Blog milik Ria Rochma, blogger Gresik, Jawa Timur. Tulisan tentang parenting, gaya hidup, wisata, kecantikan, dan tips banyak ditulis di sini.

(Flash Fiction) Masa Lalu

| on
Rabu, April 10, 2013
Tak perlu waktu lama, Rino akhirnya sampai di rumah bergaya Jawa kuno yang cukup besar. Halamannya luas dengan beberapa pohon beringin. Tampaknya rumah ini adalah rumah turun-temurun.

Tok. Tok! Rino mengetuk pintu.

Tak lama pintu dibuka. Rino terkejut melihat sosok yang berada dihadapannya. 


Meskipun yang berada di depannya adalah si pemilik rumah, Kisha, namun Rino tetap tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Jantungnya terlalu berdetak kencang karena ada tujuan yang tak biasa kali ini.

"Rino? Bukannya Chintya tidak ada jadwal latihan piano hari ini?"

Rino terdiam sekitar beberapa detik, sebelum akhirnya Kisha mempersilahkannya masuk. Rino duduk di bagian sofa yang biasa dia duduki setiap Rabu dan Jumat untuk menunggu Chintya keluar dari kamarnya.

"Ng, anu Kisha, aku.."

Kisha memincingkan matanya, mencoba mendengarkan kalimat yang belum keluar dari mulut Rino.

"Aku.. Aku ingin.."

Rino belum menyelesaikan kalimatnya saat Chintya datang menghampiri dia dan ibunya. Ditangannya ada segelas sirup choco pandan.

"Pak Rino ada apa pagi-pagi sudah di sini? Apa jadwal latihanku dimajukan jadi hari ini?"

Rino tidak menjawab, hanya tatapannya berganti arah dari Chintya ke ibunya. Kisha melihat ada gelagat aneh dari gestur Rino saat dia melihat Chintya tiba-tiba menghampiri mereka. Tidak seperti Rino yang biasanya lebih santai saat menghadapi seseorang.

"Chintya, masuk kamar dulu. Ibu mau bicara sama pak Rino."

Sebenarnya Chintya ingin ikut mendengarkan perbincangan ibunya dengan guru pianonya itu. Tapi melihat tatapan ibunya yang tajam, dia memilih meninggalkan mereka.

Setelah yakin Chintya tidak ada, Kisha melanjutkan perbincangannya yang terpotong tadi. "Ada apa? Sepertinya ada yang mau kamu sampaikan."

"Kisha, aku ingin Chintya."

Kisha tersontak. "Tapi kita sudah bicarakan ini bertahun-tahun yang lalu, Rino."

"Tapi aku sangat inginkan dia, Kisha. Sungguh." Kali ini wajah Rino memelas. Wibawanya sebagai pria dia simpan supaya Kisha mau mengabulkan keinginannya.

Wajah Kisha sekarang terlihat marah. "Tidak Rino! Aku tidak sanggup kehilangan Chintya. Tidak!"

"Tapi aku pun juga bagian dari dirinya, Kisha. Sadarilah itu!"

"Iya, aku sadar itu! Tapi aku tidak mau kehilangan anakku satu-satunya!"

Nafas Kisha terburu-buru, berkejaran dengan nada suaranya yang tinggi. "Kita sudah sepakat kalau kamu tidak akan mengambil Chintya dariku, Rino! Kita juga sudah sepakat bahwa itu adalah kesalahan masa lalu yang harus kita lupakan!"

Rino terdiam sejenak, mengambil nafas dalam.

"Tapi dia adalah anakku, Kisha. Anak kita." Ucap Rino dengan nada yang dia rendahkan. Kakinya melangkah mendekati Kisha, memegang wajahnya dengan lembut.

"Kita tak mungkin terus merahasiakan ini, Sayang."

***

Tangan Chintya gemetar hebat, membuat sirup yang ada di dalam gelas tumpah ke lantai.

Dia terduduk lemas di depan kamarnya. Mencoba menerima rahasia baru bahwa bapak kandungnya bukanlah yang sekarang sedang berlayar mengelilingi Eropa. Namun Rino.



