menunjuk sebuah botol yang tergeletak di atas kasur.

"Iki lho, Le."

Kali ini Lintang tak mampu lagi menahan tawanya. Tawanya bahkan lebih keras daripada teriak neneknya tadi.

"Nenek Ijah sayang, ini bukan parfum."

"Lha? Kalau bukan parfum terus opo?"

"Ini pilox, Nek."

"Opo? Pilox? Opo iku?"

"Tuh, yang aku pakai buat gambar di dinding.” Ucap Lintang sambil menunjuk gambar-gambar mural di dinding kamarnya.

“Lha kata Dino, itu parfum.” Ijah mencoba berkelit dengan menyebut nama kakaknya Lintang.

“Nenekku Sayang, makanya tanya dulu. Jangan asal pakai dong.” Ucap Lintang sembari meninggalkan neneknya untuk mengambil kain lap.

(Flash Fiction) Masa Lalu

| on
Wednesday, April 10, 2013
Tak perlu waktu lama, Rino akhirnya sampai di rumah bergaya Jawa kuno yang cukup besar. Halamannya luas dengan beberapa pohon beringin. Tampaknya rumah ini adalah rumah turun-temurun.

Tok. Tok! Rino mengetuk pintu.

Tak lama pintu dibuka. Rino terkejut melihat sosok yang berada dihadapannya. 


Meskipun yang berada di depannya adalah si pemilik rumah, Kisha, namun Rino tetap tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Jantungnya terlalu berdetak kencang karena ada tujuan yang tak biasa kali ini.

"Rino? Bukannya Chintya tidak ada jadwal latihan piano hari ini?"

Rino terdiam sekitar beberapa detik, sebelum akhirnya Kisha mempersilahkannya masuk. Rino duduk di bagian sofa yang biasa dia duduki setiap Rabu dan Jumat untuk menunggu Chintya keluar dari kamarnya.

"Ng, anu Kisha, aku.."

Kisha memincingkan matanya, mencoba mendengarkan kalimat yang belum keluar dari mulut Rino.

"Aku.. Aku ingin.."

Rino belum menyelesaikan kalimatnya saat Chintya datang menghampiri dia dan ibunya. Ditangannya ada segelas sirup choco pandan.

"Pak Rino ada apa pagi-pagi sudah di sini? Apa jadwal latihanku dimajukan jadi hari ini?"

Rino tidak menjawab, hanya tatapannya berganti arah dari Chintya ke ibunya. Kisha melihat ada gelagat aneh dari gestur Rino saat dia melihat Chintya tiba-tiba menghampiri mereka. Tidak seperti Rino yang biasanya lebih santai saat menghadapi seseorang.

"Chintya, masuk kamar dulu. Ibu mau bicara sama pak Rino."

Sebenarnya Chintya ingin ikut mendengarkan perbincangan ibunya dengan guru pianonya itu. Tapi melihat tatapan ibunya yang tajam, dia memilih meninggalkan mereka.

Setelah yakin Chintya tidak ada, Kisha melanjutkan perbincangannya yang terpotong tadi. "Ada apa? Sepertinya ada yang mau kamu sampaikan."

"Kisha, aku ingin Chintya."

Kisha tersontak. "Tapi kita sudah bicarakan ini bertahun-tahun yang lalu, Rino."

"Tapi aku sangat inginkan dia, Kisha. Sungguh." Kali ini wajah Rino memelas. Wibawanya sebagai pria dia simpan supaya Kisha mau mengabulkan keinginannya.

Wajah Kisha sekarang terlihat marah. "Tidak Rino! Aku tidak sanggup kehilangan Chintya. Tidak!"

"Tapi aku pun juga bagian dari dirinya, Kisha. Sadarilah itu!"

"Iya, aku sadar itu! Tapi aku tidak mau kehilangan anakku satu-satunya!"

Nafas Kisha terburu-buru, berkejaran dengan nada suaranya yang tinggi. "Kita sudah sepakat kalau kamu tidak akan mengambil Chintya dariku, Rino! Kita juga sudah sepakat bahwa itu adalah kesalahan masa lalu yang harus kita lupakan!"

Rino terdiam sejenak, mengambil nafas dalam.

"Tapi dia adalah anakku, Kisha. Anak kita." Ucap Rino dengan nada yang dia rendahkan. Kakinya melangkah mendekati Kisha, memegang wajahnya dengan lembut.

"Kita tak mungkin terus merahasiakan ini, Sayang."

***

Tangan Chintya gemetar hebat, membuat sirup yang ada di dalam gelas tumpah ke lantai.

Dia terduduk lemas di depan kamarnya. Mencoba menerima rahasia baru bahwa bapak kandungnya bukanlah yang sekarang sedang berlayar mengelilingi Eropa. Namun Rino.



***



[Arya] Pertama Kalinya Arya Berenang

| on
Tuesday, April 09, 2013
Postingan ini sebenarnya sudah mau saya buat seminggu yang lalu, saat Arya baru selesai berenang untuk pertama kalinya. Tapi karena banyaknya kegiatan di sekolah karena siswaku pada mau ujian nasional, trus Arya dan saya pilek batuk berjamaah, jadinya mundur deh publishnya.


