Parenting - Lifestyle - Crafting

Senangnya Ketemu Teman Lama

| on
Saturday, March 30, 2013

Hal yang paling menyenangkan setelah lulus sekolah adalah ketemu teman lama jaman kita sekolah dulu. Iyalah, secara kalau kita udah ketemu, ngobrol ngalur ngidul, seolah waktu itu nggak akan cukup buat hanya bahas apa ajah yang udah terjadi setelah kita lulus. Apalagi ya, kalau rumah teman-teman kita tuh jauh-jauh.


Setelah saya lulus SMA, masih mending masih sering ketemu teman-teman. Soalnya, tiap tahun ada acara halal bihalal dan tiap beberapa tahun sekali ada reuni angkatan dan reuni akbar. Jadinya kita-kita masih semangat '45 buat datang di acara. Beda dengan saat lulus kuliah. Mungkin karena akrabnya sama satu angkatan dan satu fakultas aja kali yah, jadi kalau ada reuni akbar males datangnya. Hihihi..

(Flash Fiction) Prompt Challenge #7 : Nikahkan Aku, Ma, Pa!

| on
Friday, March 29, 2013
credit
Aku harus segera bicara dengan Mama Papa. Harus sekarang! Tidak bisa ditunda lagi!

Kuambil nafas dalam sebelum melangkahkah kakiku ke ruang tengah. Kulihat Mama sedang asyik berbincang dengan adikku, sedangkan Papa menonton acara show kesayangannya.

"Niki, sini Nak. Ngobrol sama Mama yuk." Ajak Mama saat melihatku mendekati mereka. Aku tersenyum, merasa ini adalah awal yang baik untuk menyampaikan maksudku.

"Ng, Pa, Ma, aku mau ngomong sebentar."

Papa menoleh, menatapku. Aku duduk disamping adikku, lalu memandang keluargaku yang tampak sudah siap mendengarkan aku bicara.

"Aku ingin menikah."

Mama kaget, ditunjukkan dari matanya yang melotot. Tapi kulihat papa tenang, meskipun sempat kaget sebentar.

"Mas enggak bercanda? Mas masih kuliah." Adikku tidak percaya dengan keinginanku. Tapi kutatap adikku dengan tatapan mantap, tidak bisa ditawar lagi.

Mama menoleh ke arah papa, meminta bantuan untuk menengahi. Tapi Papa hanya diam.

"Kamu masih kuliah, Nak. Setidaknya selesaikan kuliahmu dulu."

"Aku ingin segera menikah, Ma. Aku sangat ingin segera memiliki gadis pilihanku."

"Siapa gadis itu?"

Aku menyodorkan sebuah foto. Adikku cepat-cepat mengambil foto itu untuk menghilangkan penasarannya. Kemudian dia teriak tidak percaya saat tahu siapa yang ada di foto itu. Mama dan papa cepat-cepat melihat foto yang dilempar adikku.

"Mas ngawur! Itu kan Yuna!"

"Memang."

Mama menutup mulutnya, tak percaya dengan pilihanku.

"Hilangkan halusinasimu!" Papa berteriak sambil beranjak dari duduknya.

"Papa, aku mencintainya! Nikahkan aku dengan dia!"

Kutoleh mama yang matanya sudah berkaca-kaca. Mama hanya menggeleng cepat, kemudian menyusul papa pergi.

"Mas.."

"Aku cinta Yuna, Dik."

"Tapi dia hanya di Final Fantasy, Mas. Cuma di game. Ngaco kamu!" Adikku meninggalkanku. Menginjak foto Yuna yang tergeletak di lantai.


credit

Anak Teman Saya Tertimpa Pagar

| on
Thursday, March 28, 2013
credit

Ini kisah rekan kerja saya, sebut saja si S. Beberapa hari yang lalu dia mengajukan ijin tidak bisa jaga ujian sekolah kelas 9 karena anaknya sakit. Saya pikir, ada apa lagi? Belum satu bulan, anaknya yang pertama masuk rumah sakit karena usus buntu. Kabar yang beredar, anaknya tertimpa pagar. MasyaAllah, itu adalah kabar yang mengejutkan karena yang tertimpa adalah anaknya yang ketiga yang usianya masih 2,5 tahun.

