Minggu, 14 Agustus 2016

[Arya] Catatan Perkembangan Arya di PAUD


Mungkin blogpost ini agak telat publishnya, tapi tetap harus ditulis supaya saya memiliki catatan tentang perkembangan Arya. 

Tahun ajaran ini, Arya memasuki babak baru. Iyes, dia sudah TK. Hore!!! Dia senang? Jelas. Kok tau? Iyalah, berkat sounding hampir tiap hari kalau dia sebentar lagi sudah TK dan banyak mainan di bakal sekolahnya yang baru. Alhamdulillah, sejak saya dan suami memutuskan untuk mendaftarkan Arya di PAUD, kami ngga menemukan kendala yang berarti. 


Saya flash back dulu ya. Waktu Arya masih sangat kecil, saya dan suami inginnya dia langsung saja masuk TK karena materi-materi PAUD InsyaAllah bisa kami berikan sendiri di rumah. Tapi, opsi ini akhirnya berubah karena sejalan waktu, ternyata pekembangan sosialnya Arya kurang bagus. Dia jago kandang dan susah sekali berinisiatif mendekati temannya untuk bermain bersama. Butuh waktu yang lama jika Arya ingin bergabung dalam suatu kelompok. Ditambah lagi, teman-teman bermain Arya di rumah ngga banyak. Asumsi kami ketika itu, dengan mendaftarkan Arya di PAUD, dia bisa mengasah kemampuan bersosialisasinya dengan teman-teman sekelasnya.


Alhamdulillah, selama setahun dia sekolah di PAUD, kemampuan bersosialisasinya berkembang, meskipun masih ada dalam dirinya keengganan untuk menjalin keakraban dengan teman sebayanya. Guru-guru di PAUD paham betul, bahwa yang mereka ajarkan saat itu bukanlah belajar membaca atau menulis sejak dini tapi menyiapkan siswa supaya bisa latih diri dan bersosialisasi. Ada beberapa materi, lagu-lagu dan kegiatan yang melibatkan banyak siswa di mana para siswa ini hendaknya saling bekerja sama. Indikator saling bekerja sama inilah yang menjadi indikator lanjutan dari saling kenal antar siswa.

Kemampuan bersosialisasi yang berkembang ini, juga menjadi titik awal Arya berani melakukan banyak hal dalam kelompok sehingga membuat kemampuan lainnya juga ikut berkembang. Saya jabarkan saja ya kemampuan apa saja yang berkembang pada diri Arya selama satu tahun di PAUD.


1. Mulai berani berinisiatif untuk mengajak temannya ngobrol
Meskipun kemampuan ini belum berkembang pesat, tapi saya sudah bersyukur sekali Arya mau memotivasi dirinya sendiri untuk berinisiatif mengajak temannya ngobrol. Meskipun tampaknya sedikit terpaksa tapi sepertinya dia senang. Beberapa kali dia cerita kalau dia membicarakan sesuatu dengan temannya dan berakhir sukses tanpa bertengkar. 


2. Mengingat dengan baik wajah temannya
Tapi kemampuan ini tidak diikuti dengan kemampuan mengingat nama teman. Saya sih, nggak masalah juga, toh saya yang sebesar ini juga paling susah mengingat nama seseorang meskipun saya ingat wajahnya. Yang penting dia tahu dulu siapa sajakah teman-temannya dan mau say hello saat bertemu di jalan. Bangga juga sih saat berada jauh dari sekolahnya dan tanpa sengaja berpapasan dengan teman PAUD-nya, Arya langsung bilang, ‘Ma, itu teman sekolahku!’


3. Konsentrasi di kelas
Bagaimana saya tahu kalau dia konsentrasi di kelas? Dari jawaban-jawaban yang dia jawab dari pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan, yang kemudian saya kroscek dengan hasil kerjanya di kelas yang dibagikan oleh gurunya. Dan, kalau dia konsentrasi, biasanya dia akan bercerita panjang sekali hanya untuk menjelaskan sesuatu. 



