Jumat, 15 Maret 2013

(Flash Fiction) Prompt Challenge #5 : Sengketa

credit

Roni menghempaskan lembaran itu ke lantai. Marni terdiam melihat Roni yang tampak gelisah.

"Tidak, jangan sekarang. Kasihan Ririn jika dia tahu semua ini." Ucapnya pada diri sendiri. Dia tampak mondar-mandir di depan Marni, adik Ririn. Kegelisahan Roni, juga menjadi kegelisahan Marni.

"Tapi kalau kita enggak bilang mbak Ririn, kalau dia tahu dari bajingan itu langsung, apa mbak Ririn enggak semakin kecewa?" Marni mencoba menyampaikan pendapatnya yang langsung dibalas dengan goyangan telapak tangan Roni. Tanda tidak setuju.

"Biar aku saja nanti yang ngomong ke Ririn pelan-pelan. Tapi tidak hari ini." Roni mencoba menenangkan Marni sebelum beranjak menuju keluar rumah. Saat Roni membuka pintu, bersamaan pula Ririn hendak masuk.

Roni tak sanggup menutupi kekagetannya, apalagi Marni. Cepat-cepat Marni mengambil lembaran yang tadi dilempar begitu saja oleh Roni dan menyembunyikannya di balik punggungnya. Keduanya berharap Ririn tidak mendengar percakapan mereka, tapi tampaknya itu mustahil. Karena raut wajah Ririn menunjukkan bahwa dia butuh jawaban.

Dan akhirnya Marni memberikan lembaran itu ke Ririn dengan tangan gemetar.

***

"Tarjo!" Ririn berteriak saat dia sudah sampai di halaman rumah yang besarnya empat kali rumahnya.

"Tarjo, keluar kamu! Sialan! Berani-beraninya kamu berbuat seperti ini!" Teriakan Ririn menjadi-jadi, membuat napasnya tersengal-sengal. Dibelakangnya ada Marni yang sedang menuntun Roni.

Tak lama, seorang laki-laki pendek berperut tambun keluar dari dalam rumah. Senyumnya mengambang sangat lebar.

"Sialan kamu Tarjo! Aku sudah bilang kalau aku akan melunasi cicilan rumah ibuku minggu depan! Tapi kenapa kamu malah mau mengambilnya sekarang?" Marni masih berbicara dengan nada tinggi.

"Hm, sebentar, Ririn. Kalau dihitung-hitung, hari ini adalah tenggat waktu terakhir pelunasan di bank. Waktu seminggu itu, hanya kelonggaran yang aku berikan untukmu."

Ririn naik pitam. Mencaci maki Tarjo dengan kata-kata yang kasar. Semakin Ririn marah, semakin keras tawa Tarjo.

"Ririn, Ririn. Itu salah ibumu, kenapa mau-maunya menerima usulku supaya aku yang melunasi cicilan rumahnya." Tarjo berkilah sambil menghisap rokok yang sedari tadi tidak juga habis terbakar asap karena tidak dihisap dalam-dalam.

"Lalu, kami bagaimana? Berilah kami kesempatan." Kali ini Ririn melunak, memohon keringanan pada Tarjo akan nasib mereka bertiga.

"Aku sudah beri kesempatan enam tahun lalu saat ibumu yang kaya itu meninggal. Manfaatkan si pincang itu saja!" Tarjo tertawa kencang sambil menunjuk Roni yang masih dipapah Marni.

"Tapi kamu suami ibuku, ayahku!" Ririn berteriak. Hampir saja dia berlari ke arah Tarjo untuk memukulnya, tapi urung karena Tarjo mendekati dia.

"Kalau aku suami ibumu, itu benar. Tapi kalau aku ayahmu, oh, itu salah besar. Sejak kamu lahir, aku tahu kalau kamu adalah anak Roni, si pincang yang pernah ditolong ibumu 22 tahun silam." Tarjo berucap sambil memegang dagu Ririn, lalu menghentakkanya. Meninggalkan mereka.

Ririn terdiam mendengar ucapan Tarjo. Membenarkannya. Dia tahu tentang itu saat ibunya berbicara dengan Roni sebelum meninggal.

