Sabtu, 21 Desember 2013

Menjadi Wanita Smart Saat Membantu Menyelesaikan Masalah Siswa

Quote ini nggak ada hubungannya sama tulisan saya, tapi saya suka (credit)

Menjadi Wanita Smart Saat Membantu Menyelesaikan Masalah Siswa. Menjadi wanita yang smart di masa sekarang, bagi saya sangat dibutuhkan, bahkan wajib. Wanita yang smart, pastinya memiliki prinsip yang kuat akan suatu problemantika yang setiap harinya dia hadapi. Wanita yang smart, juga pasti memiliki banyak pertimbangan saat tersudut oleh suatu masalah dan mampu mengambil langkah yang tepat untuk menyelesaikannya.Dan begitulah yang harus saya tanamkan setiap hari dalam diri saya. Saya harus menjadi wanita yang smart supaya saya dapat melakukan aktifitas saya dengan mudah, enjoy, dan berorientasi pada masa depan yang baik.

Dan aktifitas saya sehari-hari sebagai guru bimbingan konseling, istri dan seorang ibu haruslah saya lakoni dengan cara yang smart. Bukankah memang harus seperti itu?

Sehari-hari, saya dihadapkan oleh berbagai masalah-masalah siswa yang dapat mengganggu kegiatan belajarnya. Masalah-masalah siswa ini muncul saling bergantian dan memiliki kemungkinan menjadi masalah yang berkelanjutan. Dan akan semakin besar pula jika ditunjang dengan perubahan perilaku siswa menjadi negatif, orang tua yang tak mau diajak kerja sama, atau wali kelas yang kadang menjadi lebih emosional ketimbang biasanya. Disaat seperti inilah saya harus bekerja dengan smart sehingga bisa membantu menyelesaikan masalah-masalah itu dengan baik.
Foto ini diambil dengan candid sama siswa saya pakai hape saya :))
 
Dalam dunia bimbingan konseling yang saya jalani, tak semua siswa yang memiliki masalah mau lho dibantu untuk menyelesaikan masalahnya. Bukan karena mereka tak memahami kalau mereka memiliki masalah tapi lebih karena mereka bingung hendak melakukan apa dan kadang sudah kadung masalah itu menjadi meluas. Padahal, jika mereka tak segera menuntaskan masalahnya, maka masalah akan mengganggu proses belajarnya.

Mengapa bingung? Karena para siswa saya yang sudah remaja ini bingung akan bercerita pada siapa masalah mereka. Bahkan pernah saya bertanya pada mereka mengapa mereka tak menceritakan ke orang tua saja kalau bingung. Jawaban mereka? Malu dan takut dimarahi. Hm, akhirnya ya mau tidak mau saya sendirilah yang harus meraba masalah apa yang sedang mereka jalani. Bagaimana cara merabanya? Cara smart yang biasa saya pakai adalah dengan melihat dan mengontrol nilai akademik mereka secara berkala. Siswa yang memiliki masalah, biasanya nilainya akan turun drastis. Malah pernah saya temui, malah naik drastis. Lalu? Dari situlah nanti akan ketahuan, mengapa mereka mendapat nilai yang kisarannya jauh dari sebelumnya. Dan dari situ pulalah, saya akan tahu nilai di mata pelajaran apa saja yang naik atau turun dan nilai yang stagnan. Bahkan nilai stagnan pun akan menjadi masalah kalau nilainya merupakan nilai rata-rata bawah.

Saat menghadapi siswa yang memiliki masalah, saya pun harus smart. Nggak langsung dong saya marah-marah karena dia melakukan kesalahan. Ya, kadang namanya juga manusia, saya marah. Tapi tak langsung saya pukul dia. Bisa-bisa kena pasal perlindungan anak. Kalau sekiranya masalah siswa saya ini masih dalam taraf ‘tidak besar’, saya biasanya sedikit lebih santai saat menghadapinya. Tapi kalau sudah masalah siswa saya itu merambah kemana-mana dan sulit buat ditaklukkan *emangnya gunung Semeru apa?*, saya biasanya lebih dahulukan untuk mengambil nafas dan berfikir positif bahwa saya bisa membantu siswa saya menyelesaikannya.

Setelahnya?

Akan saya serahkan sepenuhnya hasil dari proses konseling. Apakah siswa saya itu mau diajak kerja sama atau tidak, atau orang tuanya mau diajak berunding atau tidak, atau bahkan wali kelasnya mau diajak berfikir dingin atau tidak. Kalau salah satu dari mereka ada yang tidak bisa saya ajak kerja sama, ya mau tidak mau saya pakai cara smart saya untuk berdiplomatik *halah*. Menyusun sebaik mungkin kalimat yang akan saya sampaikan, memberi dampak positif negatifnya, mengajak kerja sama dan membantu mencari solusi.

Biasanya, dengan cara seperti itu, masalah bisa terselesaikan dengan cepat. Tak perlu ada marah-marahan, saling menuding saya benar kamu salah, atau lontaran kalimat sindiran.

Proses bimbingan dan konseling pada siswa yang berkelanjutan, membutuhkan pikiran yang tenang, smart, dan tak mudah tersulut emosi. Jangan dikira saya ini nggak pernah dimaki wali murid. Oh, pernah. Lebih seringnya karena wali murid jarang meng-cross check dahulu informasi yang dia terima dari anaknya. Dan kalau sudah dimaki begini, harus siapkan amunisi untuk menenangkan wali murid. Cara smart apalagi kalau tidak memperhalus kalimat yang kita sampaikan tanpa mengurangi rasa hormat pada mereka. Sulit? Sangat! Bahkan tak jarang saya butuh bantuan wakil kepala sekolah kalau sudah sangat tak bisa dikendalikan wali murid itu. Bukankah wanita yang smart pun juga butuh bantuan? Yup! Akui saja saat butuh bantuan, tak perlu malu.

