Parenting - Lifestyle - Crafting

(Flash Fiction) MFF #18 : Mengaburkan Jejak

| on
Friday, June 28, 2013
credit
Aku terbangun. Lissa yang tidur di sampingku, meronta-ronta dan menjerit. Aku berlari keluar kamar. Mengambil air minum cepat lalu kembali ke kamar untuk menyadarkan Lissa. Saat kesadaran sudah memenuhi otak Lissa, kuberikan air minum itu.

Cepat-cepat Lissa menyesap air yang tak banyak jumlahnya itu dan menyerahkan kembali gelasnya padaku. Cepat pula dia sambar jubah tidur untuk menutupi lingerie barunya dan setengah berlari keluar kamar.

"Sayang, ada apa?" Kuikuti langkahnya yang semakin cepat menuju dapur. Sebentar Lissa berhenti kemudian berbalik arah menuju meja komputer di ruang tengah. Diambilnya senter. Kulihat masih ada ketakutan di wajahnya. Gemetar di tubuhnya ditutupi dengan merekatkan jubah tidur semakin erat di tubuhnya.

"Sayang, please ... Ada apa? Kamu mulai membuatku khawatir." Tanyaku sambil menarik lengan Lissa untuk menghentikan geraknya. Lissa mendelik, tubuhnya kaku.

"Aku mimpi Dereck!"

Aku terkejut tapi tak membuatku melepas genggamanku di lengan Lissa. "Dereck?"

"Ya, Dereck. Suamiku."

"Kita sepakat untuk tak terlalu mengungkit-ungkit Dereck, Sayang," ucapku sambil melepaskan lengan Lissa yang mungkin terasa sakit karena kencangnya genggamanku.

"Tidak, aku tak mengungkit hilangnya Dereck," ucap Lissa sambil berjalan mondar-mandir di depanku. "Tapi mimpi tadi sungguh nyata, Peter."

Kugeret Lissa menuju sofa di ruang tengah dan mendudukkannya. "Ceritakan padaku, apa mimpimu."

Lissa menatapku tajam. Mengambil nafas dalam sebelum akhirnya bercerita tentang Dereck yang datang di mimpinya.

***


Kulirik arloji di tanganku. Dua jam lagi Lissa pulang dari kantornya. Aku harus cepat membereskan ini. Menghilangkan Dereck selamanya dari kehidupan Lissa. Kutanamkan sekop di tanah untuk menggali lubang yang sudah semakin dalam. Saat lubang itu sudah siap, kulempar tubuh Dereck yang sudah mulai membusuk ke dalamnya. Lalu kututup tubuhnya dengan tanah, menguburnya.

Setelah lubang itu sudah tertutup sempurna, kututup bekas galianku dengan daun-daun pohon mapple yang banyak berjatuhan di halaman belakang rumah Lissa untuk menyamarkan bekas galianku.

Aku tersenyum puas sambil mengingat-ingat cerita Lissa tentang mimpinya semalam.

"Dereck menarik tanganku, Peter, menuju ruang bawah tanah. Tiba-tiba aku sudah berdiri di depan peti besar yang aku gunakan untuk menyimpan barang-barang bekas. Dereck menyuruhku membuka peti itu, Peter. Saat kubuka, kulihat tubuh Dereck di sana! Dengan leher menganga penuh darah yang sudah kering!"

Kali ini aku menang, Dereck. Aku bosan menjadi bulananmu sejak umur kita masih lima belas tahun. Sekarang Lissa sudah kembali menjadi milikku, setelah kau rebut dariku tiga tahun yang lalu.

Review Blog : My Fingerprints - Ayu Citraningtyas

| on
Tuesday, June 25, 2013
Sudah adakah diantara pembaca blog saya ini yang tahu tentang blognya Ayu Citraningtyas? Yang alamat URL-nya itu www.aiyuchee.blogspot.com dengan nama blog My Fingerprints? Kalau sudah tahu angkat tangan ya. Kalau belum tahu, yuk ngulik-ngulik tentang blognya Ayu yang satu ini.