4. Kemampuan outdoornya ikut berkembang
Dari awal saya cerita, kalau kemampuan out door Arya perlu diasah lagi. Saya seringkali putus asa menyuruh Arya memainkan permainan-permainan yang menguras energi fisik yang ada di arena bermain, terutama permainan yang melibatkan ketinggian. Setelah masuk PAUD, Arya jadi nggak takut lagi mencoba permainan-permainan itu. Karena banyak temannya yang bermain jadinya mau ngga mau muncul juga rasa ingin mencoba.


5. Berani tampil di depan umum
Ya, anak saya yang satu ini memang jago kandang sekali. Itulah kenapa, saya selalu putar otak supaya dia berani di luar rumah, ngga hanya di dalam rumah saja. Saat guru PAUD-nya pertama kali mengikutkan Arya lomba mewarnai, saya senang dong. Dan Arya juga ikutan senang. Ekspektasi saya ngga muluk-muluk kok, sampai dia bisa dapatkan banyak piala setelah menang. Harapan saya supaya dia punya keberanian ikut-ikut kegiatan yang mengharuskan dia di tengah banyak orang tanpa terus-terusan nemplok di punggung saya atau suami. 

Mungkin gurunya tahu kalau Arya ini anteng saat di kelas atau saat ikut lomba mewarnai yang pertama itu, akhirnya tiap ada acara di luar jadwal kegiatan PAUD, Arya sering diikutkan. Alhamdulillah, dia mulai berani dan excited buat ikut. Dan yang menggembirakan, saat Arya dipilih untuk maju ke atas panggung saat perpisahan untuk membaca hafalan doa sehari-hari bersama satu temannya. Sayanya langsung mewek karena dia memegang mikrofon dengan tenang (meskipun ada beberapa doa yang dia lupa) dan bisa melewati sesi itu dengan baik tanpa drama.



Tapi, saya ngga memungkiri pilihan saya dan suami untuk mendaftarkan Arya ke PAUD itu, pastinya memiliki sisi negatif juga. Tapi itu bisa diantisipasi dengan mengatakan kalau itu tidak baik dan tidak boleh diulangi lagi. Meskipun saya dan suami selalu mengulang-ulang untuk mengingatkannya.

Sekarang, Arya sudah TK. Seperti yang selalu saya ingatkan kepada murid-murid saya, setiap mereka naik ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, akan banyak perubahan suasana yang menanti mereka karena lingkup pertemanan mereka akan bertambah. Sehingga nantinya, akan mempengaruhi keefektifan belajar mereka dalam berbagai hal. Dan hal ini pun, saya sudah tekankan dalam hati saya bahwa Arya pun juga akan mengalami hal itu. 

Ah, jadi ngga sabar juga menanti cerita-cerita Arya selama dua tahun ke depan.

Suasana daftar ulang dan pengambilan seragan di TK :)

3 komentar:

  1. Saya ikut bahagia membaca cerita tentang Arya ^_^. Sampai sekarang, saya pun masih belum bisa memulai pembicaraan saat bertemu dengan orang baru. Tapi sedikit-sedikit sudah mulai belajar mulai.

    BalasHapus
  2. sounding jauh hari sebelum sekolah pelru banget ke anak, supaya bisa lebih siap ya. Arya happy slelau di sekolah ya

    BalasHapus
  3. Hai Ria, bagus lho ceritanya.
    Saya sebetulnya nggak tertarik dengan PAUD karena saya belum paham manfaat menyekolahkan balita sebelum TK. Tapi membaca ini menyadarkan saya pentingnya pelajaran tentang sosialisasi pada balita.
    Sekarang saya mau mulai melirik-lirik sekolah sekitar rumah saya ah. Mungkin ada PAUD sekitar sini :-)

    BalasHapus

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^