Senin, 07 Oktober 2013

Mengajari Anak Menjaga Diri Saat di Tempat Umum

credit

Menjaga anak-anak kita merupakan hal yang harus kita lakukan terus-menerus bukan? Bukan hanya saat dia dalam kondisi bahaya namun kita juga perlu mempersiapkan mereka disaat bahaya itu tak mendatangi mereka. Penjagaan pada anak-anak, juga dilakukan saat sedang di rumah atau di ruang publik, saat sendiri atau saat ramai.

Penjagaan pada anak, sering kali luput dari kita saat kita sedang di ruang publik. Karena kadang kita merasa, suatu tempat yang disediakan untuk ruang publik, terutama jika ruang publik itu sudah biasa kita datangi, adalah tempat yang aman dan tidak terlalu membutuhkan pengawasan lebih.

Seperti cerita saya siang ini.

Dua hari yang lalu saya sedang antri di poli rehabilitasi medik di RSUD. Meskipun saat itu hari Sabtu, tapi rumah sakit seperti tak ada matinya. Ramai. Di depan saya duduk, ada seorang ibu-ibu muda yang memiliki dua orang anak laki-laki. Anak yang pertama, si kakak, setidaknya sudah TK B. Sedangkan adiknya, sepertinya umurnya masih 3 tahun.
Si ibu menyerahkan tugas menjaga anak pada suaminya saat mengantri di poli yang sama dengan saya.

Anak- anak yang sepertinya tidak nyaman di jaga ayahnya, memilih untuk berlari-lari di koridor rumah sakit. Supaya tenang, akhirnya ibunya membelikan mie instan di kantin rumah sakit 'mungkin' dengan tujuan supaya anak-anaknya tidak berlarian di koridor rumah sakit. Namun tetap saja, setelah mie habis, anak-anaknya terus saja berlarian kesana-kemari dengan berteriak-teriak.

Si ibu yang sepertinya tidak bisa banyak bergerak, meminta si ayah untuk lebih menjaga lagi anak-anaknya. Dari obrolan suami istri ini, akhirnya si ibu memanggil si
kakak. Saya pikir untuk dimintai tolong menjaga si adik. Ternyata tidak!

Si Kakak malah dipukul kepalanya menggunakan botol air minum, berulang-ulang. Sambil berucap begini, "Kamu itu, disuruh jagain adik nggak mau. Jangan ikut-ikutan adik."

MasyaAllah! Si kakak dipukul di kepala, berulang-ulang, di depan umum pula.

Kami yang sedang mengantri hanya melongo saat itu. Bahkan ada beberapa ibu-ibu yang memalingkan wajah dengan maksud mungkin tidak tega pada si kakak karena pukulan si ibu.

Saya pikir drama itu berhenti sampai di situ. Agak lama, si adik malah menirukan perilaku ibunya. Memukul kepala kakak berulang-ulang. Bahkan saat si kakak berdiri dan si adik tak bisa menggapai kepala si kakak. Si adik memilih melompat supaya bisa memukul si kakak. Orangtuanya? Diam saja. Hingga akhirnya ada seorang ibu-ibu paruh baya menegur si adik supaya tidak memukul si kakak, terutama di bagian kepala. Baru si ibu menarik tangan si adik dan memisahkan mereka berdua. Ya Allah.

Saya pikir, drama itu pun juga selesai sampai di situ. Saat saya sudah selesai menjalani fisioterapi,saya lihat dua anak ini ada di dalam ruang poli dan berlarian di lorong ruangan poli sambil teriak-teriak. Saya tegur baik-baik bahwa yang mereka lakukan itu bisa menganggu orang lain yang sedang menjalani terapi, barulah si kakak tergerak untuk memangku adiknya.

Dan... saat saya mengantri toilet, saya melihat orangtua dua anak ini berjalan bergandengan tangan menuju luar rumah sakit tanpa anaknya! Entah dimana kedua anaknya. Seolah mereka tak peduli dan tetap saja asyik mengobrol menuju luar rumah sakit.

Huft... saya ambil nafas dalam-dalam.