***



[Arya] Pertama Kalinya Arya Berenang

| on
Selasa, April 09, 2013
Postingan ini sebenarnya sudah mau saya buat seminggu yang lalu, saat Arya baru selesai berenang untuk pertama kalinya. Tapi karena banyaknya kegiatan di sekolah karena siswaku pada mau ujian nasional, trus Arya dan saya pilek batuk berjamaah, jadinya mundur deh publishnya.


Girang banget ini anak renang :))

Ceritanya neh, hari Minggu yang lalu, Arya berenang buat pertama kalinya! Aih, masih juga 16 bulan masa dah diajak berenang seh? Ih, nggak papa kali yee.. Secara, berenang buat bayi tuh banyak manfaatnya. Ini neh manfaatnya (sumber dari sini dan sini) :


Review Buku : Cerita di Balik Noda

| on
Minggu, April 07, 2013

Judul       : Cerita di Balik Noda: 42 Kisah Inspirasi Jiwa
Penulis     : Fira Basuki
Penerbit    : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit: Januari 2013
Jumlah Hal. : xii + 235 Halaman
ISBN        : 978-979-91-0525-7


Buku "Cerita di Balik Noda" adalah salah satu dari sekian buku yang saya nanti. Karena di berbagai media sosial, promosi buku ini gencar dilakukan. Saya nanti juga karena dari beberapa review teman, buku ini sungguh menginspirasi meskipun katanya penyampaian ceritanya menggunakan bahasa yang sederhana.

Noda yang ditimbulkan dari perilaku anak-anak adalah hal yang wajar di temui oleh para ibu. Noda adalah bukti bahwa si anak mampu belajar tentang hal-hal baru dan belajar untuk mengembangkan pengetahuan yang diperolehnya dengan cara mengaplikasikannnya di kegiatan sehari-hari mereka. Bahkan kadang, beberapa perilaku dari anak-anak kita yang membuat bajunya kotor, menciptakan decak kagum karena ada ketangkasan di dalamnya. Bagi saya pribadi, berani kotor itu baik.

Apa yang saya sampaikan sebagai pembuka, tercantum dalam kisah-kisah para orangtua di dalam buku ini. Terdapat 42 kisah tentang hikmah-hikmah yang diperoleh dari kotornya baju anak-anak mereka. Masing-masing kisah dituturkan dengan bahasa yang sederhana namun mengalir dengan pas saat membacanya. Mungkin karena kisah-kisah ini diceritakan dalam bentuk yang pendek sehingga memunculkan kesan padat, pas dan tidak bertele-tele.

Hanya saja, ada beberapa penulisan yang salah dan terlewatkan pada saat proses editing di penerbit. Yang saya temukan antara lain :

- Pada halaman 3, saat si penulis menuliskan kalimat langsung "Selamat pagi semua!" yang tidak tertulis menjorok ke dalam
- Pada halaman 8, ada yang kurang dalam menuliskan kalimat "Konon dengan mengasuh anak bak anak sendiri". Mungkin seharusnya yang benar adalah, "Konon dengan mengasuh anak orang lain bak anak sendiri."
- Pada halaman 25, terdapat kesulitan penulisan kata "Buaya". Sedangkan seharusnya adalah kata "Buya"
- Pada halaman 45, huruf 'l' pada kata "Lumpur" yang terdapat pada paragraf pertama harusnya tertulis dengan huruf kecil
- Nama Dewi tertulis dengan nama Wulan. Hal ini bagi saya fatal, karena terjadi dari halaman 57-62. Banyak review yang mengatakan bahwa cerita 'Sarung Ayah' ini adalah kisah yang paling menyentuh. Tetapi karena kesalahan yang fatal inilah, membuat cerita ini bagi saya tidak lagi begitu menyentuh.
- Pada halaman 128 terdapat kalimat "Sering juga saat berlarian kesana kemari, dia tertidur di karpet". Mungkin maksud penulis yang benar adalah menuliskan kata setelah, bukan kata saat. Kan tidak mungkin, seseorang melakukan dua kegiatan sekaligus yang sifatnya berlawanan. Lari dan tidur.

