Parenting - Lifestyle - Crafting

(Cerpen) Bayangan

| on
Monday, September 30, 2013
credit
Kalian pernah membaca serial berjudul 'Wife' karya Heidy Will? Serial yang menceritakan tentang seorang wanita bernama Maria yang memergoki suaminya selingkuh dengan seorang coustemer service di sebuah bank. Serial yang ternyata digemari oleh para wanita lajang dan ibu-ibu muda.

Ah, ceritanya sudah banyak terjadi. Tentang perselingkuhan. Namun, Heidy menceritakannya dengan sangat mengalir sekali. Saat aku membacanya pertama kali, seolah akulah Maria, si wanita menyedihkan itu. Penggunaan diksi yang baik, teratur dan tertata rapi, membuat banyak orang tak akan menyesal mengeluarkan uang untuk serial yang sudah buku kedua itu.

Dan aku menggemari Heidy. Sangat! Tulisan-tulisan Heidy yang begitu mempesona, mampu membuatku mabuk dan cinta padanya. Aku selalu membayangkan dapat bertemu dengannya suatu hari nanti, memeluk dirinya, menulis bersamanya, atau bahkan kami minum teh hangat bersama di sore hari. Ups, aku terlalu berlebihan tampaknya. Tapi tidak, aku benar-benar jatuh cinta pada tulisan Heidy sehingga membuatku tergila-gila pada sosoknya.

Tapi jangan dikira aku penggemar yang brutal, yang selalu menteror kehidupan idolanya. Tidak. Jatuh cintaku, kutunjukkan dengan membuat karya semirip mungkin dengan karya milik Heidy. Bukan idenya, tapi penuturan dalam novel. Gaya menceritakan, kutiru dari Heidy. Tiga dari lima novelku, penulisannya mirip sekali dengan gaya penulisan Heidy. Meskipun penjualannya tak sebaik penjualan novel Heidy, tapi aku puas. Seolah Heidy memujiku, memelukku dan menuangkan wine di gelasku atas keberhasilan pencapaianku.

Gila! Memang! Beberapa teman penulis mengatakan kalau aku terlalu memuja Heidy. Tak baik untuk karir kepenulisanku. Namun aku tak peduli. Karena aku yakin, gaya penulisan Heidy tak akan tergerus oleh waktu yang nyatanya semakn tua.

Dan yang paling aku dambakan adalah bertatap muka langsung dengan Heidy. Mungkin itu adalah salah satu impian yang terlalu muluk untukku. Aku tinggal di Inggris, sedangkan Heidy di Amerika. Meskipun lima novel sudah kutelurkan, namun tetap saja tak akan cukup royaltinya untuk sekedar meminta tanda tangan Heidy langsung.

Hingga pada suatu sore aku menerima sebuah email dari Heidy yang meminta kesedianku menemui dia, di rumahnya. Oh, itu adalah sebuah rejeki dari Tuhan yang paling aku tunggu. Tanpa berfikir panjang lagi, kubalas email itu dengan jawaban setuju.

Dan, di sinilah aku sekarang. Di rumah Heidy. Mengetik draft novel serial Heidy. Oh tidak, tugasku bukan mengetik saja tapi juga membuat kelanjutan novel serial untuk Heidy. Sepertinya, Heidy tampak bodoh menyerahkan tugas ini padaku yang masih amatir. Tapi nyatanya demikian. Heidy memberi ide, aku yang membuat draft dan pengetikan hingga selesai. Silahkan katakan aku sebagai penulis bayangan pada novel Heidy.

Aku masih menyimpan memori saat dia mengutarakan maksudnya malam itu, dengan tutur kata yang tampak tak dibuat-buat. "Aku harap kesedianmu melanjutkan cerita untuk serialku."

Aku sangat terkejut. "Wife?" tanyaku dengan mata masih mendelik. Heidy mengangguk, membuatku menarik nafas. Antara takjub, bahagia dan ketidakpercayaan.

"Kenapa, Heidy?"

Heidy bangkit dari kursinya dan membetulkan posisi selendang lebar yang menutupi tubuhnya. Memandang langit malam yang meniupkan angin dingin. "Aku terkena diabetes. Dan, Paula membutuhkanku."

Kulirik Paula yang saat itu sedang memainkan balok-balok kayu di atas permadani. Down syndrome yang diidap Paula, membuatnya tak mampu melakukan apapun tanpa pengawasan intens. Aku tergugu, tak ada lagi alasan menolak tawaran Heidy.

"Aku beri kau ide, tulislah. Akhiri," ucap Heidy tanpa memandangku.

