Parenting - Lifestyle - Crafting

Blog Khusus Fiksi

| on
Friday, December 27, 2013
Header Blog yang katanya unyu-unyu :))

Saya suka bercerita tentang parenting. Saya suka bercerita tentang Arya. Saya suka membuat scrapbook. Saya suka ngoceh nggak jelas. Saya juga suka fiksi. Dan semua hal itu saya tulis di blog saya ini nih. Tapi setelah melalui banyak komentar, akhirnya saya berfikir ulang, kalau ternyata semua aktifitas saya itu tidak bisa saya jadikan satu blog dengan kesukaan saya terhadap fiksi. Akhirnya, setelah merenungi berhari-hari sambil ngunyah sirih, saya memutuskan untuk membuat blog khusus fiksi.

Alamat blognya ini ya *catat di note dulu* http://fictionmissrochma.wordpress.com

Kenapa kok saya memutuskan memisahkan catatan sehari-hari dan fiksi?

1. Karena fiksi saya itu adalah hasil imajinasi dari berbagai pengalaman saya. Saya nggak mau pembaca catatan sehari-hari saya berfikir yang nggak-nggak tentang imajinasi saya. Meskipun mungkin nggak sejauh itu sih. hihi..

2. Kadang ada beberapa ide dalam kepala ini yang isinya sedikit 'nakal'. Nah, kalau ide 'nakal' ini bertemu dengan tulisan berbau parenting atau tips, nggak pantaslah. Jadi, dipisahin aja deh ya.

3. Memudahkan saya untuk memasukkan tulisan saya sesuai kategorinya. Memang sih, di blog saya ini ada widget untuk kategorisasi. Tapi rasanya kurang luwes aja kalau digabungkan. Ini alasan asal-asalan dari saya sih. Modus ingin punya blog baru. hahaha..

4. Bangga dong punya banyak blog *dilempar cupcake berjamaah*. Jadi, kalau saya bikin kartu nama, ada dua blog nampang di sana. Yuhuuu..

5. Supaya orang lain mengenal sisi lain dari saya yang pendiam, baik hati dan rajin menabung ini. Bahwa saya punya imajinasi yang kadang nggak terbendung tapi susah buat dituliskan. Apaan sih? Yang pasti, supaya orang lain lebih mengenal saya. Itu saja, tanpa koma.

So, so, so, main-main ke blog khusus fiksi saya ya. Di sana menerima kritik, saran, pisang goreng atau buku gratis *kemudian ditampar Nick Carter*. Jangan lupa, http://fictionmissrochma.wordpress.com

Menjadi Wanita Smart Saat Membantu Menyelesaikan Masalah Siswa

| on
Saturday, December 21, 2013
Quote ini nggak ada hubungannya sama tulisan saya, tapi saya suka (credit)

Menjadi Wanita Smart Saat Membantu Menyelesaikan Masalah Siswa. Menjadi wanita yang smart di masa sekarang, bagi saya sangat dibutuhkan, bahkan wajib. Wanita yang smart, pastinya memiliki prinsip yang kuat akan suatu problemantika yang setiap harinya dia hadapi. Wanita yang smart, juga pasti memiliki banyak pertimbangan saat tersudut oleh suatu masalah dan mampu mengambil langkah yang tepat untuk menyelesaikannya.Dan begitulah yang harus saya tanamkan setiap hari dalam diri saya. Saya harus menjadi wanita yang smart supaya saya dapat melakukan aktifitas saya dengan mudah, enjoy, dan berorientasi pada masa depan yang baik.

Mengenalkan Sikat Gigi Pada Arya

| on
Thursday, December 19, 2013
credit
Setelah gigi Arya sudah genap yang bagian depan dan sudah ada empat gigi gerahamnya, saya akhirnya berfikir kalau sudah waktunya Arya untuk sikat gigi. Belum lagi, Arya dah mulai makan macam-macam makanan dan paling suka banget makan gula! Ya, cuma gula aja, nggak pakai air, nggak pakai roti, nggak pakai sayur. Baiklah, singsingkan lengan baju dan mulai  mengenalkan sikat gigi pada Arya serta menjadikan aktivitas menyikat gigi sebagai rutinitas.

(Scrapbook) Arya 3 Bulan - Menangis

| on
Monday, December 16, 2013
Foto ini merupakan salah satu foto favorit saya. Ya, Arya menangis. Dan jarang bisa banget ambil foto saat Arya menangis.
Coba perhatikan, pipinya gembul banget kan? Emak mana coba yang nggak ingin gigit? ^^



Jalan-Jalan ke Kebun Binatang Surabaya

| on
Saturday, December 14, 2013
credit from google


Bagaimana antusiasnya anak kita saat diajak melihat sosok asli hewan yang biasanya hanya bisa dia lihat di televisi atau buku? Pasti bersemangat sekali kan? Sama! Arya pun begitu. Mumpung Sabtu (07/12) kemarin Papa dan saya ada kesempatan libur, akhirnya kita putuskan untuk mengajak Arya jalan-jalan ke Kebun Binatang Surabaya (KBS).

Awalnya rencana berangkat agak pagi, maunya sih biar nggak kena macet. Tapi eh tapi, ternyata hujan. Ya... mundur dikit deh berangkatnya, sambil harap-harap cemas jangan-jangan malah nggak jadi berangkat. Alhamdulillah, hujan berhenti. Hore!! Berangkat!!

Selama perjalanan ke Kebun Binatang Surabaya, saya dan papa sounding Arya apa itu kebun binatang, bagaimana bentuk sebenarnya hewan-hewan di sana, apa saja yang boleh atau tidak dilakukan di sana. Arya sih waktu disounding, masih mlongo-mlongo nggak ngerti. Papa sampai ketawa-ketawa gara-gara liat ekspresinya Arya yang datar banget.

Tapi, kedataran Arya hilang sudah waktu lihat patung Suro dan Boyo. Yap! Patung ikan dan buaya ini bisa bikin Arya girang-girang ngga jelas. Belum lagi, waktu masuk ke tempat parkir, ada penjual yang jual topeng bentuk wajah monyet. Ea, langsung deh pertanyaan yang sama diulang terus. "Mama, ana onyet?"

Bahkan dia nggak sabar nunggui Papa parkir dan narik-narik tangan saya buat cepet-cepet lihat monyet. "Onyet, Ma. Onyet." Hadeh, kenapa pula monyet yang kamu tanyain melulu sih, Sayang?

Setelah parkir, beli beberapa potong buah-buahan buat nyemil di dalam, beli karcis, dan... petualangan Arya di KBS di mulai!!

