Selasa, 31 Mei 2016

Tips Bercocok Tanam di Pekarangan Rumah yang Sempit

Credit

Seorang teman saat saya SMA dulu, berkunjung ke rumah untuk menengok saya setelah melahirkan Fatin beberapa minggu yang lalu. Dia dan istrinya bilang, kalau ingin mencari rumah di perumahan yang mana saya tinggal dengan Bapak dan Ibu (saya masih numpang di rumah Ibu). Saya beri beberapa referensi perumahan yang harganya agak miring, tapi dia dan istrinya menolak. Alasannya, perumahan yang saya tinggali ini memiliki tanah luas karena merupakan perumahan lama sebelum Gresik semaju sekarang. 

Teman saya bilang, kalau rumah kontrakannya yang sekarang itu sangat sempit. Ngga luas pekarangannya. Istilahnya, hanya bisa untuk parkir satu motor saja ditambah beberapa pot bunga kecil. Dia dan istrinya jadi nggak bisa bereksperimen untuk mempercantik rumahnya dengan tanaman dan perabotan-perabotan yang catchy eyes.

Hm... Sepulang teman saya dari rumah, saya sedikit terusik. Lha wong rumah Ibu saya ini semua malah sudah dikeramik, termasuk pekarangan depan rumah karena dijadikan parkir motor. Yang ada, tinggallah sejengkal tanah di samping rumah, itupun tak terlalu lebar karena merupakan kelebihan tanah rumah pojok. Ibu dan Bapak juga nggak bisa banyak bereksperimen akan menanam apa disisa pekarangan yang ngga dikeramik itu. Masih ada pohon belimbing wuluh dan beberapa pot lombok saja yang ada di sana.

Kadang, Ibu dan Bapak ingin juga sih memanfaatkan pekarangan itu untuk ditanami tanaman yang lebih beragam, tapi sepertinya beliau berdua juga bingung mau ditanami apa lagi selain ditanami semacam toga atau tanaman akar-akaran.

Ikutan mikir juga saya *gaya banget sih gw*. Kemudian, ingat seorang blogger Balikpapan yang juga penggemar ilustrasi, Lidha Maul. Pemilik blog bertajuk Bulir Jeruk ini, akhirnya saya hubungi buat ngobrol-ngobrol soal tips bercocok tanam di lahan pekarangan rumah yang sempit. Simak obrolan kami ya.

1. Sejak kapan Lidha mulai suka berkebun?
Saya suka berkebun semenjak pindah rumah. Rumah kami masih banyak rerumputannya, awalnya cuma bersih-bersih saja, tapi ya sayang kalau penghuninya cuma rumput. Trus saya mulai menanam, banyak gagalnya karena saya nggak pernah menanam apa-apa sebelumnya, hehe. Menanam buat saya dulu adalah tancepin tanaman abis itu sudah, biarkan alam bekerja.


2. Apakah itu dijadikan lahan untuk berbisnis? Atau kalau belum, apakah ada rencana berbisnis dibidang pertanian?
Saya memang pengen berkebun jadi ladang usaha. Sekarang kami lagi proses ke arah sana, masih baruuu banget soal agrobisnis ini. Baru belajar sama pakarnya, baru bergulat sama modal, dan teman-teman yang mau investasi dan menyediakan lahan.


3. Menurut Lidha, konsep berkebun yang tepat untuk keluarga itu yang bagaimana?
Kalau saya memang suka menanam yang bisa dikonsumsi, terutama dikonsumsi keluarga,hehe *ngirit*. Tapi, toh tiap orang beda. Pilih saja mau menanam apa, pilih yang mudah dulu. Kemudian disesuaikan dengan keadaan lahan di rumah. Terakhir yang paling utama adalah membangun kecintaan anggota keluarga untuk berkebun/cinta tanaman. Soal suka masing-masing beda, ada yang dari awal bisa suka, ada yang proses. Yang penting tiap anggota keluaga bisa terlibat bersama.


4. Pastinya nih, Lidha mengenalkan kegiatan berkebun kepada si kecil. Gimana nih mengenalkannya?
Waduh, ini saya nyaris gagal. Sejauh ini C’mumut udah tau mana cabe matang, yang merah yang siap petik dan belum. Dan dia juga tau cabe itu pedas, wkwkw. Tapi, saya trauma mengajak lagi, karena waktu itu banyak tawon, untungnya saya yang kena ketup, dan sempat juga ada ular. 