"Tapi, tapi, aku hanya penulis amatir. Tak pantas kau suruh aku membuat endingnya," ucapku terbata-bata. Ada kecamuk di hatiku. Antara bahagia dengan tawaran Heidy namun tak rela jika serial 'Wife' harus berakhir.

"Aku sudah pelajari profilmu, Kim. Dan hanya kamu yang cocok."

"Lalu para penggemarmu? Aku takut kalau mereka tahu tentang ini,"

Heidy tersenyum lalu kembali duduk. "Para penggemarku hanya ingin kelanjutan serial ini terbit cepat," ucap Heidy sambil menyesap wine. "aku tahu seberapa besar antusias mereka."

Aku diam sejenak, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang muncul jika kuterima pekerjaan ini. Namun tetap saja, memikirkan banyak kemungkinan itu mengalahkan keinginanku menyabet kesempatan langka ini.

Heidy menyentuh punggung tanganku pelan, membawaku kembali pada kenyataan, terhempas dari lamunan. Kutatap wajahnya yang tirus -mungkin diabetes membuatnya semakin kurus- lalu aku mengangguk setuju.

Heidy tersenyum lalu merogoh sesuatu dari balik selendangnya. Kilatan cahaya membuatku terkejut. Pisau! Kutegakkan dudukku, kuberi jarak tambahan dengan Heidy saat dia menaruh pisau itu di atas meja.

"Buat Maria mati," Heidy menegaskan maksudnya. Aku begidik. "cerita ending yang menarik akan menyamarkan bahwa kelanjutan serial ini bukan aku yang buat."


***
Cerpen ini diikutkan pada kontes menulis Ngasih Hadiah Harry Irfan. Dan berdasar fiksi mini Harry Irfan : “KAU YAKIN INI ENDING-NYA?”. Ia mengangguk sembari memberiku sebuah pena, dan sebilah pisau.

Tiga Pilar Pendidikan Karakter Pada Anak

| on
Thursday, September 26, 2013
credit
Sebagai guru bimbingan dan konseling, banyak masalah-masalah siswa saya yang saya tangani yang berujung pada kurangnya pemupukan pendidikan karakter pada anak. Ah, kalau berbicara pendidikan karakter, sepertinya memang harus dilihat dari berbagai aspek pendidikan ya.

Begini, seorang siswa, jika ingin mendapatkan pendidikan yang layak, tentunya harus didukung oleh tiga pilar. Keluarga, sekolah, masyarakat. Tiga pilar ini harusnya memiliki kekuatan yang baik sehingga siswa tidak mengalami goncangan hebat dalam perjalanannya menuntut ilmu. Kalaupun nantinya siswa mendapat goncangan yang sangat berat dari masing-masing pilar, maka tidak akan menjadi masalah yang berat, karena masing-masing pilar berusaha untuk membantu siswa menghadapi goncangan itu tadi.

Nah, ketiga pilar ini, haruslah memiliki kompetensi untuk mendukung perkembangan fisik dan psikis siswa yang dapat menunjang kegiatan belajarnya. Salah satu kompetensi itu adalah kemauan ketiga pilar ini untuk menanamkan pendidikan karakter pada siswa. Kenapa saya bilang kemauan kok tidak kesadaran? Banyak kok yang sadar bahwa pendidikan karakter itu penting. Sadar pula bahwa sekarang isu pendidikan karakter itu sedang gencar digerakkan. Tapi hanya sedikit pelaku pendidikan yang mau untuk menerapkan dan memberi contoh pada anak-anak bangsa ini.

Inginnya saya sih, semua pilar pendidikan dan juga siswanya, mau melaksanakan pendidikan karakter ini dengan sangat sangat sangat baik sekali. Dari orangtua, sejak kecil kita menanamkan karakter anak yang baik. Baik itu bukan hanya disiapkan jadi juara biar bisa dapatkan nilai di sekolah yang bagus-bagus lho. Baik dalam artian memiliki sikap yang baik, mampu mengambil keputusan dengan langkah-langkah yang baik, kuat dalam berfikir, memiliki tujuan hidup yang jelas dan mampu menjalankan step by stepnya. Nah, kalau orangtuanya bisa membentuk anak seperti ini, enak kan? Si anak sudah disiapkan buat menghadapi tantangan di zamannya besok saat dia dewasa.

Kalau sudah begini, ya mau nggak mau, orangtua tuh harus berfikiran terbuka. Terbuka dengan segala informasi lama dan terbaru, terbuka dengan perkembangan zaman, terbuka dengan perubahan sikap anak. Tapi kan ya, nggak semua orangtua di Indonesia ini bisa dapatkan informasi dengan mudah. Ya iyalah, orang informasi itu wira-wirinya banyak melalui dunia maya, sedangkan tidak semua orangtua itu bisa mengoperasikan komputer bahkan browsing artikel parenting.

