Jumat, 19 April 2013

Quiz MFF #2 - Mesin Jahit Eyang Canggah




"Mesin jahit ini berharga, Mas." Rani menyentuh mesin jahit tua peninggalan eyang canggah.

"Ya, berharga," Ucap Arif sambil bergerak perlahan ke arah Rani yang asyik mengayuh pijakan mesin jahit sambil mengulir benang yang berputar. Kaki Arif tinggal beberapa langkah saat Rani menoleh dan terkesiap karena Arif sudah memegang pisau lipat dengan erat.

"Mas, kenapa kamu bawa pisau milik bapak?"

Arif tidak menjawab, malah mengarahkan pisau itu ke Rani. Rani berteriak keras, lari, menabrak apapun yang ada di depannya. Badannya basah oleh keringat yang keluar karena ketakutan.

"Mas, jangan!! Maksudmu apa?! Salahku apa?!"

Arif terus mengejar Rani. Tak satu pun jawaban keluar dari bibirnya. Matanya garang, mulai kalap.

Bruk! Rani tersandung mobil remote milik Dio, anaknya. Saat akan bangkit untuk menghindari tangkapan Arif, Rani tak sanggup berdiri. Kakinya keseleo. Nyeri sekali di pergelangan kaki kanannya. Dia limbung.

"Mas, maksudmu apa?! Sadar, Mas!" Rintihan Rani tak digubris sama sekali oleh Arif. Sekarang dia hanya bisa mundur, menggeret badannya.

"Ingat enggak Ran, tentang kesialan keluarga kita akibat ulah eyang canggah yang rela menumbalkan keturunannya yang menjadi anak pertama?" Arif bertanya, masih dengan langkah mendekati Rani yang telah terhenti di belakang pintu. Rani mengerutkan dahi, tapi tak ayal dia juga mengangguk ketika kakaknya bertanya.

"Aku ingin mengakhiri kesengsaraan kita, Ran."

"Kesengsaraan apa, Mas? Kita baik-baik saja. Usaha konveksi ini maju, cukup untuk keluarga kita."

"Iya, cukup! Tapi usaha ini malah merenggut nyawa bapak dan ibu!" Teriak Arif, membuat Rani semakin ketakutan.

"Mas! Bapak dan ibu meninggal bukan karena jadi tumbal! Tapi karena kecelakaan! Beda dengan pakdhe Umar yang tak jelas sakit apa!"

"Ah, sama saja! Nyatanya bapak ibu mati kan?"

"Lalu, mau Mas apa?"

"Aku enggak mau mati, Ran! Aku enggak mau jadi tumbal buat mesin jahit pertama eyang canggah!"

"Nyebut, Mas! Nyebut! Yang bikin kamu mati itu Gusti Allah, bukan mesin jahit!" Rani berteriak. Arif menutup telinganya dengan kedua tangannya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aku maunya kamu yang jadi tumbal, penggantiku!" Arif berteriak. Kali ini sambil mengayunkan pisaunya ke arah Rani.

Cress! Ujung pisau itu menggores lengan Rani. Meskipun berdarah, lengan Rani masih bisa mendorong tangan Arif sehingga pisau pun terpelanting jauh.

"Mas! Sadar Mas! Usaha eyang canggah memang sukses. Dan itu diturunkan ke anak cucunya. Itu usaha beliau sendiri, Mas! Bukan karena mengorbankan kita jadi tumbal! Itu hanya berita miring dari orang yang iri pada beliau!" Rani berteriak, masih berusaha menenangkan kakak satu-satunya.

Namun telinga Arif sudah buntu oleh gelitik setan. Rani yang semakin lemas karena darah yang mengucur deras di lengannya, membuat Arif semakin mudah menjangkaunya. Mencekiknya sekuat tenaga.

Rani terkapar. Arif tertawa.

"Konveksi ini aku saja yang melanjutkan, Ran. Tumbalnya sudah lengkap, lima keturunan." Arif kembali tertawa sambil menggeret jasad Rani ke kebun belakang untuk dikuburkan dekat kolam ikan.

Di balik korden yang memisahkan ruang usaha konveksi dengan ruang tengah, Dio menutup mulutnya rapat-rapat supaya tak ada suara yang keluar dari mulutnya saat menyaksikan ibunya tewas di tangan pamannya. Arif sepertinya salah menghitung. Jika gosip tumbal lima keturunan itu benar, artinya masih ada satu keturunan lagi di bawah dia yang akan menjadikan dia tumbal. 


