Sabtu, 08 Desember 2012

Mari, Layani Customer Kita dengan Ramah

dari sini

Pernahkan anda sebagai calon customer merasa tidak dihargai ketika akan membeli suatu barang? Hubby saya pasti yang angkat tangan paling tinggi. Ya, beberapa hari yang lalu, hubby saya merasa menjadi calon customer yang sangat tidak dihargai. Ini neh ceritanya.

Beberapa minggu ini, saya dan hubby disibukkan dengan rencana untuk membeli sebuah mobil karena hubby yang lokasi bekerjanya di luar kota. Setelah browsing di berbagai situs jual beli, kami akhirnya memutuskan untuk membeli bekas tetapi lewat showroom. Karena hubby yang kerjanya dari hari senin sampai sabtu, akhirnya dia memutuskan untuk ambil cuti satu hari buat ceki-ceki di salah satu showroom di Surabaya yang menjual mobil yang kami harapkan.

Sampai di showroom yang dimaksud, hubby langsung parkir motor dan bergegas masuk showroom karena udah mendung. Di depan hubby, ada beberapa orang yang menurut hubby sepertinya karyawan sebuah kantor karena mereka pakai seragam yang sama dan boleh aja tuh masuk sama satpam. Waktu hubby mau masuk showroom, eh, sama satpam malah dihentikan. Ini neh pecapakannya.


“Bapak ada keperluan apa di sini?” Tanya satpam yang body-nya nggak terlalu tinggi tapi udah tua wajahnya.

“Saya customer, pak. Sudah janjian dengan bu Ayu.” Jawab hubby saya santai dengan menyebutkan salah satu nama supplyer showroom.

“Maaf pak, bisa tunjukkan KTP?” Minta si satpam ke hubby dengan nada yang kasar karena sepertinya dia tidak yakin dengan penampilan hubby yang datang cuma bawa motor, pakai kemeja, celana kain sama sandal.

Karena merasa tidak dihargai sebagai pengunjung showroom, akhirnya hubby bentak juga itu satpam. “Saya ini customer, Pak! Apa perlu customer itu menunjukkan KTP?”

Tau hubby saya marah, barulah satpam itu mengijinkan hubby saya masuk showroom. Itupun kata hubby saya, tuh satpam sambil ngoceh-ngoceh.

Belum cukup itu saja pengalaman kurang menyenangkan hubby saya. Setelah ketemu dengan yang namanya bu Ayu, hubby mempertanyakan banyak hal tentang mobil yang sudah kami niatkan beli. Ceritanya tuh, berdasarkan situs resmi, mobil yang akan kami beli memiliki dua tipe dengan selisih harga sekitar 15 juta rupiah. Tipe yang ditawarkan di situs resminya, tipe GS dengan spesifikasi biasa dengan harga yang rendah pula dan tipe GL dengan spesifikasi lengkap dengan harga yang lebih mahal. Sedangkan menurut bu Ayu, mobil dengan merk yang kami cari hanya memiliki satu tipe saja, yaitu tipe GS dengan harga GL atau dengan harga yang mahal.

Secara otomatis lah, hubby saya sedikit mempertanyakan pernyataan bu Ayu karena mobil yang kami incar ini tipe LS. ‘engkel-engkelan’ alias selisih paham pun berlangsung. Hubby saya berpegang pada info resmi dari situs, sedangkan bu Ayu berdasarkan training yang dia terima. Dan pada akhirnya, bu Ayu menyarankan hubby saya ke salah satu mall di pusat kota Surabaya karena ada pameran mobil di sana dan mobil yang kami inginkan sedang dipamerkan di sana. Karena tidak puas dengan pelayanan bu Ayu, akhirnya hubby saya segera ke mall yang ditunjuk oleh bu Ayu.

Dan sampai di mall itu dan ketemu sama supplyer showroom yang ditugaskan di pameran sana, ternyata info yang di dapat hubby saya itu benar saudara-saudara. Nah lho? Siapa tuh sekarang yang jadi nggak ngeh sama barang jualannya sendiri?

