Selasa, 29 Oktober 2013

[Cerpen] Aku Memilih Kembali

Namaku Dino. Profesiku, penghibur. Oh tidak, bukan penghibur macam wanita-wanita yang dipajang di dinding kaca dengan baju minim. Tapi aku adalah badut yang menghibur penonton dengan gayaku.



Tak sengaja sebenarnya aku berprofesi ini. Aku adalah lulusan SMA jurusan IPS dan sampai sebelum aku menjadi badut, aku menganggur. Kupikir dulu aku bisa melanjutkan kuliah, karena aku pintar dan aku yakin Abah akan mengabulkan keinginanku. Tapi ternyata Tuhan menggariskan berbeda. Abah meninggal dan kami kehilangan pemasukan utama keluarga karena saat Abah masih hidup, ibu memilih tidak bekerja meskipun seringkali banyak tawaran di pabrik-pabrik rokok lokal. Aku? Harus menelan kecewa karena tidak jadi kuliah daripada dua adikku tidak sekolah.



Dan perusahaan mana sih yang mau menerima SMA jurusan IPS? Kalau kerja tidak borongan di pabrik-pabrik kecil, mana bisa aku jadi karyawan. Ibu melarang, karena fisikku lemah, mudah sakit. Kalau aku sakit, maka akan ada pengeluaran tambahan untuk obat. Dan itu memberatkan ibu yang sekarang bekerja sebagai tukang cuci di sebuah agen laundry.



Berbulan-bulan aku menganggur. Hingga suatu hari tanpa sengaja aku bertemu mas Fajar, kakak kelasku dulu, di sebuah bangku panjang di depan SMA kami. Dia dan seorang temannya sedang duduk menikmati minuman dingin. Mereka membawa tiga tas besar, yang tampaknya tak akan kuat mereka bawa berdua.



"Mas Fajar!” sapaku di seberang jalan. Kuhampiri dia lantas kami bersalaman.



"Dari mana, Mas? Bawaannya banyak sekali," tanyaku sambil menunjuk tiga tas berwarna hitam.



"Ada job di Manyar," jawab mas Fajar. Mendengar kata 'job', aku langsung bereaksi positif. Segera aku duduk di samping mas Fajar.



"Job apa, Mas?"



"Jadi badut,"



Kukernyit alis mendengar kata 'badut'. Dan tampaknya mas Fajar mengerti bahasa tubuhku tadi.



"Aku sudah sering lihat orang heran kenapa aku mau jadi badut," kata mas Fajar sambil menghabiskan minumannya. Teman di sampingnya malah tertawa. "Nggak akan ada yang salah dengan menjadi badut, Dino."



Lantas mas Fajar menjelaskan tentang profesinya. Dia sebenarnya bekerja dengan tiga orang. Satu yang sedang bersamanya, dua lainnya sedang menerima job di lokasi lain. Mereka memilih untuk bekerja sendiri dan tidak tergabung dalam sebuah sanggar kesenian. Mereka menyebarkan sendiri leaflet petunjuk panggilan sewa, mematok harganya dan membagi empat hasilnya, merancang sendiri penampilan yang menarik perhatian penonton dan belajar gerakan-gerakan unik dari internet. Setelah berbicara banyak dengan mas Fajar, terungkap kalau mereka kekurangan orang karena semakin banyaknya panggilan sewa jasa mereka.



Lalu aku memilih bergabung dengan mereka. Dan sejak itulah orang kampung memanggilku Dino si hidung bulat.



Menjadi badut menyenangkan. Meskipun kadang kami gerah dengan kostum yag berat dan membuat kami sangat berkeringat, atau kami merasakan gatal yang sangat di wajah dengan make-up tebal, tapi kami bahagia. Ya, karena penonton tertawa melihat aksi kami, bahkan anak-anak juga mau memberanikan dirinya bersalaman dengan kami. Mereka bahagia, adalah nilai lebih dalam pekerjaan ini. Tentunya selain honor sewa jasa.



Dan aku menikmati menjadi badut. Meskipun ibu sering memintaku untuk mencari pekerjaan lain. Tampaknya beliau risih dengan profesiku yang sering jadi gunjingan dan bahan tertawaan di kampung.



"Bu, kalau ada pekerjaan lain yang aku cocok, baru aku berhenti," ucapku malam itu, saat ibu menyuruhku mencari pekerjaan lain untuk kesekian kalinya.



