Bismillah. Mari Menyeduh Manfaat dari Secangkir Kata

5 Fakta tentang Pemilik Blog Mama Arkananta [Day 6]

| on
Sunday, November 25, 2018
Saya termasuk pribadi yang tertutup pada orang lain, pun pada teman dekat saya sendiri. Suami saya saja, baru benar-benar bisa memahami saya yang ‘sok rumit’ ini beberapa tahun terakhir ini setelah kami benar-benar menyelami pribadi kami masing-masing. Ya maklumlah, secara saya sama suami melewati masa dekat sebelum nikah itu hanya delapan bulan saja. 

Bukannya nggak mau bercerita tentang apa yang ada dalam keseharian saya pada orang lain, atau menceritakan harapan dan impian saya pada orang-orang terdekat saya, tapi saya lebih suka memendamnya sendiri. Menulis jejak-jejak pemikiran saya di banyak media, seperti blog, note ponsel, notebook, sticky note dan menyelipkannya di meja kerja, bahkan di kertas-kertas buram ketika mengawasi siswa-siswa saya ujian. Saya lebih nyaman diam saja, memperhatikan sekeliling saya dan tidak banyak berkomentar (kecuali situasinya benar-benar mengusik).

Lalu apakah itu membuat saya jadi orang yang pendiam? Oh, tentu tidak. Saya hanya diam di depan orang yang tidak saya kenal karena saya orangnya malas sok akrab. Tapi ketika sudah dekat, maaf, kadang saya over tingkah lakunya. Kalau mau teriak, ya teriak aja. Kalau mau menggila, ayo ajah. Kalau mau hanya senyum manis, oke ajah.

Masalah pribadi pun, saya nggak banyak bercerita pada orang lain. Saya lebih memilih sibuk dengan suara-suara yang ada di dalam otak saya, menarik kesimpulan sendiri, kemudian bertindak sendiri. Sedikit egois sih ya tampaknya, tapi kadang kala saya malas untuk menunggu-nunggu orang lain kalau masalah itu menyangkut hajat hidup orang banyak.

Lalu apa yang menarik dari saya? Entahlah. Hahahaha! Tapi saya beri sedikit cerita saja deh 5 fact about me. Lanjut baca saya bahagia, nggak lanjut baca juga nggak papa sih.


1. Sampai saat ini, menjadi guru itu masih menjadi salah satu passion saya.

Ketika memutuskan kuliah ambil jurusan psikologi, sebenarnya yang ada di pikiran saya ketika itu adalah jadi psikolog itu keren. Saya bisa duduk manis di belakang meja kerja, atau duduk santai berhadapan dengan klien yang notabene membutuhkan saya buat bercerita apa yang dia rasakan.


Tapi ketika teori mengatakan bahwa bakat itu adalah kemampuan yang menurun secara biologis dari darah keluargamu, itu benar sekali. Kakek nenek buyut saya sampai ibu saya sendiri adalah guru, meskipun beberapa dari beliau tidak mengajar di sekolah formal. Dan tampaknya, kemampuan diri yang berhubungan dengan mengajar, itu banyak menurun pada saya. Mendidik seolah menjadi panggilan jiwa yang awalnya benar-benar nggak ada di dalam pikiran saya ketika kuliah.

Apakah saya sudah wow banget menjadi seorang guru? Oh tentu tidak, Teman. Saya masih bayak belajar kok. Bahkan saat masuk ke dalam kelas, atau ketika membantu siswa saya ketika mereka mengalami kesulitan, menjadi media pembelajaran yang efektif bagi pengembangan kemampuan saya sendiri.


2. Paling ogah kalau ada kucing dekat-dekat saya.

Dulu, sebelum menikah, saya malas bener dekat-dekat sama kucing. Sumpah ya, bagi saya kucing itu nggak ada lucu-lucunya, meskipun kucingnya masih kecil. Berawal dari ketika SD, saya pernah hampir dicakar kucing hitam yang besar sekali. Trauma dong ya, orang itu kucing nggak hanya mau mencakar saja, tapi juga teriak kencang sekali. 

Setelah menikah, masih mending, mulai bisa menerima kehadiran kucing meskipun saya masih merinding kalau ada kucing lewat di depan saya atau ketika saya harus berjalan melewati seekor kucing yang lagi duduk-duduk manis. Karena keluarga suami sudah pelihara kucing sejak suami dan adik-adiknya masih kecil. Tapi tetap saja, saya big no kalau disuruh dekat-dekat sama kucing.


