Selasa, 17 Februari 2015

Program Relaktasi pada Arya

credit
Program Relaktasi pada Arya - Kalau ada yang bilang punya anak itu menyenangkan, ya, itu benar banget. Kalau ada yang bilang punya anak itu susah, itu juga benar. Tapi saya rasa, itu tergantung pada suasana hati masing-masing ibu bukan? Apakah tiap ibu itu bisa memunculkan perasaan positif tiap mengasuh anaknya atau tidak.

Seperti halnya dua ibu hebat yang berkolaborasi mengarang buku yang menginpirasi berjudul Mommylicious, ibu Murtiyarini dan ibu Rina Susanti. Melalui tulisan mereka, saya dapat merasakan sekali bahwa memang, menjadi seorang ibu itu tidak mudah, tetapi sebagai seorang ibu haruslah sebisa mungkin memunculkan suasana hati yang positif sehingga mampu mengambil hikmah dari apa yang sudah diupayakan selama ini.

Seperti contohnya pada catatan ibu Rina pada tulisan yang berjudul 'ASI untuk Khalif'. Dalam catatan itu, beliau sudah berupaya sekali untuk memberikan ASI eksklusif pada Khalif, putranya. Namun, karena tubuhnya memang tidak bisa memproduksi ASI yang berlebih, akhirnya Khalif pun 'disambung' dengan susu formula. Bagaimana perasaan ibu Rina? Saya tahu betul, pasti merasa kecewa. Karena saya pernah merasakan pada posisi seperti itu.

Saya merupakan seorang ibu yang berupaya keras memberikan anak saya ASI eksklusif. Tapi bukan serta merta itu tanpa usaha dan gampang sekali si Arya minum ASI seperti bayi lain yang nyaman sekali menetek pada ibunya. Setelah saya operasi sesar, ASI saya tidak langsung keluar. Entah karena efek obat yang banyak sekali saat operasi atau bagaimana, ASI saya baru keluar lumayan banyak setelah tiga hari melahirkan. Selama menunggu ASI keluar, Arya diberi susu formula.

Alhamdulillah, ASI saya keluar. Saya pikir, semua akan terasa mudah. Ternyata tidak! Saya ingat betul, sehari setelah kami keluar dari rumah sakit, Arya jarang mau menetek pada saya. Dia lebih suka minum susu formula lewat botol. Setiap Arya haus, saya dan ibu saya haruslah berjuang keras supaya Arya mau minum ASI, meskipun itu berupa paksaan. Berulang-ulang seperti itu, dan itu membuat saya stres.

Hingga akhirnya, kulit Arya menguning. Saya dan ibu tidak menyadari itu hingga seorang tetangga yang berprofesi sebagai perawat berkata demikian. Dalam diam saya dan ibu menyadari, saya terlalu memaksa Arya untuk mau minum ASI sehingga tanpa kami sadari ternyata Arya kurang minum. Untungnya, tetangga saya itu baik. Kami diberi banyak tips sehingga Arya tidak perlu dibawa kembali ke rumah sakit untuk disinar.

Dan salah satu tipsnya adalah memberi banyak minum susu pada Arya.

Saya merasa serba salah saat itu. Saya sudah membaca banyak referensi, bahwa ASI-lah yang memang terbaik untuk bayi. Tapi mengingat Arya yang tidak terlalu suka menetek pada saya, rasanya segala bacaan saya itu tidaklah ada gunanya karena jika tidak segera diberi banyak minum susu, maka kondisi Arya akan semakin parah. Akhirnya, dengan berat hati saya ikhlaskan Arya untuk 'disambung' dengan susu formula. Alhamdulillah, warna kulit Arya kembali normal kembali.

Kemudian semua tampak normal. Hingga akhirnya pada usia 1,5 bulan, Arya diare hebat selama 2 hari. Dokter memperkirakan sepertinya Arya memiliki alergi pada susu formula. Saat itu, dokter memberi kami dua pilihan, relaktasi dalam artian saya kembali menyusui Arya tanpa susu formula sama sekali atau memberi Arya susu formula dengan kadar protein yang tinggi. Setelah menimbang-nimbang biaya yang nanti akan kami keluarkan, saya dan suami memutuskan untuk relaktasi.