TAMPILAN BLOG

Saya pertama kali tahu blognya Ayu saat dia mengikuti challange membuat flash fiction di Berani Cerita dengan saya, Mayya dan mbakOrin sebagai adminnya. Ayu adalah salah satu peserta yang aktif mengikuti challange yang kami adakan setiap minggu di hari Kamis. Karena tiap minggu para admin Berani Cerita ini diharuskan untuk blog walking ke karya milik peserta challange, akhirnya sedikit banyak kami tahu perubahan yang dilakukan pada tiap peserta pada tampilan blognya. Pun juga pada blog milik Ayu.

Sejak saya mengenal blognya Ayu, perubahan yang dilakukan oleh Ayu adalah melulu pada header blog. Dua kali Ayu menggunaan header dengan tema tekstur dengan masing-masing header memiliki pilihan warna kalem, kalau tidak salah warnanya krem dan pink. Tapi setelah beberapa waktu ini membuka kembali blog Ayu, sempat kaget juga dengan gambar yang dipilih oleh Ayu sebagai gambar header. Saya lebih suka yang ini! Gambar headernya menunjukkan kalau blog ini dinamis.
Tapi sayangnya, tidak didukung dengan background blog. Ayu lebih memilih tidak member gambar apapun sebagai pilihan background blognya. Ini membuat seolah ada ketimpangan pada tampilan blognya. Saat blog walking, saat saya pertama kali melihat headernya, saya pikir background blognya akan menunjang gambar di header. Ternyata tidak. Setelah melihat header yang penuh warna tiba-tiba disuguhkan pada tidak ada warna apapun di background blog, rasanya seperti berhasil dapetin tiket nonton konsernya Glee, ternyata konsernya batal gegara Glee batal datang ke Indonesia.

Ayu juga tidak terlalu banyak memasang widget pada blognya. Ini membuat time loading blognya Ayu terhitung cepat. Dia memasang beberapa widget saja yang dirasa penting baginya, seperti sosial media buttons, widget PR dari google, widget rating di alexa, dan beberapa banner blog community yang diikutinya. Namun, sayangnya ada yang terlihat mengganjal sih bagi saya pribadi. Dengan jumlah widget yang sedikit, harusnya Ayu bisa mengatur penempatan lokasi widget supaya terasa seimbang.


Contohnya adalah widget PR dari google dan widget rating alexa yang lokasinya berada di bawah banner blog community. Ukuran banner masing-masing blog community sangat besar, ada baiknya diubah ukurannya sehingga terlihat seimbang dengan dua widget di bawahnya. Saya pernah blog walking di blog milik seorang emak-emak yang tinggal di Kalimantan, tapi maaf, saya lupa alamat URL-nya. Si emak muda ini mengubah ukuran banner blog communitynya menjadi kecil dan bisa dibuat berjejer ke samping dan seimbang sehingga menghilangkan kesan banner-banner ini memenuhi side bar.

Ohya, ada baiknya Ayu menggunakan fasilitas jump break (pemotong bagian artikel pada paragraf tertentu) yang disediakan saat dia akan memposting tulisannya. Hal ini bisa menambah rasa penasaran para pengunjung blog saat membaca tulisan Ayu. Manfaat lainnya adalah supaya pengunjung tidak terus menggulung scroll bar untuk membaca tulisan-tulisan terbaru saat ada pengunjung yang blog walking melalui laman ‘home’. Ini akan membuat tampilan ‘home’ blog semakin manis dan terasa hemat tempat.


KONTEN

Ayu ternyata blogger lawas. Dia konsisten pada blognya yang terus dia kembangkan sejak bulan Maret tahun 2010. Sudah tiga tahun lebih Ayu menjalani aktifitas menulisnya. Tidak heran jika banyak tulisannya terlihat matang dalam hal penyampaian ke pembaca. Terbukti dengan banyaknya blogger yang menjadi follower blognya Ayu yang jumlahnya melebihi 150 followers.

Setelah mengobrak-abrik arsip tulisan Ayu, ada beberapa kategori yang sering ditulis Ayu dan memiliki kekuatan dalam penyampaian ke pembaca.