Awalnya drama pemanggilan monyet masih berlalu, sampai akhirnya dia lihat unta! Eyaampun, pandangan mata nggak bisa lepas dari unta yang dipakai untuk narik tumpangan buat antar pengunjung keliling KBS. Haha, mungkin Arya heran, untanya besar sekali, beda banget sama boneka unta di rumah yang diberi tetangga sepulang umroh. Setelah melewati kandang unta, jerapah, anoa, babi hutan, dan beberapa burung, menujulah kita ke area aquarium.

Penyu makannya kangkung :))

Sebelum masuk ke area aquarium, ternyata ada penyu hijau. Yippi, semangat deh Arya minta ke Papa kacang. What? Kacang? Buat apa? Kata Arya, "Asih akan, Ma." Hoho, ternyata Arya mencontoh perilaku Papanya saat memberi makan kacang ke babi hutan. Haha, penyu di KBS diberi kangkung, Nak, bukan kacang. Setelah puas melihat-lihat penyu, lanjut ke kura-kura. Yang ini, Arya kurang antusias. Mungkin karena bentuk penyu dan kura-kura hampir sama, dan dia sudah lihat penyu tadi. Malah yang bikin dia hip hip hura itu karena ada hamster dan tikus putih yang dimasukkan satu kandang dengan kura-kura. Saya sama Papa mikir, kenapa hamster ditaruh satu kandang dengan kura-kura?

Dan sampailah di area Aquarium. Kesan pertamanya adalah singup, yang artinya gelap, sepi, suram. Walah, lampunya aja nggak terang, ikannya banyak yang nggak ada, pengunjungnya juga sedikit sekali. Mana Arya digendongan Papa menyembunyikan kepala melulu, takut katanya. Ya sutralah, akhirnya kita putuskan keluar dari sana dan mencari mushola. Dalam perjalanan menuju mushola, ada buaya dan beruang. Yang bikin suasana beda, kalau ingin melihat buaya, harus melewati sebuah jembatan dan kalau dibuat foto bagus banget hasilnya.

Jembatannya kaya film-film Jepang :))

Puas mengamati buaya, barulah kita benar-benar menuju mushola untuk sholat dhuhur. Hm, sayangnya mushola dan toiletnya kurang apik dipandang. Apalagi toiletnya. Untung ada banyak orang yang ngobrol di depan toilet. Kalau nggak gitu, entah apa yang terjadi dengan sinyal ketakutan saya. Hehe..

Setelah sholat, maunya lihat harimau, tapi urung dijabani. Kenapa? Yup! Dia melihat kandang monyet! Hayhay, ini lho yang dari tadi ditunggu Arya. Tapi apa yang terjadi? Dia ngga seheboh sebelumnya! Oh Tuhan, kemana cerewetmu tadi, Nak? Tapi tenang, bukan Arya namanya kalau lihat tingkah hewan nggak heboh. Yuhuu, setelah lihat monyetnya bertingkah lucu, lompat sana-sini, lari dan memanjat, Arya bersorak gembira sambil teriak-teriak. Nyahaha, kesempatan buat emaknya suapin Arya makan siang. Lap lep, lahap banget makannya karena hati senang.


Puas lihat monyet, menujulah kita ke kandang berang-berang dan harimau. Dan beruntunglah harimaunya nggak lagi tidur siang. So, Arya jadi tahu ukuran sebenarnya harimau itu seberapa, bagaimana saat mereka jalan dan memanjat, juga saat mengaum! Hore!! Akhirnya Arya tahu bagaimana suara harimau dan bisa menirukan. Pinter! Oke, lanjut mencari kandang gajah. Sempat tersesat karena board peta yang membingungkan *atau sayanya yang kurang bisa baca peta?*, tapi Papa bilang kita lurus saja lewat pinggiran, mungkin nanti ketemu kandang gajahnya. Dan ya, betul kata Papa *ketcup Papa*.

Nah, lagi-lagi Arya dibuat kaget dengan besarnya badan gajah, malah takut sepertinya, soalnya minta digendong Papa. Ya jelas, lihat gajah 3 meter gitu tingginya dan jalannya bum-bum-bum. Hayhay, gajah yang di televisi nggak sebesar itu kan Nak?



Itulah salah satu alasan Papa Mama mengajak kamu jalan-jalan ke kebun binatang, Sayang. Supaya kamu tahu bahwa apa-apa yang kamu lihat di televisi itu bukanlah ukuran sebenarnya. Dengan begitu kamu tidak akan terlena dengan apa-apa yang ada di televisi yang ukurannya kecil. Kamu perlu tahu juga bagaimana suara harimau yang menyeramkan, atau ukuran gajah dan unta yang besar, atau penyu dan harimau tak makan kacang seperti babi hutan dan monyet, dan bahwa ketika kita di tempat umum pun harus membuang sampah pada tempatnya.

Pengalaman itu nilainya besar. Meskipun usia Arya masih dua tahun, tapi biarlah pengalaman jalan-jalan ke KBS ini mengendap di alam bawah sadar dia dan bisa di-recall kembali saat dibutuhkan. Selamat belajar, Sayang ^^
Mau es krim tante, om?

Mencegah Remaja Menonton Film Beradegan 'Panas'

| on
Monday, December 09, 2013
credit

Mencegah remaja menonton film beradegan 'panas', judul artikel ini muncul saat beberapa waktu yang lalu saya dikagetkan dengan kabar bahwa beberapa siswa bimbingan saya yang kelas 7 melihat film porno dengan menggunakan laptop. Kaget benar saya waktu itu, kok bisa kecolongan? Nggak pakai lama, saya, wakil kepala sekolah, dan wali kelas menyelasaikan masalah ini dan melakukan beberapa investigasi guna pencarian duduk perkaranya. Dan ternyata film yang dilihat itu adalah film-film horor Indonesia yang ada adegan 'panasnya'.

Saya kaget, kok bisa siswa saya yang masih SMP ini tontonannya sudah film-film model beginian? Sempat saya ditanya wakil kepala sekolah apa saya tahu tentang film ini. Saya jawab tahu, karena filmnya ramai dibicarakan di media karena dianggap film horor yang ingin naikkan rating dengan menyisipi adegan 'panas'.

Setelah menjalani beberapa kali wawancara pada siswa, akhirnya terbongkarlah masalah ini. Ternyata, film ini bukan milik Atetapi milik B yang dipinjam tiga bulan yang lalu. A dan B, dan sepupu A, ternyata sudah pernah melihat film ini sebelumnya di rumah A saat orang tua A sedang bekerja.Empat bulan berlalu dan A mengatakan ke teman sekelasnya kalau dipunya filmhoror yang 'panas'. Dan dibawalah laptop beserta DVD film horor ini dibawa ke sekolah dan ditonton ramai-ramai.

