Senin, 09 Desember 2013

Mencegah Remaja Menonton Film Beradegan 'Panas'

credit

Mencegah remaja menonton film beradegan 'panas', judul artikel ini muncul saat beberapa waktu yang lalu saya dikagetkan dengan kabar bahwa beberapa siswa bimbingan saya yang kelas 7 melihat film porno dengan menggunakan laptop. Kaget benar saya waktu itu, kok bisa kecolongan? Nggak pakai lama, saya, wakil kepala sekolah, dan wali kelas menyelasaikan masalah ini dan melakukan beberapa investigasi guna pencarian duduk perkaranya. Dan ternyata film yang dilihat itu adalah film-film horor Indonesia yang ada adegan 'panasnya'.

Saya kaget, kok bisa siswa saya yang masih SMP ini tontonannya sudah film-film model beginian? Sempat saya ditanya wakil kepala sekolah apa saya tahu tentang film ini. Saya jawab tahu, karena filmnya ramai dibicarakan di media karena dianggap film horor yang ingin naikkan rating dengan menyisipi adegan 'panas'.

Setelah menjalani beberapa kali wawancara pada siswa, akhirnya terbongkarlah masalah ini. Ternyata, film ini bukan milik Atetapi milik B yang dipinjam tiga bulan yang lalu. A dan B, dan sepupu A, ternyata sudah pernah melihat film ini sebelumnya di rumah A saat orang tua A sedang bekerja.Empat bulan berlalu dan A mengatakan ke teman sekelasnya kalau dipunya filmhoror yang 'panas'. Dan dibawalah laptop beserta DVD film horor ini dibawa ke sekolah dan ditonton ramai-ramai.

Saat diwawancara lebih jauh, ternyata orang tua tahu kalau si B memiliki film ini karena membelinya dengan ibu dan neneknya. Bahkan, siswa B ini pernah menonton film ini bersama neneknya di ruang keluarga sebelum dia menonton bersama dengan si A. Wow! Kaget saya mendengar hasil wawancara si B. Mengapa keluarga B begitu longgar dengan hal macam begini?

Miris saya mengetahui bahwa masih ada orang tua siswa saya yang kurang perhatian dengan apa-apa saja yang ditonton oleh anaknya. Tapi bagaimanapun juga, masalah yang dihadapi siswa saya, kiranya harus memiliki pelajaran bagi saya dan bagi orang tua yang lainnya. Beberapa hal yang bisa menjadi langkah awal sebagai bentuk pencegahan pada remaja untuk menonton film beradegan 'panas' adalah :

1. Kontrol tontonan anak-anak kita. Anak-anak kita tak tahu bagaimana isi film yang mereka inginkan, sehingga kitalah yang harus mengarahkan dan memberi informasi yang tepat apakah film tersebut layak mereka tonton atau tidak.Artinya, kita sebagai orang tua haruslah memiliki informasi sebanyak-banyaknya tentang film yang mereka inginkan, membaca reviewnya dan mengambil kesimpulan sendiri apakah film ini cocok untuk anak-anak kita atau tidak.

2. Bukalah wawasan kita terhadap informasi tentang tontonan yang tepat dan tidak tepat bagi anak-anak kita. Banyaknya film yang beredar di sekitar kita, dan mudahnya informasi tentang film menarik bagi anak-anak kita, bisa menjadi celah tersendiri bagi kita sebagai orang tua untuk lepas kontrol. Nggak salah kok kita buka website/blog review film atau membaca berita film-film di koran atau majalah.

3. Temanilah anak kita saat menonton acara kesukaannya. Mengapa? Karena kita bisa memberi pengarahan terhadap adegan-adegan yang ada di film tersebut. Jika ada adegan yang memiliki nilai negatif, kita bisa menambahi dengan contoh-contoh positif. Atau apabila ada adegan yang bersifat fantasi, kita bisa menyisipi dengan contoh-contoh yang realistik di sekitar anak kita.

Pada contoh kasus siswa saya, memang benar siswa B menonton film itu dengan neneknya. Tetapi si nenek tidak menghentikan pemutaran filmnya saat ada adegan dewasanya, malah membiarkannya.

4. Lakukan scanning yang baik pada film yang dipilih anak-anak kita. Dari tampilan yang tampak pada DVD, kita sebenarnya sudah bisa mengetahui apakah film itu layak ditontonanak kita atau tidak. Seperti mengecek gambar yang menjadi sampul depan dan belakang tempat CD, memperhatikan tanda peringatan batas usia tonton, memperhatikan judul film dan memperhatikan siapa saja pemainnya. Terkadang ini terlupa, tapi sesungguhnya langkah ini jangan sampai terlewat. Contoh kasus siswa saya, si ibu saat membelikan film untuk B, tak memperhatikan sampul depan yang ada foto wanita dewasa dengan bagian dada terbuka dan tak memperhatikan label peringatan batas usia.

5. Berilah pengertian pada anak sejak awal bahwa tidak semua film yang dia sukai bisa dia tonton. Ada batasan yang harus mereka patuhi jika ingin menjadi pribadi yang sehat secara fisik dan mental.

6. Berilah pengertian pada anak sejak awal masuk sekolah bahwa ada peraturan dari sekolah yang harus dia taati, salah satunya adalah adanya larangan untuk membawa barang-barang yang tidak berhubungan dengan kegiatan belajar di sekolah.