Setelah mengunjungi di rumah sakit, S bercerita ke kami, kronologi kejadiannya. Sore itu, S akan mengantar anak pertama dan keduanya pergi mengaji menggunakan motor. Karena dia tidak memiliki pembantu, akhirnya anaknya yang ketiga pun diajak juga. Saat mengeluarkan motor dari garasi, anaknya yang ketiga ini tiba-tiba keluar dari pagar dan bermain dengan teman-teman sebayanya di depan rumah tetangganya. Tanpa dikira, pagar tetangganya yang sudah rapuh, tiba-tiba jatuh mengenai dia! Wajahnya terbentur paving, kepalanya tertimpa pagar. S langsung berlari menyelamatkan anaknya dan diantar para tetangga ke rumah sakit.

Ya Allah, sungguh cerita yang memilukan. Apalagi saat S bercerita kalau anaknya sempat muntah-muntah dan darah mengucur terus dari kepalanya, tidak berhenti-henti. Sampai-sampai anaknya harus dibius di hari pertama di rumah sakit supaya tidak selalu menangis kesakitan.

Ya Allah, hati ibu mana yang tidak menangis melihat anaknya merasakan musibah seperti itu?

Kami sempat menanyakan, kok pagar tetangga bisa sampai mengenai anaknya. S bercerita kalau pagar tetangganya itu memang sudah rapuh dan hampir roboh. Sudah sering diingatkan oleh tetangga yang lain supaya cepat memperbaiki pagarnya karena lokasi tinggalnya banyak anak kecil, tetapi dia tetap menunda-nunda memperbaiki. Hingga kejadian ini. Akhirnya, malam itu juga langsung diperbaiki pagarnya yang sudah roboh tadi.

Begitulah bertetangga. Sering kita dengar kalau kita harus rukun dengan tetangga kita dengan cara menjaga sikap supaya tidak menyinggung perasaan tetangga. Cara itu bisa kita lakukan dengan banyak cara. Salah satunya adalah memperbaiki properti yang kita miliki yang sekiranya sudah rapuh, yang mana properti itu posisinya bersinggungan dengan aktivitas tetangga kita.

Ya.. Supaya kejadian seperti teman saya ini tidak terjadi pada tetangga kita. Supaya hubungan kita dengan tetangga tetap terjaga dengan baik.

(Flash Fiction) Bisnis Bos

| on
Tuesday, March 26, 2013
credit

"Oke, oke, saya cek nanti."

"Ah, enggak usah terlalu dipikirkan. Asal mulus saja ke depannya, saya oke oke saja kok."

"Baiklah. Saya juga ucapkan terima kasih."

Tut. Kemudian handphone diletakkan di atas meja.

"Sudah ditransfer, Bos."

"Jumlahnya?"

"Sesuai dengan perjanjian, Bos."

"Bagus. Ambil lima persennya buat kamu."

"Terima kasih, Bos."

Keduanya diam. Hanya terdengar suara kriet dari kursi putar yang diduduki si bos.

"Kamu percaya dengan keindahan saling membantu, Man?"

"Percaya, Bos."

"Apalagi aku, Man. Sangat percaya. Bapakku yang mengajarkan sejak kecil tentang membantu orang lain."

Yang dipanggil Man, masih terdiam.

"Bapakku juga yang mengajarkan bagaimana cara-caranya. Dia teliti sekali menjelaskannya. Aku sering tahu, bapakku mampu merinci setiap langkah."

"Ohya, bahkan bapakku ketika membantu orang lain, selalu menuliskan detailnya dengan rinci di agendanya. Jumlahnya pun dia rinci."

"Wow, Bos sampai tahu sejelas itu?"

"Bapakku yang memberitahu. Dan mengajariku lho, Man."

"Pantas saja, Bos lihai dan jeli menyelesaikan semua order."

Si bos tertawa. Lalu sunyi kembali.

"Tapi bapakku tidak mujur."

"Ya, mati di penjara."

"Dan Anda yang melanjutkan bisnis bapak Anda."

"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Istilah itu bener lho, Man. Hahaha.."

Si bos kembali diam setelah tertawa. Man juga ikut diam.

"Bapakku yang memulai bisnis pemalsuan ijasah. Aku yang melebarkan sayap bisnisnya ke arah lain."

"Anda enggak takut nantinya seperti bapak Anda? Berakhir di penjara?"

"Ah Man, jalani saja sekarang. Urusan besok masuk penjara atau enggak, bisa diatur dengan uang."

"Aku ini niatnya bantu orang, Man."

Si bos kembali tertawa. Tapi si Man masih diam.

Tiga Wanita

| on
Friday, March 22, 2013
Saya, Ifa dan HM Zwan

Tiga. 

