Kamis, 25 Agustus 2016

Perlukan Ruang Laktasi di Area Publik?


Jawaban saya adalah perlu.

Hari Minggu kemarin, saya menghadiri workshop guru Bimbingan dan Konseling sekabupaten Gresik di kantor Dinas Pendidikan. Kalau berdasar cerita teman-teman yang udah pengalaman ikutan, workshop bakal berjalan lama, sampai menjelang sore hari. Sedikit paniklah, karena saya nggak akrab dengan suasana di kantor Dinas Pendidikan. Trus, saya memerah ASI di mana?



Kemudian saya ingat, tetangga belakang rumah kan kerja di sana, dia juga menyusui seperti saya, bahkan usia bayinya pun lebih muda dua minggu ketimbang Fatin. Setelah chit chat, dia ngasih tahu kalau ingin memerah ASI, bisa di musholla. Ng, mikirlah lagi. Kalau di musholla, apa ngga khawatir tiba-tiba ada jamaah laki-laki yang masuk untuk sholat atau sekedar istirahat? Untungnya dia bilang, kalau mushollanya cenderung sepi karena memang nggak diperbolehkan istirahat (aka tidur) di sana, dan ada tabir untuk memisahkan tempat sholat laki-laki dan perempuan. Sementara, malam itu saya bisa tidur tenang.

Kemudian, datanglah waktu memerah ASI saat workshop. Kok ya kebetulan, waktunya barengan dengan waktu break. Buru-buru lah saya menuju musholla dan Alhamdulillah, berhasil memerah dengan bahagia karena musholla yang nyaman dan ‘aman’ untuk memerah ASI.

Itu ketika saya di luar lokasi sekolah.

Kalau di sekolah tempat saya kerja, saya biasanya memerah ASI di UKS. Guru yang merangkap jadi petugas UKS sudah ngerti sekali kalau saya butuh memerah di jam-jam tertentu. Beliau meminjamkan serep kunci UKS biar saya leluasa buat memerah ASI kapan saja. Kalau pas ada siswa sakit dan butuh istirahat di UKS, gimana? Saya numpang memerah ASI di sudut ruangan kelas inklusi atau perpustakaan sekolah yang mana dua ruangan itu ada pembatasnya. Nyempil lah istilahnya. Jadi, aman-aman saja.

Itu sih cerita saya ya, yang masih untung ada ruangan untuk memerah ASI saat kerja.


Beda cerita dengan teman kerja saya yang jadi CS bank. Sejak teman saya itu hamil, dia selalu tanya-tanya ke saya apa saja yang berhubungan dengan ASIP (ASI Perah). Mulai dari caranya memerah, pompa ASI yang bagus, gimana cara menyimpan ASIP yang benar juga penyajian ASIP yang baik ke bayi. Bahkan, dia sudah siapin alat tempur lengkap setelah lahiran dan sudah mulai stok ASIP banyak sebelum cuti melahirkannya habis. Tapi kemudian dia ‘merasa’ gagal untuk melanjutkan memerah ASI setelah bayinya melewati usia 6 bulan.

Kenapa?

Baca juga : Tips Ketika Stok ASIP Menipis 

Dia cerita kalau di tempat kerjanya itu nggak ada ruang khusus untuk laktasi dan tetek bengeknya, jadi selama dia tiga bulan dia bertahan untuk memerah ASI di toilet! Ya Tuhan! Saya hanya bisa melongo pas dia cerita sambil mau nangis menyesal gitu. Dan saya ngga bisa beri solusi apa-apa karena ketersediaan ruang laktasi itu berhubungan langsung dengan kebijakan instansi.

Kemudian saya bersyukur karena masih ada UKS, ruang inklusi dan perpustakaan.

Beberapa tahun yang lalu, saat teman guru yang sedang hamil anak kedua tanya-tanya ke saya gimana caranya bisa terus kasih Arya ASI sampai usia 20 bulan. Saya jawab saja kalau saat itu saya rela bawa cooler box yang diletakkan di motor seperti penjual es krim dan memerah dengan nyaman di UKS. Di dalam cooler box ada 4 botol kaca ASI @210 ml karena saat itu saya kerja di dua sekolah. Ceritanya, dia nggak kepikiran kalau ada UKS yang bisa dia pakai untuk memerah ASI, jadi saat menyusui anak pertama, dia gunakan toilet sekolah. Untungnya, rumah dia dekat dan bisa sewaktu-waktu pulang kalau payudaranya terasa keras karena ASI yang penuh. Tapi ada rasa nggak enak juga karena saat pulang pun, pikirannya masih di sekolah karena pastinya kejar-kejaran dengan jadwalnya mengajar di kelas.