Saat diwawancara lebih jauh, ternyata orang tua tahu kalau si B memiliki film ini karena membelinya dengan ibu dan neneknya. Bahkan, siswa B ini pernah menonton film ini bersama neneknya di ruang keluarga sebelum dia menonton bersama dengan si A. Wow! Kaget saya mendengar hasil wawancara si B. Mengapa keluarga B begitu longgar dengan hal macam begini?

Miris saya mengetahui bahwa masih ada orang tua siswa saya yang kurang perhatian dengan apa-apa saja yang ditonton oleh anaknya. Tapi bagaimanapun juga, masalah yang dihadapi siswa saya, kiranya harus memiliki pelajaran bagi saya dan bagi orang tua yang lainnya. Beberapa hal yang bisa menjadi langkah awal sebagai bentuk pencegahan pada remaja untuk menonton film beradegan 'panas' adalah :

1. Kontrol tontonan anak-anak kita. Anak-anak kita tak tahu bagaimana isi film yang mereka inginkan, sehingga kitalah yang harus mengarahkan dan memberi informasi yang tepat apakah film tersebut layak mereka tonton atau tidak.Artinya, kita sebagai orang tua haruslah memiliki informasi sebanyak-banyaknya tentang film yang mereka inginkan, membaca reviewnya dan mengambil kesimpulan sendiri apakah film ini cocok untuk anak-anak kita atau tidak.

2. Bukalah wawasan kita terhadap informasi tentang tontonan yang tepat dan tidak tepat bagi anak-anak kita. Banyaknya film yang beredar di sekitar kita, dan mudahnya informasi tentang film menarik bagi anak-anak kita, bisa menjadi celah tersendiri bagi kita sebagai orang tua untuk lepas kontrol. Nggak salah kok kita buka website/blog review film atau membaca berita film-film di koran atau majalah.

3. Temanilah anak kita saat menonton acara kesukaannya. Mengapa? Karena kita bisa memberi pengarahan terhadap adegan-adegan yang ada di film tersebut. Jika ada adegan yang memiliki nilai negatif, kita bisa menambahi dengan contoh-contoh positif. Atau apabila ada adegan yang bersifat fantasi, kita bisa menyisipi dengan contoh-contoh yang realistik di sekitar anak kita.

Pada contoh kasus siswa saya, memang benar siswa B menonton film itu dengan neneknya. Tetapi si nenek tidak menghentikan pemutaran filmnya saat ada adegan dewasanya, malah membiarkannya.

4. Lakukan scanning yang baik pada film yang dipilih anak-anak kita. Dari tampilan yang tampak pada DVD, kita sebenarnya sudah bisa mengetahui apakah film itu layak ditontonanak kita atau tidak. Seperti mengecek gambar yang menjadi sampul depan dan belakang tempat CD, memperhatikan tanda peringatan batas usia tonton, memperhatikan judul film dan memperhatikan siapa saja pemainnya. Terkadang ini terlupa, tapi sesungguhnya langkah ini jangan sampai terlewat. Contoh kasus siswa saya, si ibu saat membelikan film untuk B, tak memperhatikan sampul depan yang ada foto wanita dewasa dengan bagian dada terbuka dan tak memperhatikan label peringatan batas usia.

5. Berilah pengertian pada anak sejak awal bahwa tidak semua film yang dia sukai bisa dia tonton. Ada batasan yang harus mereka patuhi jika ingin menjadi pribadi yang sehat secara fisik dan mental.

6. Berilah pengertian pada anak sejak awal masuk sekolah bahwa ada peraturan dari sekolah yang harus dia taati, salah satunya adalah adanya larangan untuk membawa barang-barang yang tidak berhubungan dengan kegiatan belajar di sekolah.

Beginilah beberapa hal yang bisa kita lakukan sebagai orang tua yang ingin mengupayakan tontonan yang sehat bagi anak-anak kita. Silahkan diterapkan jika memiliki manfaat bagi kehidupan anak anda. Yuhuuu.. Selamat membimbing anak kita ^^

[Arya] Selamat Ulang Tahun

| on
Saturday, November 30, 2013
Kue ulang tahun Arya yang kedua :)

Berbicara tentang November, saya bicara tentang ulang tahun Arya yang jatuh di tanggal 11 November. Tahun ini, dia sudah dua tahun. Dan dia sudah tau apa itu kado, apa itu kue tart dan apa itu lagu 'Selamat Ulang Tahun'. Jadi, waktu dia bangun tidur lalu diberi ucapan selamat ulang tahun, dianya sudah senyum-senyum. Mungkin juga karena kami yang dewasa ini sudah sounding dari jauh-jauh hari kalau dia mau ulang tahun.

Sehari Tanpa Gadget : Puaskan Hobi, Anak dan Keinginan

| on
Saturday, November 30, 2013
Giveaway kali ini temanya sip banget ya. Sehari tanpa gadget. Waduh, apa terjadi sama saya kalau sehari tanpa gadget?

Jawabannya adalah *drum roll*

Mungkin saya bakalan bete meskipun nggak pakai sangat. Ya secaralah. Saya itu sudah hampir selalu berkutat dengan gadget. Sejak Arya dah ngerti kalau laptop itu adalah barang yang menarik buat dipencet dan bisa dijadikan alasan buat emaknya nggak online atau ngedraft, akhirnya sayaseringnyapindah aktifitas online dan ngedraft ke smartphone. Tapi ya ibu-ibu, Arya juga udah mulai ngerti kalau smartphone itu bisa buat tampilkan video dan malah bisa ditenteng kemana-mana, akhirnya emaknya balik lagi ke laptop. Hihi, ini apaan sih ngomongnya, mulai ngelantur deh.

Tapi memang itulah nyatanya. Gadget sudah akrab bagi saya, bahkan juga bagiemak-emak yang lainnya. Apalagi nih ya, smartphone dengan OS android sudah memberikan banyak penawaran aplikasi yang menarik hati. Mulai dari social media, multimedia, game, edication juga editing photo. Kalau kata Papa sih, para pria mentok di multimedia dan game, tapi kalau emak-emak lebih cenderung mencoba semua aplikasi. Ah, ini nih salah satu yang bikin saya juga nggak bisa lepas dari gadget.

Tapi andaikan nggak ada gadget sehari aja, nggak masalah juga sih. Kenapa? Masih bisa diisi dengan kegiatan lainnya.Asal nggak sampai seminggu aja tuh ya tanpa gangetnya.