Saya jadi teringat cerita bunda Pipiet Senja saat beliau terpisah dengan anaknya, Butet, saat berada di rumah sakit untuk kontrol rutin. Saat itu, kalau tidak salah bunda Pipiet Senja sedang mengantri untuk mendaftar. Dan Butet disuruh untuk terus di sampingnya dan terus menggandeng tangannya. Setelah urusan mendaftar itu selesai, bunda Pipiet Senja baru menyadari bahwa Butet terlepas dari genggamannya, mungkin saat beliau sedang tanda tangan. Hati beliau langsung terasa copot dan mencari Butet kesana-kemari. Bahkan saat itu sudah dibantu satpam dan disiarkan melalui bagian informasi. Tak bisa saya bayangkan, kondisi beliau yang saat itu butuh transfusi darah, malah kebingungan mencari anaknya.

Alhamdulillah, Butet ditemukan oleh salah satu perawat di ujung tangga dan dibawa ke poli tempat bunda Pipiet Senja kontrol. Perawat itu ingat pada Butet karena seringnya Bunda kontrol ke rumah sakit dengan membawa Butet.

Ah, antara ibu dua anak yang terapi bersama saya dan bunda Pipiet Senja adalah dua pribadi yang berbeda. Namun mereka memiliki kesamaan, sama-sama memiliki anak yang masih kecil.

Kembali bahwa anak-anak adalah titipan Tuhan yang mana kita memiliki tanggung jawab di sana untuk menjaganya. Ya, bukan saja menjaga mereka saat sedang menghadapi bahaya tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menghadapi situasi di luar kontrol orangtua. Semisal, saat di tempat umum.

Sekiranya, kita sebagai orangtua, guru pertama bagi anak-anak kita, perlulah juga memberikan edukasi tentang menjaga diri sendiri dan orang lain saat di tempat umum. Edukasi ini meliputi menjaga diri sendiri dari bahaya, menjaga fasilitas milik umum dan menjaga tata krama di tempat umum. Dan penekanan dari saya adalah, edukasi ini diberikan sejak kecil, perlu contoh baik dari orangtua dan dilakukan secara terus-menerus.

Menjaga diri sendiri untuk menghadapi bahaya, bisa dilakukan terutama saat si anak tidak bersama orangtua. Semisal, saat ditempat umum, menghubungi satpam akan lebih daripada hanya menangis kencang saat terpisah dengan orangtua. Atau, memilih untuk tidak melakukan hal-hal ceroboh yang bisa membahayakan diri sendiri. Dan masih banyak lagi. Namun tetaplah untuk poin ini, orangtua tetap memberikan penjagaan lebih pada anaknya.

Supaya anak tak merusak fasilitas umum, berilah edukasi tentang pentingnya fasilitas tersebut. Bahwa fasilitas itu dipakai bersama, bahwa dia pun suatu saat akan menggunakannya juga. Dan berilah contoh-contoh nyata apabila fasilitas tersebut rusak dan dampaknya bagi masyarakat. Ya, bisa dilakukan dengan melihat langsung di lokasi atau melihat tayangan melalui video atau televisi.

Sedangkan menjaga tata krama di depan orang lain memiliki tujuan supaya anak-anak mampu menjaga perasaan orang lain. Bagaimana sikap yang sopan saat di tempat umum, bagaimana memperlakukan orang yang lebih tua, bagaimana menjaga harga diri sendiri, dan masih banyak lagi. Seperti ibu dua anak yang saya ceritakan tadi, ada baiknya dia lebih peduli pada tata krama anak-anaknya di rumah sakit. Rumah sakit adalah tempatnya orang susah, menumbuhkan empati dengan cara menjaga tata krama, itu adalah hal baik. Bukan malah memukul kepala anaknya sendiri, yang akhirnya ditiru adiknya kemudian membuat orang lain merasa terganggu. Saya yakin kok, jika kedua anak itu ditegur, mereka pasti mau mndengarkan. Buktinya, saat mereka saya tegur, si kakak mau kok menghentikan si adik berlarian dan memangku si adik supaya bisa diam.

Membiasakan untuk menjaga diri sendiri pada anak memang tidak mudah. Bapak saya saja,harus rela meluangkan waktunya untuk mengajak saya dan adik jalan-jalan di lokasi yang 'rawan' untuk mengajari kami bagaimana harus menjaga diri kami sendiri. Karena itu adalah modal bagi saya dan adik saat kami jauh dari orangtua untuk menuntut ilmu.

Marilah bersama teman, menjadi orangtua yang peduli pada anak-anak kita. Saya ingat status mbak Dey, bahwa kehilangan anak sendiri itu rasanya sakit sekali. Terutama jika itu dikarenakan kecerobohan kita sebagai orangtua.

