Jumat, 30 September 2016

Ingin Menitipkan Anak Secara Harian di TPA? Simak 5 Tips Ini Dulu Yuk!


Menitipkan anak di Tempat Penitipan Anak? Kenapa nggak?

Buat saya yang sehari-hari menitipkan kedua anak saya ke Ibu saat saya kerja, menitipkan anak di Tempat Penitipan Anak (selanjutnya saya nyebutnya TPA ya) merupakan pencapaian yang luar biasa banget lho. Saya cerita saja dulu ya kenapa akhirnya saya menitipkan Fatin ke TPA.

Jadi, akhir Agustus kemarin, Ibu ada undangan nikahan seorang kerabat dekat yang tinggal di Bekasi. Iya, Bekasi. Yang jauh di sana itu. Yang kalau jadi berangkat, Ibu harus meninggalkan kami *halah* setidaknya seminggu karena selain menghadiri pernikahan, Ibu juga bertandang ke rumah Bulek yang tinggal di Tangerang.

Awalnya, sempat bingung dan sepertinya terasa berat mengingat lamanya Ibu bepergian. Bingungnya, karena saya dan suami harus memutuskan nasib Arya dan Fatin saat kami berdua plus Bapak kerja. Oh iya, Ibu perginya nggak sama Bapak karena Bapak ada kerjaan yang nggak bisa ditinggal. Kalau Arya mah gampang. Bisa gantian jagain antara saya dan Bapak karena beliau kan kerjanya pakai sistem shift. Nah, yang Fatin ini, kami harus menimbang-nimbang akhirnya, jadi dijaga siapa nih pas saya kerja? Kalau sama Bapak, nggak mungkin. Karena nggak mungkin banget saya membebankan meninabobokan Fatin sambil memberi dia minum ASIP di dot kepada Bapak. Kan kasihan Bapak kali.
Saya dan suami dihadapkan pada dua pilihan. Menitipkan Fatin ke ART yang dulu sempat bantuin Mama Mertua ataukah dititipkan ke TPA. Setelah menimbang ini itu, akhirnya kami memilih dititipkan di TPA saja. Pertimbangan kami, sekiranya nanti Ibu pergi-pergi lagi karena suatu keperluan, kami jadi nggak bingung-bingung lagi Fatin dititipkan di mana karena nama dia sudah terdaftar di sana.

Kemudian, tiba-tiba rencana Ibu berubah. Beliau maunya dari Bekasi langsung ke Malang sekalian nengokin bayi dari keponakannya Ibu. Eng ing eng! Makin lamalah Ibu perginya. Untungnya, TPA sudah bilang ada 'tempat' untuk Fatin nanti meskipun kami nggak ambil secara bulanan. Akhirnya, saya mengambil paket harian karena setelah dihitung-hitung, Fatin ternyata hanya 6 hari saja dititipkannya. Karena hari Sabtu dan Minggu, TPA libur. Dan hari Rabu saya yang off dan memilih nggak menitipkan Fatin. 

TPA di mana Fatin dititipkan :)

Hari pertama mengantarkan Fatin ke TPA, beneran lho, hati saya berkecamuk. Meskipun TPA-nya dekat sekali dengan rumah dan tinggal jalan saja kalau mengantar, tapi tetap saja saya merasa sedih banget. Secara dari Arya lahir sampai dia sekarang sudah mau 5 tahun, ditambah Fatin yang menginjak 5 bulan, mereka berdua tidak pernah dititipkan ke orang lain selain kepada keluarga. Ada rasa nggak percaya dengan orang yang dititipkan, ada ketakutan kalau ada apa-apa di TPA, takut kalau jam tidurnya terganggu sehingga dia rewel dan makin merepotkan petugas TPA, dan ketakutan-ketakutan lainnya. 

Tapi ternyata semua ketakutan itu nggak terbukti. Hahahaha... Dasar emak-emak yang belum-belum udah khawatir duluan. Hari pertama dititipkan, saat saya jemput Fatin, saya tanya ke petugas TPA-nya (saya memanggilnya Bunda) apakah dia rewel atau tidak, apakah ASIP-nya habis atau tidak, dan beberapa pertanyaan lain yang mengkhawatirkan. Untungnya nih, Bundanya itu sabar banget dan dia bisa menenangkan saya dengan jawaban-jawaban yang melegakan.