Kalau tadi saya cerita kalau saya ngedraftnya pakai smartphone, bisa tuh saya ngedraftnya manual. Caranya? Ya balik lagi ngedraft pakai kertas sama bolpoin. Apa nggak pegel tuh? Emang pegel sih, ntar juga pengerjaannya jadi dua kali. Lha daripada idenya bersliweran aja tapi nggak segera ditulis, bisa-bisa malah nggak jadi beneran. Nggak produktif juga akhirnya. Malah bisa tuh sekalian beraktifitas dengan Arya. Tinggal beri dia kertas, ajak saja dia menulis atau menggambar. Mungkin sedikit terganggu, tapi bisa diatasi kok.

Atau, kalau nggak ada gadget ya bisa saya habiskan dengan main-main sama Arya. Arya sekarang sudah bisa melakukan banyak hal baru dan selalu minta ditemani. Misalnya nih, sekarang Arya sudah bisa memegang pensil dengan benar. Dan menggoreskannya di kertas, membentuk garis-garis panjang atau melingkar-lingkar nggak jelas gitu. Yang kalau saya tanya, dia bilangnya itu ayam, bebek, kucing, dan lain-lainnya. Kalau dia sudah malas, saya yang disuruh menggambar. Atau, menemani dia bernyanyi sambil bawa remote tv , pura-puranya itu mikrofon.Kalau nggak gitu, temani dia nonton film-film di saluran tv anak-anak. Arya tuh kalau lihat tv, dia nggak suka lihat sendirian. Minta ditemani. Saya sih senang-senang aja, daripada dia ngeliat tv tapi nggak ngerti artinya, mending saya temani sambil saya kasih tahu adegan apa saja yang dia tonton. Sekalian saya kasih nasehat. Sip yah.
Bermain air dari semprotan :)


Atau saya membuat scrapbook. Satu layout saja. Kalau aktifitas ini nggak bisa disambi dengan mengasuh Arya. Umur dia masih masanya bertanya tentang banyak hal. Masih suka penasaran sama sesuatu yang baru. Kalau dia ikutan nimbrung saat saya garap scrapbook, wah, bisa-bisa bercampur aduk itu semua alat dan bahan. Apalagi kalau dia lihat punch atau embelish yang lucu dan unik. Argh!! Daripada menambah pekerjaan lagi, lebih baik garap scrapbooknya saat dia tidur siang saja.
Salah satu layout scrapbook di project 'Arya Satu Tahun'



Dan kegiatan lain yang bisa saya lakukan saat sehari tanpa gadget adalah belajar menjahit. Baiklah, saya akui saya tidak terampil menjahit, meskipun di rumah ada mesin jahit milik ibu. Sebenarnya dari dulu ibu sudah menyuruh saya untuk belajar menjahit, tapi sayanya yang ogah-ogahan. Kata ibu saya dulu, setidaknya perempuan itu bisa menjahit. Kenapa? Karena akan mudah kalau ada baju anak atau suaminya ada yang robek. Atau memasang bed sekolah anaknya. Atau sekedar membuat rok dari kain sarung. Benar juga sih kata ibu saya itu. Saya baru merasakannya sekarang, saat dua celana kerja suami saya robek dan baju kerja saya butuh dikecilkan karena badan saya yang mulai mengecil *pamer body bok*.
Mesin jahit milik ibu. Jadul banget, tapi masih enak dipakainya :)


Sebenarnya, banyak hal yang bisa kita lakukan kalau sejenak saja kita terlepas dari yang namanya gadget. Meskipun kita harus pintar bagi waktu antara aktifitas satu dengan yang lain. Walau begitu, nggak bisa memungkiri sih, kalau gadget memang sudah erat dalam kehidupan kita. Manfaatnya banyak, asal penggunaannya tak berlebihan. Salam kreatif ^^

***

“Tulisan ini ikutan GA keren Sehari Tanpa Gadget di blog Keajaiban Senyuman lhooooo”

Manfaat Menggambar Bagi Anak Usia 2 Tahun

| on
Thursday, November 28, 2013
Mencampur warna :))


Saya termasuk salah satu pembaca blog milik mbak Lianny, karena banyak tulisan dari mbak Lianny yang memberikan banyak tips. Nah, waktu dia bikin GA November ini, langsung deh ubek-ubek blognya. Ubek-ubeknya sih udah lama, tapi baru kegarap sekarang *maaf baru setor*. Dan saya memilih tulisan ‘Kembangkan Kreativitas Anak dengan Melukis’ sebagai tulisan favorit saya. Dari tulisan mbak Lianny ini, saya jadi bisa menemukan manfaat menggambar bagi anak usia 2 tahun lho!

Dari tulisan mak Lianny ini, saya jadi mengetahui bahwa kegiatan melukis tidak hanya itu saja-saja. Bukan hanya melukis dengan cat air, selesai. Tapi banyak cara supaya kreatifitas si anak bisa muncul, seperti menaburkan garam supaya bertekstur, menggunakan biji-bijian, menempeli hasil lukisan dengan helaian benang, dan membingkai hasilnya. Tuh kan, banyak bisa dilakukan dengan melukis bukan?

Kalau saya nih, sebelum mengenalkan Arya melukis, saya sudah jauh-jauh hari mengenalkan Arya pada menggambar.  Karena bagi saya, sebelum mengetahui teknik melukis, ada baiknya si anak mengetahui dahulu teknik menggambar. Arya kalau diajak menggambar, bersemangat sekali. Tapi nggak masalah sih, karena menggambar banyak manfaat untuk tumbuh kembang Arya, baik secara motorik atau psikisnya.

Beberapa manfaat menggambar bagi anak usia 2 tahun sesuai dengan pengalaman saya adalah :

1. Menggambar dapat melatih kemampuan motorik halus anak. Kemampuan motorik halus adalah kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil dan koordinasi mata-tangan (sumber). Salah satu cara untuk melatih motorik halus anak adalah dengan menggambar. Keuntungan yang saya dapatkan, sebelum umur 2 tahun, Arya sudah baik lho cara memegang pensilnya.
Perhatikan deh cara Arya memegang bolpoin :)


2. Menggambar bisa menambah wawasan si anak. Saya tidak peduli dengan gambar saya yang acak kadut asal saya bisa menggambar bentuk bebek, kucing, sapi, rumah, pohon, mobil, bis, dan lainnya. Mengapa? Karena dengan menggambar, saya mengenalkan bagian-bagian pada tiap benda itu. Misalnya, berapa kaki kucing, berapa jumlah roda bus, dimana letak lampu motor, bagaimana bentuk roda, dsb.