1. Motivasi. Ayu banyak menuliskan tentang motivasi berdasarkan kehidupan sehari-harinya. Bahasa yang dipakai tidak menggurui, bersemangat, dan tidak formal sehingga pembaca seolah diajak berada di posisinya dan belajar langsung dari pengalamannya.

2. Tips. Ayu banyak memberikan tips pada pembaca setianya. Tipsnya masih berhubungan dengan blog, online shop (karena Ayu punya dua online shop yang masih aktif) dan android. Banyak hal baru yang saya pelajari dari tulisan-tulisan Ayu yang memberikan tips-tips efektif. Terutama tips dalam nge-blog. Ya, sayanya sendiri baru setahun nge-blog. Perlu banyak belajar sama yang sudah lama malang melintang di dunia per-blog-an bukan?

3. Fiksi. Seperti yang saya bilang di awal tadi, saya mengenal blognya Ayu setelah dia aktif mengikuti challange di Berani Cerita. Dan setelah saya perhatikan, Ayu mulai aktif sekali menulis fiksi di tahun 2013 dengan mengikuti beberapa challange yang diadakan oleh Berani Cerita dan MondayFlash Fiction. Dan dari perkembangan tulisan fiksinya, fiksi-fiksi Ayu semakin matang dikemas karena Ayu mau membuka diri pada kritik, terutama yang berhubungan dengan penggalian ide dan kebahasaan.

Beginilah review saya tentang blognya Ayu. Semoga bisa jadi masukan buat Ayu dan bisa menjalin persaudaraan yang baik antara kami berdua. Lalalala.. selamat blog walking ke blognya si Gendhis yang memang ayu ini ya :)

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Blog Review ~ Saling Berhadapan

(Flash Fiction) Insting

| on
Monday, June 24, 2013
credit
"Bapak yakin percaya sama orang ini?" Aku bertanya sambil memandang laki-laki tinggi besar berkulit coklat tua di depan kami.

"Dia temannya pak Jaya, Nak," ucap bapak meyakinkanku. "dan kita tak perlu lagi mengeluarkan uang apa-apa lagi untuk administrasi. Sudah bapak bayarkan lunas ke dia."

Aku tetap tak yakin. Tapi melihat bapak sudah meyakinkanku sebegitunya, kucoba singkirkan sejenak ketidakyakinanku dan berdamai dengan realita bahwa orang sangar ini bisa membantuku memperoleh SIM tanpa tes.

"Baiklah, bapak kembali ke kantor dulu." ujar bapak sambil mencium keningku kemudian mendekati orang itu. Mereka berdua bersalaman kemudian bapak pergi dan orang itu mendekatiku.

"Saya Adi."

***

"Oke, saya tinggal ya," Pak Adi pamit setelah menyerahkan berkasku di bagian pengembalian formulir. "Mungkin setengah jam lagi kamu dipanggil untuk cap sidik jari."

Aku tersenyum membayangkan sebentar lagi SIM sudah ada di dalam dompet. Bahkan saking senangnya, pak Adi sudah tak ada lagi di depanku pun tak kucari.

Satu jam berlalu dengan lama, bahkan sudah hampir mendekati dua jam. Aku mulai bersungut-sungut jengkel, apalagi lapar sudah mencolek perutku. Kuputuskan saja meninggalkan sebentar lokasi pembuatan SIM untuk mencari makanan. Saat akan beranjak, aku mendengar namaku dipanggil melalui speaker.

"Mayang Aristya!"

Aku langsung berlari menuju ruang penerimaan SIM yang sudah jadi. "Saya Mayang Aristya!" teriakku sambil terengah-engah.

Petugas di depanku tersenyum. "Seratus ribu rupiah," ucapnya sambil menyerahkan sebuah nota pembayaran. Aku mengernyitkan dahi tak mengerti.

"Ini biaya pembuatan SIM-nya, Mbak."

"Lho, bukannya tadi sudah dibayar?" tanyaku heran, juga khawatir karena aku hanya punya delapan puluh ribu di dompetku.