26 komentar:

  1. Ya ampun, anak sekarang ga sopan ya. Kalau Marni adik Ririn, dan Tarjo adalah suami ibu mereka yang sudah dinikahinya sejak sebelum Ririn lahir, tapi kedua kakak beradik itu malah memanggilnya dengan sebutan "bajingan" dan "Tarjo!" (hanya namanya, tanpa embel apa2). hehehe... :p
    eniwe, ceritanya kereen mba. tapi yang masih ga ngerti adalah si Tarjo bilang "ibumu yang kaya...", kalau kaya, kenapa masih ada cicilan rumah? tapi endingnya mengejutkan mba. ^_^

    BalasHapus
  2. Waduh.. kompleks bener ya ini urusan keluarganya? :D

    BalasHapus
  3. @kartika : karena ini adalah FF, jadinya disingkat ajah ceritanya. kalau pun panjang, pasti ada alasannya kenapa kok manggilnya nggak pakai embel-embel.. :))

    @rinibee : ini terlalu kompleks, sepertinya kurang kalau cuma 400 kata, mbak :)

    BalasHapus
  4. Seru, berasa lihat adegan langsung di depan mata :D

    BalasHapus
  5. "Sialan kamu Tarjo! Aku sudah bilang kalau aku akan melunasi cicilan rumah ibuku minggu depan! Tapi kenapa kamu malah mau mengambilnya sekarang?" Marni masih berbicara dengan nada tinggi.

    Marni apa Ririn yang nada tinggi mbak? :-)

    ruwet banget ya masalahnya he2.

    BalasHapus
  6. @mbak nunung. ha??? Typo..!!! langsung edit. makasih *ketcup*

    @vanisa. ngeri juga yah :)

    BalasHapus
  7. Sengketa keluarga nih mbak, ternyata si Roni tuh ayahnya Ririn. Trus Marni adiknya Ririn dg ayah Roni ato Tarjo mbak?

    BalasHapus
  8. @lianny. iyaaa.. betul sekali kalau roni ayahnya ririn. tapi siapa ayah marni, nggak aku bahas disini. ntar kepanjangan *jadi ada ide buat cerbung neh*

    BalasHapus
  9. masalah keluarga yg rumit :(

    BalasHapus
  10. nampak mo jadi cerpen bahkan novel ini :))))

    BalasHapus
  11. @sari : sungguh rumit. nggak cukup dituliskan hanya 400 kata :)

    @mak carra. ayo, ayo, bersiap ke draft cerpen :)))

    BalasHapus
  12. sepertinya memang calon cerbung ini mah Ri, kompleks ya konfliknya hohoho

    BalasHapus
  13. @mbak orin. sepertinya seh begitu :)
    *bikin draft*

    BalasHapus
  14. wekekekekekeeke iyya nih, dicerbungin aja mbak :D *lirik draft sendiri :)))

    BalasHapus
  15. @Na.. siapa mau bantu bikin lanjutannya?????

    BalasHapus
  16. Salut. Asyik sekali baca Prompt#5 SENGKETA diatas itu. Kejutan yang gak terduga. Betapa beratnya beban Ririn, menyimpan sesuatu yang sudah ia tahu sebelum dan ia seolah tidak tahu. (gimana ya bilangnya?). Pokok SENGKETA ini siiiip lah. Itulah gambaran cinta yang dimiliki Roni dan Marni.

    BalasHapus
  17. Hehehehe....salah tangkep ternyata ibunya tuh sudah meninggal ya, bacanya keasyikan jadi kabur deh. Ayah Marni keknya Tarjo ya?

    BalasHapus
  18. Marni kok seperti lebih dewasa ya daripada Ririn... :)

    BalasHapus
  19. @bunda yati. makasih bunda *peluk, peluk*
    ayahnya marni? entah bunda, aku belum meneruskan ceritanya. hehehehe...

    @matris. masa seh? soalnya disini marni sengaja aku buat minim dialog saja, biar nggak dominan perannya. sedangkan si Ririn, aku buat sangat marah :)

    BalasHapus
  20. pak Tarjonya punya dendam kesumat ya mba :D

    BalasHapus
  21. @vee. iyaaaa... bisa nebak gitu.. :))

    BalasHapus
  22. complicated ni kluarga..
    keren mbak..:)

    BalasHapus
  23. Calon cerbung :)
    Btw, Miss, kalau menurut KBBI, yang benar itu 'enggak', bukan 'nggak'. 'Napas', bukan 'nafas'. Dan sebelum penyapaan nama, misalnya "Hm, sebentar Ririn." Di belakang kata 'sebentar' itu diberi koma. Maaf ya, kalau jadi sok tau.. :)
    Soalnya naskahnya bagus, sayang kalau nanti terbentur di penerbit (kalau memang niat diterbitkan) gara-gara penulisannya masih mesti diedit lagi sama editornya :)

    BalasHapus
  24. @Della. wah, aku malah makasih banget lho dah diingetin. soalnya ini memang masih minim banget tentang penggunaan kalimat yang baik :) *peluk-peluk*

    oke, aku edit ya :)

    BalasHapus

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^