Parenting - Lifestyle - Crafting

(Fiksi Mini) Pensiun

| on
Tuesday, July 30, 2013
"Teh buatanmu selalu nikmat," ucap Yohanes sambil menyesap sedikit teh hangat buatan istrinya.

Endang tersenyum. Saat dirinya hendak mengucapkan sesuatu, Yohanes memotongnya. "Kuajukan surat pengunduran diri esok."

Endang sejenak terkesiap, namun kemudian tersenyum.

"Harusnya kau katakan ini padaku enam tahun silam, Pak, saat pak Yuan menawarimu membantunya di pabriknya."

Yohanes memeluk tubuh istrinya yang mengurus karena diabetes. Ya, pensiun untuk mendampingimu dalam sakitmu.




Menyapih. Semua Atas Nama Kenyamanan

| on
Friday, July 26, 2013

credit
Menyusui adalah momen yang paling tidak bisa digantikan selama menjadi ibu, bagi saya pribadi lho ya. Saya senang menyusui. Saat menyusui Arya, saya merasa kalau Arya memang benar-benar membutuhkan saya sebagai ibunya. Dan saya merasakan bahwa hubungan kami semakin dekat meskipun kadang beberapa menit yang lalu penuh dengan peluh karena berbagai macam emosi yang harus kami keluarkan. Lupakan tentang memiliki tubuh yang indah dan payudara yang kencang. Karena menyusui, saya harus banyak makan. Karena menyusui, diet setelah melahirkan gagal. Karena menyusui, saya rela memiliki ukuran bra yang lebih besar satu tingkat ukurannya dan sering jadi bahan guyonan teman-teman juga tak pernah luput menggunakan bra khusus menyusui.

Tapi, sudah hampir satu minggu ini saya tidak menyusui Arya. Menyapih dia. Hiks, sedih. Sangat malah.

Usia Arya saat ini baru dua puluh satu bulan, kurang tiga bulan lagi sebenarnya untuk sempurnakan program menyusui Arya selama dua tahun. Tapi, lagi-lagi karena alasan 'setelah patah tulang' yang membuat saya harus tega menyapih Arya. Keputusan yang tidak saya rencanakan sebelumnya. Dalam rencana saya sebelum kecelakaan itu terjadi, saya akan mempersiapkan Arya dua minggu sebelum usia dua tahun khusus untuk menyapih dia. Dengan cinta. Weaning with love. Tapi planning itu gagal total.

Pasca operasi, tangan kiri saya harus di pen dan diberi gips untuk mempertahankan bentuk tulang. Saat di rumah sakit, dua hari saya tidak menyusui Arya. Pertama karena tangan saya yang baru operasi, dan kedua karena Arya takut melihat saya diinfus. Saat itu, beberapa orang menyarankan saya untuk sekalian menyapih Arya, tapi saya bilang tidak. Karena saya yakin saya bisa tetap menyusui Arya bagaimanapun kondisinya. Karenanya, saat Arya dibawa ke rumah sakit oleh ibu saya, saya selalu membujuk dia untuk mau menyusu. Dan berhasil.

Dan Arya mengerti sekali kalau saya sedang sakit. Dia pintar, tidak rewel, tidak bergelayutan, tidak terlalu minta digendong. Hanya saja, kebiasaan menyusunya berubah. Kalau sebelum kecelakaan dia suka menyusu dari kedua payudara, sekarang hanya suka dari payudara kanan saja. Kalau menyusu dari payudara kiri, saya harus membujuk dia dulu. Saya paham mengapa Arya tidak suka menyusu dari payudara kiri. Dia harus tengkurap di atas dada saya dulu karena posisi saya menyusui haruslah dengan posisi tidur. Posisi yang tidak nyaman bat dia. Karena alasan inilah yang membuat payudara kanan saya, nipple-nya jadi terluka. Berdarah. Dan saya harus menangis kalau menyusui. Beberapa kali saya mencoba menyusui Arya dari payudara kiri, dengan mempertahankan posisi tangan, dengan posisi Arya tidur di kasur, ternyata malah membuat tangan saya terasa ngilu. Dan lagi-lagi saya meringis kesakitan saat menyusui Arya.

