Selasa, 25 Desember 2012

(flash fiction) Tidak Peduli

“Mama, lihat!! Hitunganku kali ini benar kan?” Ucapku sambil menoleh ke arah Mama.

“Aku sudah bisa menghitung banyak angka. Aku hitung ya. Satu, dua, tiga, empat, lima. Ada lima angka yang sudah bisa aku kalikan dengan tiga angka lainnya. Aku pintar kan, Ma?” Tanyaku lagi bersemangat. Mama tetap tidak menyahut. Masih saja berbicara dengan mimik wajah cemberut dengan para tetangga.

“Ma, lihat dong kerjaanku!!” Kali ini aku berteriak lebih keras sambil melempar kapur yang aku pegang ke arah tembok.


Mama masih tidak peduli. Kudatangi mama lalu kupukul lengannya sambil mengoceh karena tidak diperhatikan. Apa yang dilakukan Mama? Hanya menggandengku lalu membawaku pergi dari hadapan para tetangga, kembali ke tempatku menulis angka-angka.

Aku jengkel, tapi biarlah. Asal aku berhasil menyelesaikan perkalian yang ada di dinding. Aku kibaskan-kibaskan tanganku ke samping badan, berulang-ulang, terus-menerus. Aku ambil kapur lain dan menghitung kembali angka lain yang ada di otakku. Mencoretnya di dinding yang sudah penuh dengan hitungan lainnya.

***
Pikiran ibu muda itu tidak pernah terpusat pada obrolan teman-temannya, yang juga para tetangganya, tentang perkembangan anak-anak mereka. Dia melirik pasrah anak laki-lakinya yang sudah berumur 11 tahun dan sedang asyik sendiri menulis beberapa angka di tembok rumahnya dengan kapur. Karena anaknya berbeda, anaknya autis.

-200 kata-

10 komentar:

  1. Balasan
    1. memang terlalu is.. tapi mungkin itu juga salah satu perasaan para ibu yang memiliki anak autis

      Hapus
  2. Balasan
    1. kenapa dengan masa kecilnya, mas irfan? :)

      Hapus
  3. padahal justru anak autis harus lebih banyak diperhatikan :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener tuh mbak mayya. ada ortu siswaku yang sampai rela nggak punya anak lagi supaya anaknya yang autis itu bisa dapat perhatian lebih. pengorbanan ibu dari anak autis itu sungguh besar :)

      Hapus
  4. Masih bertanya-tanya... setahuku anak autis gak peduli dgn sekitarnya ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bunda.. memang tidak peduli sekitarnya karena punya dunianya sendiri. disini, aku menggambarkan dunianya dengan selalu menhitung dan aku 'pura-pura' tau tetang isi dunianya. gitu bunda..

      Hapus
  5. maf sobat baru bisa berkunjung juga kunjungan perdana,ni dikarnakan banyak tugas dari bos hehehe. trmksi banyak sobat postingannya dan cerita kehidupan nya sangat bermanfa'at sekali. oh'iya Fllow yng 11 sukses Full Klu ada waktu Fllow balik'y cmn bnyk jga gk pa2 sobat trimkasi..

    BalasHapus
  6. @brebes VS Lamongan. makasih dah membaca isi blognya :)

    BalasHapus

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^