Ya, kami bertiga. Saya, Ifa dan HM Zwan. Kami berkawan dekat setelah kami melaksanakan PKL (Praktek Kerja Lapangan)di sebuah desa terpencil di kota Ponorogo, Jawa Timur. Kami lulus dari fakultas yang sama, Psikologi.

Kami pernah merajut mimpi. Membayangkan mimpi kami masing-masing. Bercerita tentang mimpi kami masing-masing.

Saya, pernah bercita-cita untuk melanjutkan kuliah saya di program Magister Psikologi. Tapi tampaknya masih belum bisa terwujud. Masih tertunda. Saya suka psikologi, pendidikan dan anak-anak. Dan sekarang saya masih terdampar sebagai guru BK. Meskipun mimpi saya untuk terjun pada pengembangan psikologi anak guna memajukan pendidikan Indonesia, masih tertunda, setidaknya saya masih terjun di dunia pendidikan.

Ifa. Dia paling kritis, paling cerdas, paling berwibawa diantara kami. Dan dia yang berhasil melanjutkan S2 di salah satu universitas pendidikan di Bandung. Sebelum menikah dan terbang ke Bandung, dia kerja di sebuah lembaga terapi anak berkebutuhan khusus. Tampaknya, sejak kuliah, kegiatan seperti ini yang paling dia suka. Terapi. Dan saya banyak belajar dari dia.

HM Zwan. Dia yang paling 'gila' dan nature diantara kami. Pemikirannya yang alami, kadang menjadi penengah pemikiran kami. Sekarang, dia di Batam. Ikut suami dan bekerja menjadi guru BK di salah satu sekolah internasional di Batam. Selalu share pengalama-pengalaman mengajarnya yang menarik melalui blognya dan mengambil banyak hikmah dari seringnya dia pindah tempat kerja. Tampaknya, kesukaannya pada anak-anak menurun dari orang tuanya yang memiliki panti asuhan di kota asalnya, Jombang.

Kami, memiliki kesamaan. Sama-sama suka anak-anak. Sama-sama suka dunia pendidikan. Sama-sama suka psikologi. Dan kesamaan kami inilah yang sering menjadi bahan diskusi saat kami masih belum disibukkan dengan aktifitas kami masing-masing seperti saat ini. Dan kesamaan kami inilah yang mengajarkan kami, bahwa kami harus mewujudkan cita-cita kami yang pernah kami perbincangkan dulu.



***



POSTINGAN PENUH RASA SYUKUR INI UNTUK MEMERIAHKAN SYUKURAN RAME RAME MAMA CALVIN, LITTLE DIJA DAN ACACICU

Mengajari Tanggung Jawab Kepada Arya

| on
Tuesday, March 19, 2013
Arya tuh seneng banget sama yang namanya binatang. Tapi sejauh ini, binatang yang diketahui sama Arya masih sebatas yang ada di sekitar rumah ajah. Kaya kucing, ayam, burung, ikan sama kerbau. Pernah sih diajak jalan-jalan, trus ada perkumpulan pecinta hewan, dia tau yang namanya musang, burung hantu sama ular. Tapi ya karena cuma diajak sekali, sepertinya udah lupa.

Dan kegiatan yang paling Arya senangi adalah memberi makan hewan-hewan tadi. Dan, kalau udah ngasih makan, nggak mau berhenti dianya. Akhirnya, kitanya yang dirumah kudu sabar bangeeettt ngeladeni pengennya dia yang maunya ngasih makan terus *ikan udah melembung perutnya*.

(Flash Fiction) Prompt Challenge #5 : Sengketa

| on
Friday, March 15, 2013
credit

Roni menghempaskan lembaran itu ke lantai. Marni terdiam melihat Roni yang tampak gelisah.

"Tidak, jangan sekarang. Kasihan Ririn jika dia tahu semua ini." Ucapnya pada diri sendiri. Dia tampak mondar-mandir di depan Marni, adik Ririn. Kegelisahan Roni, juga menjadi kegelisahan Marni.

"Tapi kalau kita enggak bilang mbak Ririn, kalau dia tahu dari bajingan itu langsung, apa mbak Ririn enggak semakin kecewa?" Marni mencoba menyampaikan pendapatnya yang langsung dibalas dengan goyangan telapak tangan Roni. Tanda tidak setuju.

"Biar aku saja nanti yang ngomong ke Ririn pelan-pelan. Tapi tidak hari ini." Roni mencoba menenangkan Marni sebelum beranjak menuju keluar rumah. Saat Roni membuka pintu, bersamaan pula Ririn hendak masuk.