"Tapi Nak, ibu sudah tidak tahan dengar omongan tetangga." Ibu akhirnya mengungkapkan isi hatinya dengan nada bicara yang terdengar bergetar.



"Sudahlah Bu. Jangan jadikan hati apa kata orang. Yang penting ini halal," kataku sambil mengangkat tas berisi kostum badut untuk kusimpan di dalam kamar. Saat kututup pintu kamar, kulihat ibu tertunduk lesu. Bukan maksudku menyakiti hati ibu, tapi menjadi badut itu lebih baik daripada aku menganggur.



Begitulah kira-kira profesiku selama dua setengah tahun ini. Bergabung dengan mas Fajar dan teman-temannya yang solid, membuatku betah. Namun tiga bulan ini kami sepi job. Mulai banyak orang yang memilih menjadi badut. Kostum mereka pun semakin beragam daripada milik kami yang hanya itu-itu saja. Alat-alat mereka pun juga banyak, menyesuaikan penampilan yang lebih kreatif daripada kami. Kami terlena, dengan apa yang sudah kami hasilkan selama ini. Istilah manusia tak pernah puas dan mudah bosan, ternyata benar. Zona nyaman sudah melenakan kami sehingga kami lupa bahwa menjadi badut pun juga perlu meningkatkan kreatifitas.



Tak tahan dengan penghasilan yang tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, dua anggota kami memutuskan mencari pekerjaan lain. Kami menjadi semakin terpuruk, tak lagi saling mendukung. Membuatku bimbang, apakah aku harus mencari pekerjaan lain ataukah tetap bertahan dengan mas Fajar dan mas Didin.



"Lebih baik kita bubar saja." Mas Fajar memberikan jalan keluar yang menyakitkan. "menjadi badut sekarang, ternyata tak memakmurkan," lanjutnya, sambil membelakangi kami, berpura-pura merapikan peralatan yang tak berserakan.



Aku pun ikut menyerah seperti mas Fajar dan mas Didin. Lalu kami benar-benar berhenti menjadi badut. Aku kembali menganggur dan kembali bersahabat dengan jalanan untuk mencari pekerjaan. Bertandang dari gerbang pabrik satu ke gerbang pabrik yang lainnya. Dua alasan lamaranku ditolak, pertama karena aku tak memiliki pengalaman kerja dan kedua karena aku bukan fresh graduation. Sepertinya banyak pabrik sekarang yang menggunakan tenaga 'anak baru lulus' dengan alasan mereka mau dibayar dengan gaji murah. Ah, tak pabrik tak apa. Kudatangi satu per satu rumah.



"Maaf Mas, kami butuh perempuan. Soalnya buat bersihkan rumah." Begitulah kira-kira kalimat penolakan yang aku terima.



Siang itu terik sekali. Keringatku berlomba keluar dari lubang-lubang kulit karena angin tak satu pun mau menerpa. Saat kurogoh kantong celanaku, tak ada receh satu pun. Pun juga dompetku, nihil. Padahal di ujung jalan ada gerobak es cincau yang juga menjual gorengan murah. Sebenarnya lumayan untuk mengganjal perut yang dari pagi hanya terisi tiga tempe mendokan buatan ibu. Aku benar-benar lapar.



Tuhan, maafkan aku. Abah tak pernah mengajarkan aku meminta-minta. Tapi kali ini, aku sudah tak kuat lagi.



Aku kali ini pasrah. Berdiri di depan sebuah toko kelontong yang ramai pengunjung, kemudian kuangkat tanganku untuk meminta sedikit sedekah dari mereka. Mungkin wajahku yang sudah pucat atau penampilanku yang kebetulan sudah kucel, dengan mudahnya mereka memberiku sedekah dan saat kukumpulkan, hasilnya lumayan untuk memberi sekantong plastik gorengan.



"Alhamdulillah." Aku bersyukur masih ada yang welas padaku.



Tiap hari kudatangi lagi rumah-rumah, dan kali ini lokasinya lebih jauh dari biasanya. Tetap sama, mereka melontarkan jawaban yang sama. Penolakan. Begitu berulang-ulang hingga jalanku mulai terseok-seok karena tak ada lagi tenaga. Aku pun kembali meminta-minta. Kali ini tak hanya satu toko kelontong, tapi tiga. Tentunya receh yang kudapat pun semakin banyak daripada sebelumnya. Kali ini, tak hanya sekantung plastik gorengan yang kubeli, tapi juga empat bungkus nasi campur.



