Selasa, 21 Mei 2013

(Flash Fiction) Berani Cerita #12 : Sepatu Butut Arif

credit
Arif memandang sepatu kets merah ditangannya untuk kesekian kalinya. Sepatu itu tidak bagus, bahkan lubang sudah jadi hiasan paling menarik di beberapa bagian. Namun, sepatu itulah yang tiap hari menjadi teman yang tak pernah mengeluh saat dia menjual koran di perempatan dekat Gedung Nasional Indonesia, di kotanya.

Dia menghembuskan nafas, mencoba terus memupuk ikhlas saat bu Yitno menanyainya kembali apa dia benar-benar mau meloakkan sepatunya.

“Iya deh Bu, jadi. Tapi kasih harga tinggi ya,” jawab Arif sambil memohon sepatunya layak mendapatkan harga tinggi, mengingat kesetiaan dia selama ini.

Wes jebol kabeh ngunu,” ucap bu Yitno saat menoleh sebentar ke arah sepatu Arif. Jawaban bu Yitno membuat Arif kecewa. Apa sih yang bisa diharapkan dari sepatu yang sudah penuh lubang? Dia membenarkan jawaban bu Yitno dalam hati.

“Yo wes, lima ribu ae.”

“Tujuh ribu yo, Bu.” Arif mencoba menawar. Wanita paruh baya didepannya ini terkenal perhitungan. Cacat di barang sekecil apapun akan jadi hitungan buat dia. Setelah menawar, Arif memandang bu Yitno dengan wajah dibuat seolah memelas.

“Enam ribu lima ratus, ae,” Bu Yitno mengeluarkan uang dari laci mejanya dan melemparnya pelan di depan Arif. “Nek ora gelem, yo wes,” ucapnya sambil menoleh ke arah lain tapi matanya melirik ke arah Arif.

Tanpa pikir panjang, Arif mengambil uang yang sudah tak rapi lagi bentuknya. Sambil bersyukur dalam hati, ditaruhnya sepatu ketsnya di atas meja.

“Makasih, Bu.” Arif tersenyum kemudian cepat-cepat keluar dari rumah bu Yitno yang penuh dengan barang-barang loak.

Hati Arif gembira, setidaknya untuk bulan ini. Ada lega di hatinya untuk menambah biaya pembelian obat darah tinggi untuk ibunya yang harus rutin dibeli tiap bulan. Teringat lagi perkataan apoteker beberapa hari yang lalu.

“Maaf Dek, uangnya enggak cukup. Harga obatnya naik.”

**
Keterangan :
1.
Wes jebol kabeh ngunu : Sudah lubang semua, gitu.
2.
Nek ora gelem, yo wes : Kalau tidak mau, ya sudah.



Yuk, ikutan tantangan membuat flash fiction. silahkan cek infonya di sini ya ^_^

12 komentar:

  1. Mak, kok paragraf akhir agak bingung aku. Si Arif gembira karena mendapat uang untuk beli obat ibu? Tapi harga obat naik, jadi gak bisa beli dong, kok gembira :(
    Aku blm post untuk berani cerita 12 nih mak, semoga sebelum DL deh ^.^

    BalasHapus
  2. sedihhhhhhh harus jual apa lagi dong klo obatnya naik? :D

    BalasHapus
  3. @ranny. kan ada kalimat 'untuk menambah biaya pembelian obat'. dan kalimat harga obat dari apoteker itu kan dah beberapa hari yang lalu :)

    @mbak hana. ntar deh dipikirin ma si arif lagi :)

    BalasHapus
  4. kata-kata apoteker itu ditaruh langsung setelah pikiran Arif aja mbak, ndak usah dikasih jeda. biar langsung terbaca, itu ingatan Arif...

    BalasHapus
  5. bener juga kali..
    beberapa hari lalu uangnya gak cukup..., makanya jual sepatu hari ini...
    (eh gitu gak sih...?)

    BalasHapus
  6. Makjleb banget itu uda sampe jual sepatu lha kok oabtnya naik. kasiaaannn :(

    BalasHapus
  7. @mbak latree. bener juga ya, lebih efisien. sip mbak, diperbaiki ntar :)

    @iis. hu'um.. kasihan.. kisahnya tetanggaku :(

    @nova. betul sekali, begitu memang ceritanya :)

    @ayu. hm, bukan setelah jual sepatu trus harganya naik. harga obatnya sudah naik duluan tuh sebelum sepatunya terjual :)

    BalasHapus
  8. sedih bacanya, tp bersyukur krn harga sepatu jebol itu mampu menambah biaya utk harga obat yg sudah naik sebelumnya

    BalasHapus
  9. menyimak dan belajar dari tulisan dan para pengomentar disini. :)

    BalasHapus
  10. @mbak myra. usaha yang tidak sia-sia :)

    @mbak irma. aih, tulisannya mbak irma mah bagus-bagus itu fiksinya. aku suka bacanya :)

    BalasHapus

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^