Maunya saya sih, kita bersama adakan pelatihan penggunaan komputer dan internet, sehingga orangtua bisa browsing artikel parenting dengan mudah. Lha kalauuang buat beli komputenrya nggak ada? Tetangga yang baik dan memiliki komputer di rumahnya, bisa kan bantu? Lha kalau nggak ada waktu buat browsing karena waktunya sudah habis buat bekerja? Tetangga yang baik, bisa kan kasih print artikel oke tentang parenting. Enaknya kalau tetangganya mau saling bantu semua demi membangun karakter anak yang baik.

Oke, kita bicara pilar lainnya lagi, sekolah. Sekolah sekarang harusnya bukan lagi sekolah yang bisa meluluskan siswanya dengan nilai akademik yang bagus-bagus tapi juga mampu meluluskan siswanya dengan karakter yang baik dan kuat. Kalau sudah begini, semua orang di dalam lingkup sekolah, ya harus memberikan contoh yang bagus. Kepala sekolah, guru, bagian tata usaha, tukang kebun, bagian kebersihan, laboran, satpam, ibu kantin, juga komite sekolah.

Dan bagaimana pun juga, pelaku di sekolah ini harus berfikir terbuka. Harusnya nih ya, tidak ada lagi pelaku pendidikan di sekolah (terutama guru) yang ngga melek informasi tentang pendidikan karakter. Gaji bisa buat beli laptop, modem, dan kursus internet. Atau, menganggarkan tiap bulannya membeli buku-buku pendidikan yang sifatnya untuk pengembangan karakter siswa. Lha kalau guru yang tinggal di pelosok? Gajinya minim gimana? Kalau saya pribadi, selama jalur ekspedisi itu masih terbuka lebar, bisa kok untuk korespondensi dengan guru di daerah lain untuk bertukar pikiran.

Sekarang pilar ketiga. Lingkungan sekitar siswa. Lingkungan ini bukan hanya di sekitar keluarga dan sekitar sekolah saja lho. Harus yang lebih luas lagi. Yaitu lingkungan luar yang terjangkau siswa dalam bentuk berita. Baik berita yang bentuknya visual (televisi, koran, atau kejadian langsung) dan berita berbentuk audio (radio, gosip tetangga, obrolan antar teman). Kok sebegitu luasnya? Ya jelas dong. Siswa sekarang itu mobilitasnya cepat sekali. Informasi yang mereka dapat juga cepat, banyak dan beragam. Artinya, bisa dong harusnya masyarakat itu memfilter sendiri supaya siswa kita ini tidak ditunjukkan melulu dengan berita-berita yang sifatnya melemahkan karakter.

Saya tuh ya, suka gregetan dengan berita di media yang nyaris tanpa filter. Saya lebih suka saat saya kecil dulu. Para pelaku berita itu kompak memfilter bahkan mensensor berita-berita yang 'kejam' bagi anak-anak. Seperti memberikan inisial nama, mensensor wajah pelaku kejahatan, mensensor anggota tubuh yang terkena kecelakaan, menayangkan kabar kejahatan di waktu-waktu yang aman dari anak-anak, dan penayangan berita dengan kalimat-kalimat yang sopan dan pengkiasan. Ah, andaikan seperti dulu lagi *uhuk*.

Jadi, jadi, sebenarnya sudah tidak ada alasan lagi buat kita untuk tidak mau membentuk karakter anak-anak kita menjadi pribadi yang santun, baik, dan kuat *kok jadi seperti Mario Teguh gini?*. Mari bersama yuk saling bahu-membahu, saling mendukung dan saling menghormati, demi anak-anak bangsa ini.

“Khayalan ini diikutsertakan dalam Giveaway Khayalanku oleh Cah Kesesi Ayutea”

(Cerfet #MFF1) : Perkenalan

| on
Tuesday, September 24, 2013
credit

 
Menceritakan kisahnya pada Alya -yang hanya sebagian kecil saja- sudah membuat kelegaan tersendiri bagi Ratih. Alya memang sudah waktunya mengetahui semua rahasia yang sengaja dia sembunyikan. Meskipun tanpa Ratih pinta, ternyata dimulainya lebih mudah. Tanpa perlu mendudukkan Alya dan memutar otak untuk mencari kalimat pertama yang pas sebagai pembuka.

Tapi tak sekarang semua harus diungkap, Nak.