"Dibayar siapa? Kami menerima biaya pembuatan setelah SIM jadi."

"Lho? Punya saya sudah dibayar sama bapak-bapak yang badannya besar tadi."

Si petugas mencoba mengingat-ingat. Kemudian dia tersenyum ingat sesuatu. "Oh, bapak itu. Dia hanya menyerahkan berkas saja. Tak menyerahkan biaya pembuatan."

Bijaklah Saat Berbelanja Secara Online

| on
Thursday, June 20, 2013
credit by google
Saat internet sudah akrab di masyarakat, banyak manfaat yang bisa didapat, terutama untuk mendapatkan informasi tentang apapun. Mendapatkan informasi ini bisa dilakukan dengan bantuan mesin pencari informasi seperti google, yahoo search, bing, dan lain-lain. Selain menawarkan kelebihannya dalam hal pencarian informasi, internet juga bisa digunakan untuk mengembangkan bisnis. Caranya pengembangannya bermacam-macam, seperti membuat website khusus, membuka akun di jejaring sosial dan memasarkannya di sana atau membuat akun di website khusus yang menawarkan jasa penjualan seperti tokobagus.com atau berniaga.com.

Beberapa tahun terakhir ini, penjual yang menawarkan barang dan jasanya melalui internet sudah menjamur. Saya menyebutnya dengan online shop. Kemudahan yang ditawarkan oleh para online shop inilah yang menjadi salah satu alasan saya sering membeli barang secara online.

Kemudahan ini berhubungan dengan lokasi tempat tinggal saya yang masih jarang menawarkan barang-barang dengan ragam yang berbeda dengan offline shop di kota saya. Selain itu, kesibukan saya dan suami yang harus bekerja enam hari selama seminggu, juga menjadi alasan. Ya, karena hari Minggu adalah hari bersama keluarga sehingga jarang kita gunakan untuk keluar kota, kecuali jika ada kepentingan yang mendesak atau kebutuhan yang harus segera dipenuhi.

Barang yang saya butuhkan dan tidak ada di kota kami biasanya berhubungan dengan pemenuhan hobi saya dalam membuat scrapbook,  sedangkan kalau suami saya biasanya berhubungan dengan otomotif. Kalau sudah begitu akhirnya kami memilih untuk berbelanja secara online. Tinggal cari jenis barang dan nama barangnya di google dan mencari online shop yang menjual dengan harga yang murah. Hubungi penjualnya, deal, transfer, kirim. Mudah kan?

Tapi yang namanya kemudahan dalam kecanggihan teknologi pastinya ada kekurangan. Dan berdasarkan pengalaman saya, kekurangan itu bukan pada sistemnya tapi pada siapa saja yang berhubungan dalam lingkaran online shop. Oke, oke, saya berbagi cerita pengalaman saya ya.

Saya punya langganan online shop di facebook dengan lokasi di Surabaya yang menjadi penyedia kertas scrap dengan berbagai macam motif. Untuk kesekian kalinya, saya memesan sekitar sepuluh motif kertas. Setelah barang pesanan datang dan saya cek ternyata ada sebuah motif kertas scrap yang tidak terkirim. Saya menghubungi si penjual dan untungnya, si penjual ini bersedia untuk mengirim kembali kertas scrap yang tertinggal tadi tanpa saya harus membayar ongkos kirimnya. Kesalahan ini diakui oleh si penjual karena dia memberikan kode yang sama pada dua barang yang berbeda.

Pernah pula saya belanja bahan untuk scrapbook di online shop yang lokasinya di Medan. Saya memilih online shop itu karena barang-barang yang dia tawarkan memiliki harga yang lebih murah dibanding dengan online shop lain yang menjual barang sejenis. Saya memilih beberapa barang dan memastikan pada penjual kalau stok barangnya ada. Kemudian kami menyepakati jasa ekspedisi yang nanti dipilih untuk mengirim barang. Setelah kesepakatn beres, saya transfer uangnya. Esoknya, saya dikabar oleh si penjual kalau ternyata ada barang yang stoknya sudah habis. Kecewa lah saya. Untungnya si penjual mau mengembalikan uang sejumlah barang yang stoknya tidak ada tadi (dalam online shop namanya refund barang).

