Rabu, 16 Oktober 2013

Ingat, Tak Ada Hasil Belajar Yang Sia-Sia

Lembaran ijasah yang harus selesai sebelum DL :)

Tak ada hal yang sia-sia dari hasil belajar kita. Tampaknya itu menjadi quote yang harus saya pegang erat. Ya, tak ada yang sia-sia. Bahkan saat kita coba-coba sekalipun.

Cerita ini sebenarnya sudah lama, sejak empat bulan yang lalu. Tapi kok saya baru punya feel baik buat menuliskannya sekarang *ketok-ketok meja*. Ceritanya begini. Sekitar bulan Juni kemarin, saya dapat titah langsung dari kepala sekolah untuk masuk dalam tim penulisan ijasah kelulusan yang terdiri dari enam orang. What? Seneng banget saya dapat perintah ini lho. Padahal tulisan saya nggak bagus-bagus amat. Meskipun saya akui bahwa tulisan saya memang rapi *kibas-kibas jilbab*.


Memang saya hanya mendapat dua kelas atau 74 lembar saja tapi pekerjaan ini menyenangkan. Eh, iya lho, meskipun harus hati-hati sekali, tapi menyenangkan. Walaupun juga deadline dari kepala sekolah hanya lima hari saja. Tapi ternyata, sehari sebelum deadline, teman satu tim saya yang sedang hamil tua, meminta tolong saya menuliskan ijasah satu kelas yang jadi tanggungan dia. Alhamdulillah.

Dan tugas itu selesai tepat waktu! Walau harus merelakan waktu tidur yang tersita atau meluangkan waktu lebih lama lagi di sekolah supaya tidak terganggu oleh Arya atau merelakan pundak dan punggung yang kaku karena terlalu banyak menunduk dan duduk. Namun hasilnya setimpal. Kepuasan itu saya dapat.

Lalu, selang empat hari setelah pengumpulan hasil penulisan ijasah kelulusan, saya dihubungi oleh salah satu pegawai tata usaha. Dia meminta tolong pada saya untuk menuliskan ijasah kelulusan untuk dua sekolah dasar yang mana panitianya itu tekan dia. What? Kalau sudah begini, kenikmatan mana yang saya dustakan? Tidak ada. Ini adalah rezeki dadakan yang saya terima di saat saya merasa rezeki saya mampet.

Dan mulailah lagi perjuangan saya menulis 147 lembar ijasah kelulusan dengan deadline tiga hari.

Alhamdulillah, pekerjaan itu selesai sebelum DL. Dan honor langsung dibayarkan saat saya menyerahkan hasilnya. Alhamdulillah, semoga tahun depan beliau-beliau ini menyewa jasa saya lagi *kedip-kedip berharap*.

Saya menulis ijasah kelulusan tidak hanya saat ini saja. Saat saya kelas dua SMA dulu, saat masih di pondok pesantren, saya diutus bu kyai saya untuk menuliskan ijasah kelulusan pondok milik kakak kelas saya sebanyak 100-an lembar. Saat saya SMA dulu, penulisan ijasah kelulusan menggunakan jenis tulisan yang seperti diukir itu (kaligrafi latin), lebih sulit ketimbang saya menulis ijasah kelulusan siswa saya kemarin.

Usut punya usut, ternyata bu kyai saya itu mengutus saya karena tahu kalau saya bisamenulis dengan huruf kaligrafi latin. Padahal saya baru belajar menulis huruf seperti itu sekitar empat bulan saja, pada teman satu SMA (yang berbeda asrama dengan saya).

Saya ingat, dulu saya dengan pedenya meminta teman saya itu (namanya Lathifah) untuk mengajari saya menulis kaligrafi latin. Awalnya dia menolak karena dia pikir buat apa juga jenis tulisan itu saya kuasai. Tapi saya terus membujuk, dengan alasan buat kreasi di buku diary saya. Dan dia terbujuk juga *maaf ya, Fa*. Diawal pembelajaran saya, dia mengatakan bahwa untuk menghasilkan jenis huruf ini, yang bagus haruslah dengan tangan yang lemas, santai, tidak pecah konsentrasi dan sering latihan. Karena jenis huruf seperti ini tidak selalu saya pakai dalam tulisan saya. Saya manggut-manggut saja, karena saya pikir ini akan mudah.

Ternyata sulit Saudara!