Roni tak sanggup menutupi kekagetannya, apalagi Marni. Cepat-cepat Marni mengambil lembaran yang tadi dilempar begitu saja oleh Roni dan menyembunyikannya di balik punggungnya. Keduanya berharap Ririn tidak mendengar percakapan mereka, tapi tampaknya itu mustahil. Karena raut wajah Ririn menunjukkan bahwa dia butuh jawaban.

Dan akhirnya Marni memberikan lembaran itu ke Ririn dengan tangan gemetar.

***

"Tarjo!" Ririn berteriak saat dia sudah sampai di halaman rumah yang besarnya empat kali rumahnya.

"Tarjo, keluar kamu! Sialan! Berani-beraninya kamu berbuat seperti ini!" Teriakan Ririn menjadi-jadi, membuat napasnya tersengal-sengal. Dibelakangnya ada Marni yang sedang menuntun Roni.

Tak lama, seorang laki-laki pendek berperut tambun keluar dari dalam rumah. Senyumnya mengambang sangat lebar.

"Sialan kamu Tarjo! Aku sudah bilang kalau aku akan melunasi cicilan rumah ibuku minggu depan! Tapi kenapa kamu malah mau mengambilnya sekarang?" Marni masih berbicara dengan nada tinggi.

"Hm, sebentar, Ririn. Kalau dihitung-hitung, hari ini adalah tenggat waktu terakhir pelunasan di bank. Waktu seminggu itu, hanya kelonggaran yang aku berikan untukmu."

Ririn naik pitam. Mencaci maki Tarjo dengan kata-kata yang kasar. Semakin Ririn marah, semakin keras tawa Tarjo.

"Ririn, Ririn. Itu salah ibumu, kenapa mau-maunya menerima usulku supaya aku yang melunasi cicilan rumahnya." Tarjo berkilah sambil menghisap rokok yang sedari tadi tidak juga habis terbakar asap karena tidak dihisap dalam-dalam.

"Lalu, kami bagaimana? Berilah kami kesempatan." Kali ini Ririn melunak, memohon keringanan pada Tarjo akan nasib mereka bertiga.

"Aku sudah beri kesempatan enam tahun lalu saat ibumu yang kaya itu meninggal. Manfaatkan si pincang itu saja!" Tarjo tertawa kencang sambil menunjuk Roni yang masih dipapah Marni.

"Tapi kamu suami ibuku, ayahku!" Ririn berteriak. Hampir saja dia berlari ke arah Tarjo untuk memukulnya, tapi urung karena Tarjo mendekati dia.

"Kalau aku suami ibumu, itu benar. Tapi kalau aku ayahmu, oh, itu salah besar. Sejak kamu lahir, aku tahu kalau kamu adalah anak Roni, si pincang yang pernah ditolong ibumu 22 tahun silam." Tarjo berucap sambil memegang dagu Ririn, lalu menghentakkanya. Meninggalkan mereka.

Ririn terdiam mendengar ucapan Tarjo. Membenarkannya. Dia tahu tentang itu saat ibunya berbicara dengan Roni sebelum meninggal.

Pijat Refleksi Yuk

| on
Thursday, March 14, 2013
credit


Jadi ibu itu kan capek sekali ya.. Setuju kan buibu sekalian? Saya neh ya, meskipun paginya nggak ngasuh si Arya karena saya mengajar, dan si Arya diasuh sama neneknya, dan baru bener-bener intens ngasuh si Arya dari sepulang ngajar sampai mau besoknya sebelum berangkat kerja, tapi rasa capek itu kerasa banget lho.

Apalagi sekarang Arya lagi kelebihan energi yang bisa bikin dia seharian riwa-riwi melulu kaya setrika *kecuali kalau dia lagi tidur*.

Saat Selamat Terlepas

| on
Monday, March 11, 2013


Malam lalu, terasa sebuah sentuhan lembut di kakiku. Membangunkanku. Terasa dingin ketika tersentuh di tepian kulitku, pahamu yang terbungkus gips memanjang sampai tumit. Rintihan teralun. Gesekan kecil antara ujung kukumu yang menghitam karena oli pabrik dan kulitmu yang merantak karena panas, menciptakan garis-garis putih penanda garukan.

Gatal, katamu.

(Flash Fiction) Fenina

| on
Monday, March 11, 2013


Dear Fenina,

“Kurang ajar, dia sudah berani memanggil namaku tanpa embel apa-apa.” Umpatku dalam hati. Tapi tetap saja aku lanjutkan membaca isi surat yang tadi pagi dia selipkan di tanganku saat kami berpapasan.

