Senin, 25 Februari 2013

Saat Saya Merantau di Jombang, Jawa Timur



Saya masih ingat sekali, ketika akan memasuki SMA, ada seorang teman dekat saya di SMP yang mengejek seorang siswa SMP kami yang mengambil keputusan untuk mondok dan melepas kesempatan buat masuk di SMA favorit di kota kami, Gresik. “Masa sih, ada anak SMP kita yang rela mengundurkan diri dari SMA 1 demi masuk pesantren? Padahal dia udah keterima lho.” Kata temanku waktu itu. Ada teman yang lain menanggapi dengan menambah ejekan lain kalau anak itu tidak bersyukur sudah diterima di sekolah yang bagus. Ada juga yang kaget dan penasaran siapa nama tuh anak.

Saya seh senyum-senyum saja waktu teman saya bilang seperti itu. Selang beberapa menit dari perbincangan itu, saya bilang kalau tuh anak adalah saya. Beberapa teman kaget, beberapa tidak karena memang mereka sudah tahu. Yang lebih kaget lagi yang mengejek saya, karena tidak menyangka kalau anak itu adalah saya.


Ya, saya hanya senyum-senyum saja. Karena jarang ada yang mengerti dengan alasan seseorang untuk mengambil keputusan ‘menyepi’ di sebuah pondok pesantren dan meninggalkan sekolah umum. Waktu itu, saya ingat kalau ibu saya ingin sekali memasukkan saya ke pondok pesantren saat SMP, tapi bapak keberatan *tentunya saya juga keberatan* karena dirasa masih kecil. Ibu mengalah, dan menunggu saat yang tepat yaitu ketika saya SMA. Dan saya rasa memang SMA adalah waktu yang tepat karena saya sendiri yang memiliki keinginan untuk ke pondok pesantren. Setelah mencari informasi, saya dan keluarga memilih pondok pesantren DarulUlum, Jombang, Jawa Timur.

Di sana, saya masuk di SMA 2 Unggulan BPPT Darul Ulum karena bapak punya pendapat kalau di SMA itu saya bisa mendalami teknologi dan pengetahuan alam karena di bawah naungan lembaga BPPT. Saya seh, oke-oke saja. Walaupun ternyata ketika kelas 3 SMA, saya memilih untuk masuk IPS yang pilihan saya tidak disetujui bapak *walau akhirnya saya juga yang menang dalam pemilihan itu*.

Masuk di pondok pesantren, saya jadi memiliki banyak kenangan indah. Banyak teman di luar kota kelahiran saya, itu adalah salah satunya. Bahkan ada yang dari luar pulau Jawa. Saya jadi tahu tentang budaya daerah mereka, yang ternyata sangat beraneka ragam *pukul kepala sendiri*. Apalagi kalau mendengarkan mereka berbicara dengan bahasa daerah asal dengan sesama teman yang dari daerah yang sama. Terdengar unik, karena tidak familiar di telinga. Kadang, saya minta diajari, tapi kok ya nggak bisa-bisa. Dasar emang otak saya ini lemah di bahasa.

Yang seru lagi adalah, kekompakan yang kami rasakan yang *mungkin* nggak di dapat di luar pesantren. Kita kompak bareng kalau mau berangkat sekolah, karena berangkatnya bareng-bareng dari asrama. Atau, kompak makan bareng di kantin soalnya enak makan rame-rame. Atau, kompak waktu ada kegiatan di asrama, terutama ketika kita dapat giliran buat menampilkan sesuatu sebagai media pengembangan kreatifitas. Atau juga ketika kita mau ujian akhir di kelas 3, kompak banget buat belajar bareng biar bisa saling tanya-tanya kalau ada yang nggak di mengerti.

Ada juga saat paling kompak buat saya. Yaitu ketika saya dan teman-teman satu kamar saya saling curhat di tengah lapangan basket jam 9 malam. Hihihi, dingin iya, tapi nggak kerasa soalnya terhapus dengan tangisan dan riuhnya ketawa kami mengenai isi curhatan. Kalau sekarang diingat-ingat, kok ya kurang kerjaan banget kita dulu kumpul-kumpulnya di lapangan. Kenapa nggak di kamar ajah? Kan lebih anget, bisa sambil makan-makan pula. Hahaha..

Tapi saat paling menyedihkan adalah ketika kami menyadari bahwa waktu kami untuk bersama akan habis ketika hari perpisahan itu semakin dekat. Nggak kebayang berapa lembar tissue yang nanti akan kami habiskan atau seberapa basah jilbab yang kami pakai saat perpisahan nanti. Kalau kita ingin ketemu setelah kelulusan, akan banyak hal yang nantinya akan dikorbankan. Seperti waktu, biaya dan tentunya juga tenaga karena lokasi kami berjauhan. Sehingga, ketika ada kabar kalau akan diadakan reuni angkatan atau reuni semua angkatan, itu adalah kabar yang ditunggu-tunggu. Karena kita bisa ber-hahahihi sambil saling kasih kabar terbaru.

Saat reuni satu angkatan di Malang, Jawa Timur, tahun 2007

Halal bi halal tahun 2008

Setelah lulus SMA dan keluar dari pondok pesantren, saya juga masih merantau untuk kuliah di Malang selama 4 tahun. Tapi karena saya tinggal di kos-kos-an dan aktivitas anak kos yang bejibun *halah* dan tidak sama, hubungan saya dengan anak kos tidak seerat seperti dengan teman-teman di pondok pesantren. *iri liat cerita ‘Anak Kos Dodol’*

Bagi saya, merantau itu tidak menyedihkan karena jauh dari keluarga. Sedih memang iya, karena waktu untuk ketemu dengan keluarga terbatas sekali. Tetapi, itu semua bisa digantikan dengan indahnya tawa dan kebersamaan dengan teman seperantauan. Dan lagi, diperantauan itu banyak pelajaran yang diperoleh terutama pada masalah tanggung jawab. Artinya, saya nggak menyesal sudah hidup di perantauan selama 7 tahun.


Artikel ini diikutkan dalam Giveaway gendu-gendu rasa perantau

8 komentar:

  1. Seru ya pengalaman mondoknya, kalau saya belum pernah mondok di pesantren, mondoknya di rumahsakit wakaka..beda ya? salam kenal mba rochma

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi, itu namanya nggak mondok tapi menginap. :))
      salam kenal juga..

      Hapus
  2. mbak apa aj yang harus dipelajari biar masuk du 2

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau yang sekarang, saya nggak ngerti lagi gimana sistemnya ya. karena saya kan udah masuk DU2 dari tahun 2001, udah 14 tahun yang lalu.

      Kalau kata teman-teman yang anaknya masuk sana atau sodaranya masuk sana, yang pasti itu adalah tes baca tulis al-quran juga tes pengetahuan umum. Coba pelajari aja itu dulu dari sekarang. Semoga berhasil :)

      Hapus

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^