Beginilah beberapa hal yang bisa kita lakukan sebagai orang tua yang ingin mengupayakan tontonan yang sehat bagi anak-anak kita. Silahkan diterapkan jika memiliki manfaat bagi kehidupan anak anda. Yuhuuu.. Selamat membimbing anak kita ^^

12 komentar:

  1. peranan orang tua sangat penting ya

    BalasHapus
  2. @mama Calvin. Setuju! Bagaimanapun, dalam hal apapun, peran orangtua sangat penting. Salah satunya adalah sebagai pengawas pertama dalam berperilaku :)

    BalasHapus
  3. karena KPI sudah semakin longgar terhadap sensor film, keluarga yang harus mengencangkan kembali ya, Bun.
    dengan maraknya gadget, film dan situs-situs porno juga semakin mudah diakses

    BalasHapus
  4. @mak Aisyah. betul sekali. nggak usah menunggu KPI segala, keluargalah yang harus mensensor sendiri tontonan untuk anak-anaknya. dan memeprhatikan situs-situs yang anak-anak buka :)

    BalasHapus
  5. haduuh sereem, tapi masalahnya ngga 24 jam kita berada di sisi anak, apalagi kalo udah remaja, inilah pentingnya pendidikan akhlak ya maak

    BalasHapus
  6. Whoaaa...ituh kenapa nenek nya malahan membiarkan siiih?
    Aneh sekali yah...

    Terkadang kita udah tegas sama anak, tapi susah juga kalo kena dari temen nya kayak gitu yaaah...

    Dan yang paling penting menurutku adalah keterbukaan orang tua dengan anak lho...
    Kemaren inih aku sempet kecolongan, Kayla main di rumah temen sekolahnya dan ketika pulang sekolah, dengan 'cuek'nya dia cerita bahwa barusan abis nonton ppelm 'ciuman' di BB temen nya ituuu...huhuhu...

    Tapi aku gak langsung marahin, aku hargai keterbukaan Kayla untuk cerita soal ini sama aku.Malahan aku pancing2 terus seperti apa adegan nya, dan gimana perasaan kamu ketika nonton itu, dan darimana sang temen dapet klip nya, dsb...

    Setelah dia selesai cerita, besoknya baru aku wanti wanti pelan2 bahwa Kayla belum waktunya nonton 'begituan' dan Kayla manggut2 serta ngomong bahwa dia pun sebenernya jijik nonton nya...

    Tapi aku dan Abah sempet gemes sendiri karena berasa kecolongan, secara di rumah aku ketat banget ama tv dan internet lhooo...huhuhu...

    BalasHapus
  7. miris ya...kalo dulu,anak SD malahan yang lagi lihat foto2 cewek seksi kepergok sama guru trs dibawa ke ruang BK deh,lagi2 foto copy dari ortu :((

    BalasHapus
  8. @rahmi. memang kita nggak selama 24 jam dengan anak, apalagi kalau anak kita sudah bersekolah atau kitanya bekerja. betul memang, pendidikan akhlak sangat diperlukan. apapun agamanya, apapun latar belakangnya :)

    @Teh Erry. Ikut sedih dengar ceritanya Kayla. Dan pinter banget si Kayla bisa tau kalau film-film atau video begituan memang belum pantas dia tonton. memang kalau sudah di luar rumah seperti Kayla dan teman-temannya, nggak bisa kita kontrol lagi situasinya. tapi setidaknya kita sudah memberikan penanaman moral yang baik bagi anak-anak kita.
    *peluk teh Erry, peluk Kayla*

    BalasHapus
  9. memang serba mengkwatirkan di jaman sekarang mendidik anak, segala kemudahan teknologi yang ada itu bagai pisau bermata dua yang siap melukai saat digunakan tidak benar dan akan berfungsi dengan baik saat digunakan pada tempatnya. Terlalu "menutup" akses juga bahaya karena akan semakin membuat penasaran, terlalu terbuka juga mengkwatirkan akan kebablasan, serba salah memang.

    tapi akan saya "note" semua sarannya Bu Guru, karena menurut saya yang terbaik saat ini adalah belajar dan terus belajar menjadi orang tua yang tetap update denga segala ilmu dan memilahnya mana yang akan tepat untuk diterapkan pada keluarga terutama soal pendidikan anak. Terima Kasih sharingnya :)

    BalasHapus
  10. Emang ada orang tua yang kayak gitu, Mak. Dia pikir anaknya udah cukup gede untuk nonton film-film kayak gitu. Tetanggaku juga ada yang kayak gitu. Anaknya malah masih SD. Waktu itu Nadya cerita diajak nonton film horor dan dia nanya beberapa adegan ke aku, itu maksudnya apa, katanya. Asli jantungku langsung kayak copot. Sejak itu, aku larang Nadya maen ke sana. Biarin deh dibilang sombong.
    Thanks sharing-nya, Mak :)

    BalasHapus
  11. @Mak sumarti. memang benar, tak bisa kita menutup akses ke beberapa hal yang menurut kita 'berbahaya' untuk anak kita. tapi bisa kita kendalikan bukan? ya, apalagi kalau tidak dengan kita yang semakin hari harus semakin update dalam hal berita dan pengasuhan anak :)

    @Della. Aku sendiri belum merasakan sih ditanya Arya bagaimana ini, bagaimana itu, tentang film horor yang itu tuh. Tapi aku bisa merasakan bagaimana kagetnya kalau anak kita yang berada pada situasi demikian. ikut prihatin dengan kejadian yang dialami Nadya :)

    BalasHapus

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^