Kemudian, datanglah hari menjemput Ibu di Malang. Yang ternyata Ibu nggak jadi ikutan pulang karena Mbah Kung saya sakit parah. Beliau nggak tega meninggalkan Mbah Kung dan kami balik ke Gresik lagi tanpa Ibu. Mau nggak mau, hari-hari selanjutnya, Fatin balik lagi dititipkan ke TPA sampai Ibu pulang. Belum sampai seminggu, kami mendengar kabar kalau Mbah Kung meninggal dunia. Bergegas malam itu juga kami menuju ke Malang untuk mengikuti prosesi pemakaman.

Dalam hati saya bersyukur karena pilihan saya dan suami untuk menitipkan Fatin di TPA merupakan langkah yang tepat. Apalagi TPA-nya ada pilihan untuk menitipkan secara harian, yang cocok banget untuk kondisi seperti saya ini. Saat Fatin di TPA, saya ada waktu sebentar setelah pulang mengajar untuk meluruskan punggung, melakukan pekerjaan domestik di rumah dan pumping ASI. Meskipun nggak semua pekerjaan domestik terjangkau, tapi lumayanlah untuk ukuran saya yang nggak perfect-perfect banget masalah beginian. 

Saya beri tips menitipkan anak di TPA dengan sistem paket harian ya, untuk ibu-ibu sekalian yang masih ragu menitipkan anaknya di TPA, karena sebelum-sebelumnya anaknya nggak pernah dititipkan ke siapapun selain kepada keluarga.


1. Jeli saat memilih TPA
Sebenarnya, ada beberapa TPA yang dekat dengan rumah saya. Atau, minimal searah dengan tempat kerja saya. Tapi, tentunya ada beberapa pertimbangan saat saya memilih TPA dimana Fatin saya titipkan ketika itu. 

Yang pertama adalah kondisi TPA-nya. Karena lokasi TPA-nya itu berdekatan dengan sekolahnya Arya, saya dengan mudah bisa memperhatikan TPA-nya ketika dilihat dari luar. Besar tidak, bersih tidak, rapi tidak. Kalau sudah yakin bagian luar TPA-nya oke, baru bisa masuk ke dalam ruangannya dengan alasan bertanya-tanya dahulu. Kalau ibu-ibu sekalian mau lihat-lihat ruangan-ruangannya, bilang saja kepada petugas TPA-nya. Nggak masalah sih, kan berhubungan juga dengan kenyamanan kita saat menitipkan anak kita di sana.

Baca juga : Catatan Perkembangan Arya di PAUD

Pertimbangan kedua adalah perhatikan SOP (Standart Operating Procedure) yang berlaku di TPA itu. Boleh ditanyakan langsung kok ke petugas TPA-nya. Seperti misalnya, bagaimana sikap petugas TPA saat menyambut si anak ketika mereka tiba di pagi hari, bagaimana pemberian ASIP ketika kita menitipkan bayi di bawah 6 bulan atau hal-hal lain yang berhubungan dengan prosedur-prosedur yang berlaku di TPA itu. Untuk mendukung data, bisa juga kita tanyakan ke orang lain yang sedang/pernah menitipkan anaknya di TPA itu. Kalau di TPA tempat Fatin dititipkan kemarin itu, SOP-nya dipajang di dinding dekat pintu masuk. Saya jadi bisa baca-baca SOP-nya.


2. Pilihlah paket harian jika anak tidak dititipkan dalam jangka waktu lama
FYI, paket harian di TPA itu biasanya harganya lebih mahal daripada paket mingguan atau bulanan. Nggak perlu heran ya kalau tarifnya pas dibagi-kalikan, nggak sama ketemunya dengan mingguan atau bulanan. 

Memang tidak semua TPA memberlakukan paket harian sih, tapi nggak ada salahnya bertanya ke petugasnya. Siapa tahu, mereka bisa diajak negosiasi untuk urusan paket ini. Kalau bisa, kan bersyukur banget ya. Kalau tidak bisa dinego, ya ada dua pilihan yang diambil. Mencari TPA lain yang memberikan paket harian, atau mencari pengasuh anak rumahan yang menerima mengasuh secara harian.


