Bismillah. Mari Menyeduh Manfaat dari Secangkir Kata

Sementara Ini, Saya Memang Tidak Bertujuan Menjadi Full Time Blogger Kok [Day 22]

| on
Tuesday, December 11, 2018
Pernah suatu hari ketika saya mengeluh capek karena kerjaan di sekolah ke suami, dia tanya, “Kenapa sih nggak full jadi blogger saja?”

Saat itu, saya jawab sekenanya saja, karena males ya lagi capek terus ngasih jawaban yang agak panjang (karena kan saya harus memberikan argumen yang masuk akal). Lalu, beberapa hari yang lalu saat saya balas beberapa email untuk laporan fee beberapa campaign dan cerita ke dia kalau saya ikut one day one post-nya Blogger Perempuan Network, dia kembali tanya, “Kalau misalnya jadi blogger saja, gimana?”

Suami saya pernah beri pendapat, mungkin ada baiknya saya jadi full time blogger saja. Karena ketika itu saya sedikit agak kerepotan seimbangkan dengan pekerjaan yang ada di sekolah dengan mengasuh anak-anak. Mungkin dia melihat, saya senang menulis dan bercerita di blog, saya senang ketika datang ke sebuah event, atau saya seperti tidak ada beban ketika mengerjakan job yang diberikan oleh agensi atau brand. Dan dia bilang, “Itu mobil bisa kamu pakai. Daripada mobilnya cuma dipakai pas weekend saja”. Artinya, dia membebaskan saya untuk datang ke event apapun untuk blogger.

Tapi masalahnya bukan saya mau atau tidak mau jadi full time blogger. Passion saya sekarang bukanlah jadi blogger, tapi menjadi guru. Kesenangan saya sekarang ini adalah mengajar. Sesuatu yang membuat saya tidak stres adalah setiap hari berangkat ke sekolah. Dan sesuatu yang menantang adalah membantu siswa-siswa saya ketika mereka sedang menghadapi hal-hal yang tidak bisa mereka selesaikan sendiri.

Semua ini kembali pada ‘manakah yang harus saya utamakan’. Dan jadi full time blogger itu belum jadi ‘yang utama’ untuk saya, apalagi jadi tujuan hidup saya.


Saya suka menulis. Sebagian passion saya ada di sana. Saya suka berbagi cerita dalam tulisan saya. Saya bahagia ketika orang lain mendapatkan manfaat dari tulisan yang saya posting di blog. Saya bersuka cita ketika saya bisa selesaikan tulisan tanpa lewat deadline. Dan saya bahagia ketika uang di rekening bertambah hasil dari blogging. 

Lewat menulis, saya bisa menyampaikan apapun yang ada di pikiran saya, asalkan tidak melanggar rambu-rambu yang saya buat sendiri. Lewat menulis, saya bisa menyelipkan pelajaran hidup yang saya dapatkan dari banyak kisah yang saya lalui. Lewat menulis, saya bisa memberikan contoh baik pada anak dan siswa saya tentang pemanfaatan waktu luang. Lewat menulis, saya bisa mendapatkan banyak teman baik yang ternyata dari merekalah kualitas hidup saya pun juga bertambah.

Tapi kembali lagi, menulis masih bukan yang utama sekarang.

Saya masih lebih bahagia ketika setiap hari bertemu siswa-siswa saya dan say hello tanpa canggung. Saya masih lebih bahagia ketika mereka datang (baik di kantor atau asal samperin saja) untuk bertanya banyak hal. Saya bahagia ketika mereka percaya kepada saya untuk berbagi masalah yang sedang mereka hadapi. Saya masih lebih bahagia ketika memberi bimbingan dan masukan untuk mereka sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan. Saya juga lebih bahagia ketika bertemu dengan rekan kerja setiap hari.


Dan saya masih belum bisa melepas itu semua.

Satu lagi. Ketika saya menjadi full time blogger, artinya saya akan banyak di rumah ketika saya tidak ada undangan event, dan harus terus-terusan di depan laptop atau ponsel untuk upgrade kemampuan blogging saya.

Saya bukan tipe orang yang betah terus-terusan duduk di satu tempat. Termasuk blogging. Saya nggak bisa seharian habiskan waktu untuk blog walking. Atau seharian saya harus berbenar DA, PA dan angka statistik lainnya. Atau saya harus seharian di rumah tanpa keluar dari kandang. 

Begitulah jawaban saya ke suami. Dan dia memaklumi. Karena memang dia tahu, hanya ngetes saja sepertinya. Haha.
Be First to Post Comment !
Post a Comment

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^

Custom Post Signature

Custom Post  Signature