Sungguh aku sayang padamu.
Tak ada yang bisa aku ucapkan lagi selain ini. Ribuan kali, pasti aku ucap. Meskipun selalu kamu menolakku, tapi tetap, wajah ketusmu itu kurindukan.
Tak ada pinta lain untukmu, selain maukah kamu jadi kekasihku?

Kuakhiri membaca surat itu. Kulempar begitu saja di atas meja kerjaku. Itu sudah surat kedelapan yang aku terima darinya selama aku mengenalnya 4 tahun ini. Tapi tetap, tak mungkin aku terima cintanya. Cinta yang salah.

Aku 40 tahun, dia 27 tahun. Aku ibu tirinya, dia anak tiriku. Aku Fenina, dia Della.

____

Tulisan ini diikutkan dalam event #postcard fiction edisi valentine yang diadakan oleh Kampung Fiksi

Hari Bersamamu

| on
Monday, March 11, 2013


Bersamamu, sungguh berbeda.
Menghimpun segala serpihan cita masa depan.
Bersama.
Semoga badan yang semakin menua ini selalu mampu menikahimu dalam waktu yang tak bisa tertafsir ujungnya.

Menemanimu, sungguh berbeda.
Merasakan candamu yang terlempar spontan,
Menerima usilmu dengan mata terbelalak,
Menelan marahmu bersama tangis yang terhempas lepas.
Serasa mewarnai dinding hati dengan gabungan warna yang tersedia di kaleng cat bernama emosi.

Lampu Bohlam #2 - Pohon

| on
Sunday, March 10, 2013
Entah, ini ukiran siapa. Senyum terbentuk di pohon melinjo milik tetangga belakang rumah. 

Ah, pohon saja bisa tersenyum. Apalagi kita yang manusia, yang memiliki banyak otot di wajah.
Mari tersenyum, teman ^_^




Cobalah Berempati Pada Rasa Cepek Seorang Ibu

| on
Saturday, March 09, 2013


credit


Postingan ini sebagai bentuk kekesalan saya terhadap ucapan seorang rekan kerja beberapa hari yang lalu *udah lewat kali*, yang tanpa dia sadari sudah menyinggung saya.

Dimulai dari pertanyaan dia tentang umur dan jenis kelamin anak saya. Kemudian ketika dia tanya anak saya sudah bisa apa, saya jawab dengan semangat kalau sudah bisa lari. Jadinya, saya sebagai ibunya sedikit ngos-ngosan kalau ngejar dia.

Dengan santai dan tertawa mengejek *ups, saya tahu raut wajah mengejek itu seperti apa*, dia bilang, "Halah, orang bukan kamu yang ngasuh."

(Flash Fiction) Prompt Challenge #4 : Bayu si Pembuat Ulah

| on
Thursday, March 07, 2013


credit


Memiliki saudara adalah hal yang paling menyenangkan. Mungkin aku pun seperti itu andaikan saudaraku itu bukan Bayu. Dia semenjak kecil selalu saja berbuat yang diluar akal sehat. Bukan, bukan hal mistis maksudku dari 'diluar akal sehat'. Tapi bagiku, itu tidak wajar jika dilakukan oleh anak seumuran dia.

Pernah, pada saat dia kelas satu SMP, dalam seminggu dia memecahkan kaca kelas di sekolah dengan paving yang dia congkel sendiri di halaman sekolah. Masalahnya? Sepele. Diejek. Ah, bukankah saling ejek-mengejek itu menyenangkan untuk remaja? Tampaknya ya, Bayu tidak bisa menerima salah satu aktivitas remaja ini.

[Berani Cerita #1] Rumah Tua Di Ujung Gang

| on
Tuesday, March 05, 2013


Sesaat ketika aku akan melangkah keluar dari rumah tua yang sangat menyeramkan ini, aku mendengar suara derik dari pintu yang terbuka. Aku menoleh. Berusaha mengamati dalam kegelapan dengan memincingkan mataku untuk memastikan paklek Man ada di sana.

Tapi tak kulihat ada siapa-siapa di sana.

Dengan ragu, kuputuskan untuk memeriksa saja siapa yang membuka pintu kamar itu, yang lokasinya berdekatan dengan ruang makan. Syukur-syukur kalau pintu tadi terkena angin atau yang menggerakkan pintu itu benar-benar adalah paklek Man. Senter yang kupegang, mulai redup pelan-pelan karena, payahnya, aku lupa mengganti baterainya sebelum melakukan petualangan menyeramkan ini bersama paklek Man.

Custom Post Signature

Custom Post  Signature