Saya dilatih untuk memotong spidol menggunakan silet untuk membentuk ujung lancip dan lurus. Harus tepat pemotongannya, kalau tidak begitu, hasilnya tulisannya akan jelek. Belajar begini saja, butuh waktu berhari-hari lho. Bahkan spidol yang bisa dipotong pun bukan spidol sembarangan. Halah, banyak aturan. Tapi setelah saya bandingkan macam-macam spidol itu, hasilnya memang berbeda, Soaudara. Sempat saya protes, kenapa nggak beli saja bolpoin khusus untuk menulis ijasah. Dengan santainya Latifah bilang kalau uang anak pondok nggak akan cukup buat beli bolpoin mahal. Hahahah...

Setelah itu, saya diajari cara memegang spidolnya. Yang ternyata berbeda dengan cara saya memegang bolpoin saat menulis catatan sekolah. Sedikit miring dan tidak kaku. Juga bagaimana cara memulas spidolnya yang harus hati-hati. Lalu, saya juga diajari bagaimana menyeimbangkan panjang garis supaya hasil hurufnya tidak amburadul. Seimbang antar huruf satu dengan huruf yang lainnya.

Hiyyaa... banyak banget kan detailnya? Tapi hasilnya memang memuaskan, meskipun hanya untuk menulis di diary atau di mading kelas *tertawa ala mak lampir*.

Saat saya meminta Latifah untuk mengajari saya menulis huruf ukiran, saya tidak memiliki ekspektasi lebih. Saat itu saya hanya kagum melihat hasil tulisan dia di buku-buku catatannya atau di sampul diarynya dan ingin belajarpada dia. Lalu pamer ke teman-teman *senyum nakal*. Tapi nyatanya, hasil dari latihan itu bisa saya petik setelah empat bulan kemudian dan setelah sembilan tahun kemudian. Tuh kan?

Mungkin bagi sebagian dari kita, ada beberapa hal yang kita pelajari di masa lampau itu tidak ada hubungannya dengan pencapaian kita di masa kini. Namun jangan lupa, bahwa tidak ada hal yang sia-sia di dunia ini. Bisa jadi ya, yang kita pelajari dulu itu, baru bisa kita rasakan hasilnya bertahun-tahun lamanya. Sampai kadang kita sendiri itu nggak sadar atau lupa kalau kita pernah mempelajarinya. Sebenarnya saya lupa pernah belajar nulis indah ala kaligrafi, sampai saya diingatkan oleh teman dekat saya waktu SMA pas saya habis cerita kedia kalau saya dapat order nulis ijasah.

Percayalah kawan, tak ada yang sia-sia di dunia ini. Jadi ya jadi, teruslah pupuk semangat kita untuk belajar tentang banyak hal. Yuk, bersama saya singsingkan lengan baju dan pasang ikat kepala :)

10 komentar:

  1. wah, mantab banget....
    memang tak ada yang sia"....

    BalasHapus
  2. Ternyata memang tak ada yang sia2 jika kita mau belajar ya...

    BalasHapus
  3. betul sekali. jadi ya, janganlah kita mudah mengeluh jika kita sedang belajar atau tanpa sengaja mempelajari hal baru. suka atau tidak suka, insyaAllah pasti ada hasilnya kok :)

    BalasHapus
  4. wow.. bagus ya tulisannya mbak Rochma,,
    memang tidak ada yang sia-sia dengan belajar ya

    BalasHapus
  5. setuju, Mbak. Sy juga kyknya hrs pegang erat2 kalimat itu. Thx, ya :)

    BalasHapus
  6. @nophi. Ngga bagus amat, hanya mungkin lebih rapi. *halah*

    @mama chi. Ya, harus dipegang itu kalimatnya, ma. Saya juga belajar dari kalimat itu :)

    @iis. Makanannya dikirim ke siak gitu ta? Hihihi...

    BalasHapus
  7. Wow... nice posting...
    aku baru tau kalo ijasah itu bukan ditulis pemerintah... kupikir ditulis pemerintah dan semua tulisannya hasilnya sama... ternyata sekolah meminta orang ya... brati tiap skolah ijassahnya beda2... *manggut2...

    BalasHapus
  8. OOOH begitu ya. Dulu mikirnya sakti banget guruku tulisannya kayak huruf jaman penjajahan eropa gitu, padahal nulis di papan tulis aja ogah baca. Ternyata ada orang2 tertentu yg bisa, tidak semua guru mengerjakan tulisannya sendiri. Emang ya mak, semua yang kita punya ini pastilah bermanfaat. Nice sharing :)

    BalasHapus
  9. @ivan. maksudnya ijasahnya berbeda? hasilnya pastinya beda dong, kan yang ngitung hasil ujian itu pemerintah. setelah itu datanya di kembalikan ke sekolah buat ditulis. begitu :)

    @mak lusi. hihihihi, dulu pun saya pikir orang yang nulis ijasah itu sakti-sakti, nyatanya memang butuh latihan konsisten, mak :)

    BalasHapus

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^