Saat barang sudah sampai di rumah dan saya cek, ternyata uang refund tadi jumlahnya kurang. Saya coba tanyakan ke penjual, dia bilang kalau uangnya dipakai untuk menambah ongkos kirim di jasa ekspedisi yang berbeda dari kesepakatan awal kami. Kaget dong sayanya! Seenaknya aja main ganti tanpa konfirmasi. Saya coba cek copy resi yang diberikan ke saya, dan benar! Nama jasa ekspedisinya bukan yang sudah kami sepakati! Alasannya, karena jasa ekspedisi pilihan dia bisa mengirim barang lebih cepat daripada jasa ekspedisi yang kami sepakati.

Dalam hati saya langsung bilang, tidak akan lagi saya berbelanja di online shop milik dia meskipun jatuh harganya lebih murah.

Itu contoh pengalaman tidak mengenakkan saat berbelanja online. Tapi tetap saja, sampai sekarang saya tidak kapok belanja online. Malah kadang merasa sudah jadi sebuah kemudahan yang harus saya pilih.

Saya bagi-bagi tips ya, biar aman dan enggak merasa dag-dig-dug buat belanja online. Mari ...

1. Pilihlah online shop yang transparan dalam bertransakasi. Ada beberapa online shop yang memberikan kita kemudahan dalam berbelanja dengan memberitahu langkah-langkah yang harus kita tempuh supaya tidak terjadi complain di kemudian hari.

2. Jika dirasa masih kurang paham dengan informasi dalam bertransaksi yang sudah disampaikan oleh online shop, tanyalah sejelas-jelasnya. Ini juga berlaku saat kita bertanya tentang stok dan kondisi barang.

3. Pilihlah online shop yang terpercaya. Cara mengetahuinya yaitu dengan cara membaca komentar-komentar para pembeli sebelumnya atau berdasarkan rekomendasi teman-teman kita.

4. Perhatikan ukuran dan harga yang dicantumkan untuk tiap barang. Hal ini berlaku saat kita membeli pakaian dan bahan-bahan kerajinan. Online shop yang baik biasanya mencantumkan panjang ukuran tiap pakaian (dalam cm). Kata saudara saya yang juga menjual pakaian melalui online shop, kita harus berhati-hati memilih ukuran pakaian karena setiap jasa konveksi memiliki ukuran jahit sendiri-sendiri.

5. Jika sudah memilih barang dan si penjual sudah memberikan total biaya yang nantinya harus kita keluarkan serta sudah memberikan nomer rekening untuk tujuan transfer, janganlah sekali-kali kita membatalkan transaksi. Ini menyakitkan penjual lho! Bisa-bisa nama kita malah di black list. FYI, para online shop ini memiliki grup yang biasanya mereka memberikan nama-nama pelanggan mereka yang masuk black list dan akan menjadi kesepakatan dengan online shop lainnya untuk memblokir nama-nama itu.

6. Beberapa online shop memberikan pilihan jasa ekspedisi untuk mengirimkan barang. Pilihlah yang terpercaya dan memiliki kontak telepon yang mudah untuk dihubungi jika tiba-tiba barang kita tidak segera sampai.

7. Sampai saat ini saya masih belum berani membeli barang dengan harga jual di atas 500 ribu rupiah. Kalaupun saya akhirnya memutuskan untuk membeli dengan harga di atas 500 ribu rupiah melalui online shop, saya memilih untuk COD (cash on delivery). Kita janjian dengan si penjual di suatu tempat untuk melihat kondisi barangnya. Jika oke, bisa langsung bayar.

8. Jika anda membeli barang bekas, lebih baik pilih COD. Suami saya, saat membeli XBOX bekas yang dijual dengan harga yang sangat murah, memilih langsung ke rumah si penjual untuk mengecek kondisi barangnya.