Dengan berat hati saya putuskan untuk menyapihnya.

Mungkin saya terlihat seenaknya sendiri. Tapi ini pun juga demi kenyamanan kami berdua. Dengan vonis dokter bahwa tulang saya tidak bisa kembali pada posisi sempurna seperti sebelum kecelakaan, itu menjadi warning tersendiri bagi saya. Saya hanya ingin cepat sembuh, meskipun perkiraan dokter sekitar enam bulan baru bisa mengangkat beban berat. Asumsi saya, jika saya bersemangat mengikuti anjuran dokter, ada kemungkinan perkiraan enam bulan itu bisa menjadi lebih cepat. Ya, meskipun kemungkinan itu kecil. Karena itulah saya menyapih Arya. Supaya saya pun lebih cepat mengurus Arya kembali.

Menyapih Arya membuat saya sedih. Dua kali saya gagal menyapih. Apalagi jika bukan karena tidak tega dan tidak rela. Saya tidak tega menjauhkan proses menyusui dari Arya secara tiba-tiba. Saya tidak tega melihat Arya merengek-rengek minta menyusu saat dia tidak nyaman dengan sesuatu. Saya tidak rela juga melepas momen indah menyusui Arya. Ah, saya terlihat sangat bimbang dan cengeng saat itu.

Karena saya menyapih Arya mendadak tanpa persiapan apa-apa, ini membuat dia rewel selama tiga hari. Dan tentunya membuat emosi saya seperti diaduk-aduk. Antara sedih, marah, sebal, tidak puas, dan emosi-emosi negatif lainnya. Dan saat inilah, peran Papa dan ibu saya penting bagi kelabilan saya. Mereka berdua membantu saya mengalihkan perhatian Arya saat dia ingin menyusu. *Loph you, Pa, Bu*

Proses menyapih ini melelahkan. Bagi saya, bagi Arya, bagi Papa, bagi ibu saya. Karenanya, kerja sama kami dibutuhkan. Pemberian sugesti terus menerus pada Arya supaya Arya menjadi 'tidak mau' menyusu kami terapkan tanpa henti. Kami selalu mencari cara mengalihkan perhatian Arya dari menyusu. Selama empat hari, saya harus rela tidak tidur bersama Arya supaya sugesti kami berhasil. Bahkan saat saya mulai lelah dan menyerah, saya hampir saja meminta tolong ibu saya untuk membawa Arya ke dukun bayi untuk di'suwuk' supaya Arya permanen lupa untuk menyusu. Alhamdulillah, itu tidak terjadi.

Sampai postingan ini saya buat, kami masih berusaha semampu kami untuk menyapih Arya. Ada hasilnya, Arya mulai lupa menyusu. Hanya saat mau tidur saja dia menempel-nempelkan pipinya di payudara saya. Mungkin sebagai bentuk rasa kangennya dia menyusu ke saya *jadi pengen nangis**ambil roll tisu*.

Bagi ibu-ibu yang sungguh-sungguh menikmati proses menyusui, menyapih menjadi hal yang ingin dihindari. Tetapi, saya dan Papa menyadari satu hal. Menyapih adalah sebuah langkah dari sekian langkah kami untuk membangun kepercayaan diri dan kemandirian bagi Arya. Juga menjaga semangat kami untuk terus mengasuh Arya meskipun salah satu zona nyaman kami harus kami lepas. Demikian.