Nikmatnya mendapat uang secara instan dengan meminta-minta ternyata membuatku ketagihan. Kutaruhkan tingkat maluku pada jumlah uang yang kudapatkan dari meminta-minta. Ibu seringkali bertanya darimana kudapatkan uang untuk membeli gula, beras atau makan malam kami.



"Bu, yang penting uang itu halal." Hanya itu saja jawabanku. Ya, halal. Meskupun aku tahu kalau meminta-minta kurang dianjurkan dalam agamaku. Tapi aku tak malas. Aku sudah berusaha sekuat tenaga mencari pekerjaan kesana-kemari.



Beginilah rutinitasku sekarang. Berlagak menjadi peminta.



Namun, suatu malam, ibu dan Nina menghampiriku.



"Dino, ibu kali ini benar-benar gerah dengan omongan tetangga." Ibu membuka pembicaraan kami dengan keluhan, seperti biasanya.



"Apalagi Bu?" tanyaku dengan suara kurendahkan. Mencoba tak kesal dengan sikap ibu yag suka sekali menggubris omongan tetangga.



"Ada yang melihat Mas Dino mengemis."



Aku tersontak dengan jawaban adik pertamaku itu. Sempat aku terdiam, meskipun hanya sejenak "Kamu percaya?" tanyaku pada Nina. Dia diam, nampak ragu akan menjawab ya atau tidak.



"Tapi Mas.." ucap Nina, tapi urung dilanjutnya.



"Tapi apa?" tanyaku.



"Tapi tak hanya satu dua orang yang bilang, Mas. Bahkan bu Satri dari RT sebelah juga bilang ke aku."



"Bahkan bu Yusuf pun menegur ibu," sahut ibu dengan mencondongkan badannya ke depan dan meletakkan tangan kanannya di dada.



"Menegur? Untuk apa?" tanyaku meremehkan, menutupi degup jantungku yang kian kencang.



"Menasehatimu supaya kamu tak mengemis lagi," ucap ibu sambil menyentuh telapak tanganku.



"Ibu percaya padanya?"



"Nak, bu Yusuf adalah orang baik dan jujur yang paling ibu kenal," jawab ibu, sepertinya mencoba tak memihak siapa-siapa.



Degup jantungku pun sudah tak lagi terdengar, mendadak kepalaku berat rasanya, tubuhku kaku, telinga dan mataku sepertinya sudah tak lagi berfungsi. Tanpa kusadari, aku menangis kencang di pangkuan ibu.



"Maafkan aku, Bu. Semua itu kulakukan supaya aku tak menjadi beban ibu. Supaya kita tak lagi kelaparan saat malam.Kusampaikan alasan-alasan yang selama ini memang menjadi ganjalan di pikiranku.



Nina menutup mulutnya dengan kedua tangannya, sedangkan ibu terdiam mematung. Keduanya masih tak percaya dengan apa yang kusampaikan tadi.



"Abah dan ibu tak mengajarimu meminta-minta, Dino!"ucap ibu dengan terisak-isak. Semakin ibu kencang menangis, aku pun juga semakin kencang menangis.



Dan malam ini kami tidur dengan bermuram hati.



***



"Kau tahu, masih banyak cara mencari uang," kelakar pak Syafrul saat dia bertanya tentang gosip tetangga yang sudah kadung tersebar. Aku diam, berpura-pura memandang halaman mushola yang kering.



"Kamu anak baik, karena Abahmu baik," kata pak Syafrul sambil menepuk bahuku. "Aku yakin, Dino, meminta-minta bukanlah ajaran Abahmu."



Kudengarkan rangkaian kata pak Syafrul dan membenarkannya. Sudah tak ada tenaga lagi bagiku untuk mengelak, kepalang malu.



Beberapa hari kemudian, kubulatkan tekad menemui mas Fajar di rumahnya. Berharap mas Fajar mau diajak kembali pentas sebagai badut. Aku disambutnya, dengan tangan terbuka dan telinga yang bersedia mendengarkan kisahku. Dan kami berdua kembali bertekad menjadi badut, meskipun saingan sudah tak terhitung jumlahnya. Karena akhirnya kami menyadari, bahwa menjadi badut adalah profesi yang kami suka.

PESTA NULIS: ULANG TAHUN KAMAR FIKSI MEL ke 1

4 komentar:

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^