3. Menggambar bisa melatih keberanian anak untuk bertanya pada orang lain. Bagi Arya yang masih berusia 2 tahun, menggambar bisa dengan cepat melatih kemampuan bertanya yang baik. Misalnya saat Arya bertanya tentang warna yang dia cari, dia saya latih untuk menggunakan bahasa yang sopan. Seperti, “Mama, crayon merah yang mana?”. Meskipun akhirnya Arya hanya bisa bertanya dengan kalimat, “Ayon eyah, ana, Ma?”.

4. Kalau kegiatan menggambar ini dilakukan bersama temannya, maka akan melatih kemampuan bersosialisasi anak. Kemampuan ini antara lain menghargai hasil karya orang lain, melatih anak untuk mau meminjamkan alat menggambarnya kepada temannya dan menjalin komunikasi yang baik antara anak dan temannya. Tetapi karena Arya masih 2 tahun, saya masih mengawasi dia dari jauh saat menggambar bersama temannya. Karena pada usia ini, sifat ke-aku-an anak sangat dominan. Saya nggak mau ujung-ujungnya bertengkar karena mereka tidak mau saling meminjamkan alat menggambarnya.
Menggambar bersama kakak Eba dan Umi :)

5. Menggambar akan mengenalkan anak pada bentuk. Kita bisa mengenalkan bagaimana bentuk segitiga, segiempat, lingkaran, garis panjang dan pendek, gambar kecil dan besar, dan masih banyak lagi. Mungkin hasil yang kita inginkan tidak akan terlalu terlihat pada hasil gambar mereka. Namun ketrampilan ini akan terlihat jika diaplikasikan dalam kegiatan sehari-hari. Misalnya saat menyuruh anak memasukkan benda yang sesuai dengan bentuknya. Atau saat si anak kita suruh menyebutkan benda mana yang besar dan benda mana yang kecil.

Demikian Mak manfaat menggambar bagi anak usia 2 tahun. Jangan bosan ya kalau si anak sukanya menggambar, karena selain lima manfaat di atas, masih banyak manfaat lain dari menggambar yang emak-emak bisa gali. Salam kreatif ^^

***

Ohya, syarat kedua, menentukan umur putrinya mbak Lianny. Baiklah, saya tebak. 7 tahun. Semoga benar *rapal doa berhari-hari*.

***

“Postingan ini diikutsertakan untuk memeriahkan GA Blog www.liannyhendrawati.com.”



Tentang Usaha Mengambalikan Foto Yang Terhapus

| on
Sunday, November 24, 2013


credit


Tulisan tentang usaha mengembalikan foto yang terhapus sudah ada di draft sekitar sebulanan ini. Udah mulai berdebu tapi cepat-cepat saya ambil sapu buat dibersihkan dan braso buat dioles *halah, apaan sih?*. Ini curhat sebenarnya tapi sekalian intropeksi diri. Sebulan yang lalu, sekitar 200-an foto Arya di handphone terhapus. What? Iya, sumpah! 200-an foto terhapus! Huwwaaa!!! Sayanya nangis pengen guling-guling tapi nggak mungkin karena gengsi umur.

Lupakan Dinginnya Hujan, Demi Kopdar yang Hangat

| on
Thursday, November 21, 2013
credit

Hallo semuanya!!! Akhirnya saya kembali ke dumay setelah seminggu ini nggak jelas lari kemana-mana. Tapi tetap kan ya, nggak mungkinlah setelah saya nggak mampir di dumay seminggu ini, saya nggak bawa bahan buat nulis di blog. Buat tulisan pembuka kali ini *hatsah*, saya mau cerita kopdar pertama saya dengan sesama blogger.

Acer Aspire E-1 Series Cocok untuk Aktifitas Saya dan Keluarga

| on
Thursday, November 14, 2013
Acer Aspire E-1 432 (credit)
Udah nggak perlu ditanyakan lagi ya kelebihan yang dimiliki oleh Acer E-1 Series itu. Mulai dari prosessor yang cocok buat emak-emak macam saya yaitu Intel Celeron yang memiliki keluaran listrik rendah banget, yaitu hanya 15 watt saja. Otomatis kan pengeluaran keluarga bisa ditekan meskipun notebooknya digunakan seharian penuh. Belum lagi, baterainya yang bisa bertahan 6 jam saat dipakai untuk aplikasi ringan dan 4 jam untuk game.

Akhirnya, saya nggak nolak banget memiliki ini notebook. Apalagi kalau dapatnya gratis alias berupa hadiah. Kenapa? Ini nih alasannya :

1. Notebook Acer Aspire E-1 Series kan slim banget, 30% dari notebook yang sekelas sama dia yaitu hanya 2,2 kg saja. Ini sesuai dengan kondisi saya sekarang setelah mengalami kecelakaan empat bulan yang lalu. Tulang lengan kiri saya patah dan tidak diperbolehkan membawa atau menjinjing barang yang terlalu berat. Memang program fisioterapi saya sudah selesai hari Senin kemarin tetapi saya masih harus latihan angkat beban untuk menguatkan otot lengan. Kalau saya bawanya notebook yang berat, tulang saya terasa ngilu.

2. Saya mengajar dan membutuhkan notebook untuk membuat materi bimbingan kelompok dan membuat laporan konseling. Pasti oke banget tuh kalau saya ke sekolah sambil membawa notebook slim. Bisa tampil keren dengan notebook slim yang paling tipis di kelasnya dan juga memiliki desain yang cantik. Mana nggak berat buat dibawa tiap hari pula. Otomatis nih ya, jadi bersemangat pula saya mengerjakan laporan dan membuat materi bimbingan.

3. Saya dan keluarga saya berusaha semampu kami untuk selalu berhemat energi. Selain mendukung program pemerintah juga untuk menekan pengeluaran keluarga. Misalnya ya, kami tidak memiliki AC meskipun suhu di Gresik tinggi sekali. Lebih baik buka semua pintu dan jendela dan membiarkan angin masuk. Saat malam hari, lampu yang menyala hanya lampu di kamar, itupun lampu tidur. Kami juga memilih alat elektronik dengan watt kecil. Misalkan mesin cuci. Tidak perlu mahal, toh fungsi dasarnya sama yaitu untuk mencuci baju. Dan karena listrik yang dihasilkan notebook keluaran Acer Aspire E-1 series didukung oleh performa Intel® Processor di dalamnya ini tidak lebih dari 30 watt, notebook ini cocok untuk keluarga kami.