Berubah Haluan

| on
Wednesday, July 24, 2013
credit
Memiliki pekerjaan sesuai dengan yang kita cita-citakan, adalah hal yang berada pada prioritas nomer satu, terutama saat kita sudah memutuskan untuk mengambil jurusan yang kita idam-idamkan saat kita sekolah. Ya, dan itupun terjadi pada saya juga lho. Siapa sih yang tidak suka hidup dengan pekerjaan yang baik, memiliki prestige, bergaji besar, tampil selalu cantik dan fresh? Ah, tampaknya otak saya saat itu memang sudah dipengaruhi dengan gambaran bahwa pekerjaan yang baik memiliki gambaran seperti itu.

Setelah saya lulus dari SMA dengan jurusan IPS, saya mulai gencar memilih jurusan-jurusan yang kiranya nanti kalau kerja memiliki gambaran seperti itu tadi. Pilihan saya ada dua, jurusan ekonomi atau psikologi. Bapak sebenarnya sudah memilihkan jurusan sosiologi, tapi siapa juga sih yang mau kerja di lapangan dengan penuh debu dan terkena sinar matahari, tidak menetap di kantor, atau bahkan melakukan penelitian-penelitian yang pengerjaaannya selalu outdoor. Hingga pada akhirnya, pilihan saya adalah psikologi. Dan dalam bayangan saya, saya nantinya akan menjadi seorang HRD di sebuah perusahaan atau menjadi psikolog yang mempunyai klinik konsultasi sendiri.

Awal kuliah, saya sangat antusias sekali dengan beberapa mata kuliah yang berhubungan dengan perusahaan atau yang berhubungan dengan klinis. Seiring waktu, nyatanya saya lebih memilih untuk menyukai mata kuliah yang berhubungan dengan perusahaan dan mulai mengabaikan mata kuliah yang berbau klinis. Mata kuliah kesukaan saya itu mulai saya tekuni sekali, seperti psikologi industri, perilaku organisasi, analisis jabatan, dll. Saya ingat, saya sangat rajin sekali kalau ada tugas pada mata kuliah itu.

FYI, psikologi sendiri memiliki empat lingkup antara lain piskologi industri atau perusahaan, piksologi pendidikan, psikologi klinis dan psikologi sosial. Dan dari keempatnya, saya mengabaikan psikologi pendidikan dan psikologi sosial. Saya sama sekali tidak memiliki gambaran kelak akan bekerja di lingkup pendidikan atau bekerja outdoor untuk psikologi sosial.

Beralih sebentar dari kuliah saya ya. Di keluarga besar saya dari garis keturunan ibu, hampir semuanya memiliki pekerjaan menjadi guru atau setidaknya memiliki skill untuk mengajar dan mendidik. Buyut laki-laki dan perempuan saya, memiliki pondok salaf di Malang. Nenek saya mengajar di sebuah TK, kakek dan paklek saya mengajar mengaji kitab-kitab salaf dan ilmu agama, sedangkan ibu saya, bulek yang tinggal di Malang dan bulek yang di Kediri mengajar mengaji al-Qur'an. Dua adik nenek yang juga tinggal di Malang, juga memiliki pondok pesantren dan mengajar mengaji kitab-kitab salaf. Artinya, mendidik sepertinya sudah mendarah daging dalam kehidupan kami. Sehingga tampaknya tidak heran kalau skill mengajar ini menurun pada saya. Saat kuliah, banyak teman yang terkadang meminta waktu khusus pada saya untuk menjelaskan kembali materi kuliah atau sekedar berdiskusi yang ujung-ujungnya pun ya akhirnya saya menjelaskan ulang materi kuliah. Saya sering mendapatkan tugas untuk mempresentasikan tugas kelompok dengan alasan saya menyampaikan materinya enak dan tidak membosankan.

Well, tampaknya dari sinilah akhirnya perjalanan hidup yang tidak sesuai dengan harapan saya pun dimulai. Beberapa kali ibu mengatakan kalau beliau ingin memiliki anak yang nantinya bekerja di lingkup pendidikan atau bahkan menjadi guru. Dengan alasan, akan lebih mudah bagi saya sebagai perempuan untuk membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Namun, juga seringkali saya sampaikan kalau saya memiliki gambaran tersendiri atas cita-cita pekerjaan saya.

