Bismillah. Mari Menyeduh Manfaat dari Secangkir Kata

Libur Telah Tiba! Hore! Saatnya Nonton 5 Film Rekomendasi Dari Saya [Day 10]

| on
Thursday, November 29, 2018
Setahun ke belakang ini, nggak banyak film yang saya tonton karena ya apa lagi kalau slotnya sudah penuh dengan drama korea on going. Biasanya, nontonnya sama suami. Tapi dia juga ngerti ya, kalau saya sudah di atas tempat tidur, tarik selimut, pasang earphone dan anteng, artinya saya lagi serius tamatkan satu episode drama korea. 

Tapi kadang, suami itu pinter banget buat mengalihkan perhatian saya dari drama korea. Pergilah dia diam-diam dan seringnya nggak ajak-ajak ke mall di Surabaya buat beli DVD film-film terbaru. Trus, sesampai di rumah dia maksa buat ditemani nonton filmnya. Pinternya dia lagi, dia beli film-film yang genre-nya itu selera saya. Ya mana bisa nolak coba? Nggak bisalah, apalagi kalau aktor dan aktrisnya saya suka.

Tapi kebahagiaan setelah nonton film, nggak enaklah kalau saya rasakan sendiri. Ea. Maunya saya bagikan saja deh, sekalian ngasih rekomendasi film-film apa saja yang akhir-akhir ini saya liat dan bikin baper.



 - Big Brother -

Berkisah tentang seorang guru serta wali kelas bernama Henry Chen yang punya cara pendekatan yang berbeda dengan guru kebanyakan di sekolahnya, kepada siswa-siswa bermasalah di kelasnya. Kebetulan sekali, saya nonton film ini tanggal 25 November kemarin, bertepatan sekali dengan Hari Guru Nasional. Ah ... Serasa saya ini masih kurang profesional saja selama ini saat menghadapi siswa-siswa saya setelah nonton film ini.

Henry Chen sendiri diperankan oleh Donny Yen. Itu lho, aktor laga yang terkenal di film Ip Man, Ip Man 2 dan beberapa film laga lainnya. Film yang didalamnya Donny Yen juga menjadi produsernya, saya acungi jempol dua. Sempat sih di awal-awal film saya membandingkan dengan film-film Korea yang memang lebih soft tampilannya. Tapi lagi-lagi, perbandingan ini gugur karena penampilan Donny Yen dan aktor lain yang keren banget!


Menurut Henry Chen yang mantan tentara, menjadi guru itu nggak sekadar mengajar materi pelajaran saja supaya siswanya mendapatkan nilai yang baik dan supaya mereka bisa melanjutkan ke sekolah-sekolah favorit. Tapi guru itu punya kewajiban untuk membantu siswanya yang sedang mengalami masalah, yang mana masalah itu mengganggu kegiatan belajar dia di sekolah atau di rumah.

Satu quote yang terngiang sampai film ini kelar adalah: Kalau guru menyerah akan siswanya, maka siswa itu juga akan menyerah pada dirinya sendiri.

Artinya apa?

Guru apapun, mengajar mata pelajaran apapun, ketika ada siswa bermasalah sehingga kegiatan belajarnya terganggu, begitu pula perilakunya, maka guru itu wajib untuk mencari tahu akar masalahnya di mana. Nggak lain supaya siswanya tahu, bahwa ada orang dewasa yang siap untuk membantu dia ketika dia benar-benar terpuruk.

Lalu ada quote lain yang juga sempat saya bahas sama suami: Kalau kamu tidak ingin orang lain meremehkanmu, maka tunjukkan kalau kamu bisa.

Segera lihat deh, cucok untuk dilihat oleh para guru, orang tua dan si remaja di keluarga kita. Film ini memang sedikit menunjukkan adegan berbahaya, ya karena Donny Yen spesialisnya ke film-film laga. Kalau ingin mengajak remaja kita nonton film ini, baiknya ditemani saja karena ada beberapa adegan laga yang dilakukan oleh Donny Yen dengan dasar ingin melindungi siswa-siswanya.



- In Your Wedding Day -

Korea memang ahlinya buat hati perempuan mana pun menjadi termehek-mehek. Ya padahal ide ceritanya itu sudah umum terjadi di kehidupan sehari-hari kita. Termasuk film In Your Wedding Day ini. 

Saya sebenarnya nggak mengharapkan cerita yang wow banget sih ya pas mau lihat film ini. Saya pikir ini film akan berakhir membahagiakan. Saya bersemangat nonton ini karena yang jadi pemeran utamanya adalah Kim Young Kwang dan Park Bo Young. Selain perbedaan tinggi badan yang sangat-sangat mencolok sekali, saya menanti acting Kim Young Kwang di film bergenre romantis setelah dia berhasil membuat saya kagum dengan actingnya di drama laga berjudul The Guardians.


Apakah dia berhasil berperan baik? Ah ... Sepertinya saya bakal memasukkan dia ke dalam barisan para bias dari kalangan aktor Korea saking bagusnya dia mendalami peran sebagai Hwang Woo-Yeon yang gagal menjadi atlet profesional atau seorang pelatih olahraga karena menyelamatkan cinta pertamanya, Hwang Seung-Hee dari sebuah kecelakaan. 

Melepas cinta pertama dari kehidupan kita memang sulit sekali bukan? Jujur saya jawab, iya. Butuh komitmen yang kuat untuk tidak lagi terlibat dalam kehidupan orang yang menjadi cinta pertama kita, setelah kita lama tidak saling memberi kabar. Tapi ada titik di mana kita harus benar-benar melepasnya supaya dia bisa menjalani kehidupannya dengan lebih tenang tanpa ada kita di sekitar dia. Bahkan titik ini haruslah kita ambil, supaya kita tak makin terpuruk dalam penyesalan-penyesalan masa lalu yang tidak bisa kita ulang dan perbaiki lagi.

