Jumat, 18 Oktober 2013

(Cerfet #MFF1) : Gejolak Masing-Masing Hati

credit

CERITA SEBELUMNYA :

***

"Kamu panggil dia apa, Al? Mama?" tanya Dio pada Alya. Masih dengan rasa kaget yang luar biasa menghujam, dia menoleh pada Ratih. "Dia anakmu?"

Alya dan Ratih sama-sama terdiam. Bertanya pada masing-masing hati yang tak mungkin memberikan jawaban pasti. Ketiganya bergejolak, namun saling keras berusaha menutupi tingkah yang semakin salah. Dari ketiganya, hanya Ratih yang tak memahami bahwa nyatanya ada benang kusut melingkari pinggang mereka bertiga dengan erat.

"Oh iya Dio, Alya ini anakku." Ratih menjelaskan dengan masih menyungging senyum. Mengelus-elus lengan atas Alya. "Anakku satu-satunya. Anak kebanggaanku."

Alya dan Dio saling pandang, tak lama. Kikuk.

"Alya ini baru mulai kuliah S2, lho. Lulus S1-nya barusan saja. Sebenarnya kusuruh magang dulu di tempatku, atau setidaknya kerja di mana gitu. Tapi dia ngotot pengen kuliah lagi. Ya sudah."

Alya menoleh pada Ratih, memeluk pundaknya kemudian menciumnya. "Ma, udah ah. Malu sama pak Dio." Alya pura-pura merajuk dan menggunakan kata 'pak' yang terasa mengganjal di lidahnya.

"Untuk apa malu, Sayang? Kalau nyatanya memang kamu seperti itu?"

Mendapat pertanyaan seperti itu dari Ratih di depan Dio, membuat Alya dongkol. Selama dirinya dekat dengan Dio, dia selalu berusaha untuk menjadi perempuan yang berani dan mandiri. Karena dia menyadari perbedaan umur di antara mereka haruslah terhubung oleh sikap yang tak kekanak-kanakan.

"Oh ya, kalian sudah saling kenal?" Ratih akhirnya bertanya pada Dio dan Alya. Menoleh bergantian pada kaduanya. Pertanyaan yang akhirnya muncul juga, tapi bukanlah pertanyaan yang harus ditunggu.

Alya salah tingkah, pun juga Dio. Wajah Alya nampak kegugupan, matanya berkedip-kedip, mulutnya membuka-menutup seolah hendak mengucapkan sesuatu namun bimbang.

"Ng, kami.." ucap Alya sambil menatap Dio sesaat.

"Beberapa kali Alya meminta perusahaanku untuk menjadi sponsor di kegiatan perkuliahannya. Dia perempuan yang menonjol, energik. Lebih menarik perhatian daripada teman-teman perempuannya. Haha.." Dio menjelaskan dengan diselingi candaan. Mencairkan suasana yang sebenarnya membeku namun tak ketara.

"Ya, Alya memang energik. Seperti Papanya," ucap Ratih dengan senyum lebar. Alya ikut tersenyum, kemudian mengaitkan lengannya di pinggang Ratih dan menaruh kepalanya dipundaknya. Sedangkan Dio, hanya bisa memoles senyum seapik mungkin. Menutupi cemburu yang ternyata masih tersisa meskipun hatinya sudah beku karena cinta yang tak berjalan mulus.

"Ini lho Al, teman yang pernah Mama ceritakan dulu." ucap Ratih tiba-tiba sambil mengerlingkan mata. Alya tersenyum, dibuat-buat. Karena sejak awal dia mengetahui bahwa laki-laki yang ada di buku harian mamanya adalah Dio, hatinya selalu gundah.

"Kalian pernah membicarakan aku?" tanya Dio, sambil memiringkan kepalanya saat melirik Ratih. Namun Ratih hanya tertawa ringan.

"Urusan wanita ya." kilahnya. Kemudian Ratih dan Dio bersama tertawa, meskipun tak terbahak-bahak. Membuat cemburu muncul di pikiran Alya.

"Udah yuk Ma, berdiri di sini. Nggak seru tuh pestanya ditinggal." Alya melepas pelukannya dan menarik Ratih menuju tengah ruangan. Dio mengikuti, namun tak lagi meletakkan lengannya di pinggang Ratih yang masih langsing meskipun wajahnya sudah nampak ada keriput.

Suasana pesta semakin semarak meskipun malam sudah semakin larut. Penampilan dari musisi jalanan dan sorakan pengunjung pesta, menambah riuhnya pesta dan membuat adrenalin meningkat. Beberapa orang mulai menggoyangkan tubuhnya dan tak mempedulikan peluh yang pelan-pelan meluncur dari tubuh bagian atas. Ratih menikmati malam ini. Selain disebelahnya berdiri laki-laki idaman hatinya, pun juga karena lama Ratih membentengi diri dari riuhnya dunia dan memilih menenggelamkan diri dalam berkas-berkas kasus para kliennya.

"Ma, aku ambilkan minum ya?" Alya menawarkan bantuan pada Ratih. Dia sebenarnya tak ingin berlama-lama di samping dua orang terdekat dalam hidupnya itu. Ada cemburu yang belum matang.

Alya sengaja tak mengambilkan cepat-cepat minum untuk Ratih. Yang ingin dilakukannya sekarang adalah memperhatikan mamanya dan Dio. Gestur tubuh keduanya yang sejenak kaku dan saling membatasi, sejenak lagi tarik-menarik namun masih malu. Tingkah mereka seperti dua kekasih yang lama tak bertemu namun tak segera mengurai kerinduan. Alya bukan anak kemarin sore yang tidak menyadari bahwa mamanya sedang bahagia berjumpa kembali dengan lelaki pengisi masa lalunya itu.

"Alya, kok bengong?"

Alya menoleh, Salsa -sahabat karibnya- sedang berdiri di samping seorang musisi jalanan yang tadi dia lihat tampil dengan memukul genderang.

"Hai Sa."

"Keluar yuk. Bosan." Salsa mengajak. Tak perlu waktu lama Alya menyetujui. Dirinya sekarang hanya ingin keluar dari hiruk pikuk pesta. Meninggalkan mamanya dan Dio dalam cengkrama kebahagiaan. Pula untuk menampik kesedihan yang merajam hatinya.

Sekitar lima menit kemudian Ratih menerima pesan singkat dari Alya.

Ma, aku balik duluan ya.

Dan sekitar sepuluh menit kemudian, Dio menerima pesan singkat dari Alya yang membuatnya kaget luar biasa.

Meskipun aku tahu mama adalah masa lalumu, tak akan kuserahkan kamu begitu saja padanya.

***

Tongkat estafetnya sekarang kuberikan pada Mbak Carra ya. DL 21 Oktober 2013 ^^

3 komentar:

  1. seram sekali, masa mamahnya adalah masa lalunya,.. haduh.. tapi jujur ceritanya bikin penasaran.. ayoo lanjutkan..,

    BalasHapus
  2. mari kita tunggu lanjutannya :)

    BalasHapus

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^