Kembali pada bahwa mengajar atau mendidik sudah mendarah daging dikehidupan saya, ternyata memang slogan itu benar adanya. Saat semester lima, saya diharuskan untuk memilih mata kuliah pilihan pada program jurusan psikologi. Dalam hati saya kembali ragu, apa iya saya benar-benar ingin ambil mata kuliah-mata kuliah yang berhubungan dengan psikologi industri? Apa benar, skill saya ada dilingkup psikologi industri? Saat itu saya tatap kembali daftar mata kuliah masing-masing lingkup piskologi, keraguan itu besar sekali. Memang, penjurusan di strata 1 psikologi tidak akan mempengaruhi gelar yang nantinya saya terima, yaitu semua lingkup akan menerima gelar S. Psi. Tetapi jelas ini akan mempengaruhi pemahaman materi saat saya lulus nantinya.

Dan akhirnya, dengan bismillah, saya memilih psikologi pendidikan.

Beberapa teman dekat kaget dengan keputusan saya. Karena mereka tahu betul seberapa kuat keinginan saya pada psikologi industri. Namun, ada lega dalam lubuk hati saya. Terutama saat saya menyampaikan pilihan saya pada orangtua. Ibu bahkan sampai hampir menangis karena saya dianggap masih mau menghiraukan keinginan beliau.

Ya, dan akhirnya beginilah jalan hidup yang saya jalani atas pilihan saya. Seandainya, sejak awal saya memutuskan untuk mengambil psikologi di lingkup pendidikan, mungkin akan lebih mudah jika sedari awal saya mengambil kuliah pendidikan bimbingan dan konseling. Dan jika lulusan psikologi umum seperti saya ingin kerja di sektor pendidikan, maka saya harus kuliah lagi selama satu tahun untuk mengambil program Akta IV. Saya tidak menyesali keputusan saya, dan saya jalani keputusan saya itu dengan hati riang meskipun sedikit ngoyo menjalaninya. Saat di kuliah psikologi semester tujuh, saat waktu tersedot banyak dengan praktek di laboratorium dan laporan-laporannya, sore sampai malam harinya saya menjalani kuliah program Akta IV semester pertama. Saat kuliah psikologi memasuki semester delapan dan jadwal saya masih penuh dengan praktek di laboratorium dan bimbingan skripsi, saya masih menjalani kuliah program Akta IV yang juga penuh dengan praktek dan laporan-laporannya serta tugas akhir untuk mendapatkan sertifikat.

Dan saya bersyukur diberi kesehatan menjalaninya. Dan saya bersyukur saya bisa menyelesaikannya dengan baik dan tepat waktu.

Dan di sinilah sekarang saya menjalani hasil keputusan saya dulu dan hasil kerja keras saya dulu. Menjadi seorang guru bimbingan dan konseling di sebuah SMP Negeri di Gresik. Meskipun masih GTT atau Guru Tidak Tetap, tapi saya senang menjalaninya. Tawa siswa, curhatan siswa, masalah-masalah siswa, tampaknya lebih berkesan bagi saya ketimbang memberikan tes psikologi saat ada karyawan baru masuk, atau mengawasi pekerjaan karyawan agar sesuai dengan job desk masing-masing, atau ikut serta mencari solusi saat perusahaan mengalami masalah.

Saya tidak pernah menyesali keputusan saya. Karena Tuhanlah yang ternyata lebih tahu apa yang terbaik dalam kehidupan saya. Dan dari sinilah saya tahu, bahwa kuasa Tuhan dalam membolak-balikkan hati manusia sangatlah besar.
 
