Bismillah. Mari Menyeduh Manfaat dari Secangkir Kata

Kenapa Saya Menulis di Blog? [Day 1]

| on
Tuesday, November 20, 2018


Dua bulan terakhir ini, sebenarnya saya sedang menantang diri sendiri untuk melakukan beberapa aktifitas rutin yang mulai saya lupakan. Kenapa harus memulai lagi? Karena setelah saya pikir-pikir ulang, ternyata aktifitas itu sebenarnya menyangkut passion dan tujuan hidup. 

Saya mulai terlena dengan kehidupan yang memang monoton ya akhir-akhir ini. Kerjaan di sekolah, menyesuaikan ritme sekolahnya Arya yang jadwalnya kadang kala masih suka berubah-ubah meskipun sudah melewati masa pekan tengah semester, menyusun beberapa strategi menghadapi Fatin yang makin ke sini makin banyak akalnya, stalking idol kesayangan dan nonton drama korea yang kece-kece ceritanya. Yayaya, yang terakhir itu memang sering disalahkan karena menghabiskan banyak waktu luang yang sebenarnya bisa dialihkan ke kegiatan yang lebih bermanfaat. Tapi, sebenarnya saya nonton drama korea pun juga nggak seharian full tapi malah pas masa leyeh-leyeh di malam hari menjelang tidur.

Kemudian saya membaca sebuah buku tentang memahami diri untuk menemukan bakat yang kita miliki. Bukunya ringan, enak dibaca, dan nonjok banget muka saya, yang berujung pada kesimpulan: Wah iya, saya terlalu menyia-nyiakan usia yang sekarang ya buat hal-hal yang harusnya bisa saya bagi-bagi kepentingannya. 

Dan akhirnya, saya memberanikan diri menulis kembali apa saja yang menjadi prioritas, apa saja yang ingin saya dapatkan, dan bagaimana saya melakukannya. Salah satunya adalah kembali menulis di blog.

Awal saya menulis di platform online karena self healing. Saya dihadapkan dengan satu masalah yang sangat besar, yang membuat saya harus menghilang dari dunia online dan tidak memberi kabar pada teman-teman saya selama beberapa bulan. Untuk kembali ke dunia saya yang dulu, saya harus kembali menyiapkan mental karena saya harus lebih siap. Dan itu harus, karena saya nggak mau terpuruk lama-lama. 

Salah satu caranya, adalah self healing. Salah satu caranya lagi, adalah nulis. Saya nulis sekenanya. Ketika itu kebanyakan cerpen, cerbung, dan puisi. Yang sekarang entah bercecer di mana. Oon-nya saya, nggak saya simpan. Apalagi sempat berganti-ganti platform, ya sudah, wassalam.


Kemudian menulis di blog menjadi sesuatu yang menyenangkan. Karena saya bisa bebas menulis kapan saja tanpa harus difilter dengan aturan ini itu dari tim editor. Makin ke sini, saya makin ngerti kalau sebelum publish di blog sendiripun juga perlu ada editornya. Siapa? Saya sendiri dong. Saya harus memperhatikan banyak catatan penting supaya tulisan saya nggak asak njeplak dan publish. Ini itunya harus dipikir.

Menulis di blog pun menjadi hal yang penting kemudian kala itu, karena saya ingin menyimpan beberapa kenangan yang mungkin suatu saat akan saya butuhkan lagi sebagai sebuah catatan hidup. Apalagi saya baru menjadi ibu muda yang apa-apa ingin saya bagikan ke orang lain.

Lalu saya ingat sebuah kalimat bahwa sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang memberikan manfaat untuk orang lain. Dari situlah saya akhirnya memutuskan untuk menulis sembari berbagi informasi pada orang lain. Sambil mencari ide, sambil menyusun apa saja yang mau saya bagikan ke pembaca. Hehe, selama ini, saya selalu ngedraft pakai nulis tangan dulu lho sebelum benar-benar ngetik di PC. Saya susun poin-poinnya apa biar nulisnya nggak ngglambyar kemana-mana.

Sedangkan anak muda jaman sekarang, dekat sekali dengan dunia digital dan mereka menyukai itu. Nggak usah dipaksa buat tahu, mereka akan cari tahu sendiri. Termasuk siswa-siswa saya. Mereka main instagram, main game offline dan online, membaca wattpad, ngerumpi di chat group, lebih sering ketimbang orang-orang seumuran saya atau yang lebih tua dari saya. Tapi bukan itu intinya, tapi tentang bagaimana memanfaatkan kesukaan mereka itu untuk menjadikan diri mereka menjadi pribadi yang makin berkembang.

Salah satu caranya yang sering saya pakai adalah penggunaan bahasa penulisan yang baik di dunia digital. Entah itu ketika berbicara dengan orang lain lewat chat room, menulis status di media sosial, menulis caption di foto yang mereka publish, atau di aplikasi-aplikasi yang berhubungan dengan tulis-menulis. 

Lha kalau saya menyuruh mereka menulis dengan baik tapi saya cuma omong doang, ya sama ajah dong materi yang saya sampaikan itu tadi nggak bakal bisa mereka terima. Saya pakai blog sebagai media untuk pemberian contoh langsung. Saya beri alamat blog saya ke mereka dan saya bagikan akun-akun media sosial saya. Biarlah mereka belajar langsung cara menyampaikan pesan yang baik itu bagaimana. 

Demikian. Dan bismillah, semoga saya terus bisa konsisten.
Be First to Post Comment !
Post a Comment

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^

Custom Post Signature

Custom Post  Signature