Ratih memutuskan untuk kembali ke kamar, sebelumnya dia meminta Alya menyerahkan diari. Tak dipedulikan wajah Alya yang memucat, entah sebab apa. Yang diingin Ratih sekarang hanyalah sejenak merebahkan badannya yang tiba-tiba terasa lelah. Seolah sudah mengeluarkan sebagian amunisi rahasia pada musuh yang mengejarnya.

Dan Ratih sekarang hanya benar-benar merebahkan diri. Bola matanya menatap satu titik di atas plafon kamar. Melalui matanya, membuka kembali bilik rahasia yang kuncinya dia simpan dalam-dalam di brankas hatinya.

***

Ratih ingat, dia mengenal Dio saat dirinya sedang duduk sendiri di bangku panjang taman kota malam itu. Laki-laki bertubuh tinggi, tak terlalu gemuk dengan tulang pipi yang tampak sedikit menonjol. Yang saat itu sedang mengenakan kaos oblong biru tuayang dipadukan dengan celana denim berwarna biru -entahlah, sepertinya sudah tak lgi biru- dan sepatu kets yang warna hitamnya sudah pudar. Bagi sebagian orang, mungkin Dio tak menarik. Tapi Ratih tahu bahwa sejak pandangan pertama, dia sudah jatuh hati pada lesung pipi milik Dio! Alasan tidak relevan, mungkin begitu kata orang pintar.

"Mas nunggu orang?"Ratih memulai percakapan. Dio saat itu hanya menoleh, lalu tersenyum dan kembali menatap pandangan di depannya.

Ratih tersenyum, tipis saja. Tangannya mengeluarkan sebuah rokok merk lokal dan pematik dari dalam tas jinjingnya. Tak lama, asap putih sudah berlomba untuk keluar dari mulutnya. Disodorkannya rokok dan pematikkepada Dio namun Dio menolak dengan ramah.

"Ratih,"ucapnya kemudian untuk memperkenalkan diri. Laki-laki itu menoleh, menatap Ratih yang saat itu hanya menggunakan outfit sederhana. Kemeja lengan pendek warna baby pink dengan potongan yang pas di badannya yang langsing, yang dia padukan dengan celana jins biru tua.

"Dio,"

Dan perkenalan itu membuat hubungan mereka semakin dekat.

***

Dio adalah pribadi yang menyenangkan. Dia bukan tipe orang yang mudah marah pada orang lain. Malah seringnya membantu orang lain, tak hanya teman, membuat dia memiliki banyak teman yang menghargainya.

Pun juga pada Ratih yang ternyata membutuhkan pertolongan di balik wajahnya yang tampak ceria. Yang tanpa Ratih sadari, Dio mampu sedikit demi sedikit memberinya solusi dan tak jarang Ratih mau melaksanakannya.Bagi Ratih, Dio adalah seseorang yang baru dikenalnya namun tak segan dia menceritakan masalah-masalah pribadinya.

Hubungan Ratih dan keluarganya hancur sudah, semenjak Ratih memasuki bangku SMA. Semenjak Ratih tanpa sengaja mengetahui bahwa papanya memiliki hubungan dengan wanita selain ibunya. Papanya tak mau mengakui kenyataan yang dilihat Ratih, awalnya. Namun melalui sikap papanya terhadap mamanya yang kian hari kian acuh, membuat Ratih menyadari bahwa keluarganya sebenarnya membutuhkan pertolongan 'orang baik'. Bagaimana pun, pendapat seorang anak sering kali menjadi pendapat yang dianggap tak perlu didengar. Papanya semakin sering pulang malam atau bahkan tak pulang berhari-hari dengan alasan dinas luar kota sedangkan ibunya semakin sibuk dengan arisan-arisan yang sebenarnya malah menghambur-hamburkan uang. Keduanya sibuk mencari kebahagiaan masing-masing. Melupakan Ratih dan adiknya, Puspita,yang memiliki umur selisih empat tahun dengannya.

Dan Ratih lah yang nyatanya semakin terpuruk. Tak seperti Puspita yang selalu menganggap bahwa masalah keluarganya ini pastilah memilki ujung baik. Pemikiran seperti itu membuat Puspita tetap mampu berkonsentrasi di sekolahnya. Alih-Alih memiliki pemikiran seperti Puspita, Ratih malah sering menunjukkan pertentangan pada keluarganya, tidak pernah terima dengan perselingkuhan papanya dan mamanya yang kian hari kian larut pula pulangnya. Sikap itu, ditunjukkan dengan jelas-jelas pada keluarganya. Membolos sekolah, memiliki teman yang tak baik, merokok, bahkan beberapa kali mencoba minuman keras.