3. Bacalah betul-betul peraturan yang ada di TPA
Sama halnya ketika kita menyerahkan anak kita yang berumur sekolah kepada gurunya, mereka tentu harus mematuhi aturan-aturan yang berlaku di sekolahnya masing-masing. Di TPA pun seperti itu. Jangan bosan-bosan untuk membaca peraturan-peraturan yang berlaku dan jangan lupa untuk ditaati. Lebih baik kita tidak memberikan pekerjaan tambahan bagi petugas TPA bukan, karena kita sebagai orang tua tidak mematuhi aturan-aturan yang berlaku?

Lebih enak lagi, kalau kita diberi hard copy peraturannya. Jadi, saat selo di rumah, kita baca-baca itu peraturannya. Saya kemarin, diberi hard copy peraturan di TPA. Dan saya baru tahu kalau ada peraturan ‘semua diaper yang disediakan oleh orang tua, diberi nama’. Padahal kan semua peralatan yang nantinya saya bawakan untuk Fatin, sudah masuk di dalam satu tas besar. Tapi saya pikir lagi, betul juga. Kalau misal diaper Fatin tertukar dengan yang ukuran XL, sedangkan diaper dia masih ukuran M, yang nggak nyaman kan malah teman satu TPA-nya yang tertukar itu tadi. Kesempitan jadinya. Hehehe..


4. Persiapkan betul peralatan dan perbekalan anak kita
Peralatan dan perbekalan yang biasanya kita bawakan untuk anak kita saat dititipkan di TPA adalah baju ganti (bawakan lebih dari satu), diaper (bawakan lebih dari dua), susu, botol susu, dan cemilan untuk jaga-jaga. Letakkan dalam satu tas besar yang mudah dibawa kemana-mana. Kalau si anak masih minum ASI, jangan lupa memberi nama anak kita pada botol/plastik ASIP-nya dan meletakkan pada cooler bag untuk menjaganya tetap pada kondisi dingin.


5. Kuatkan dan tabahkan hati kita
Ngga tega menitipkan anak kita pada orang lain diluar circle keluarga? Takut terjadi apa-apa yang nantinya malah membahayakan si anak? Sudahlah ibu-ibu, ngga usah begitu risau. Untuk hari pertama, it’s okey kalau kita punya perasaan nggak tega lihat si anak digendong orang lain yang nggak kita kenal betul. Tapi untuk hari kedua dan selanjutnya, sebisa mungkin sudah netral ya perasaannya. 

Bukankah lebih baik dititipkan pada orang/lembaga yang tepat disaat tidak ada orang lain dari pihak keluarga yang siap untuk dititipi? Daripada kitanya bingung gelisah gundah gulana karena si anak yang nggak tahu nasibnya bagaimana saat kita kerja. Ya nggak? Lagipula, seperti yang saya ceritakan di atas tadi, kita bisa sedikit meluruskan punggung atau menyelesaikan beberapa tugas domestik kalau memang ada jeda waktu setelah kita pulang kerja dengan saat tiba menjemput anak.


Demikian ya bapak ibu pengalaman serta tips menitipkan anak di TPA dengan sistem paket harian. Memang rasa diawal agak berat karena anak nggak pernah dititipkan ke TPA, tapi InsyaAllah, selanjutnya akan lebih mudah kalau mau merubah mindset. Ada yang punya pengalaman seperti saya? Share yuk di kolom komentar.

33 komentar:

  1. Terimakasih infonya Mba Ria ^_^. Memilih daycare memang harus sangat jeli, ya karena urusannya dengan anak ^_^.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, sangat jeli milihnya. Kalau ntar kenapa-kenapa, kasihan orang tuanya juga. Kan jadi mikir

      Hapus
  2. Dikota besar memabg serba ada. Sampai tempat penitipan anak. Duh kalau dikampung saya bisa berabe tu mba hehe

    BalasHapus
  3. Di sekolah anakku TK juga ada Baby class namanya itu juga buat anak umur 6 bulan sudah bisa dititipin. Meski anakku ngga ikut baby class tapi saya sering lihat pas jemput anak sekolah, kalo gurunya sangat perhatian sama muridnya. Jadi memang cari TPA harus sesuai dengan yang kita inginkan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget, Mbak Fika. Kalau menitipkan pada TPA yang sesuai, orang tua nggak perlu khawatir lagi kan?

