Saya termasuk pribadi yang tertutup pada orang lain, pun pada teman dekat saya sendiri. Suami saya saja, baru benar-benar bisa memahami saya yang ‘sok rumit’ ini beberapa tahun terakhir ini setelah kami benar-benar menyelami pribadi kami masing-masing. Ya maklumlah, secara saya sama suami melewati masa dekat sebelum nikah itu hanya delapan bulan saja.
Bukannya nggak mau bercerita tentang apa yang ada dalam keseharian saya pada orang lain, atau menceritakan harapan dan impian saya pada orang-orang terdekat saya, tapi saya lebih suka memendamnya sendiri. Menulis jejak-jejak pemikiran saya di banyak media, seperti blog, note ponsel, notebook, sticky note dan menyelipkannya di meja kerja, bahkan di kertas-kertas buram ketika mengawasi siswa-siswa saya ujian. Saya lebih nyaman diam saja, memperhatikan sekeliling saya dan tidak banyak berkomentar (kecuali situasinya benar-benar mengusik).