Banyak usaha dilakukan keluarga Ratih untuk mengembalikan kondisi Ratih seperti dulu, namun gagal. Karena Ratih menutup diri. Selalu berprasangka bahwa usaha yang dilakukan orangtuanya hanyalah sementara saja. Hingga saat Ratih memutuskan untuk kuliah di Semarang, supaya jauh dengan keluarganya, dan bertemu Dio malam itu.

"Ceritakan padaku, jika itu membuatmu lega," ucap Dio suatu malam saat Ratih datang kekosnya dengan kondisi yang jauh dari yang dinamakan sopan.

Saat itu Ratih seolah tak mampu lagi berlari dan menyerah sudah pada pundak Dio untuk melegakan diri. Menangisi segala hal buruk dalam kehidupannya beberapa tahun ini.

Malam itu Dio tak menghakimi, tak memberinya solusi, hanya memberinya secangkir teh hangat dan mendengarkan isi hati Ratih. Hanya itu. Namun Ratih lega luar biasa.

"Datanglah padaku lagi jika itu membuatmu lega."

Itu adalah kalimat penutup dari Dio malam itu. Yang menjadi perekat hatinya yang sudah rapuh.

(Flash Fiction) MFF #26 : Berita

| on
Saturday, September 21, 2013
Foto milik Mbak Orin :)

"Ayah, ini korannya."Atik meletakkan koran kemarin di atas meja. Suseno yang sedang menikmati kopi dalam mug besar, mengambil koran dan membawanya ke depan rumah. Tanpa baju yang melekat di badannya yang sangat kurus, Suseno memilih duduk di depan pintu. Sambil menikmati angin siang itu, mungkin begitu maksudnya.

Waktu berlalu sudah lima belas menit saat dia membuka halaman paling akhir. Matanya tertuju pada sebuah berita dari ibu kota. Tentang seorang laki-laki muda yang mati ditusuk penjambret yang melarikan beberapa juta uang yang akan dia setorkan di bank. Berdasarkan cerita dari teman korban, uang itu akan dia kirim separuhnya untuk ayahnya di kampung.

Mata Suseno membasah. Berita ini membuatnya ingatannya kembali bertahun-tahun silam saat Joko, anak pertamanya, masih bersamanya sebelum pindah ke ibu kota. Menepiskan masa depan yang telah Joko susun matang-matang hanya untuk riwa-riwi mengantarnya berobat ke rumah sakit.

Bahkan Suseno masih ingat, pagi menjelang siang kala itu, saat dua guru Joko mengunjungi rumah mereka. Dia tersadar bahwa Joko memiliki mental sekuat baja, mental yang entah dari siapa dia dapatkan. Saat dua guru Joko membujuknya agar kembali aktif ke sekolah.

"Sayang Nak, kalau kamu tak melanjutkan sekolahmu. Setelah melewati UAS dan kelas tiga, kamu bisa lebih meluangkan waktu dengan ayahmu," ucap guru cantik berjilbab itu pada Joko.

Apa jawaban Joko?

"Tapi aku tak tahu sampai kapan Ayah hidup. Dan aku tidak mau merasa bersalah karena tak merawatnya."

Kami tersentak dengan jawabannya. Jawaban itu adalah pilihannya. Dia tak ingin seperti ibunya, yang meninggalkan suaminya karena sakit-sakitan.

Joko, aku merindukanmu. Begitu pula Atik. Ayah sudah mulai sembuh, Nak. Berkatmu.

"Ayah, tasnya tak perlu Ayah bawa kemana-mana."

Lamunan Suseno menguap sudah saat Atik menghampirinya. Suseno melirik tas hitam yang sejak tadi pagi dibawanya kemana-mana.

"Nanti sore kita berangkat diantar mas Bayu sampai terminal,” ucap Atik dengan menyebut salah satu tetangganya yang memiliki mobil pick up. "semoga kita tak menganggu kesibukan mas Joko di sana."

Suseno berdiri, lalu memberikan koran yang usai dia baca pada Atik. Matanya masih basah, kali ini tak bisa dia tahan laju air matanya.

"Ayah, kenapa?" Atik menuntun Suseno menuju kursi. Menyandarkan tubuh Ayahnya yang ringkih pada sandaran kursi.

"Lihat koran halaman terakhir. Ada foto abangmu di sana."