5. Duh, Gresik itu kan panasnya ampun-ampunan. Ada tips ngga buat saya jika ingin berkebun tapi hanya memiliki pekarangan yang tidaklah besar karena hidup di perumahan?
Yang hot itu yang asyik lho. Tanaman buah butuh banget sinar matahari agar berbuah. Beda sama tanaman sayur, butuh sih tapi nggak sebanyak tanaman buah. Di Balikpapan juga panas, dan buah lancar jaya tumbuhnya, buah naga dan semangka. Ya Subhanallah, daerah panas dikasih tumbuhnya buah yang berair.

Nah kalau mengatasi pekarangan sempit menurut saya nih :
A. Dari jenis tanamannya, pilih tanaman yang ringan aja dan dibutuhkan keluarga, misalnya sayur-sayuran atau tanaman obat.
B. Dari cara menanamnya. Dengan konsep menanam ini kita jadi bisa menanam apa saja dulu meski di lahan sempit :
(1) konsep menanam vertical garden kan lagi digandrungi tuh. 
(2) sistem tabulampot atau tanam buah dalam pot. 
(3) bonsai

Jadi, nggak ada lagi istilah lahan sempit nggak mungkin menanam, yang ada mungkin cara mikir kita yang masih sempit atau waktu kita yang nggak sempat.



Obrolan singkat yang asyik kan temanya? Terutama untuk orang macam saya yang susah diajak berkebun dan memiliki lahan pekarangan yang sempit. Betul sekali apa kata Lidha Maul yang mengatakan bahwa ‘memiliki lahan sempit nggak mungkin menanam’. Karena memang, tinggallah kemauan kita saja untuk bercocok tanam dan mencintai lingkungan. Demikian ya tips bercocok tanam di lahan pekarangan rumah yang sempit dari enterpreneur Balikpapan ini. Semoga bermanfaat.

12 komentar:

  1. Ngomong-ngomong bercocok tanam. Saya juga nanem pohon di depan rumah. juga nanem Jahe dan kunyit yang mulai mengkisut. Alhasil, saya gak perlu beli jahe dan kunyit lagi. Karena sudah tumbuh kembali.

    BalasHapus
  2. makasih tipsnya mba, cocok buat saya. bukan lagi sempit sih kalo saya tapi ga punya tanah karena udah disemen semua :(

    BalasHapus
  3. Semangat berkebun semuanya ya^^ masih ada satu lagi tuk menyiasati tanpa pekarangan ini, bisa dengan menggunakan sistem hidroponik.

    BalasHapus
  4. Mirip aku si Linda dulu: nanem itu nancepin ke tanah terus tinggal. Tapi aku sampe sekarang begitu terus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, biarlah alam yang bekerja

      Hapus
  5. iyes bener banget mba,gak ada istilah ga bisa, masalah kemauan.
    Gw suka mandang hejo hejo dijalan dan mau nanti rumah impian ada hejo nya cuman mikirin ngerawat nya kok males duluan yak. hehehehe

    buleipotan.com

    BalasHapus
  6. lahanya di rumahku untuk berkebun besar tapi aku mah apa yang ditanam selalu mati. akhirnya suamiku yg berkebun tapi itu juga tanaman yang kuat panas

    BalasHapus
  7. dirumah aku lahannya gede, jika untuk berkebun pasti sangat cukup... tapi engga d manfaatin sama orang tua

    BalasHapus
  8. Duh pekaranganku tak terurus :((

    BalasHapus
  9. aku juga kalau nanem kenapaa ya selalu mati ? :(
    btw, salam kenaaal yaa.. kunjungan pertama nih :)
    silahkan mampir juga ke beranda rumahku : www.faridaryany.com
    dtggu jejak indahnya

    BalasHapus
  10. Aku di Palopo nggak ada lahan malah Mba, cuma seipriit. Kayaknya berkebun dengan sistem vertical garden bisa dicoba ya.

    BalasHapus
  11. Nahhhhh...ini nih cucok buatku juga...rumahku sempit maklum hidup di perumahan...tp aku pengen berkebun

    BalasHapus

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^