4. Saya suka sekali dengan notebook dengan ukuran kecil. Apalagi kalau bukan karena mudah dibawa kemana-mana. Dulu, saat saya kuliah semester akhir, saya pernah memiliki Acer Aspire (tapi lupa tipenya) yang ukurannya 16". Nggak praktis dibawa kemana-mana. Sedangkan Acer Aspire E-1 Series ini kan hanya 14" saja. Pastilah tinggal diselipin di tas saat bepergian.

5. Notebook Acer Aspire E-1 Series ini menunjang juga aktifitas ngeblog dan crafting saya. Kenapa? Wifi dong, wifi. Wifi seri terbaru ini bikin ngeblog makin oke. Saya bisa dengan leluasa posting dan blogwalking. Saya juga bisa klik sana sini buat cari layout scrapbook dan tutorial bikin scrapbook handmade yang cantik dan kreatif. Kalau misalnya lupa bawa modem, tinggal nyalakan wifi, masalah teratasi. Hobby dan kreatifitas jadi tersalurkan dengan baik bukan?

6. Saya ingin memberikan fasilitas belajar untuk Arya terutama permainan-permainan dan video yang menunjung tumbuh kembang dia. Arya suka sekali dengan game ketangkasan. Sedangkan untuk film, Arya suka sekali dengan film yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari dia. Seperti Timmy Time dan Barney. Notebook Acer Aspire ini menunjang sekali untuk aktifitas Arya ini. Kenapa? Apalagi kalau bukan karena ketahanan baterainya. Untuk main game berat saja bisa bertahan 4 jam, apalagi hanya sekedar game ketangkasan untuk anak usia 2 tahun.

7. Emak yang cerdas dan kreatif butuh alat penunjang yang baik pula. Saya ingin jadi istri dan emak yang cerdas, yang mampu mengimbangi aktifitas suami saya dan mampu memberikan kontribusi yang berarti dalam tumbuh kembang anak dan siswa-siswa saya. Dan kecerdasan ini bisa saya dapatkan dengan selalu update informasi terbaru dan menganalisa sesuai kebutuhan. Saya juga ingin jadi wanita yang kreatif. Karena kreatifitas akan membuat seseorang selalu menghargai hasil karya orang lain dan mampu menjadi penyeimbang otak kiri yang sudah berat kerjanya alias selalu menganalisa kehidupan. Dan peningkatan kemampuan saya ini perlulah didukung oleh perangkat keras yang handal, semacam Acer Aspire E-1 Series ini.

Jadi, jadi... saya berharap banget nget nget dapatkan notebook slim ini. Semoga bisa terkabulkan. Amin.

***

“Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia.”

(Cerfet #MFF1) : Bumerang Masa Lalu

| on
Tuesday, November 12, 2013
credit


**
Alya melajukan mobilnya dengan kencang, tak peduli dengan kondisi jalan yang tak sepi. Yang ada dipikirannya sekarang adalah menceritakan segala gelisah yang tertoreh di ruang hatinya kepada neneknya. Nenek Malinda. Hanya pada Malinda dia bisa terbuka, hanya pada Malinda dia menceritakan segala rahasia yang dia punya. Malinda adalah sosok pelindung yang bijak, disiplin dan terbuka. Sesibuk apapun dia dengan usaha konveksinya, Malinda selalu memiliki waktu untuk Alya.

Setelah Alya memarkirkan mobilnya, bergegas dia menuju dalam rumah dengan setengah berlari. Tanpa salam, tanpa sapaan, dia langsung memeluk Malinda yang sedari tadi menanti di sofa panjang di ruang tamu. Air matanya berlomba turun ke pipi, badannya lunglai benar karena hati yang terlalu patah oleh cinta. Malinda tak bertanya ada apa dengan cucu perempuan satu-satunya ini. Yang dia lakukan hanyalah menunggu Alya menceritakan keluh kesahnya.

"Nek, apakah sesakit ini patah hati itu?"

Malinda tak menyangka Alya akan menanyakan pertanyaan yang dulu pernah dia tanyakan pula pada dirinya sendiri. Untuk sekian detik dia diam, tak berusaha memberikan jawaban apapun. Karena yang dia pahami selama ini adalah patah hati itu sungguh amat menyakitkan bahkan setelah berlalu berpuluh-puluh tahun lamanya.

"Nek?"

"Ah iya." Malinda tersadar dari lamunan masa lalunya. "ada apa, Sayang?"

"Aku sudah siap cerita semuanya ke Nenek." Alya menghapus air matanya dan membetulkan posisi duduknya yang bersebelahan dengan Malinda.

"Minumlah dulu, Sayang." Malinda menyodorkan segelas air putih pada Alya. Cepat-cepat diteguk air dalam gelas itu hingga hampir habis. Malinda tersenyum, mengambil gelas dari tangan Alya dan meletakkannya kembali di meja.

"Apa yang mau kamu ceritakan, Sayang?" tanya Malinda sambil mengelus punggung cucunya.

"Nek, aku jatuh cinta."

Malinda tersenyum. "Dengan siapa? Ganteng nggak?"

Alya geli dengan pertanyaan neneknya, tak ayal membuat dia tersenyum pula. "Ganteng kok. Pintar pula," jawabnya dengan tersipu.

"Lalu, apa yang diperbuat si ganteng sampai cucu Nenek ini bisa patah hati?" tanya Malinda dengan halus tapi tetap penuh selidik.

Mimik wajah Alya berubah seketika saat neneknya bertanya tentang patah hat iyang dialaminya sekarang. Dia mencoba tenang, tak lagi seemosi tadi. Tangis sudah tak lagi mewarnai ceritanya kali ini. Disampaikan semua yang ada dalam pikirannya, semua yang dia alami, semua yang terjadi, serta semua kemungkinan-kemungkinan yang menjadi momok tersendiri baginya. Tanpa jeda, tanpa ragu.

Malinda tak bisa menutupi kaget yang menyetrum sendi-sendi di tubuhnya. Cerita tentang cinta Alya, seolah menjadi pelengkap atas apa yang dia alami berpuluh-puluh tahun silam dalam keluarga yang dia bina dengan suaminya, Nanda. Perceraian yang dia kira menjadi jalan keluar atas kerumitan masalah rumah tangganya, ternyata malah menjadi bumerang bagi dirinya sekarang. Tuhan ternyata tak hanya mengujinya dulu kala, tetapi juga saat ini, di saat usianya sudah sangat senja.

"Nenek, aku harus bagaimana? Aku cinta sekali pada Rio, jangan sampai mereka menjadi satu." Pertanyaan Alya membubarkan lamunan Malinda.