Dan kalau masalah-masalah siswa saya ini tak kunjung selesai dan membuat saya stres, tetap dong saya tidak boleh menunjukkan ke-stres-an saya ini di depan Papa dan Arya. Wah, bisa-bisa yang namanya bentakan bakal ada tuh di rumah. Kalau sudah banyak bentakan, Papa  yang menegur buat lebih sabar. Ohmigosh, untung diingetin Papa. Kalau nggak gitu, palingan sayanya tambah stres dan Arya tambah ogah nempel-nempel sama saya. Dan untuk menjadi wanita yang smart, saya harus bisa menerima kritikan dari orang-orang terdekat saya karena biasanya mereka lebih jujur.

Ya, begitulah defini wanita yang smart menurut saya. Mau mengeskplorasi diri, tak mudah emosional, mau membantu orang lain, mau mengakui bahwa dia membutuhkan pertolongan, serta mau menerima kritikan demi kebaikan diri. So, smart menurut kalian bagaimana?


"Blogpost ini diikutsertakan dalam Lomba Ultah Blog Emak Gaoel"


17 komentar:

  1. Ajak bicara sebagai sahabat agar mereka mau terbuka mengemukakan masalahnya.
    Semoga berjaya dalam Lomba
    Saya juga ikut
    Salam hangat darti Surabaya

    BalasHapus
  2. @pakdhe. setuju dengan pakdhe. memposisikan diri sebagai sahabat :)
    semoga kita menang, pakdhe :)

    BalasHapus
  3. berkeinginan membantu dan membutuhkan pertolongan adalah sifat dasar manusia sebagai mahluk sosial,
    selamat berlomba...semoga menjadi yang terbaik...salam :-)

    BalasHapus
  4. masalah memang tak pernah berhenti, senantiasa muncul menghiasi kehidupan, bertindak dengan smart dan pikiran serta jiwa yang ,matang adalah cara cara terbijak menghadapinya....
    salam hangat dari Kalimantan Selatan..semoga menjadi pemenang dalam kontesnya ya

    BalasHapus
  5. sebagai seorang guru yang memberikan konseling kepada para siswa, memang sering menghadapi benturan dengan sikap siswa yang terkadang nyeleneh, namun sebenarnya itu menjadi tantangan bagaimana kita bisa menghadapinya, dan menemukan solusinya...karena tantangan adalah salah satu pintu menuju kesuksesan

    BalasHapus
  6. @Pak hariyanto. Betul apa yang dikatakan pak hariyanto. semua orang membutuhkan pertolongan. Semua orang ingin membantu. tapi kapasitas masing-masing orang tentunya berbeda bukan? Salam kenal balik dari Gresik :)

    @Wieka. Setuju dengan kalimat anda, bahwa tantangan adalah pintu menuju kesuksesan. karena orang yang berani ditantang, berarti dia berani berkembang :)

    BalasHapus
  7. para remaja itu memang seharusnya menemukan tempat curhat yang tepat. Makanya bagus banget kalau guru BKnya smart :)

    BalasHapus
  8. miss pasti berat ya jadi guru BP apalagi kalo ada murid yg kena masalah berat. kadang linda juga kasian liat mama pulang kerja terus keliatan suntuk. susah ya jadi orangtua harus kontrol emosi ga di rumah ga di tempat kerja

    BalasHapus
  9. Pendekatan dengan ketulusan pasti mampu merubah semuanya dengan lebih baik, sukses GAnya mbak..:)

    BalasHapus
  10. hwaaaww..keren, miss! sebenarnya lebih susah nanganin masalah siswa daripada orang dewasa ya.. :)

    BalasHapus
  11. @dunia kecil. thankyu :)

    @mak Chi. haruslah kiranya menjadi guru yang smart. tak hanya guru BK saja sebenarnya, tapi juga guru-guru yang lainnya :)

    BalasHapus
  12. @Linda. Memang yang susah itu kalau mengontrol emosi saat di rumah. kadang kebawa juga masalah di sekolah yang beneran nguras emosi sekali. begitulah resiko bekerja. harus pintar-pintar ngatur emosi :)

    @mbak enny. semoga ketulusan selalu ada di kita, mbak. sehingga kita bisa terus dekat dengan anak-anak kita :)

    @nisa. memang sulit memecahkan masalah remaja, nisa. secara mereka belum bisa memahami masalahnya dengan baik. beda dengan orang dewas ya :)

    BalasHapus
  13. bu guru selalu punya solusi cerdas....
    :)

    BalasHapus
  14. @Dihas. Harus selalu punya. jika tidak begitu, akan semakin berat tugas guru :)

    BalasHapus
  15. guru memberikan berjuta ilmu.. semoga kebaikannya di balas oleh Allah SWT Aminnnnnn

    BalasHapus
  16. Hi, mohon ijin berbagi informasi ya… Yuk ikutan #ZockoUnlocked Blogging Competition berhadiah iPhone 5S atau iPad Mini! Untuk info lengkap silakan kunjungi http://weare.zocko.com ya dan jangan lupa sign up di http://www.zocko.com terlebih dahulu! Kami tunggu ☺

    BalasHapus

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^