Butuh Konsinten Untuk Terus Ngeblog

| on
Friday, September 20, 2013
credit
Saya mengenal dunia blogging itu sekitar tahun 2007, melalui blog gratis bawaan friendster. Saat itu, saya dikenalkan oleh salah satu teman kuliah. Menarik sekali sih, secara template bawaan friendster itu heboh-heboh tampilannya. Namanya juga darah muda, senangnya yang heboh-heboh padahal isi blog saya waktu itu nggak jelas banget. Kalau nggak puisi, cerpen cengeng atau curhatan ngga penting. Dan saya nggak ngerti caranya biar blog saya itu bisa lebih dikenal blogger dari platform lain, dan parahnya, saya nggak ngerti kalau tulisan saya itu -kalau berkualitas- ternyata bisa nongol di search engine*jambak-jambak jilbab*

Membolos Karena Kurang Kasih Sayang

| on
Wednesday, September 18, 2013

Saya tak ingin menceritakan tentang kecelakaan remaja usia tigabelas tahun yang 'mungkin' penyebabnya adalah perceraian keluarga. Biarlah itu menjadi buah bibir khalayak ramai namun tetap memiliki nasehat di dalamnya, terutama untuk orangtua.

Saya kali ini hanya ingin menceritakan bagaimana sebuah masalah orangtua malah menjadi bumerang bagi anaknya.

Sebut saja siswa saya ini si A. Sejak bulan Juli lalu sampai bulan September, dia tidak masuk tanpa surat izin sebanyak 11 hari. Kami sebagai pihak sekolah, sejak alpanya masih sedikit, sudah sering melakukan panggilan orangtua baik melalui telepon, disampaikan langsung oleh siswanya atau juga melalui surat panggilan orangtua. Tapi hasilnya selau nihil. Tak jarang, wali kelas juga saya melakukan wawancara dan tindakan-tindakan pencegahan supaya si A ini bersedia selalu masuk kelas.

Hingga pada akhirnya si A kembali tidak hadir di sekolah. Saya dan wali kelas, atas izin kepala sekolah, akhirnya melakukan home visit ke rumah si A untuk mencari orangtuanya dan berdiskusi mencari jalan keluar yang efektif untuk si A. Dua kali kami home visit, tapi hasilnya nihil. Orangtuanya tak ada di rumah, pun juga si A. Hanya tetangga yang bersedia dititipi pesan bahwa orangtua si A diharapkan hadir ke sekolah.

Alhamdulillah, esok harinya, si ibu hadir di sekolah.

Dan kami berdiskusi tentang upaya yang akan kami lakukan supaya si A kembali aktif sekolah, mengingat dia sudah kelas 9 dan kurang dari delapan bulan lagi sudah menjalani UAN.

Dan akar permasalahannya adalah karena si ayah yang memutuskan menikah lagi dan meninggalkan si ibu beserta si A dan kakaknya tanpa meninggalkan sedikitpun biaya hidup. Dampaknya, si ibu memilih untuk bekerja di sebuah catering yang menerima pesanan dari pabrik-pabrik. Hasilnya tak banyak tapi cukup untuk sekedar makan. Si Kakak berhenti dari SMK dikarenakan tak ada biaya dan memilih untuk bekerja.

Yang menarik adalah, si A menyampaikan bahwa dia merasa kurangnya kasih sayang dari ibunya karena ibunya selalu bekerja. Dan pelampiasannya adalah membolos sekolah untuk bermain game online dan play station di rental dekat rumahnya, sebagai bentuk wujud 'menyenangkan diri sendiri'.

**

Teman,
Saya sempat menahan marah karena si A sepertinya tidak merasa bersalah. Saya dan wali kelas dibuat kucing-kucingan dengan masalah ini. Namun saat si A-dalam sesi konseling- menyampaikan bahwa dia merasa bahwa si ibu tak lagi memberi banyak perhatian padanya dikarenakan sibuk mencari biaya hidup, saya jadi merasa kasihan.

Sungguh miris saat saya menyadari bahwa salah satu siswa saya -dan mungkin masih banyak yang lain, namun tak terungkap- menjadi dampak dari keegoisan orangtuanya sendiri. Bahwa si anak benar-benar menyadari bahwa akar masalahnya adalah itu, namun tak memiliki kuasa untuk merubah keputusan orangtua karena dianggap belum dewasa.

Sekiranya ini silahkan menjadi pelajaran untuk kita. Bahwa setiap orangtua memang memiliki keinginan untuk dirinya sendiri. Namun jangan lupakan bahwa pada akhirnya keinginan orangtua ini nantinya akan disesuaikan dengan kondisi keluarga dan kesiapan anak-anaknya.

Demikian.

Salam penuh kasih,
Miss Rochma.

Inventaris Itu ...

| on
Tuesday, September 10, 2013
credit by google

Ruangan ini terasa panas, ah, mungkin lebih tepat terasa sesak. Berkumpul kami para kaki tangan pak Suroto, yang saling berhimpitan duduknya karena kursinya sedikit. Dari kedelapan orang yang hadir, hanya aku dan bu Dini yang merupakan penanggung jawab laboratorium. Aku memegang laboratorium komputer, dan bu Dini sebagai laboran IPA.