9. Jika barang yang kita terima tidak sesuai dengan pesanan kita, silahkan konfirmasikan kepada si penjual. Biasanya, si penjual akan memberikan pilihan kepada kita sebagai bentuk pertanggung jawaban dia.

10. Jangan kalap mata! Prioritaskan dulu apa yang kita butuhkan. Jika sudah kalap mata nih, bisa-bisa tanpa sadar uang kita di bank sudah ludes. Hihihi..


Selamat berbelanja secara online dengan bijak, teman.






























































Review Buku : Macaroon Love

| on
Saturday, June 15, 2013
Novel Macaroon Love karya Winda Krisnadefa ini dimulai dengan perdebatan antara Magali dan Beau, sepupunya, di ulang tahun Magali yang kedua puluh empat. Tema perdebatan tetap sama, ketidaksukaan Magali pada namanya -yang menurut dia aneh-.

Magali adalah seorang food writer lepas di sebuah majalah bernama Free-Magazine Kemang-Bintaro. Sebenarnya, Magali sendiri punya passion di bidang makanan, terutama untuk makanan yang memiliki cita rasa unik. Tapi, pekerjaannya yang sekarang bukanlah tujuan masa depannya meskipun passion dia dibidang makanan sering dipuji oleh atasannya.

Hingga akhirnya Magali
tanpa sengaja berkenalan dengan Ammar -pemilik restoran bernama Suguhan Magali- di sebuah restoran siap saji. Restoran Suguhan Magali yang menawarkan berbagai menu yang berbeda dengan nama menu yang berbeda pula, membuat Magali tercengang. Tentunya di tambah dengan Ammar yang tampan. Dan inilah yang membuat Magali mengajukan diri pada atasannya untuk meliput Suguhan Magali meskipun lokasi Suguhan Magali berada di luar area liputan.

Sejak itulah hidup Magali berubah. Dia dan Ammar semakin dekat dan membuat Magali jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Perjalanan Magali pun juga mendadak berubah karena liputannya tentang Suguhan Magali membuatnya diangkat sebagai pegawai tetap di majalah bergengsi bernama Glamz dan memiliki rubrik khusus bernama Magali Chronicle. Namun, yang namanya kesenangan pastinya beriringan dengan kesedihan. Ayah Magali, Jodhi, meninggal dunia karena serangan jantung mendadak. Kesedihan ini membuatnya harus mengubur cita-citanya -dan ayahnya- untuk membangun sebuah restoran pribadi dengan Jodhi sebagai kokinya.
___

Novel Macaroon Love disajikan dengan kalimat-kalimat  khas Winda. Santai, segar, kocak dan tidak membosankan. Kelebihan novel ini adalah Winda mampu menunjukkan tiap tokoh memiliki karakter yang kuat. Bahkan untuk tokoh yang perannya tidak terlalu banyak di novel ini, seperti Nene. Meskipun Nene bukanlah tokoh utama dalam novel ini, tapi Winda mampu menyajikan tokoh Nene sebagai tokoh yang kuat dan memiliki pengaruh pada kehidupan Magali dan Beau. Selain itu, Winda mendeskripsikan karakter tokohnya tidak melulu melalui deskripsi tokoh tetapi juga melalui percakapan antartokoh dan pendapat pribadi dari masing-masing tokoh.

Yang bikin saya kagum adalah riset yang baik oleh Winda tentang istilah-istilah kuliner yang digabungkan dengan dunia kewartawanan sebuah majalah wanita modern. Hasil risetnya tidak kaku, tetapi tersaji apik sesuai kalimat-kalimat khas Winda yang segar.

Sayangnya, cerita antara Magali dan Ammar bagi saya tidak terlalu kuat. Novel ini adalah novel romance yang harusnya lebih memunculkan cerita cinta yang kuat antar tokoh. Namun, di novel ini, yang banyak muncul adalah tentang kehidupan Magali, pergulatan batin Magali dan hubungan Magali dengan keluarganya. Hm, bagi saya sih, memang lebih tepat judulnya pakai judul yang lama. Magali Chronicle.