"Tapi aku pun tak ingin jadi anak durhaka. Aku pun mengerti bahwa Mama tak selamanya dia memilih untuk sendiri."

Malinda diam, tak bisa menjawab. Mulutnya masih kelu, mengatur kalimat apa yang hendak dia sampaikan pada Alya. Keraguan muncul dalam benaknya untuk membantu masalah Alya karena dia sendiri butuh bantuan untuk menegarkan hatinya.

"Nek.."

"Ya Sayang? Maaf, Nenek nggak fokus."

Alya menyadari perubahan mimik wajah neneknya. Ada sedikit ruang kosong dalam mata neneknya yang membawanya entah menuju kemana.

"Nenek tidak apa-apa?" Alya mulai khawatir dengan kondisi Malinda, mencoba mengalihkan sejenak masalahnya dan bertanya tentang kondisi neneknya.

"Ah tidak. Tidak apa-apa." Malinda menjawab dengan terbata-bata dan senyum yang dipaksa. Tapi siang ini, dia harus berkonsentrasi pada masalah cucunya dan tak ingin masa lalu menguasai emosinya.

"Alya, ada baiknya kamu pulang dulu. Kasihan Mamamu. Tak baik perawan lama-lama di luar rumah, apalagi pergi tanpa ijin."

"Tapi Nek.."

Malinda meremas jemari Alya dengan lembut. "Pulanglah. Baik-baiklah dengan Mamamu. Karena hanya kamu yang dia punya."

Alya diam, tak bisa protes dengan perintah neneknya. Benar memang, tak pernah dia semarah ini pada mamanya karena mereka berdua selalu saling menguatkan. Karena mereka hanya berdua.

Alya diam. Beberapa saat kemudian dia mengambil tas yang dia jatuhkan sekenanya tadi. "Ya, lebih baik aku pulang," ucapnya sebelum meninggalkan neneknya.

***

Malinda menekan sebuah nomor yang sudah lama tak dia hubungi, sejak hakim mengabulkan permohonan perceraiannya.

"Hadi, bisa bantu aku?"

"Masih ingat dengan Kinansih? Ya.. yang itu."

Sebentar Malinda mengambil nafas sebelum mengungkap maksudnya.

"Oh iya, ya. Maaf, aku sedikit kalut sekarang," ucap Malinda gagap. "Bisakah kamu mencarikanku informasi tentang Kinansih dan anaknya?"

"Apa saja, semuanya."

Malinda tampak mengangguk-angguk. Lantas bersuara dengan gembira. "Ah, aku tahu umurmu memang sudah tak lagi muda. Tak apa kalau kamu limpahkan tugas ini pada anakmu."

"Oke, kutunggu tak lebih dari lima hari."

Dan Malinda mengakhiri teleponnya. Dia sunguh percaya, bahwa apapun infornasi yang nantinya dia dapat dari Hadi -atau mungkin dari anaknya Hadi- akan menjadi jalan keluar untuk masalah Alya.

Cerita ABG : Bantu Masalah Mereka Yuk!

| on
Sunday, November 10, 2013
Cerita ABG alias Anak Baru Gede. Apaan sih, kok ceritain tentang ABG? Sebentar, saya ini maunya cuap-cuap sedikit tentang ABG dan masalah-masalah yang sering mereka hadapi.

Begini, ABG itu bisa dikatakan sebagai remaja, jika dilihat dari fase kehidupan manusia.Saya beri dasarnya dulu ya, ibu-ibu, bapak-bapak *halah**dilempar cilok sama pembaca*. Yang pertama, remaja itu adalah fase dimana seseorang itu adalah 'milik temannya'. What?? Silahkan perhatikan jika anda memiliki anak yang sedang remaja, anak anda lebih memiliki hubungan sosial yang intens dengan teman-temannya. Kalau saat anak-anak, teman itu adalah sebatas teman bermain, berbeda dengan remaja. Teman tak lagi sebagai teman bermain tapi juga sebagai media pengembangan kepribadian dan kemampuan diri. Tak heran, jika banyak orangtua yang mengeluhkan kalau anaknya tak lagi dekat dengan mereka dan lebih suka menghabiskan waktunya dengan teman-temannya.

Dasar kedua, bahwa remaja itu sedang berada pada masa 'storm and stress'. Hal inilah yang banyak orang dewasa mengatakan kalau remaja itu labil banget. ABG labil. Ya, karena mereka sedang belajar untuk mandiri dan tak bergantung pada orangtua. Namanya juga masih belajar, sering salah dalam mengambil keputusan. Keputusan yang diambil pun belum matang benar dan masih membutuhkan bimbingan dari orangtua dan gurunya. Dan jika mereka tak mampu mengambil keputusan yang tepat juga kurang bantuan dari orangtua, maka akan menjadi masalah tersendiri bagi remaja. Belum lagi emosi yang dimiliki remaja masih belum stabil, membuat masalah yang dialami remaja akan mudah memunculkan stres.

Nah, nah, karena remaja itu masanya 'milik teman', masalah yang mereka hadapi ya nggak jauh-jauh dari masalah hubungan sosial, baik hubungan dengan keluarga atau hubungan dengan teman. Contoh-contoh masalah remaja adalah :
- hubungan dengan orangtua
- hubungan dengan lingkungan sekitar
- hubungan dengan teman
- hubungan dengan lawan jenis
- pembelajaran
- kepribadian
- kesehatan

Karena masalah-masalah remaja banyak berhubungan dengan kehidupan bersosialisasi, baiknya, orangtua mempersiapkan remaja sejak dini untuk bisa melatih ketrampilan-ketrampilan sosialnya. Seperti mengikutkan remaja pada kegiatan-kegiatan positif yang memungkinkan untuk sering bertemu dengan orang lain.

Dan, jika anak kita sudah memasuki masa remaja, kita bisa melakukan beberapa hal berikut ini untuk membantu mereka menyelesaikan masalahnya.

1. Kenalilah perubahan perilaku, emosi dan ekspresi remaja. Ya, tugas orangtua bukan hanya mengamati apakah anaknya sudah atau belum melakukan aturan dalam keluarga, tapi juga mengamati perubahan perilaku, emosi dan ekspresi saat mereka menjalankan aturan-aturan keluarga. Jika orangtua peka pada perubahan yang terjadi pada anak, maka akan mudah juga orangtua memahami bahwa anaknya sedang mengalami masalah.

2. Luangkan waktu bersama remaja dengan kualitas yang baik. Meskipun hanya sedikit sekali waktu yang orangtua punya untuk remaja, isilah dengan kegiatan yang sifatnya positif. Kegiatan ini akan semakin meningkatkan kepercayaan anak pada orangtua sehingga orangtua akan mudah mengorek informasi saat si anak mengalami masalah.