18 komentar:

  1. Ngeri ya mbak... sampai segitunya. Bukan hanya di depan umum. si kakak ak sempat berfikir tentang malu.
    sulung bisa menjadi penjaga adeknya jika ia diajarkan caranya secara baik-baik.

    BalasHapus
  2. hemmmm,....sungguh contoh buruk ya mak :)

    BalasHapus
  3. Kasian si kakak..
    semoga kita selalu bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita aminn,

    BalasHapus
  4. miris bacanya..
    anak memang peniru yg ulung ya mba.. sy harus lebih hati2 jaga dan rawat anak :)

    BalasHapus
  5. Anak anak memang rentan sekali melakukan hal-hal yang seenaknya saja.

    Sebagai orang yang lebih tua harusnya dapat mengkondisikannya dengan baik.

    Terus menasehati dan tak kenal lelah untuk terus mengajarinya.

    Turut prihatin Mak.

    BalasHapus
  6. Saya juga kurang setuju dengan menghakimi anak didepan umum :D

    BalasHapus
  7. hadueh,mana dipukul lagi kepalanya,kalo kenapa2 coba.... :(

    BalasHapus
  8. Sangat disayangkan ya, ada ibu yang seperti itu pada anaknya.

    BalasHapus
  9. Mengajarkan sejak usia dini itu penting ya mbak, agak ketika besar nanti bisa menjadi sebuah kebiasaan.

    eh postingnya terburu-buru ya.. banyak huruf yang ketinggalan kereta tuh hehe

    BalasHapus
  10. Orang tua sebaiknya belajar bersama anak-anak, berposes bersama anak-anak. Karena pada dasarnya, anak juga berharap banyak pada orang tua.

    BalasHapus
  11. Cerita ini memang miris sekali. Secara orangtuanya, baik ibu atau ayahnya tampaknya tak terlalu peduli dengan anaknya saat di rumah sakit. Dan baru peduli saat ada orang lain menegur anaknya. Mungkin malu orangtuanya, entahlah.

    Dari cerita ini, saya sendiri belajar untuk lebih menjaga anak saya. Anak saya sedang aktif-aktifnya. Tak ingin duduk jika di tempat umum, inginnya eksplorasi lokasi. Artinya, saya harus lebih giat lagi mengajarkan pada anak saya bahwa bahaya itu muncul bisa juga dikarenakan diri sendiri yang ceroboh.

    Semoga kita bisa menjadi teladan yang baik untuk anak-anak kita. Amin. :)
    Dan saya setuju dengan bunda niken, bahwa sebenarnya anak-anak kita itu berharap banyak pada kita :)

    BalasHapus
  12. hmm harus banyak belajar dari pengalaman temen2 nih mak. sebelum punya anak sendiri :)

    BalasHapus
  13. Astagfirullah.. Ni ibu Gmn si ksh contoh yg buruk di depan umum pula.. Ga sadar dia kl anak2 itu copy cat yg handal .. Ngeri bgt... Jd peringatan buat sya jg spy bisa ksh teladan yg baik.
    Thanks for sharing :-)

    BalasHapus
  14. Mudah2an kita bisa menjadi orang tua yang amanah ya, mbak!
    Sampai sekarang aku masih trauma lihat orang tua yang mukul anaknya di depan umum atau menuding-nudingkan jari ke muka anaknya.
    Sebisa mungkin memposisikan diri sebagai si anak, walaupun kdg2 aku pun suka lupa. Hati jadi iba kalau udah marah2 lihat dia nangis :(

    BalasHapus
  15. itulah salah satu kisah nyata mungkin. apa yang dilakukan orang tua akan jadi contoh efektif buat anak anaknya. makanya perlu keberhatihatian...

    BalasHapus
  16. semoga kita menjadi orangtua yang amanah. ya, amanah. bahwa bagaimana pun juga, anak adalah titipan Tuhan pada kita, dan anak adalah modal kita untuk di akherat nanti.

    mari kawan, saling mengingatkan. karena tak satu pun dari kita luput dari kesalahan :)

    BalasHapus
  17. Anak-anak memang peniru yg ulung yg Miss..

    BalasHapus
  18. mbak rini, ada istilah anak itu modelling nomer satu. ya, begitulah benarnya :)

    BalasHapus

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^