Beberapa menit kemudian, pak Suroto meletakkan beberapa map di atas meja. "Itu adalah apa-apa yang harus kita rinci jumlahnya".

Kami diam, tak berani berucap atau mengambil map-map itu untuk melihat isinya. Takut pada pak Suroto, takut ditegur lancang jika tanpa ijinnya srudak-sruduk mengangkat map itu.

"Silahkan dibagikan mapnya sesuai masing-masing tugas. Kita harus rinci sekali untuk tugas kali ini. Kepala sekolah yang baru tentunya tidak mau ada yang tak terhitung dari inventaris yang kita miliki sekarang".

Kami manggut-manggut, mencoba mengerti. Aku tersenyum saja, penghitungan inventaris di laboratorium komputer sudah diselesaikan oleh bu Hana beberapa hari yang lalu. Aku tinggal menyalin saja isinya.

Namun,

"Pak Didik..." panggil pak Suroto saat akan mengakhiri pertemuan. Aku menoleh, menatapnya.

"Data juga komputer dan perlengkapannya yang sudah tak kita pakai karena ada sumbangan dari Diknas. Sekalian yang sudah rusak. Itu juga masih termasuk inventaris kita".

Aku terkesiap. Tubuhku mendadak gemetar, ototku tak mampu menjawab apapun.

"Disimpan di gudang, kan?"


"I..i..iya, Pak. Di gudang dekat kamar mandi siswa putri," jawabku gemetar. Bu Dini melihat kegugupanku. Bola matanya sedikit mendelik, mengisyaratkan aku harus menenangkan diri.

"Saya tunggu laporannya tiga hari lagi. Terima kasih," pinta pak Suroto disambung dengan menutup pertemuan.

Tapi gemetar di tubuhku tak bisa kuakhiri.

**

"Kalau orang lain tahu?" tanyaku pada bu Dini. Gudang ini sepi, hanya ada kami berdua. Memandang ruangan yang sudah tak banyak barangnya.

"Ah, yang tahu hanya Paimin. Kita bisa belikan dia rokok untuk tutup mulut," ucap bu Dini sambil menghampiriku. Kemudian duduk di sebelahku, di atas meja belajar siswa yang sudah mulai reyot. Tangannya menggelayut manja di pinggangku, membuat tubuhku berdesir. Semakin berdesir, pikiranku semakin rileks.

"Sudahlah Sayang, jangan terlalu dipikirkan," bisik bu Dini sambil mencium leherku. Aku memejamkan mata, mendesah.

Tapi tak bisa kupungkiri, aku masih tetap khawatir. "Tapi, komputer-komputer itu sudah kita jual, Sayang."

Bu Dini berhenti menciumi leherku. "Lalu?" tanyanya.

"Bagaimana jika Suroto menanyakan wujudnya? Aku menunjukkan komputer yang mana coba?"

Bu Dini terkekeh pelan tapi tak lama. Mungkin karena melihat wajahku yang terlampau serius. Kemudian dia meletakkan tangannya di wajahku.

"Sayang, jangan lupa, Suroto satu bulan lagi sudah pensiun. Banyak yang dia urus, tak akan sempat dia memintamu menunjukkan komputer-komputer itu."

Aku diam, mencoba membenarkan ucapan bu Dini. Tapi kemudian muncul pertanyaan baru di otakku.

"Oke, Suroto beres. Kepala sekolah yang baru?" tanyaku sambil menatap wajah bu Dini yang masih cantik meskipun usianya lebih tua enam tahun daripadaku.

"Ah, itu bisa kita urus nanti."jawabnya sambil memagut bibirku.

Sebelum 30 Tahun

| on
Friday, September 06, 2013
credit
Banyak yang bilang bahwa memasuki usia tigapuluh perlulah kesiapan yang sungguh-sungguh karena di sinilah gerbang kedewasaan yang sebenarnya dimulai. Hm, entahlah apakah pendapat seperti itu benar atau tidak, karena usia saya belum genap tigapuluh tahun. Beberapa teman yang usianya sudah kepala tiga menyampaikan bahwa usia tigapuluh tahun merupakan usia yang tidak main-main. Karena proses menuju pendewasaan selama ini, mulai teraplikasikan di rentang usia ini. Namun ada juga yang menyampaikan kalau dia tidak merasakan apa-apa yang berbeda di usianya yang ketigapuluh.

