Kamis, 24 Maret 2016

Lifebuoy Clini-Shield10, Sabun Anti Kuman Pilihan Menuju Keluarga Sehat


Menjadi orang tua, tidaklah bisa sempurna seperti yang ada di buku-buku parenting yang banyak dijual di toko-toko buku. Selalu saja ada celah untuk terjadi kesalahan. Betul bukan? Tapi, tidaklah bijak, jika menjadi orang tua selalu melakukan kesalahan yang sama tanpa mau merubah diri untuk menjadi orang tua yang baik demi masa depan anak yang lebih cemerlang.

Saya dan suami pun juga seperti itu. Kami juga melakukan beberapa kesalahan dalam mendidik dan menjaga Arya yang saat ini masih menjadi anak kami satu-satunya. Namun ketika kejanggalan sudah terasa dari pola asuh dan penjagaan kami ini, langsung kami diskusikan baik buruknya. Begitulah, orang tua tidaklah ada yang sempurna. Sama halnya ketika kami menjaga kesehatan keluarga kami. Beberapa kali, kami kecolongan dalam upaya menjadi keluarga yang selalu sehat. Yang paling terakhir kali adalah saat beberapa minggu yang lalu Arya harus dirawat di rumah sakit karena diare.

Saya ingat betul, hari itu adalah hari Minggu. Dimana ketika itu, kondisi tubuh Arya belum stabil betul karena baru sembuh dari batuk pilek. Pagi itu, saya dan Arya sendirian di rumah, karena ibu saya pagi-pagi akan pergi ke luar kota karena menghadiri suatu undangan, bapak dan suami belum pulang karena masih berada di pabrik.

Karena Arya sudah tahu kalau saya di rumah dan pagi-pagi tidak ribut mandi dan sarapan, artinya saya sedang libur. Dan kalau sedang libur, artinya adalah hari Minggu. Dan kalau hari Minggu, artinya dia bisa mengajak saya untuk jalan-jalan di taman perumahan sebelah, yang mana banyak terdapat mainan anak-anak. Karena merengek terus, akhirnya saya turuti saja keinginan Arya. Lagipula, saya juga bosan di rumah.

Seperti biasa, Arya terlihat sangat senang karena keinginannya di turuti. Dia bermain banyak permainan anak dan kami membeli beberapa cemilan yang sebagian kami habiskan di rumah. Sesampainya kami di rumah, saya dan Arya segera cuci tangan, kaki dan wajah. Kemudian saya siapkan sarapannya Arya kemudian menyuapinya sembari dia bermain gelembung sabun yang saya belikan sebelum kami pulang.

Semua tampak biasa saja, bahkan ketika suami saya pulang pukul sebelas siang. Sebelum tidur siang, Arya bilang perutnya sakit dan minta p*p. Saya lihat, kotorannya agak encer daripada biasanya. Dan saat tidur siang, badannya tiba-tiba panas dan tidurnya tidak nyenyak. Setelah bangun, beberapa kali dia minta p*p dan selalu kotoran yang keluar itu encer. Saya dan suami memutuskan membawa dia ke klinik dekat rumah, karena kami memang tidak punya obat diare untuk anak.

Namun, sampai sehari berikutnya, obat diare ini nggak mempan menghilangkan diare Arya. p*p Arya makin encer dan sering, diikuti dengan memuntahkan makanan dan minuman yang kami berikan. Kami bawa kembali ke dokter dan dokter merujuk Arya untuk opname karena tubuhnya sudah menunjukkan tanda-tanda dehidrasi ringan. Duh Gusti, rasanya badan ini langsung gemetar. Hanya ada rasa kasihan melihat Arya terbaring lemah dengan selang infus di tangan saat di UGD. Diam-diam saya menangis saat saya berganti pakaian yang terkena muntahan Arya di kamar mandi klinik.


Setelah dua hari opname, dokter anak yang menangani Arya menyampaikan secara rinci hasil laboratorium dan diagnosa penyakit. Diagnosa yang muncul adalah Arya terkena diare dan dehidrasi ringan. Tapi, yang membuat gelisah adalah Arya dilarang pulang dulu, karena harus menghadapi tes laboratorium lanjutan karena panas tubuh Arya naik dan turun dengan cepat. Dokter masih harus mengamati lagi, apakah muncul tanda-tanda demam berdarah. Alhamdulillah, Arya tidak terjangkit demam berdarah dan dihari kelima dia diperbolehkan pulang.

Kejadian ini menjadi cambuk khusus bagi saya, bahwa menjaga kebersihan tubuh keluarga memang sangat diperlukan. Saat sakit kemarin itu, sepertinya yang luput dari saya adalah menyuruh Arya mandi dulu setelah bermain di taman. Saya malah memilih menyuapi dia dulu dengan kemungkinan kalau kuman yang ada di tangan Arya masuk ke mulut saat dia memasukkan makanan, meskipun toh saya sudah menyuruh dia mencuci tangan sebelum makan.