Sejauh buku ini selesai saya baca, beberapa hal itulah yang menjadi perhatian saya jika dilihat dari sudut pandang tata cara penulisan.

Dan timbul pertanyaan setelah saya perhatikan cover buku ini. Saya heran pada penulisan nama pengarang di cover buku yang hanya mencantumkan nama FIra Basuki saja. DI buku ini, ada 42 kisah. Fira menuliskan hanya 4 kisah dan 38 kisah lainnya ditulis oleh peserta lomba menulis bertema "Cerita di Balik Noda" yang diadakan oleh Rinso Indonesia melalui facebook. Tetapi, entah kenapa yang di cover buku hanya tercantum nama Fira saja? Kesan yang timbul pertama kali sebelum saya membuka buku ini adalah 42 kisah di buku ini dituliskan oleh Fira seorang. Padahal tidak.

Setahu saya nih, kalau ditulis bersama-sama, maka di cover buku juga dicantumkan nama penulis lainnya. Kalau terlalu banyak, bisa disingkat dengan kata 'dkk'. CMIIW.

Demikian review saya atas buku ini. Sejauh dari beberapa hal yang menjadi perhatian lebih saya atas buku ini, saya mengacungi dua jempol atas kisah-kisah di dalamnya. Benar memang, kisah-kisahnya sungguh menginspirasi, menyentuh dan membuat kita belajar atas banyak hal dalam memperlakukan anak-anak.

Senangnya Ketemu Teman Lama

| on
Sabtu, Maret 30, 2013

Hal yang paling menyenangkan setelah lulus sekolah adalah ketemu teman lama jaman kita sekolah dulu. Iyalah, secara kalau kita udah ketemu, ngobrol ngalur ngidul, seolah waktu itu nggak akan cukup buat hanya bahas apa ajah yang udah terjadi setelah kita lulus. Apalagi ya, kalau rumah teman-teman kita tuh jauh-jauh.


Setelah saya lulus SMA, masih mending masih sering ketemu teman-teman. Soalnya, tiap tahun ada acara halal bihalal dan tiap beberapa tahun sekali ada reuni angkatan dan reuni akbar. Jadinya kita-kita masih semangat '45 buat datang di acara. Beda dengan saat lulus kuliah. Mungkin karena akrabnya sama satu angkatan dan satu fakultas aja kali yah, jadi kalau ada reuni akbar males datangnya. Hihihi..

(Flash Fiction) Prompt Challenge #7 : Nikahkan Aku, Ma, Pa!

| on
Jumat, Maret 29, 2013
credit
Aku harus segera bicara dengan Mama Papa. Harus sekarang! Tidak bisa ditunda lagi!

Kuambil nafas dalam sebelum melangkahkah kakiku ke ruang tengah. Kulihat Mama sedang asyik berbincang dengan adikku, sedangkan Papa menonton acara show kesayangannya.

"Niki, sini Nak. Ngobrol sama Mama yuk." Ajak Mama saat melihatku mendekati mereka. Aku tersenyum, merasa ini adalah awal yang baik untuk menyampaikan maksudku.

"Ng, Pa, Ma, aku mau ngomong sebentar."

Papa menoleh, menatapku. Aku duduk disamping adikku, lalu memandang keluargaku yang tampak sudah siap mendengarkan aku bicara.

"Aku ingin menikah."

Mama kaget, ditunjukkan dari matanya yang melotot. Tapi kulihat papa tenang, meskipun sempat kaget sebentar.

"Mas enggak bercanda? Mas masih kuliah." Adikku tidak percaya dengan keinginanku. Tapi kutatap adikku dengan tatapan mantap, tidak bisa ditawar lagi.

Mama menoleh ke arah papa, meminta bantuan untuk menengahi. Tapi Papa hanya diam.

"Kamu masih kuliah, Nak. Setidaknya selesaikan kuliahmu dulu."

"Aku ingin segera menikah, Ma. Aku sangat ingin segera memiliki gadis pilihanku."