Ya, itulah pndapat perkepala yang tentunya memiliki alasan berbeda-beda karena pengalaman hidup masing-masing. Namun yang jelas adalah, sebelum memasuki suatu rentang umur, pastinya memiliki beberapa keinginan atau impian yang menjadi target hidup. Hm, saya juga gitu lho. Ini nih keinginan saya saat sebelum memasuki usia tigapuluh tahun :

1. Saya ingin naik haji. Mungkin terdengar biasa saja. Tapi bagi saya ini menjadi hal yang ingin sekali saya capai. Mengapa? Ini karen kebiasaan orangtua mengajak saya untuk mengunjungi orang-orang yang sudah melakukan ibadah haji atau umroh. Tiap tahun dicekoki cerita-cerita hebat di Tanah Suci, membuat saya benar-benar ingin merasakannya sendiri. Tapi tampaknya keinginan ini harus ditahan dulu. Ya tau sendiri kan peminat menjadi jamaah haji sekarang itu gimana? Buka rekening tahun ini saja, berangkatnya perkiraan empatbelas tahun kemudian. Sabar.

2. Saya ingin punya tiga anak. Entah kenapa tiga. Tidak empat, lima atau seterusnya. Tapi yang jelas, dua anak menurut pemerintah itu baik, menurut saya itu kurang. Hahahaha! Saya adalah dua bersaudara. Yang saat kecil selalu bertengkar dengan adik laki-laki saya. Saya cukup dengan pengalaman itu. Tapi saya pun juga ingin anak saya, Arya, tidak hanya merasakan enaknya punya satu saudara. Tapi dua saudara sekaligus. Pengalamannya bertambah bukan?

3. Sebenarnya saya ingin sekali melanjutkan kuliah saya ke jenjang yang lebih tinggi. Ini sebanarnya adalah cita-cita saat saya masih kuliah S1 dulu. Tapi nyatanya, setelah saya lulus, mencapai itu ternyata susah. Alasan saya buat-buat. Hingga pada akhirnya saya merasa nyaman di zona saya yang sekarang, dengan bekerja menjadi seorang guru.

4. Menerbitkan sebuah buku fiksi. Kenapa buku? Karena ada tantangan membuat layout di sana. Saya termasuk orang yang mudah bosan dan angin-anginan. Sedangkan layout, akan mematangkan ide-ide fiksi yang selalu berteriak di otak saya. Saat mengikuti event J50K tahun ini, saya gagal menyelesaikannya. Karena layout saya tidak matang. Mengapa fiksi? Sejak saya SD, saya suka fiksi. Hanya saja kurang saya asah. Dan lagi, saya ini lemah di adu argumen *tutup wajah pakai kain lap*. Jadinya ya, enggak cocok kalau saya nulis buku tentang argumen atau ulasan tajam tentang sesuatu.

5. Menjalin komunikasi yang lebih intens lagi dengan ibu-ibu muda di lingkungan saya. Tujuannya apalagi kalau enggak mencari info sebanyak mungkin dalam hal parenting. Atau, bertukar pendapat tentang parenting. Membetulkan kebiasaan yang salah untuk mendapatkan anak yang berkualitas. Sayangnya, ibu-ibu muda di lingkungan saya masih pada malu-malu kucing. Jarang ada yang mau setor wajah. Yang rajin malah emaknya yang sudah usia lanjut. Apalagi kalau tidak menggosip.

6. Kopdar! Saya akui, saya belum pernah kopdar semejak saya kenal dunia blog tahun 2009. Ada saja penghalang saat akan kopdar. Dulu, salah satu teman di Kompasiana asal Lamongan mengajak kopdar, tapi batal karena dia ada keperluan mendadak. Mau kopdar sama mbak Orin, lha kok kita sama-sama terjebak macet sampai malam hari. Batal deh. Seperti kata Omjay, belum blogger kalau belum kopdar. Betul juga seh.

7. Diangkat jadi PNS. Bagi sebagian orang, menjadi PNS mungkin pekerjaan yang nggak banget. Ya, banyak berita miring mengikuti. Tapi, melihat loyalitas saya selama ini *halah*, boleh dong saya punya impian itu?

8. Mencarikan Arya sekolah yang baik untuk perkembangannya. Kenapa perkembangannya? Banyak sekolah di jaman sekarang yang tidak lagi mengedepankan perkembangan siswanya. Meraih target siswa sebanyak-banyaknya. Meraih prestasi sebanyak-banyaknya. Artinya, saya dan Papa harus jeli jika ingin mencari sekolah yang sesuai dengan perkembangan fisik dan psikisnya Arya. Yang mendukung bakatnya, yang mendukung kemampuannya, yang mendukung ibadahnya juga membentuk pribadi berkualitas.

____

- Tulisan ini diikutsertakan dalam GA AIDA.MA -

Custom Post Signature

Custom Post  Signature