Tulisan ini diikutsertakan dalam momtraveler’s first Giveaway “Blessing in Disguise”


(Flash Fiction) MFF #21 : Cinta Mati

| on
Friday, July 19, 2013
credit
Masih pukul 03.27 saat ponselku berbunyi. Sebuah pesan singkat dari Carla.

Lough tertangkap. 10 km dari rumahnya.

10 km? Seingatku, aku sudah menyuruh timku menyusuri lokasi sampai sejauh itu. Di mana dia sembunyi selama ini?

***

Terulang kembali dalam ingatanku saat melihat jasad dua orang wanita -satu sudah mulai tua, yang satunya lagi berumur kira-kira tiga puluh tahun- dan seorang laki-laki berusia kira-kira akhir tiga puluhan tahun, terbakar di sebuah rumah di tengah kota Westfinn. Ketiga korban ini diikat di tiang ring basket di belakang rumah, kemudian di bakar hidup-hidup. Bukan dengan bensin, namun dengan koktail.

Setelah dua hari berlalu, kecurigaan bahwa anak terakhir dalam keluarga inilah yang bertanggung jawab dalam kasus ini, meskipun kami belum menemukan bukti dan motif yang kuat.

***


Kudapati seorang laki-laki kurus dan tinggi di hadapanku. Tak banyak otot melekat di tulangnya. Wajahnya kalem, tak menunjukkan sedikitpun postur seorang pembunuh.

"Lough, kami menemukan sebuah cerukan di bawah batu besar, 10 km dari rumahmu. Dugaan kami, selama ini kamu sembunyi di sana. Banyak bungkus burger dan snack." Aku membuka pembicaraan setelah semenit yang lalu kuputuskan untuk bertanya langsung pada Lough ketimbang aku harus mendengarkan investigasi Carla di balik kaca.

Kulihat Lough tersenyum tipis tanpa memandang wajahku. "Cerukan itu adalah tempat favoritku, Detektif," dia berhenti sejenak. Kemudian memandang wajahku sambil mengangkat bahunya. "saat aku malas kembali ke rumah sepulang sekolah, dulu."

Kuingat kembali, 500 meter dari cerukan itu memang terdapat sebuah sekolah tingkat menengah.

"Mengapa koktail?"

Kuperhatikan kembali Lough tersenyum kemudian menatap langit-langit dengan tatapan kosong. "Ibuku suka membuat koktail, bahkan hampir setiap hari. Kemudian mengajak teman-temannya berkumpul di rumah."

"Butuh banyak minuman beralkohol untuk sering membuat kolktail, Lough."

"Anda pasti sudah menemukan gudang minuman keras di lantai bawah tanah rumah kami kan, Detektif?" Dia bertanya. Aku diam. Menunggu jawaban yang lebih masuk akal.

"Ibuku seorang penggila koktail. Sejak kematian ayahku." Lough mencoba mengingat-ingat sejak kapan ibunya suka mabuk-mabukan. "Dia bisa berubah menjadi gila hanya dengan segelas koktail, berbeda dengan saat dia bertugas sebagai perawat di rumah sakit."

Lough diam sejenak, namun tangannya mengepal. Urat di keningnya mulai nampak. Matanya mulai mendelik. "Dan saat dia mabuk, dia akan mengambil batang sapu dan memukuliku kencang!"

"Memukulmu?" tanyaku dengan sebuah pertanyaan pancingan.

"Setiap hari, Detektif. Memar pukul hari ini belum sembuh, sudah bertambah lagi dengan memar baru!" Lough berkata dengan sedikit teriak.

"Sejak kapan?"

"Dua hari setelah aku lahir, ayahku meninggal. Kecelakaan kerja." Nada bicara Lough mulai menurun. "nampaknya ibuku tak sanggup dengan hutang judi ayahku. Dan anak terakhir selalu menjadi pelampiasan bukan?"

Kuangkat bahuku sedikit, kemudian kembali menatap Lough. "Dia ibumu, Lough."