Dan lagi, saya agak terganggu dengan potongan berita majalah Food Traveller Magazine di halaman 245. Sebelumnya, bercerita tentang Ammar yang mengungkapkan cintanya pada Magali. Namun, tiba-tiba muncul 'about me' Magali di majalah itu. Jadinya ya, bacanya sedikit mengekerutkan kening. Ini kenapa potongan beritanya ditaruh di bab ini secara mendadak?

Bagi saya pribadi, buku ini bisa habis dibaca sekali duduk jika karena penasaran dengan kelanjutan ceritanya dan alur plot yang tidak bertele-tele. Saya rekomendasikan untuk dibaca di sela-sela kesibukan sehari-hari.



(Flash Fiction) Surat Mingguan

| on
Thursday, June 13, 2013
credit
Kuletakkan draft novel -tentang pertempuran yang dipimpin kapten Bhirawa- milik seorang teman akrabku. Cerita dengan plot yang rapi tapi tidak kuat dalam karakter. Itu bisa menjadi catatan tersendiri -tentunya selain catatan-catatan lainnya- yang siap aku tulis untuk pertimbangan perbaikan novelnya. Saat akan menulis, aku mendengar namaku dipanggil. Ternyata Didik. Dia memintaku untuk menggantikan tugasnya mengantar surat esok hari karena istrinya ingin diantar ke dokter. Aku ingin menolak sebenarnya, mengingat sudah seminggu ini terus-menerus mengantar surat dan besok aku punya kesempatan untuk istirahat. Tapi aku kasihan pada istri Didik. Hamil tua. "Oke," jawabku singkat sambil meneruskan menulis catatan di draft novel.

***

Ternyata banyak juga surat-surat yang harus aku kirim untuk menggantukan tugas Didik. Kuperhatikan alamat-alamat yang tercantum di amplop-amplop surat. Aku harus mencari jalan tikus untuk memudahkanku terutama saat melintasi ruas-ruas jalan rawan macet di Surabaya. Pencarian jalan tikus terhenti, saat aku mengamati sebuah surat dengan sebuah alamat, aku terdiam.

Ah, alamat yang sama lagi untuk minggu keenam. Jalan Parkit V no. 12. Dengan nama pengirim dan penerima yang sama. Dengan warna amplop yang juga sama tiap minggunya, biru laut. Kuhembuskan nafas pelan, lalu kumasukkan surat itu bersama surat-surat yang lain ke dalam tas. Kemudian aku sedikit berlari menuju parkir untuk segera menjalankan tugas.

***

Kuletakkan surat beramplop biru muda itu di bawah lubang pintu rumahku yang beralamatkan jalan Parkit V no. 12. Dari Ridwan. Surat cinta yang selalu terkirim untuk kakakku, Prita, yang tak pernah dia balas. Karena dia sudah meninggal, dua bulan yang lalu karena tertabrak truk saat akan menemui Ridwan di ITC.

***


Cerita  ini diikutsertakan pada Flash Fiction Writing Contest : Senandung Cinta

[Scrapbook] Arya 2 Bulan - Empeng

| on
Thursday, June 06, 2013
Empeng dan Arya itu sama seperti dua orang kekasih. Enggak bisa terpisah. Gegara Arya waktu usia 21 hari di sunat, buat meredakan tangisnya, sama Papa di kasih empeng. Eh, sampai sekarang di usianya yang udah 18 bulan, Arya belum juga saya sapih dari empeng.

Que Sera Sera

| on
Wednesday, June 05, 2013


Sudah ya, saya kasih liriknya saja. Kalau liat videonya yang ini, pengen nangis jadinya *cemen*


QUE SERA SERA
When I was just a little girl
I asked my mother, what will I be
Will I be pretty, will I be rich
Here's what she said to me.


Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be.

 

When I was young, I fell in love
I asked my sweetheart what lies ahead
Will we have rainbows, day after day
Here's what my sweetheart said.

 

Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be.

 

Now I have children of my own
They ask their mother, what will I be
Will I be handsome, will I be rich
I tell them tenderly.