Saya ingat betul bagaimana suami saya mendukung program ini. Mulai dari memberikan saya vitamin yang bisa melancarkan ASI, membelikan saya pompa elektrik untuk mempersiapkan 'tandon' saat saya masuk kerja nanti, hujan-hujan ke Surabaya untuk membeli botol kaca guna menyimpan ASI perah, atau mencarikan saya artikel-artikel hebat yang berhubungan dengan cara memerah ASI yang benar atau tips menyusui yang baik.

Jangan dikira kemudian semua drama itu selesai. Oh, malah semakin parah. Arya semakin kian hari kian enggan minum ASI dan itu membuat saya semakin stres. Efeknya, saya pun juga sulit memerah ASI padahal waktu cuti saya tinggal dua minggu lagi. Saya jadi uring-uringan dan merasa ingin menyerah. Hingga pada akhirnya, saya membawa Arya kontrol ke dokter anak karena Arya terserang sariawan. Kebetulan dokternya perempuan dan mengerti betul kondisi saya. Beliau memberi saya nasehat yang saya pegang betul hingga saya berhenti memberi ASI pada Arya pada usianya yang ke-dua puluh bulan.

"Tidak ada obat apapun di dunia ini yang efektif untuk melancarkan ASI selain kembali pada perasaan si ibu. Yang paling utama adalah kondisi ibu yang tidak mudah stres. Lalu setelahnya, berfikirlah positif bahwa ibu bisa menghasilkan ASI yang melimpah."

Saat menulis artikel ini, saya bolak-balik tersenyum. Mengingat bagaimana perjuangan saya dulu untuk memberi Arya ASI dan kembali para program relaktasi, juga bagaimana dukungan dari suami dan keluarga kami berdua. Keberhasilan saya, memang menjadikan saya sebagai seorang ibu yang pro-ASI. Namun tidak serta merta kemudian memaksakan pendapat saya pada ibu-ibu yang baru saja melahirkan. Karena saya yakin, tiap ibu memiliki kondisi yang berbeda-beda hingga pada akhirnya memutuskan untuk memberi anak mereka ASI saja, menyambung dengan susu formula atau bahkan tidak memberi ASI sama sekali.

Betul apa kata ibu Rina, bahwa perdebatan tentang ASI versus susu formula, tidaklah memiliki ujung.

Salam hangat,
Ria Rochma


***



32 komentar:

  1. iya, nailah juga sempat minumnya asi plus sufor gara-gara emaknya ngga mudeng, Alhamdulillah berhasil relaktasi...berkah banget..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berkah dan terharu, Maksay.. Beneran deh, bahagia sekali :)

      Hapus
  2. anaknya bibiku juga dulu kayak gitu mba. asi bibi ga langsung keluar, malah kekurangan terus. dan karena si adek pertama kali nyusunya sufor, jadinya dia ga mau nyusu asi mamanya. bibiku ga terlalu ambil pusing. sufor aja terus sampe gede. hehe.. bibi cuma berhasil nyusuin anak sulungnya. anak kedua dan ketiganya sufor semua karena asi bibi kurang, bahkan ga keluar. dan diam2 aku perhatikan, mulai dari bibiku sampe temen2ku, yg asinya ga keluar itu ukuran payudaranya kecil, pas hamil ga membesar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pribadi sih nggak pernah perhatikan ya bentuk payudara tiap ibu yang pernah cerita ke saya. Sepertinya nggak sopan aja, waktu mereka cerita sedih-sedih, sayanya fokus ke bentuk payudara. Hehe..

      Hapus
  3. Betul mbak, malah ujungnya saling merasa benar hmmm..padahal kan semua ada alasan masing-masing :)

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah bisa relaktasi ya, Mak. Aku kemarin pas Arfan berhenti nenen di umur setahun, aku ga kepikiran relaktasi *tepok jidat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, sekarang mumpung baby Ai masih kecil, kali aja postingan ini bisa bermanfaat buatmu, Mak :D

      Hapus
  5. mama saya ga bisa kasih asi ke adik karena kena tumor. saya syok liat mama sakit, karena di pikiran saya waktu kecil dulu bayi ya minumnya asi. saya bersyukur kalo dengar cerita mama bisa minum asi sampai umur 2 tahun. tidak semua bayi merasakan hal yg sama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul banget itu, Linda. Nggak semua baby itu bisa merasakan. Semua itu sebenarnya kembali pada niat si ibu. Tapi, jika memang kondisi tubuh tidak memungkinkan, tidak bisa dipaksa juga kan?