Lough tersenyum lebar, namun tatapannya kosong. Seolah menyayangkan sesuatu. "Aku sangat mencintai ibuku, Detektif. Aku butuh cintanya seperti dia menyayangi pasien-pasiennya," ucap Lough. Dia menarik nafas sebentar sebelum melanjutksn ceritanya sambil menutup mata. "pengharapanku padanya sungguh besar, bahkan sampai sebelum dia mati."

Mata Lough tak terbuka saat dia menyampaikan kalimat terakhirnya. "Kematiannya memberiku kelegaan karena cintanya tak dia bagi lagi untuk Sandra dan James. Hanya untukku," ucapnya sambil menyebut nama-nama saudaranya yang dia bakar bersama ibunya.



____


pas 500 kata!! hore!!!

Ajarilah Anak Kita Tata Cara Berkendara

| on
Sunday, July 14, 2013
Baiklah, saatnya saya menulis kembali di blog setelah beberapa hari yang lalu saya berhenti menulis gegara harus operasi pasang pen di siku kiri setelah kecelakaan motor. Kronologi ceritanya, baca di sini ya. 

Singkatnya begini, kalau yang tetiba nyelonong belok tanpa lampu sein itu adalah orang yang usianya sudah di atas tujuh belas tahun, mungkin saya tidak akan segitunya merasa 'mangkel'. Tapi karena yang nyelonong itu adalah remaja yang baru lulus SMP, saya jadi semakin emosi jiwa *guyur kepala pakai es, sabar Jeng*. Dan yang bikin saya semakin emosi jiwa lagi itu adalah, si remaja ini (sebut saja si W), baru dibelikan motor sama ibunya tanggal 1 bulan ini! Dan, dan, motornya model cowok dengan daya 150cc!! Saya langsung tepok jidat bertubi-tubi di kasur rumah sakit *mulai lebay*.

Cuti Ngeblog Karena Patah Tulang

| on
Wednesday, July 10, 2013
Sore menjelang petang, kawan. Saya merindu ngeblog. Dua minggu ini, urusan penerimaan siswa baru dan daftar ulang siswa lama serta tetek bengeknya, membuat saya mengurangi intensitas ngeblog dan blogwalking. Eh, disaat semangat ngeblog lagi, malah ada kendala di fisik.

Kemarin sore, saya kecelakaan motor.  Saat melaju dengan membonceng ibu saya dan Arya, sebuah motor model cowok tiba-tiba belok tanpa menyalakan lampu sein. Rem tangan dan kaki tak kuat menahan laju motor, dan brak! Motor saya menabrak ban belakang motor itu dan saya tergeret motor saya sendiri. Tangan saya langsung lumpuh, ya Allah, tidak bisa digerakkan! Lunglai seketika.

Yang membuat saya bersyukur adalah Arya dan ibu saya tidak mengalami cidera apapun. Alhamdulillah.

Kondisi tangan saya yang patang di bagian atas siku, dokter memutuskan untuk operasi pemasangan pen. Operasinya tadi pagi, alhamdulillah berjalan lancar. Sekarang, otomatis hanya satu tangan saja yang aktif dipakai. 

Pikiran saya sudah macam-macam. Gimana dengan Arya? Arya masih butuh saya, tertama masih netek saya. Gimana dengan kerja saya yang lima hari lagi sudah aktif mengajar? Gimana dengan aktifitas ngeblog dan scrapbooking saya, padahal banyak ide di kepala. Ya Tuhan... Betul kiranya jika sehat itu harus disyukuri.

Sejauh ini, saya nulis di smart phone untuk menyampaikan ide. Dengan mengetik yang amat lama. Meskipun begitu, saya bersyukur dengan satu tangan masih bisab dipakai.

Sementara, saya mau cuti ngeblog dulu beberapa hari. Wah, pastinya nanti bakalan kangen.

Custom Post Signature

Custom Post  Signature