Kamis, 07 Maret 2013

(Flash Fiction) Prompt Challenge #4 : Bayu si Pembuat Ulah



credit


Memiliki saudara adalah hal yang paling menyenangkan. Mungkin aku pun seperti itu andaikan saudaraku itu bukan Bayu. Dia semenjak kecil selalu saja berbuat yang diluar akal sehat. Bukan, bukan hal mistis maksudku dari 'diluar akal sehat'. Tapi bagiku, itu tidak wajar jika dilakukan oleh anak seumuran dia.

Pernah, pada saat dia kelas satu SMP, dalam seminggu dia memecahkan kaca kelas di sekolah dengan paving yang dia congkel sendiri di halaman sekolah. Masalahnya? Sepele. Diejek. Ah, bukankah saling ejek-mengejek itu menyenangkan untuk remaja? Tampaknya ya, Bayu tidak bisa menerima salah satu aktivitas remaja ini.


Pernah juga saat kelas satu SMA, Bayu mengejar salah satu teman kelasnya selama hampir dua jam! Bahkan Bayu sampai teriak-teriak marah di ruang guru karena temannya tadi tidak ditemukan. Masalahnya? Hanya karena temannya tadi memaksa Bayu membayar kas yang sudah tiga bulan belum dia bayar.

Kasihan ibu. Berulang-ulang dia datang ke sekolah hanya untuk berdamai dengan keadaan Bayu. Tapi tetap, ibu tidak pernah memukul atau menegur Bayu dengan teguran keras. Aku iri. Iri sekali. Karena umur kami hanya selisih satu tahun, tapi hanya Bayu yang mendapat perhatian melimpah dari ibu. Dan aku jengkel sekali. Karena dengan seenaknya bapak ibu menyekolahkan kami di sekolah yang sama hanya dengan alasan supaya aku bisa menjaga Bayu.

See? Bisa kalian bayangkan betapa malunya aku di depan teman-teman kalau Bayu mulai berulah? Alih-alih menjaga Bayu, aku malah lebih sering cuek. Menekan rasa maluku dalam-dalam.

Namun, semua emosi yang kurasakan dulu, rasanya hilang hari. Saat seminggu yang lalu, Bayu dihadapkan pada kenyataan bahwa dia harus rela ditinggal kabur istrinya. Dan pada hari ini, karena Risa, anaknya yang berusia 9 tahun, masuk rumah sakit karena depresi.

Aku ingat, pagi hari seminggu yang lalu. Bayu membangunkanku dengan menyodorkan sebuah surat beramplop putih.

"Ratih memberiku surat ini, Kak."

Setelah kubaca tuntas, kupandangi Bayu yang kala itu sedang asyik dengan ipad-ku. Dalam hati aku miris. Sepertinya adikku ini tidak merasakan kehilangan yang sangat setelah istrinya meninggalkan dia demi laki-laki yang dirasa lebih waras daripada dia.

Lamunanku pada seminggu yang lalu, terusik dengan teriakan Bayu di lorong rumah sakit saat dia mnendekati kamar inap Risa.

"Ibu lihat! Aku bawa boneka untuk Risa!"

Ibu tersenyum lalu berkata, "Lucu sekali. Mudah-mudahan Risa suka. Ibu antar ke kamarnya sekarang?"

Bayu mengangguk senang. Mengekor dibelakang ibu menuju kamar Risa.

Aku yang semenjak tadi duduk di kursi panjang di depan kamar inap Risa, hanya bisa menumbuhkan rasa kasihan. Bukan, bukan kepada Bayu. Karena Bayu masih punya ibu yang bisa diandalkan. Tapi kasihan pada Risa. Ayahnya yang harusnya bisa dia andalkan, rupanya tidak bisa melakukan kewajibannya. Karena sejak kecil Bayu sudah didiagnosa oleh dokter kejiwaan mengalami gangguan perilaku dan memiliki umur mental setara dengan anak usia tujuh tahun. Meskipun saat ini dia sudah berumur dua puluh sembilan tahun.

-454 kata-

28 komentar:

  1. ada ya, kekurangan mental seperti ini?
    maksudku yg mentalnya tetep anak2 tapi IQnya bisa berkembang seperti biasa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. IQ kan kisarannya nggak akan melebihi batasan yang sudah ditetapkan secara internasional, mbak. artinya, kalau misal neh, ada anak yang IQ-nya rata-rata atas, insyaAllah dia nggak akan turun di kisaran bawahnya, debil misalnya.

      kalau si bayu ini, seperti siswaku. mental anak-anak, IQ dibawah rata-rata :)

      Hapus
  2. hais...ini keren idenya...btw, hampir sama kayak punyaku mak, katanya mepet 500 kata.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya neh mbak nunung, mepet sekali. hahahaha.. :)

      Hapus
  3. Risa anaknya Bayu ya?
    Wah, ibunya kok tega ya ninggalin Risa... huhuhu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya.. tega sekali. padahal bayu sendiri belum tentu bisa merawat risa dengan baik :(

      Hapus
  4. kalau si Ratih itu istrinya Bayu, seharusnya dia ngerti dong Bayu punya kelainan seperti itu? Bukannya sebelum nikah, seharusnya, sama-sama tahu apa saja penyakit yg diderita calon pasangannya? kalau dia ngerti dan sanggup, jahat banget ninggalin di saat udah punya anak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. yah, entahlah mbak. kadang orang menerima di awal. ketika menjalani, siapa yang tahu kelanjutannya? udah pernah nonton I'm Sam belum? aku inspirasi dari film itu, sama aku padukan cerita siswaku

      Hapus
  5. saya juga pernah ngerti org seperti bayu mbak... kasihan ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. kasihan memang, makanya perlu dukungan :)

      Hapus
  6. beneran cerita yang sekaligus curcol ini :))))

    BalasHapus
    Balasan
    1. kwkwkwkw, makanya kepanjangan makkkk :)))

      Hapus
  7. eish, curcol aja sekeren ini :D. saya bener2 terhanyut dibawa ceritanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih Na..
      ternyata ada yang terhanyut *kasih kayu buat pegangan*

      Hapus
  8. komplit mbak cerita risa. mantap

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih..
      tapi jadi terlalu panjang..

      Hapus
  9. wiiiih detail ya,,,
    suka maaaaak..

    BalasHapus
  10. Tetangga saya juga begini mba, suka ngamuk , tapi kalau sadar baiknya minta ampun :D

    kerenn deh ceritanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. hemm, perlu memilih sikap yang baik ke dia yah mbak hana, biar baik terus :)

      Hapus
  11. Bayu, ajak main dong si Risa, kan sesama anak-anak... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. "Ayo main sama aku." Sahut Bayu riang, sambil mengangkat satu kakinya
      *draft gak jelas*

      Hapus
  12. Balasan
    1. benar sekali, cobaan. tetapi pasti menguatkan dia.. :)

      Hapus

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^