3. Orangtua hendaknya mampu menyeimbangkan waktu antara anak dengan temannya. Maksudnya begini, remaja akan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan teman-temannya. Yang bisa dilakukan orangtua adalah imbangi dengan meluangkan waktu bersama mereka sesering mungkin. Beberapa remaja mungkin merasa tidak nyaman dengan sikap orangtua yang seperti ini. Namun jika orangtua melakukannya dengan hati-hati dan tidak memaksa, anak kita akan nyaman-nyaman saja kok.

4. Ketahuilah siapa saja teman-teman anak kita dan bagaimana keseharian mereka. Ketahuilah sekedarnya saja, karena remaja juga nggak terlalu suka dengan orangtua yang terlalu stalking kehidupan mereka.

5. Hentikan kegiatan kita jika mereka menunjukkan sikap ingin curhat.

6. Berkomunikasilah dengan guru di sekolahnya. Hal ini sudah jarang dilakukan oleh orangtua yang memiliki anak fase remaja (kisarannya antara SMP-SMA awal) karena beranggapan kalau anaknya sudah besar dan bisa menyelesaikan masalahnya sendiri di sekolah. Padahal, gurunya lho senang banget kalau ada orangtua yang mau konsultasikan anaknya karena akan memudahkan guru jika siswanya memiliki masalah di sekolah.

Nah, bagaimana, sudah bisa kan mengimbangi labilnya ABG? Kalau sudah bisa, artinya para ABG ini bakal dekat dengan kita dan kita akan mudah memberikan nilai-nilai positif yang menjadi dasar dalam kehidupan mereka.

***

"Artikel ini turut mendukung gerakan PKK Warung Blogger"



Meningkatkan Kualitas Hubungan dalam Keluarga dengan Acer Aspire E1-432

| on
Wednesday, November 06, 2013
Saat bersama dengan keluarga adalah saat yang harus saya mafaatkan sebaik mungkin. Dulu, sebelum saya menikah dan memiliki anak, saya bekerja di dua sekolah. Pagi di SMP negeri, siangnya di MTs swasta. Dulu sih, awal menikah sayanya oke-oke saja tuh kerja dari pagi sampai petang. Ya, selain saya mencari penghasilan buat tabungan, saya juga butuh pengalihan kesendirian karena Papa pulang kerjanya malam hari.



Tapi ternyata setelah memiliki anak, beda lagi.



Waktu itu saya pulang kerja, ibu saya -yang mau dititipi Arya yang masih tiga bulan- cerita kalau seharian itu si Arya pinter banget minum ASIP-nya. Juga cerita kalau Arya sudah mulai banyak mengoceh. Saya senang dengar cerita beliau tapi saya kok ya jadi merasa sedih juga. Kenapa? Karena waktu saya pulang kerja, si Arya malah udah tidur. Mana bisa tahu yang diceritakan ibu saya tadi? Lalu saya jadi mikir ulang tentang kemauan saya menjadi seorang ibu. Dan akhirnya saya putuskan buat resign dari MTs dan memberikan waktu saya setelah bekerja untuk Papa dan Arya.



Sejak itulah, saya merasa ada kelegaan. Dan kelegaan itu saya isi dengan mengurus Arya.dan bermain bersamanya. Saya biasa bermain banyak hal dengan Arya, mengikuti dia aja maunya main apa dan tinggal saya sisipi dengan ketrampilan-ketrampilan motorik dan kognitifnya. Dan kalau sudah bosan bermain, Arya biasanya kengajak saya menonton video di notebook. Biasanya, saya kasih video tentang hewan atau kartun anak-anak. Videonya ya tentu saja saya dapatkan dari download di youtube.



Selain dengan Arya, saya juga memanfaatkan waktu bersama Papa yang sedikit itu. Ya, kami bertemunya hanya malam hari, beberapa jam saja sebelum tidur. Selain bercerita ini itu, kami juga berdiskusi. Kalau sudah bosan berdiskusi, kami nonton film setelah si Arya tidur pulas. Cari DVD filmnya, buka notebook, lihat deh berdua.



Dua kegiatan tadi, kami membutuhkan notebook yang memiliki performa baik. Terutama dalam hal ketahanan baterai dan kejernihan gambar yang dihasilkan. Dan, dan, dan, notebook keluaran Acer sepertinya cocok banget nih. Contoh yang lagi tren adalah Acer Aspire E1-432 yang ternyata memiliki spesifikasi yang mendukung buat kegiatan keluarga kami. Mengapa?
Acer Aspire E1-432 (credit)



Acer Aspire E1-432 merupakan Acer E1Sllim series yang didukung oleh prosesor Intel® Dual Core Celeron® Processor 2955U. Prosesor ini sudah terintegrasi dengan Intel HD graphics terbaru dengan peningkatan kinerja yang signifikan dibanding dengan Intel HD graphics sebelumnya. Artinya, grafis yang ditampilkan nantinya akan lebih halus hasilnya dan ini akan membuat kami nyaman saat menonton film berformat HD atau video hasil download.



Ditambah lagi, notebook ini difasilitasi baterai dengan kapasitas 2500 mAh yang dapat bertahan hingga 6 jam (359 menit) untuk memutar konten multimedia (film HD), dan berkisar 3-4 jam saat menjalankan game. Meskipun baterai notebook ini bisa bertahan lama, ternyata TDP-nya atau listrik yang dihasilkannya tidak tinggi. Hanya 15watt saja. Nah, puas-puasin deh nantinya saya, Papa sama si Arya di depan notebook ini.



Dan kabar gembiranya lagi, notebook ini cocok buat Papa yang seorang gamer. Nggak akan terganggu deh Papa main gamenya karena resolusi yang dihasilkannya baik *lirik Papa dan mulai deh merayu*.
Papa kasih tau Arya saat dia main PSP ^^



Didukung performa Intel® Processor di dalamnya, nampaknya kegiatan keluarga kecil kami ini akan lancar-lancar saja. Membantu banget untuk meningkatkan kualitas hubungan kami.



Wah, ini notebook direkomendasikan banget buat emak-emak macam saya. Sudah bisa dipakai kerja karena bisa tampil keren dengan notebook slim yang paling tipis di kelasnya, bisa juga buat menonton film berformat HD tanpa perlu khawatir terkena biaya listrik yang banyak.



Nah, nah, tunggu apalagi? Segera rayu suami masing-masing *halah* buat miliki ini notebook ^^

***
“Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia.”

Custom Post Signature

Custom Post  Signature