      Hapus
  4. Aku awal masukkan anak ke daycare juga deg2an tapi di depan anak aku sok pasang tampang cool. Alhamdulillah anakku juga tenang tenang aja mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah. Hahahah..
      Saya hari pertama malah mewek. Tapi akhirnya berhasil juga nggak mewek di depan anak :D

      Hapus
  5. Ada y mba paket harian? Pernah dulu ceki2 day care deket rumah, adanya bulanan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di sini ada yang paket harian. Memudahkan kalau lagi ada kejadian seperti saya ini :)

      Hapus
  6. kalau anak kita nyaman kenapa enggak, yang penting anak nyaman dulu dan kita orang tua jadi tenang menitipkan anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, kalau anak nyaman, nggak masalah kok dititipkan di TPA :)

      Hapus
  7. Wah, infonya menarik dan lengkap banget mbak Ri cocok banget buat bapak dan ibu yang lagi TPA yang aman dan nyaman buat anaknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Titis. Bisa jadi ilmu buatmu juga :D

      Hapus
  8. Jadi ingat sikembar sdh dtitip di TPA dr umur 3 bln. Sebenarnya TPA jd sarana belajar jg kok bagi anak. Makanya lbh baik dicari TPA plus PAUD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget.
      TPA tempat Fatin dititipkan, itu ada materi-materi untuk mengembangkan diri.

      Hapus
  9. Pernah mengalami hal itu saat anak kedua masih kecil, dan kami sebagai orangtua sibuk dengan aktivitas ngantor plus kuliah. Asa sedih tapi mau bagaimana lagi. Kalau mengingat hal itu semua, cuma bisa tersenyum dan terharu ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Akhirnya si anak bisa melewati masa itu dengan baik, bukan Bang?

      Hapus
  10. Jadi inget 7 tahun yang lalu. Pembantu mudik, anak dititipin ke TPA, berangkat kerja diawali drama dulu... :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Drama ketimpungan kesana-kemari. Pagi beneran sibuk

      Hapus
  11. Kayaknya yg paling susah menyiapkan yg no. 5, biasanya emaknya yang baper padahal si anak santai aja. Mbak di Gresik kah? bisikin TPA yang recommended dong

    BalasHapus
  12. TPA plus PAUD itu yang lebih bagus bener kata mba Yervi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mmg, bagus begitu.
      Kalau di sini, konsep itu masih jarang :)

      Hapus
  13. Bener tu siapin perbekalan anak. AKu beberapa kali nitip anak ke daycare, meski daycarenya nyiapin menu makanan tp blm tentu anaknya suka jd mesti disiapin jg dr rmh
    TFS mbk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena aku pernah kelupaan ga prepare sm perbekalan anakku, mbak. Malah kelabakan bingung sendiri. Untungnya, bundanya di daycare itu baik hati

      Hapus
  14. Iya yg penting udah tau kualitas day care-nya ya, mba. Murid saya juga ada yg harian bayarnya, kalau pengasuhnya lagi nggak bisa datang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kualitas memang menentukan nyaman nggaknya si anak, juga tenang nggaknya orang tua si anak

      Hapus
  15. PAs usia 8 bulan anakku masuk TPA cuman bertahan 6 bln sekrang usianya 3 th pgn masukin lg TPA tp krn pindah rumah jadi jauh skrg bingung ada ART tp suka diomongin ma mertua halah hahaha

    BalasHapus
  16. Fatin keren deh... udah bisa mandiri :) Baik2 ya kl lg gak brg mamanya biar jgn kepikiran terus ^_^ *eh pasti kepikiran lah, tp gak bikin kuatir ya, Amin*

    BalasHapus
  17. Mbak TPA nya fatin apa ya di gresik? Saya juga lagi cari ini. Makasih sharingnya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. By email ya mbak saya jawabnya :)

      Hapus
  18. Kuatkan dan tabahkan hati...iya ya Mba, lah yawong nitipin anak yang udah sd aja kadang masih waswas, apalagi masih seimut Fatin. Tapi, allhamdulillah yaa Mba, tempatnya menunjang dan bagus.

    BalasHapus

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^