3. Saya paling nggak bisa melewati selokan besar di pinggir atau tengah jalan.

Meskipun selokan itu ditutup sama terali besi atau sekolan itu ukurannya kecil. Kenapa? Karena saya pernah jatuh terperosok di selokan yang ada di tengah trotoar karena keasyikan ngobrol sama teman sembari menunggu angkot. Malunya tiada tara, sumpah! Mana TKP-nya itu kok ya pas di perempatan. 


4. Saya EXO-L

Sudahlah, kalau urusan dunia fansgirling ini sedikit nggak penting karena memang usia saya nggak lagi ABG ya. Tapi perkara fansgirling ini malah menyelamatkan jiwa noona-noona yang haus akan ketampanan wajah dedek gemes. Wkwkwkw. 

Saya tahu EXO sudah dari lima tahun yang lalu, setahun setelah mereka debut. Sekedar tahu, karena salah satu geng siswa saya itu, enam orang pada seneng EXO yang ketika itu masih OT12. Tahu EXO karena kalau ada apa-apa sama EXO, mereka ngerumpinya di depan saya. Sayanya diam, mereka asyik ngobrolin EXO. Sayanya mau pergi, nggak boleh. Disuruh duduk diem aja dengerin mereka ngerumpiin EXO.

Omooo.. Noona mati gaya liat ini

Berlalu karena saya mesih senang dengerin lagu-lagunya penyanyi barat dan hanya beberapa lagu idol asal Korea saja yang saya dengarkan. Kala itu, Big bag, Super Junior, 2NE1, T-ARA yang masih sering saya dengarkan sembari saya dengarkan lagu-lagunya Jason Mraz, Bruno Mars, Adele dan masih banyak lagi.

Kemudian gegara CBX, sub unit EXO, mengisi OST untuk drama Moon Lover Scarlet Heart Ryeo, membuat saya malah jatuh cinta sama grup ini. Dari yang awalnya membiaskan Baekhyun, Xiumin, Chen dan sekarang malah menjadikan D.O. sebagai ultimate bias. Wkwkwkw.

Mentok saya sama dedek D.O ini

Menjadi EXO-L mengingatkan saya ketika saya dulu SMP mati-matian mendukung Backstreet Boys untuk maju jadi boyband yang layak untuk diperhitungkan. Haha, masa-masa remaja yang mana kamar penuh dengan boyband yang sampai sekarang masih eksis keluarkan lagu baru dan masih sering adakan konser.

Dan menjadi EXO-L malah membuat siswa-siswa saya nggak canggung dengan saya. Ketika ada kalimat yang mengatakan bahwa ‘untuk mendekati anak kecil, maka jadilah anak kecil juga’, saya rasa itu ada benarnya. Siswa-siswa saya adalah mereka yang sedang berada di masa remaja. Masa remaja adalah masa di mana mereka mengidolakan orang lain. Dan menjadi guru yang mengidolakan seseorang yang juga disukai oleh siswa-siswa saya, malah menjadi keuntungan tersendiri saat mengambil hati sebagian dari mereka.


5. Saya suka mencatat apapun yang daya anggap penting.

Baik dari film, drama, instagram story, chat group, status di media sosial, kalimat yang keluar dari mulut seseorang, dan yang lainnya. Saya mencatatnya dalam sebuah buku khusus. Mungkin lebih bisa dikatakan itu seperti buku khusus untuk quote.

Saya suka melakukan ini karena saya orangnya mudah lupa. Kalau hanya lewat lalu saja, malah saya anggap itu nggak penting dan malah saya nggak dapat input apa-apa setelah saya membacanya atau melihatnya.

Sebelum saya tulis di buku, biasanya saya tulis di note ponsel dulu

Selain saya ingin menjadi pribadi yang makin ke sini makin baik, mencatat hal-hal penting ini menjadi salah satu keuntungan bagi saya sebagai seorang guru. Kadang kala, dari sebuah kalimat penting, bisa saya jadikan materi saat mengadakan bimbingan kelompok atau ketika saya berbicara empat mata saja dengan siswa saya.

.
.

Kemarin hari Jumat (23 November 2018) saya bertemu dengan salah satu blogger lawas di sebuah acara di kota saya sendiri. Mas Rudi, pemilik akun media sosial Belalang Cerewet. Dia bilang begini, ‘Mbak lama lho nggak aktif ngeblog sama main medsos.’

Begitulah orang lain menilai diri saya seperti apa. Meskpun saya tidak menunjukkan langsung siapa saya dan menceritakan bagaimana kepribadian yang saya punya, tapi mereka mampu dan bersedia mengingat saya dengan segala keunikan yang mereka tangkap, yang menjadi clue saat mereka bertemu dengan saya.
Be First to Post Comment !
Post a Comment

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^

Custom Post Signature

Custom Post  Signature