Minggu, 30 Maret 2014

Menjaga Prinsip Hidup




Menjaga Prinsip Hidup - Kalau berbicara tentang Sang Patriot, hm.. saya ada seseorang yang saya anggap sebagai patriot dalam perjalanan hidup saya. Beliau bukan orang yang menolong saya karena saya terlibat dalam suatu masalah. Beliau juga bukan orang yang selalu hadir disaat saya butuh bimbingan.

Beliau adalah kakek saya. Sehari-hari, saya memanggil beliau dengan sebutan Abah. Karena Ibu saya memanggil beliau dengan kata Abah, dan itu menular pada saya dan adik.

Abah bukanlah pria yang menjadi idaman perempuan di masanya. Hm, itu sih berdasar cerita ibu. Beliau bukanlah pribadi yang menarik, karena beliau lebih banyak diam saat bergaul dengan banyak orang. Beliau juga bukan anak saudagar kaya yang memikat hati Nenek. Tapi mungkin yang membuat Nenek saya jatuh cinta itu adalah keteguhan hati beliau memegang prinsip sehingga membawa kehidupan keluarga kami menjadi tak goyang dalam hal keimanan.


Banyak cerita yang menggambarkan bahwa beliau sangat teguh memegang prinsip.

Sebelum Ibu menikah, Abah menjadi TKI di Arab Saudi. Semua itu dilakukan atas dasar ingin membahagiakan keluarga dengan pemasukan yang lebih baik lagi. Tentunya setelah beliau gagal berdagang di pasar atau menanam jagung di salah satu sudut kota Kediri. Setelah kembali dari Arab Saudi, beliau tak hanya membawa pengalaman menjadi TKI di sana. Tetapi juga membawa ilmu agama yang sampai sekarang beliau terapkan pada murid-muridnya.

Kita tahu sendiri, hukum agama di Arab Saudi begitu ketat. Sesuai dengan geografis wilayahnya. Dan itu sungguh diterapkan Abah saat mendidik putra-putrinya. Dahulu, Abah tidak menaruh simpati pada sekolah umum. Semua anak-anaknya, sekolah di sekolah berbasis agama. Pesantren. Bahkan Om saya akhirnya juga dipesantrenkan khusus untuk hafalan al-Qur'an. Bagi beliau, pendidikan agama sangatlah penting bagi anak-anaknya. Bahkan bagi cucunya, juga cicitnya. Dan agamalah yang nantinya sebagai pegangan disaat kami lingung dengan urusan duniawi kami. Dan itu adalah prinsip terbesar Abah yang tak bisa diganggu gugat.

Namun seiring waktu, terutama setelah Ibu menikah dengan Bapak, yang notabene kami hijrah ke kota lain, pola pikir Abah mulai terbuka. Melalui banyaknya diskusi yang kami lalui, juga seringnya beliau melihat berita-berita di televisi, Abah mulai bisa menerima kenyataan bahwa selain ilmu agama, kami pun butuh ilmu lain (ilmu umum) yang nantinya akan kami gunakan untuk bertahan hidup dikerasnya jaman yang semakin digital. Dampaknya, tiga Tante saya masih bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi mahasiswa dan cucu-cucunya juga bisa merasakan sekolah di sekolah umum. Ya, tapi tetap ada syaratnya. Kami harus tetap melalui tahapan belajar ilmu agama entah itu di pesantren modern (seperti saya dan ketiga Tante saya) atau mengaji di pesantren terdekat dengan rumah (seperti adik saya).


Abah dan Nenek, yang saya panggil dengan Bu Ul :)

Begitulah.

Lain waktu, saat saya menginap di rumah Abah, beliau mendapat undangan untuk menghadiri acara tahlilan di salah satu kenalan beliau yang tinggalnya masih satu desa. Eh, ternyata beliau tidak hadir. Tumben sekali, pikir saya waktu itu. Ternyata, waktu undangan tahlilan itu bersamaan dengan jadwal beliau mengajari muridnya yang mengaji al-qur’an dan kitab kuning secara privat. Lain waktu lagi, kejadian seperti ini terulang terus. Pikir saya, kenapa sih nggak diliburkan saja mengaji privatnya? Kan kalau tidak menghadiri undangan (apalagi itu undangan tahlilan) nggak bagus. Gimana, gimana, Abah juga masih dianggap sebagai salah satu sesepuh desa yang dihormati karena ilmu agamanya.