Perlu diketahui, bahwa diare merupakan salah satu masalah kesehatan terbesar di dalam masyarakat Indonesia. Pada tahun 2003, diare akibat kontaminasi bakteri merenggut sekitar 100.000 nyawa dan menjadi salah satu alasan utama perawatan inap di rumah sakit Indonesia. Proporsi kematian akibat diare di Indonesia adalah sekitar 3,5%. Ini membuat diare menduduki peringkat ke 13 dalam penyebab kematian semua umur (sumber dari sini).

Melihat fakta yang seperti itu, diare bagi saya menjadi momok tersendiri terutama saat saya dan keluarga berjuang untuk menjaga kesehatan kami. Apalagi kuman sudah mulai berevolusi dengan cepat seiring berjalannya waktu. Jadi perlulah akhirnya saya memikirkan perlindungan lebih dan inovatif bagi keluarga sebagai salah satu langkah awal untuk mengindari kuman yang berkembang dengan cepat dan beragam.


Untuk terhindar dari diare, selain rajin mencuci tangan dan menjaga kebersihan makanan yang masuk ke tubuh, saya memilih Lifebuoy clini-shield10 yang berbentuk shower gel konsentrat sebagai sabun keluarga. Pilihan saya jatuh pada sabun mandi inovatif ini karena praktis. Penggunaannya hanya satu tetes saja pada ujung jari untuk menghasilkan busa yang melimpah.

Satu tetes? Apa cukup? Cukup kok karena bentuknya konsentrat dan lebih pekat daripada sabun cair lainnya. Bahkan, bisa digunakan untuk membersihkan bagian-bagian tubuh yang sulit dijangkau, seperti bagian belakang telinga atau di sela-sela jari kaki. Dan karena hanya butuh satu tetes saja, membuat pengeluaran keluarga lebih terkontrol dan lebih hemat. Ditambah lagi, wangi sabunnya yang khas sekali, membuat kita lupa kalau Lifebuoy clini-shield10 merupakan sabun anti kuman.



Arya suka sekali menggunakan sabun ini dan dia mulai meng-klaim bahwa sabun konsentrat ini adalah miliknya. Jadi, setiap dia mandi selalu dia bilang, “Ma, pakai sabunku yang merah itu ya!”. Dan kalau dia sedang baik hati, dia akan bilang ke saya atau ke suami untuk memakai sabun ini saja karena baunya yang harum. Bahkan beberapa hari yang lalu, dia nggak sabar ingin mencoba Lifebuoy clini-shield10 yang berwarna hijau.

Menjadi orang tua, memang diharuskan untuk membuka diri dengan informasi dan inovasi terbaru. Bahkan juga untuk mengenal dan mencoba produk baru yang berguna bagi kesehatan keluarga. Tujuannya sederhana, untuk menciptakan generasi yang lebih sehat dan cemerlang. Itulah mengapa, saya berani mencoba menggunakan Lifebuoy clini-shield10 untuk menjaga kesehatan sehari-hari keluarga saya. Masuknya Arya ke rumah sakit karena diare, membuka lebar-lebar mata saya bahwa kesehatan keluarga dimulai dari hal yang terkecil namun penting, yaitu memilih sabun mandi yang cocok. Dan saya merekomendasikan sabun shower gel ini untuk menjaga kesehatan keluarga Anda. 


Salam,

10 komentar:

  1. Sampe opname gitu mbak, Ya Allah :(
    Moga nggak kejadian lagi

    BalasHapus
  2. Setetes aja cukup tp kayak nya kurang sreg hahaha

    BalasHapus
  3. Iya ya Mbak, kalo anak sakit, seperti jadi cambuk buat kita. Moga2 tidak terulang lagi, ya Mbak kejadiannya.

    BalasHapus
  4. Semakin banyak produk yang bisa menjaga kesehatan keluarga, makin nyaman hidup kita ya Mbak Rochma :)

    BalasHapus
  5. Saya juga pakai sabun ini dan sabun cair biasa. Kalo di rumah yang biasa, kalau keluar pakai yang ini. Hehehe

    BalasHapus
  6. Arya sehat terus ya. Pakai lifebuoy memeang sudah dipercaya sejak lama ya

    BalasHapus
  7. Beberapa hari yang lalu, anakku juga sempat diare. Sepertinya penyebabnya kuman memang, karena kelupaan cuci tangan habis main plus ibunya nggak sediain sabun cuci tangan. Hiks.

    BalasHapus
  8. Emang mbak lifebuoy itu sabun yang sangat ampuh untuk membasmi kuman :D

    BalasHapus
  9. Terima kasih untuk infonya bagus dan menarik

    BalasHapus

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^