Baca juga : Program Relaktasi pada Arya

Itulah mengapa saya bilang, perlu ada ruangan khusus untuk laktasi.

Anak ASI. Gaya kamu, Dek --"

Coba bayangkan ketika sebuah ruang publik tidak terdapat ruangan khusus untuk laktasi? Seorang ibu yang ingin terus memperjuangkan haknya menyusui anaknya dengan cara memerah ASI, terganggu dengan tidak adanya ruangan khusus yang membebaskan dia melakukan itu.

Keberhasilan seorang ibu yang memerah ASI-nya, tidak hanya ditunjang dengan pemilihan alat pompa ASI yang baik, cooler bag dengan motif yang cantik atau kondisi tubuh yang prima. Tapi juga memerlukan kenyamanan, termasuk dalam hal ini adalah lokasi yang digunakan untuk memerah ASI. Ketika si ibu berada dalam ruangan yang nyaman, bersih dan tidak terganggu dengan hal-hal yang mampu memecah konsentrasi, proses memerah ASI bisa berjalan dengan baik. Secara otomatis juga, hasil perahan bisa banyak dan malah bisa berulang-ulang terjadi LDR (Let Down Reflex).

Tapi ketika lokasi untuk memerah ASI itu tidaklah nyaman, yang timbul malah hal-hal yang membuat konsentrasi si ibu buyar. Bisa dibayangkan tidak, saat si ibu memerah di toilet kantor, lalu ada rekan kantor yang juga ingin segera menggunakan toilet? Yang ada malah si ibu jadi tergesa-gesa lekas selesai. Padahal, hasil pompa belum banyak. Ingin membuat diri kembali nyaman, akan sangat susah karena proses memerah terhenti tiba-tiba. Dan lagi, toilet kan penuh dengan kuman. Kita saja sudah susah-susah mensterilkan alat minum susu anak, apa iya harus berakhir tragis di toilet kantor?

Baca juga : Akhirnya Saya Memilih Susu UHT

Ruang khusus untuk laktasi juga berguna saat kita membawa anak kita ke area publik. Kalau anak sedang rewel dan butuh minum, bergegas saja ke ruang laktasi dan susui di sana. Ngga perlu lah khawatir diliatin orang karena menyusui sambil menggendong. Iya, iya, jaman sekarang sudah ada apron menyusui untuk menutup bagian tubuh kita, tapi tetap saja, masih enakan menyusui langsung tanpa terhalang oleh apapun.

Foto-foto syantik sambil menyusui. Andalannya, apron :)

Bukan saya rewel soal beginian, tapi saya bercerita apa adanya seperti yang pernah saya alami sendiri.

Seperti awal bulan ini, saya dan beberapa teman sesama GTT janjian ke Surabaya sepulang mengajar karena kami akan berbelanja baju batik. Jelaslah, saya butuh memerah ASI nantinya karena berbelanjanya juga melewati jam-jam saya harus memerah. Karena lokasi belanjanya tidak ada ruang laktasi, saya harus rela memerah ASI di dalam mobil di parkiran. Saya tetap menggunakan apron menyusui karena banyak orang yang lalu lalang di parkiran dan pastinya terlihat dong dari luar mobil karena lampu dalam yang menyala.

Mungkin, bagi sebagian orang, ruang laktasi masihlah dianggap sesuatu yang sepele. Tapi bagi kami sebagai pejuang ASI yang sangat bahagia menyambut Pekan ASI Dunia, keberadaan ruang laktasi ini ditunggu-tunggu sekali. Jika pun tak ada ruang laktasi, minimal ada sudut tertutup di suatu ruangan yang bisa digunakan untuk ‘bersembunyi’ saat memerah. Karena kami butuh ruangan yang nyaman, kami butuh ruangan yang bersih, kami butuh ruangan yang mampu membangkitkan semangat untuk terus berjuang demi bayi-bayi mungil kami.


3 komentar:

  1. Mbak Fathin saiki endut. pipinya iku lho

    BalasHapus
  2. Itulah sebabnya saya selalu milih bepergian ke mall yang ada ruang laktasinya saat anak2 msh bayi banget mbak. Soalnya msh ada bbrp tempat publik gak ada ruang laktasinya...

    BalasHapus
  3. bener banget nih mba. SEtuju... sudah seharusnya seluruh ruang publik menyediakan ruang laktasai ya. Eh kalau ruang publik kyaknya sudha mulai banyak yang belum itu perkantoran. Ayo dukung Mama Arkanta bikin petisi.... *eh :-)

    BalasHapus

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^