______

*Eyang canggah adalah salah satu istilah pada level keturunan leluhur dalam bahasa jawa. Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat di : http://orgawam.wordpress.com/2012/11/02/10-level-istilah-silsilah/


QUIZ MONDAY FLASHFICTION #2 - Sekilas Sekitarmu

20 komentar:

  1. huwaaa...tumbal2an begitu ya >_<

    BalasHapus
  2. @mbak orin. sepertinya seh begono, mbak :)

    BalasHapus
  3. Mba, namanya Rina, Rani atau Rini? ato saya yg ga mudeng? :)

    BalasHapus
  4. horor ih...
    Dio yg kelima kah?

    BalasHapus
  5. mitologi dalam masyarakat kita. percaya atau tidak...
    hmmmm...

    BalasHapus
  6. @santi. aduh, aku salah ketik! payah! aku edit duluuuuuu.... *maaf pembaca yang budiman*

    @jiah. entah.. memang aku buat menggantung :)

    @ridwan. ya, yang banyak terjadi dan banyak dipercaya :)

    BalasHapus
  7. Rina / Rani, mbak? iih...kesian amat Dio yg melihat adegan kekerasan itu.. diakah keturunan ke-5?

    BalasHapus
  8. Mitos ginian memang masih kerap terdengar di masyarakat kita... :(

    BalasHapus
  9. eyang canggah seharusnya Eyang Canggah, mbak.
    Hayoo, kan udah belajar huruf kapital.

    BalasHapus
  10. @mechta. maaf, udah aku edit.. :)
    memang kasihan si Dio :)

    @Natalia. mengerikan memang.. tapi ini hanya fiksi :)

    @kakaakin. ya.. tapi entah benar atau tidak. kadang hanya angin yang menghembuskan kabarnya terlalu keras :)

    @sulung. eyang canggah yang hurufnya besar, apa tidak digunakan pada sapaan di kalimat langsung?

    BalasHapus
  11. keren mbak, ceritanya berdasar mitologi kedaerahan :)

    BalasHapus
  12. hadu Dio, cepat selamatkan dirimuuuuu T_T

    BalasHapus
  13. @dian. makasi :)

    @na. aku selamatkan dia, dah aku finish-kan ceritanya :)

    BalasHapus
  14. hih serem...btw, oke idenya mbak...

    BalasHapus
  15. Agak bingung ini. Di bawah canggah:

    buyut

    bapak/ibu

    anak (Arif & Rani)

    dan harusnya Dio jadi tumbal terakhir. Bener gak?

    Jadi Arif selamat kalau Rani yang mati?


    *malah bikin cerita sendiri..


    :D

    BalasHapus
  16. canggah >> 1. buyut >> 2. embah >> 3. bapak ibu >> 4. anak (arif dan rani)>> 5. Dio.

    kebingunganku sama dengan Rini. karena disebutkan tumbalnya 5 keturunan, dan bukan 5 orang. jika Rani mati Arif akan selamat. tumbal selanjutnya tentu Dio.

    BalasHapus
  17. udah jarang ya orang2 sekarang punya mesih jait sendiri yg model begitu, biasanya udah yg mesin. hebat ih, mak, masih punya yg injekan kaki :D *gagalfokus*

    BalasHapus
  18. Haduuuhh.. merinding pas baca endingnya.. >.<

    BalasHapus
  19. @mbak nunung. makasih mbak :)

    @mbak rini bee : makanya kan aku bilang kalau si Arif tampanya salah itung. dipikir kalau dia yang keturunan kelima. hahahaha... boleh lah mbak bikin cerita sendiri. orang ini FF emang aku buat ngambang endingnya :)

    @mbak latree : hm, tampaknya ada yang terlewat dibacanya. kan aku bilangnya tumbalnya adalah anak pertama dari tiap keturunan. pakdhe umar, adalah keturunan pertama dari ayah ibu. dan arif adalah anak pertama juga. kalau pun ntar arif itu selamat atau tidak, atau Dio ikut jadi tumbal, itu tergantung pembaca. tampaknya begitu penjelasan dari saya :)

    @mak carra. mesin jahitnya dah mulai error :)

    @della. iya.. kalau dilanjutin lagi kayanya serem :)

    BalasHapus

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^