Ya ampun, ternyata di dunia ini masih ada ya orang yang tidak menghargai dirinya sendiri dan tidak menghargai orang lain. Kalau memang mencintai pekerjaannya, setidaknya harus mengerti betul produk yang akan dia pasarkan sehingga tidak membingungkan customer. Sehingga dengan begitu, customer akan menghargai dirinya dan tertarik untuk membeli produk yang dia tawarkan. Dan cara ini adalah salah satu cara untuk mendapatkan kesempatan naik jabatan bukan?

Dan untuk menjadi satpam, memang insting kecurigaan itu perlu. Tetapi ketika meminta KTP seperti kasus hubby saya dengan nada yang tidak sopan yang akhirnya membuat hubby saya tersinggung, justru bukan insting kecurigaan dari satpam yang hubby saya rasakan tapi rasa tidak dihargai yang akhirnya muncul. Meskipun memang hubby saya datangnya dengan penampilan yang biasa saja alias tidak pertelente seperti orang-orang kaya, hubby saya kan juga butuh rasa dihargai sebagai customer kan?

Ya, ya, ya.. Saya pun juga pernah menjadi customer yang tidak dihargai oleh penjual. Tapi, kiranya ingin toko kita memiliki banyak customer, layanilah customer kita dengan ramah. Bukankah customer itu adalah raja yang perlu dilayani dengan penuh keramahan dan dilayani dengan memberi keterangan yang rinci sehingga tidak menimbulkan kesan keraguan untuk membeli?

Selamat berbelanja, teman ^_^

10 komentar:

  1. salam kenal.... hihi jadi pengalaman, meski aku blm niat beli mobil

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal juga mbak titi..
      silahkan ambil pengalamannya :)

      Hapus
  2. Setuju kalau kita sebaiknya ramah terhadap customer. Karena pada dasarnya kita sama-sama butuh. Intinya kalau kita ingin orang baik sama kita, ya kita baik jugalah sama orang...

    Salam kenal yaaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai mbak niken, salam kenal juga..
      iya bener mbak, sama-sama butuh. :)

      Hapus
  3. DUlu bank seperti itu. Tp dipelopori oleh bank2 swasta, akhirnya semua bank sekarang ramah, tidak membedakan penampilan konsumen. Satpam tdk lagi difungsikan sbg tukang jaga saja tapi juga sbg customer service sambilan. Jadi dia harus ramah & helpful.
    Aku jg baru beli mobil mak. Dealer sini ramah bgt. Waktu sy nggak bisa ambil buku service krn jemput anak, mrk mau lo ngantar ke sekolah anak sy. Mungkin dealer satu itu aja yg gak bener.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya memang mengakui, service bank masih nomer satu sekarang ini. meskipun ada beberapa karyawan bank yang masih belum mengerti tentang keramahan, tapi it's ok.

      hm, mungkin kali mbak ya.. akhirnya, kita jadi nimbang menimbang neh mau beli disana apa nggak. hehehe,

      Hapus
  4. pada akhirnya pelayanan yg gak nyaman gitu justru lebih merugikan si penjual ketimbang pembeli.. Krn kl sy di perlakukan dg cara spt itu, sy lebih milih utk cari di tempat lain.. pd akhirnya mereka juga kan ya yg rugi

    BalasHapus
    Balasan
    1. mobil baru,,,mobil baruuu..cieeeeeeeeeeeeee :D

      Hapus
  5. @mbak myra. benar memang mbak. mencari dealer lain yang lebih ramah pada pelanggan. :)

    @iis. hayhay.. rejeki.. :)

    BalasHapus
  6. soal tidak dilayani dengan ramah gara2 tidak perlente, sering tuh saya & suami alami. Maklumlah, kami kemana2 naik motor .. :D
    Giliran kami datang ke tempat yang sama pakai mobil (padahal pinjaman .. :D), ehhh .. disambut baik. Uhuy, keliatan banget membedakan berdasarkan tampilan.

    BalasHapus

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^