Ya, begitulah kira-kira pesan yang saya ambil dari film ini. Cuzz tonton deh, meskipun endingnya mungkin tidak sesuai dengan yang kita harapkan.



- MAKING FAMILY -

Film yang merupakan kerja sama antara Tiongkok dan Korea ini, adalah salah satu film yang bisa mengaduk-aduk hati nurani saya sebagai seorang anak yang sejak kecil memiliki seorang bapak yang hebat. 

Menceritakan tentang seorang anak yang terlahir di Korea, yang mencari ayah kandungnya sampai ke negeri Tiongkok tanpa mengajak ibunya, Go Mi-Yeon (Kim Ha-Neul). Anak ini lahir dari donor sperma yang dilakukan oleh pemeran utamanya, Julien (Aarif Rahman), yang mana donor sperma ini sudah dilakukan bertahun-tahun lamanya saat dia kuliah di Amerika.


Konflik makin seru, karena ketika itu Julien sedang dihadapkan pada masalah plagiarisme yang tidak dia lakukan saat akan launching pameran kesenian dia yang pertama. Saat masalah kerjaan belum kelar, tiba-tiba datang seorang anak yang mengetuk pintu rumahnya dan bertanya, “Apakah kau ayahku?”

Film ini menceritakan dengan baik tentang keinginan seorang anak untuk memiliki seorang ayah dalam kehidupannya, seorang ayah yang bisa dijadikan panutan, teman bermain dan tempat untuk kembali saat ada masalah. Meskipun agak-agak kaku actingnya karena para pemainnya harus dihadapkan dengan dua bahasa, Tiongkok dan Korea. Tapi masalah ini nggak terlalu terlihat karena saya sendiri terpaku sama jalan ceritanya dan twist-twist yang disampaikan oleh penulis naskah.

Yang membuat keren adalah para pemainnya berhasil menunjukkan ke penonton perubahan karakter dari menit pertama sampai di menit terakhir. Ini penting banget buat saya sebagai seorang penonton. Kenapa? Karena kalau perubahan karakter tokohnya terjadi secara tiba-tiba, itu mah namanya memaksakan diri namanya. Sedangkan di film ini, perubahan karakter setiap pemainnya terjadi dengan soft banget, padahal film mah durasinya nggak lama. 



- THE COMMUTER -

Saya nonton film ini karena pemainnya adalah Liam Neeson yang terkenal di deretan film Taken. Saya menantikan acting laganya sih sebenarnya, tanpa peduli apakah filmnya oke atau nggak. Tapi ternyata setelah melewati menit ke-10, ternyata film ini menarik juga.


Adalah Michael (Liam Neeson) yang dipecat dari pekerjaannya sebagai salesman asurasi. Dia selalu naik kereta yang sama ketika dia berangkat kerja atau ketika pulang kerja. Ditengah dia stres karena dia nggak tahu akan bekerja di mana lagi di usianya yang sudah memasuki angka 50. Di tengah perjalanan pulan, di dalam sebuah commuter, Michael bertemu dengan seorang perempuan yang memberinya tebak-tebakan untuk mencari penumpang misterius. Awalnya Michael menolak, tapi kerena keluarganya mendapat ancaman, mau tidak mau dia harus menjalankan misi itu.

Sebenarnya, jalan ceritanya sudah biasa ya. Tapi karena Liam bisa memberikan acting yang baik meskipun kebanyakan perannya adalah wira-wiri di lorong komuter. Sayangnya nih, mungkin karena faktor usia juga ya, Liam nggak banyak action di film ini. Tapi karena jalan ceritanya yang menarik, layak kok untuk film ini masuk ke dalam list kita.



- BE WITH YOU -

Saya nonton film ini karena rekomendasi adik ipar yang mengatakan kalau nonton film ini harus siapkan tissue yang banyak. Lebih penasaran lagi karena So Ji-Sub ahjussi yang jadi pemeran utamanya dan ada Park Seo Joon yang menjadi cameo di akhir filmnya. 

Bercerita tentang cinta yang besar seorang laki-laki bernama Woo-Jin (So Ji Sub) dan seorang anak bernama Ji-Ho yang sangat mencintai Soo Ah (Son Ye-Jin) yang menjadi istri dan ibu di dalam keluarga kecil mereka. Film ini menjadi menarik karena Soo Ah yang dikabarkan sudah meninggal, tiba-tiba hadir kembali dalam kehidupan dua aktor laki-laki ini, dengan ingatan yang tidak bisa dipulihkan. Tapi tak pedulikan soal ingatan, mereka bertiga malah menikmati kehidupan keluarga. Sampai pada akhirnya, Soo Ah harus kembali meninggalkan mereka berdua.


Film ini penuh air mata. Huhuhu, bangun tidur mata saya bengkak dan bingung mau dikasih apa biar kempes. Melihat perjuangan Woo-Jin untuk tetap menjadi sosok penting dalam kehidupan anaknya, atau bagaimana mengharukannya saat Ji-Ho merindukan sosok ibunya. 

Banyak pesan moral untuk saya sebagai seorang ibu muda saat menonton film ini. Misalkan saja, bahwa menjadi seorang ibu itu tidaklah harus menuruti semua keinginan anaknya. Ajari mereka kemandirian supaya ketika dia hidup sendiri, mereka bisa bertahan.

Langsung tonton deh film ini tanpa pikir panjang. Jempol dua banget deh! Nggak heran kalau film ini menduduki peringkat pertama di box office di hari pertama penayangannya.
Be First to Post Comment !
Post a Comment

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^

Custom Post Signature

Custom Post  Signature