Suatu sore, saya sempat bertanya tetang sikap Abah yang tak mau menghadiri undangan itu pada Nenek. Tentunya dengan nada yang sedikit ada kecewa di dalamnya. Jawaban Nenek hanya begini, “Ya begitu itu Abahmu.”

Jelas saya kecewa dong dengan jawaban Nenek saya. Dengan sedikit nggrundel, saya akhirnya tanya ke Om tentang sikap Abah. Gimana juga, itu kan menyangkut nama baik. Dan jawaban dari Om saya itulah yang membuat saya menjadi sangat malu karena hanya memandang dari sudut ‘nama baik’

Bagi Abah, lebih baik mengajari satu orang yang mau mengaji daripada menghadiri undangan tahlilan. Pertama, orang yang mengaji di Abah ini rumahnya jauh. Beliau tak mau mengecewakan dia. Kedua, orang yang mengaji di Abah ini masih muda. Tak baik meredakan semangat anak muda yang ingin belajar. Ketiga, Abah tak mau mengecewakan orang itu karena mencari orang yang ingin mendalami ilmu agama sangat sulit. Apalagi ini hanya satu orang. Sedangkan tahlilan, tamu undangannya kan banyak.

Ah, Abah.

Begitulah beliau. Orang selalu menjaga prinsip hidup. Orang yang kemana-mana selalu memakai sarung dan baju muslim. Orang yang tak suka kami memakai pakaian yang ngepas banget di badan. Orang yang tak mau lama-lama menginap di rumah orang lain meskipun itu rumah anaknya sendiri karena beliau tak mau lobster peliharaannya tak ada yang menjaga.

***

Tulisan ini disertakan dalam "Syukuran di Bulan Maret : Sang Patriot di Kehidupan Kami"

22 komentar:

  1. Iya mbak. Kata suamiku juga memuliakan tamu itu lebih penting

    BalasHapus
    Balasan
    1. itulah mengapa Abah lebih memuliakan murid mengajinya :)

      Hapus
  2. Patriotnya teguh pendirian, Miss. :)

    BalasHapus
  3. Semoga kita yang muda-muda bisa belajar dan mencontoh teguhnya pendirian Abah ya Miss

    matur nuwun sudah turut menyemarakkan Tasyakuran Sang Patriot

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, amin.. yang muda belajar dari yang tua masalah tetek bengek hidup, om :)

      Hapus
  4. Balasan
    1. kita yang muda, kiranya sudi meniru yang bagus dari yang tua :)

      Hapus
  5. Abah keren mbak :-)
    selalu pake sarung dan baju muslim

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi.. sepertinya beliau tidak terlalu suka pakai celana :)

      Hapus
  6. Balasan
    1. semoga kita bisa memetik pelajaran dari beliau :)

      Hapus
  7. Hebat Mbak ayahnya, moga2 kita bisa meniru kebaikan beliau ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hm, bukan ayah sih mbak muna. kakek :)

      Hapus
  8. Tapi bener-bener hebat kog beliau mbak
    semoga anak dan cucu nya seperti beliau :-)




    Silahkan singgah di WEB kita mbak/mas :-)
    buat anak-anak mbak/mas yang mau belajar
    www.ditokokita.com

    BalasHapus
  9. Abah yang inspiratif, hormat saya untuk beliau.

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga kita pun bisa menginspirasi orang lain juga, ya mas RZ Hakim :)

      Hapus
  10. Salam saya untuk beliau, Mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. insyaAllah, mak chi, nanti saya sampaikan :)

      Hapus
  11. Wah Artikel bermanfaat nih gan :)

    Cerita Update
    Lirik Lagu Indonesia

    BalasHapus
  12. Selalu ada orang-orang yang kita kagumi karena keteguhan hatinya di sekitar kita ya bak... Semoga Abah sehat dan dirahmati Allah. Amin

    BalasHapus

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^