Girang banget ini anak renang :))

Ceritanya neh, hari Minggu yang lalu, Arya berenang buat pertama kalinya! Aih, masih juga 16 bulan masa dah diajak berenang seh? Ih, nggak papa kali yee.. Secara, berenang buat bayi tuh banyak manfaatnya. Ini neh manfaatnya (sumber dari sini dan sini) :


Review Buku : Cerita di Balik Noda

| on
Sunday, April 07, 2013

Judul       : Cerita di Balik Noda: 42 Kisah Inspirasi Jiwa
Penulis     : Fira Basuki
Penerbit    : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit: Januari 2013
Jumlah Hal. : xii + 235 Halaman
ISBN        : 978-979-91-0525-7


Buku "Cerita di Balik Noda" adalah salah satu dari sekian buku yang saya nanti. Karena di berbagai media sosial, promosi buku ini gencar dilakukan. Saya nanti juga karena dari beberapa review teman, buku ini sungguh menginspirasi meskipun katanya penyampaian ceritanya menggunakan bahasa yang sederhana.

Noda yang ditimbulkan dari perilaku anak-anak adalah hal yang wajar di temui oleh para ibu. Noda adalah bukti bahwa si anak mampu belajar tentang hal-hal baru dan belajar untuk mengembangkan pengetahuan yang diperolehnya dengan cara mengaplikasikannnya di kegiatan sehari-hari mereka. Bahkan kadang, beberapa perilaku dari anak-anak kita yang membuat bajunya kotor, menciptakan decak kagum karena ada ketangkasan di dalamnya. Bagi saya pribadi, berani kotor itu baik.

Apa yang saya sampaikan sebagai pembuka, tercantum dalam kisah-kisah para orangtua di dalam buku ini. Terdapat 42 kisah tentang hikmah-hikmah yang diperoleh dari kotornya baju anak-anak mereka. Masing-masing kisah dituturkan dengan bahasa yang sederhana namun mengalir dengan pas saat membacanya. Mungkin karena kisah-kisah ini diceritakan dalam bentuk yang pendek sehingga memunculkan kesan padat, pas dan tidak bertele-tele.

Hanya saja, ada beberapa penulisan yang salah dan terlewatkan pada saat proses editing di penerbit. Yang saya temukan antara lain :

- Pada halaman 3, saat si penulis menuliskan kalimat langsung "Selamat pagi semua!" yang tidak tertulis menjorok ke dalam
- Pada halaman 8, ada yang kurang dalam menuliskan kalimat "Konon dengan mengasuh anak bak anak sendiri". Mungkin seharusnya yang benar adalah, "Konon dengan mengasuh anak orang lain bak anak sendiri."
- Pada halaman 25, terdapat kesulitan penulisan kata "Buaya". Sedangkan seharusnya adalah kata "Buya"
- Pada halaman 45, huruf 'l' pada kata "Lumpur" yang terdapat pada paragraf pertama harusnya tertulis dengan huruf kecil
- Nama Dewi tertulis dengan nama Wulan. Hal ini bagi saya fatal, karena terjadi dari halaman 57-62. Banyak review yang mengatakan bahwa cerita 'Sarung Ayah' ini adalah kisah yang paling menyentuh. Tetapi karena kesalahan yang fatal inilah, membuat cerita ini bagi saya tidak lagi begitu menyentuh.
- Pada halaman 128 terdapat kalimat "Sering juga saat berlarian kesana kemari, dia tertidur di karpet". Mungkin maksud penulis yang benar adalah menuliskan kata setelah, bukan kata saat. Kan tidak mungkin, seseorang melakukan dua kegiatan sekaligus yang sifatnya berlawanan. Lari dan tidur.

Sejauh buku ini selesai saya baca, beberapa hal itulah yang menjadi perhatian saya jika dilihat dari sudut pandang tata cara penulisan.

Dan timbul pertanyaan setelah saya perhatikan cover buku ini. Saya heran pada penulisan nama pengarang di cover buku yang hanya mencantumkan nama FIra Basuki saja. DI buku ini, ada 42 kisah. Fira menuliskan hanya 4 kisah dan 38 kisah lainnya ditulis oleh peserta lomba menulis bertema "Cerita di Balik Noda" yang diadakan oleh Rinso Indonesia melalui facebook. Tetapi, entah kenapa yang di cover buku hanya tercantum nama Fira saja? Kesan yang timbul pertama kali sebelum saya membuka buku ini adalah 42 kisah di buku ini dituliskan oleh Fira seorang. Padahal tidak.

Setahu saya nih, kalau ditulis bersama-sama, maka di cover buku juga dicantumkan nama penulis lainnya. Kalau terlalu banyak, bisa disingkat dengan kata 'dkk'. CMIIW.

Demikian review saya atas buku ini. Sejauh dari beberapa hal yang menjadi perhatian lebih saya atas buku ini, saya mengacungi dua jempol atas kisah-kisah di dalamnya. Benar memang, kisah-kisahnya sungguh menginspirasi, menyentuh dan membuat kita belajar atas banyak hal dalam memperlakukan anak-anak.

Custom Post Signature

Custom Post  Signature