Senin, 20 Mei 2013

(Studi Kasus #1) Suka Usil, Anak Dikurung di Rumah

credit
Seorang siswa, sebut saja namanya Aji, merupakan siswa yang masuk di program unggulan di kelas 9 karena kemampuan akademisnya yang baik. Namun, menjelang UN, sering terlibat perkelahian dengan siswa lain dikarenakan masalah sepele.

Saat konseling, dia menyampaikan bahwa dia merasa sedikit tertekan dengan target kelulusan yang dia buat sendiri. Jika tidak dapat memenuhi targetnya, maka akan merasa kegagalan yang sangat. Karena menurutnya, keluarga mengandalkan dia. Adik satu-satunya tidak terlalu bisa dibanggakan dikarenakan nilai akademisnya biasa-biasa saja. Hal inilah yang menjadikan dia mudah tersulut emosi marahnya.

Saat saya bertanya, mengapa karena awalnya guyonan, kok malah bertengkar? Dia mengatakan bahwa dia adalah pribadi yang suka bercanda. Dan dia sadar, kalau seringkali guyonan itu mengarah ke saling usil dan ejek-mengejek akhirnya membuat kedua pihak tersinggung. Dan ini sering terjadi pula saat SD sampai di kelas 8 (crosscheck dengan data bimbingan saat kelas 8 dulu dan hasil wawancara dengan Aji).

Beberapa hari setelah prosesi konseling dilakukan, orang tua Aji datang menemui saya dan wali kelasnya. Tujuannya untuk memperjelas masalah yang sedang dialami anaknya. Dari hasil wawancara, terungkap bahwa ibunya Aji, saat Aji masih anak-anak, sangat membatasi pergaulan  Aji karena mengetahui sifat Aji yang suka usil. Karena takut para tetangga tersinggung karena anak-anaknya sering diusili Aji, akhirnya ibunya Aji 'mengurung' Aji dengan cara menggembok pintu pagar saat Aji di rumah dan memberikan fasilitas lengkap kepada Aji.

Dari yang diungkap ibunya Aji, saya bisa mengambil kesimpulan. Bahwa anak yang terlalu dibatasi pergaulannya oleh orangtuanya saat kecil akan menyebabkan si anak kurang mampu untuk mengembangkan ketrampilan emosinya. Terutama saat melakukan interaksi dengan teman sebaya. Saya mengerti, pasti ada alasan untuk tiap orang tuan membatasi pergaulan anaknya pastinya memiliki tujuan yang baik. Tapi, pastinya orangtua juga perlu memahami bahwa berinteraksi dengan teman-teman sebayanya saat masih anak-anak akan memperkaya ketrampilan bersosialisasinya saat remaja nanti.

9 komentar:

  1. bisa jadi anak seperti ini kelak emosinya akan meluap,dampak dari tekanan yang diberikan oleh ibunya..tapi semoga aja aji baik2 aja,
    ngeri ya zuh,mpe digembok cm gara2 anak ini usil...sedih ya,bangettttt...g kebayang usilnya,emang parah ya "bentuk" usilnya?

    BalasHapus
  2. Semoga orang tua Aji diberikan kesadaran akan apa yang terbaik untuk anaknya.
    Kasian kalau tetap berlanjut sampai dewasa.

    BalasHapus
  3. @iis. orangtuanya nggak cerita banyak tentang seberapa parah bentuk usilnya. hanya saja menyampaikan kalau orangtuanya itu malu kalau si aji ini ntar malah bikin sakit hati tetangga yang lain karena 'mungkin' anaknya dikerjain si aji, atau malah tetangganya sendiri. kasihan emang is.. di kelas, dia kurang interaksi sama teman-temannya. banyak teman-temannya yang nggak simpati sama dia. terakhir, dia tengkar sama adek kelas hanya karena masalah sepele.

    @bunda niken. sepertinya orang tuanya sudah sadar, bunda. hanya saja,sedikit terlambat, karena sekarang aji sudah mau SMA :)

    BalasHapus
  4. Kasian Aji, semoga ke depannya Aji bisa lebih baik lagi dlm berinteraksi. Anak saya, kelas 1 SD pun termasuk anak yang iseng. Tapi saya tdk pernah membatasinya utk berteman, apalagi sampai mengurungnya. Dan Alhamdulillah anak saya anak yg mudah bergaul, hanya keisengannya saja yg blm hilang. Saya dan ayhnya hanya sering memberi nasehat ttg keisengannya itu, jgn sampai keisengannya bisa merugikan org lain.

    BalasHapus
  5. @mbak santi. saya setuju dengan cara yang dilakukan mbak santi dan suami. memberikan tanggung jawab kepada anak agar anak bisa berhati-hati dalam bertindak, terutama saat si anak keluar usilnya. dalam sesi konseling yang sering saya lakukan dengan aji, saya memberinya saran agak pintar-pintar mencari cara supaya dia mudah berinteraksi dengan teman-teman sebayanya. :)

    BalasHapus
  6. setuju kl anak terlalu dikurung, ketika lepas yg dikhawatirkan jd agak gak terkendali

    BalasHapus
  7. @mbak myra. karena beberapa kasus yang aku tangani seperti itu, mbak. jadinya bisa diambil kesimpulan seperti itu :smile:

    BalasHapus
  8. Ouch, mengerikan sekali ceritanya Miss.
    kalau sudah kejadian sampai seperti ini, solusi terbaiknya apa ya kira-kira?

    BalasHapus
  9. @aquavintage. oh, saat itu saya tidak memberikan solusi apapun kok ke orangtuanya. karena dari sisi orangtua sangat terbuka dengan informasi baru dan mereka berusaha memperbaiki kesalahannya dengan cara mereka sendiri :)

    BalasHapus

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^