      Hapus
  6. perjuangan banget ya ternyata,baru tahu aku zuh. adik iparku asinya nggak keluar malahan,jadi anaknya pake susu formula..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe.. perjuangan yang nggak pernah aku ceritakan ke orang, Is. Biarlah lewat postingan ini taunya. Soalnya kadang males juga jelasin ke orang lain. Iya sih kalau merekanya bisa empati :D

      Hapus
  7. Anak adalah amanah, harus diemban dengan sebaik-baiknya
    Jika ASI bagus ya ASI karena itu lebih utama
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Pakdhe. Alhamdulillah, saya akhirnya mengambil keputusan relaktasi demi Arya :)

      Hapus
  8. Saat anak pertama aku mengalaminya.tapi yang kedua udah cuek bebek.alhamdulillah asi lancar , bisa menyusui sampai anak umur 2 tahun 2 bulan. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Justru kadang, yang cue bebek itulah, Bu, yang berhasil. Apa karena itu disebut penyerahan diri? Hihihi..

      Hapus
  9. Syukurlah berhasil relaktasi ya. Kl dlu anakku setelah sapih blas ga mo sufor apapun merknya di tolak mentah2.. maunya UHT. Ya wes..yg penting anak doyan,sehat, emaknya juga bahagia. Mo orang bilsng apa terserah :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mak, toss dulu dong. Arya juga sampai sekarang minumnya UHT kok setelah saya sapih. Dia nggak mau itu dikasih susu bubuk. Cuma diincip tok, nganggur deh setelahnya :D

      Hapus
  10. Saya belum ngalamin mak, tapi sudah sering melihat anggota keluarga saya yang berjuang demi ASI ekslusif, terima kasih buat tulisannya saya jadikan bekal di masa depan ya ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih jika bisa menginspirasi :)

      Hapus
  11. Saat ini saya menjelang melahirkan Mak, kmrn ke klinik laktasi sebuah RSIA, kata susternya bhkn ketika ASI gk keluar bbrp hari itu wajar krn kondisi masing2 ibu berbeda, yg terpenting kondisi psikologis ibu, jangan sampe stres tar mlh gk keluar sama sekali.

    BalasHapus
  12. Salut sama usahanya untuk relaktasi. Jadi ibu itu memang luar biasa ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kelak bisa menjadi berkah untuk Arya, Mak :)
      terima kasih :)

      Hapus
  13. Aku waktu anak pertama tuh terpaksa campur sufor karena gak tau...dulu belon jaman asi eksklusif kayaknya (th 1994)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mak Ade. kan emang baru-baru ini ramenya :D

      Hapus
  14. yup! Perdebatan ASI vs Sufor cuma buang2 waktu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. dan kadang menjengkelkan :D

      Hapus
    2. Mba blh tau brp lama proses relaktasinya? Dmana dan brp biaya nya?. Saat ini sy sdng berjuang melepaskan bayi dr dot. Mohon bantuannya.

      Hapus
  15. Berapa lama relaktasi nya mba sampe bisa sembuh? Dan dimana tempat nya?

    BalasHapus
  16. Saya butuh relaktasi krn setelah kuning,anak saya d kasih sufor lewat dot oleh susternya..

    BalasHapus
  17. hari ini hari pertama relaktasi..dan gagal mohon saran&suportnya dong bun spt relaktasi berhasil.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga relaktasinya jatuh bangun kok. Beberapa kali stok ASIP menipis, tp Alhamdulillah, terlalui sampai si anak 20 bulan usianya.

      Saran saya, jangan langsung putus dari sufor. Pelan-pelan saja dulu. Kurangi sedikit demi sedikit sufornya dengan terus berulang memberi ASI.

      Dan usahakan, selalu berfikir positif kalau mbak Iva bisa memberikan ASI yang melimpah buat si baby. Kalau memang kondisi stres, usahakan cari bantuan sebagai tempat curhat.

      Jangan lupa, makan makanan yg bisa memperbanyak ASI seperti kacang2an, sayuram hijau, susu kedelai, dll. Oh iya, jangan lupa istirahat ya. Kalau capek betul, minta bantuan keluarga untuj jagakan si baby beberapa jam saja.

      Semangat ya mbak Iva Budi. Semoga saran saya berkenan :)

      Hapus

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^