 

Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be. 



video dari : http://www.youtube.com/watch?v=UBvCTbojS9U

(Flash Fiction) MFF #14 : Tentang Boneka Salju

| on
Sunday, June 02, 2013
credit
"Hei! Di sini tidak boleh membuat boneka salju!"

Margareth menoleh, memastikan siapa yang melarangnya membuat boneka salju. Dilihatnya seorang anak laki-laki dengan jaket biru tua yang sangat tebal, dengan kulit wajah putih pucat dan bibir yang mulai membiru karena terlalu lama berada di luar rumah.

"Kenapa aku tidak boleh membuat boneka salju?" Tanya Margareth sambil menepuk-nepuk bola salju yang semakin membesar. "Bukankah membuat boneka salju itu menyenangkan?"

Anak laki-laki itu diam. Lama. Membuat Margareth menghentikan aktifitasnya dan memutuskan untuk mendekati anak laki-laki itu.


"Hei! Aku bertanya padamu."
"Di desa ini, tak boleh membuat boneka salju. Siapa pun. Orang dewasa saja tidak berani membuatnya, makanya mereka melarang kami yang masih anak-anak ini membuatnya."

Margareth melengus. Tidak masuk akal! Boneka salju itu kan lucu, kenapa malah orang dewasa melarang membuatnya? Margareth kembali meneruskan pekerjaannya yang sedikit lagi selesai. Sedangkan anak laki-laki itu masih berdiri di belakang Margareth. Memperhatikan dengan seksama saat Margaret menambah sedikit demi sedikit salju supaya bulatannya menjadi semakin besar.

"Kemarilah. Ayo membuatnya bersamaku."

Namun Margareth kembali melengus saat anak laki-laki itu menggeleng cepat kemudian beranjak meninggalkan Margareth.

"Hei! Kenapa aku tidak boleh membuat boneka salju?!" Teriak Margareth. Ada rasa tak puas dengan jawaban tadi. Tapi tak diduga, teriakannya malah membuat anak laki-laki berbalik dan berjalan menuju Margareth. Saat jarak mereka dekat, anak laki-laki itu membisikkan sesuatu.

"Karena boneka salju bisa menculikmu."

Margareth tersentak, matanya mendelik. Tapi cepat dia atur kembali mimik wajahnya menjadi datar. "Ah, kamu bercanda."

Namun, kali ini Margareth tak yakin dengan ucapannya saat dilihat wajah anak laki-laki itu masih tampak serius. Nafasnya menjadi lebih cepat, jantungnya berdebar lebih kencang. Tak mungkin. Anak ini mungkin hanya iri saja padaku karena aku hampir berhasil membuat boneka salju yang besar sendirian.

"Aku pergi dulu." Anak laki-laki itu meninggalkan Margareth yang masih berdiri mematung. "Namamu Margareth, bukan?"

Mendengar namanya disebut, Margareth menoleh. Lalu mengangguk. "Namamu siapa?"

"Lucas."

*

Suara sirine mobil polisi terasa begitu memekakkan telinga bagi warga desa Dawsonlake yang luasnya tak seberapa ini. Ditambah lagi suara para tetangga yang semakin keras membicarakan hilangnya Margareth sehari yang lalu. Di depan rumah, tuan Louise mencoba memberi penjelasan pada seorang polisi muda tentang hilangnya Margareth. Sedangkan disampingnya, nyonya Rose tak bisa menyembunyikan kegelisahan sehingga terus-terusan memilin ujung cardigan yang dikenakannya. Dan para tetangga saling berkumpul membentuk kelompok-kelompok kecil, membicarakan keluarga Louise dan mungkin kutukan yang menimpa mereka.

Ya, kutukan karena ada sebuah boneka salju berdiri tegak di halaman mereka. Kutukan yang pernah terjadi di desa ini belasan tahun silam, yang membuat tiga anak hilang dalam sekejap. Yang hanya menyisakan syal mereka yang terlilit rapat pada sebuah boneka salju ukuran raksasa.

Custom Post Signature

Custom Post  Signature