"Siapa gadis itu?"

Aku menyodorkan sebuah foto. Adikku cepat-cepat mengambil foto itu untuk menghilangkan penasarannya. Kemudian dia teriak tidak percaya saat tahu siapa yang ada di foto itu. Mama dan papa cepat-cepat melihat foto yang dilempar adikku.

"Mas ngawur! Itu kan Yuna!"

"Memang."

Mama menutup mulutnya, tak percaya dengan pilihanku.

"Hilangkan halusinasimu!" Papa berteriak sambil beranjak dari duduknya.

"Papa, aku mencintainya! Nikahkan aku dengan dia!"

Kutoleh mama yang matanya sudah berkaca-kaca. Mama hanya menggeleng cepat, kemudian menyusul papa pergi.

"Mas.."

"Aku cinta Yuna, Dik."

"Tapi dia hanya di Final Fantasy, Mas. Cuma di game. Ngaco kamu!" Adikku meninggalkanku. Menginjak foto Yuna yang tergeletak di lantai.


credit

Anak Teman Saya Tertimpa Pagar

| on
Kamis, Maret 28, 2013
credit

Ini kisah rekan kerja saya, sebut saja si S. Beberapa hari yang lalu dia mengajukan ijin tidak bisa jaga ujian sekolah kelas 9 karena anaknya sakit. Saya pikir, ada apa lagi? Belum satu bulan, anaknya yang pertama masuk rumah sakit karena usus buntu. Kabar yang beredar, anaknya tertimpa pagar. MasyaAllah, itu adalah kabar yang mengejutkan karena yang tertimpa adalah anaknya yang ketiga yang usianya masih 2,5 tahun.

Setelah mengunjungi di rumah sakit, S bercerita ke kami, kronologi kejadiannya. Sore itu, S akan mengantar anak pertama dan keduanya pergi mengaji menggunakan motor. Karena dia tidak memiliki pembantu, akhirnya anaknya yang ketiga pun diajak juga. Saat mengeluarkan motor dari garasi, anaknya yang ketiga ini tiba-tiba keluar dari pagar dan bermain dengan teman-teman sebayanya di depan rumah tetangganya. Tanpa dikira, pagar tetangganya yang sudah rapuh, tiba-tiba jatuh mengenai dia! Wajahnya terbentur paving, kepalanya tertimpa pagar. S langsung berlari menyelamatkan anaknya dan diantar para tetangga ke rumah sakit.

Ya Allah, sungguh cerita yang memilukan. Apalagi saat S bercerita kalau anaknya sempat muntah-muntah dan darah mengucur terus dari kepalanya, tidak berhenti-henti. Sampai-sampai anaknya harus dibius di hari pertama di rumah sakit supaya tidak selalu menangis kesakitan.

Ya Allah, hati ibu mana yang tidak menangis melihat anaknya merasakan musibah seperti itu?

Kami sempat menanyakan, kok pagar tetangga bisa sampai mengenai anaknya. S bercerita kalau pagar tetangganya itu memang sudah rapuh dan hampir roboh. Sudah sering diingatkan oleh tetangga yang lain supaya cepat memperbaiki pagarnya karena lokasi tinggalnya banyak anak kecil, tetapi dia tetap menunda-nunda memperbaiki. Hingga kejadian ini. Akhirnya, malam itu juga langsung diperbaiki pagarnya yang sudah roboh tadi.

Begitulah bertetangga. Sering kita dengar kalau kita harus rukun dengan tetangga kita dengan cara menjaga sikap supaya tidak menyinggung perasaan tetangga. Cara itu bisa kita lakukan dengan banyak cara. Salah satunya adalah memperbaiki properti yang kita miliki yang sekiranya sudah rapuh, yang mana properti itu posisinya bersinggungan dengan aktivitas tetangga kita.

Ya.. Supaya kejadian seperti teman saya ini tidak terjadi pada tetangga kita. Supaya hubungan kita dengan tetangga tetap terjaga dengan baik.

Custom Post Signature

Custom Post  Signature