Bismillah. Mari Menyeduh Manfaat dari Secangkir Kata

Jadi Orang Tua dan Guru Millenial Yuk! Ajari Anak Kita Cerdas Pakai Media Sosial [Day 5]

| on
Saturday, November 24, 2018
Bekerja dengan memanfaatkan media sosial ternyata bisa menjadi materi pembelajaran untuk orang lain, terutama untuk orang-orang yang lebih muda dari pada saya atau orang-orang yang masih belum mahir betul mengunakan media sosial. 

Pertanyaannya, apakah saya sudah mahir memanfaatkan media sosial dengan baik? Saya sendiri menyadari kok, saya belum sampai mendapatkan nilai sempurna dalam memanfaatkan media sosial. Karena masih sering saya leyeh-leyeh nganggur mensekrol intagram tanpa tahu pasti apa yang mau saya lihat. Tapi semakin sering saya bekerja memanfaatkan media sosial sebagai buzzer beberapa merk produk, membuat saya menyadari ada hal penting dalam bermain-main dengan media sosial. Apa itu?

Kehati-hatian.

Sebagai seorang ibu dengan dua anak yang masih di bawah umur dan juga sebagai guru BK yang setiap hari bertemu siswa yang sedang asyik-asyiknya masuk dunia remaja, mengajarkan kepada mereka bagaimana berhati-hati dalam bermedia sosial itu sangat-sangat-sangat perlu.

Memangnya dua anak saya sudah pakai media sosial? Belum lah, masih kecil mereka ini. Tapi membatasi gerak mereka pada paparan internet masih saya lakukan sampai sekarang. Dalam sehari, mereka paling lama hanya satu jam saja menggunakan internet. Itupun Youtube Kids. Itupun masih saya lihat mereka menonton video apa. Padahal Youtube Kids kan sudah ada pembatasan video berdasar usia anak bukan? Tapi tetap was-was lah, karena banyak video yang berasal dari luar negeri, yang bisa jadi standart unggah-nya tidak sesuai dengan standart yang saya terapkan di rumah.

Arya saja misalnya, dia baru ngerti lagu luar negeri dengan lirik dewasa hanya dua. Lagunya One Direction yang judulnya Drag Me Down, karena ada satu video tentang game Mine Craft yang menggunakan backsound lagu ini. Satunya lagi, lagunya iKon yang judulnya Love Scenario, karena lagu ini jadi ringtone ponsel saya. Hahaha. Disaat teman-temannya nyanyi lagu dangdut yang lagi hits sekarang ini (dangdut ini mah dengan gampang masuk ke fase apapun dalam kehidupan seseorang), dia diam saja mendengarkan, tapi tetap nggak bisa menirukan karena ya dia nggak ngerti. Segitu polosnya dia dan saya tetap maunya dia seperti itu.

Lalu kalau siswa saya, bagaimana lagi ceritanya?


Saya selalu bilang ke meraka, bahwa sekarang ini tidak lagi hanya istilah ‘Mulutmu Harimaumu’ saja, tapi juga ada istilah ‘Jempolmu Harimaumu’. Selalu berhati-hati ketika AKAN upload sesuatu, itu yang menjadi prioritas.

Kok kata AKAN-nya gedhe sih?

Iya dong. Penambahan kata ‘akan’ itu memang menjadi poin utama saya menjelaskan ke mereka pentingnya filter pertama. Filter pertama? Apa lagi itu?

Ini istilah saya sendiri sih di depan siswa saya. Namanya juga filter, yang artinya adalah penyaringan. Kita harus punya penyaringan pertama dari apa yang AKAN kita unggah di media sosial. Sebelum proses unggah, kata ‘akan’ menyangkut beberapa proses yang menyertai. Penyaringan pertama ini yang menggerakkan siapa? Ya hati nurani kita masing-masing. 

Hati nurani haruslah peka, mana yang layak untuk diunggah dan mana yang hanya layak untuk dikonsumsi secara pribadi saja. Langkah pertama adalah ide dari materi yang akan kita unggah. Ide itu layak nggak untuk dijadikan bahan unggahan. Kemudian pengambilan materi, mulai dari proses pengambilan foto, syuting video, dan beberapa proses lainnya. Lalu proses editing. Adakah materi-materi yang harus disensor, ditambah atau dikurangi?

Aktivitas lain yang berhubungan dengan kata ‘akan’ adalah penulisan caption. Nulis caption itu yang penting menarik tapi nggak bikin war. Haha, ini mah istilah para fansgirl idol. Caption yang berkesan adalah yang menarik, memiliki pesan baik, penggunaan kata-kata yang baik pula, serta mengundang diskusi dan bukan mengundang perdebatan. Intinya, dengan baca caption ajah hati kita sudah kaya disiram air adem ditengah panasnya gurun Sahara. Nyesss...

Sepanjang itu, baru yang pertama dari banyak pesan saya ke siswa-siswa saya ketika bermain media sosial. Pesan yang kedua adalah tidak menyebutkan data pribadi di akun media sosial secara rinci. Karena mereka masih sekolah. Bahkan penyebutan lokasi sekolah pun, jangan terlalu sering dimasukkan dalam caption. Pesan ini menyangkut keselamatan mereka di ranah digital. Saya jelaskan sama mereka juga tentang predator di dunia digital itu bagaimana, supaya mereka paham.

Pesan yang ketiga adalah pakai media sosial boleh-boleh saja, asal nggak ganggu jam belajar. Gimana-gimana tugas dan kewajiban mereka itu adalah belajar, bukan pentengin instagram atau main game berjam-jam. Emangnya mudah suruh-suruh remaja buat melakukan pesan ketiga ini? Wkwkwk, susah Jendral! Paparan ponsel dan internet itu lebih nancep di hati daripada suara guru atau tulisan hitam di buku pelajaran. Bahkan salah satu siswa saya pernah bilang, coba kalau Indonesia sudah canggih dengan memberikan buku dan materi pelajaran di sekolah dan di rumah dengan tampilan layaknya media sosial yang mengedepankan kecantikan visual dengan harga yang murah. Dia bakal jamin lho kalau dia bakal rajin belajar. Hahahaha, catat pak Menteri!

Demikian, teman-teman pembaca blog saya. Media sosial sudah nggak bisa lagi kita larang-larang buat nggak hadir di kehidupan anak-anak kita. Tapi pintar-pintarnya kita saja sebagai orang tua yang harus memberikan arahan ke mereka sebagai pendukung filter pertama. 

Semoga saya lebih konsisten.
Be First to Post Comment !
Post a Comment

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^

Custom Post Signature

Custom Post  Signature