Blog milik Ria Rochma, blogger Gresik, Jawa Timur. Tulisan tentang parenting, gaya hidup, wisata, kecantikan, dan tips banyak ditulis di sini.

Mengajari Tanggung Jawab Kepada Arya

| on
Selasa, Maret 19, 2013
Arya tuh seneng banget sama yang namanya binatang. Tapi sejauh ini, binatang yang diketahui sama Arya masih sebatas yang ada di sekitar rumah ajah. Kaya kucing, ayam, burung, ikan sama kerbau. Pernah sih diajak jalan-jalan, trus ada perkumpulan pecinta hewan, dia tau yang namanya musang, burung hantu sama ular. Tapi ya karena cuma diajak sekali, sepertinya udah lupa.

Dan kegiatan yang paling Arya senangi adalah memberi makan hewan-hewan tadi. Dan, kalau udah ngasih makan, nggak mau berhenti dianya. Akhirnya, kitanya yang dirumah kudu sabar bangeeettt ngeladeni pengennya dia yang maunya ngasih makan terus *ikan udah melembung perutnya*.

(Flash Fiction) Prompt Challenge #5 : Sengketa

| on
Jumat, Maret 15, 2013
credit

Roni menghempaskan lembaran itu ke lantai. Marni terdiam melihat Roni yang tampak gelisah.

"Tidak, jangan sekarang. Kasihan Ririn jika dia tahu semua ini." Ucapnya pada diri sendiri. Dia tampak mondar-mandir di depan Marni, adik Ririn. Kegelisahan Roni, juga menjadi kegelisahan Marni.

"Tapi kalau kita enggak bilang mbak Ririn, kalau dia tahu dari bajingan itu langsung, apa mbak Ririn enggak semakin kecewa?" Marni mencoba menyampaikan pendapatnya yang langsung dibalas dengan goyangan telapak tangan Roni. Tanda tidak setuju.

"Biar aku saja nanti yang ngomong ke Ririn pelan-pelan. Tapi tidak hari ini." Roni mencoba menenangkan Marni sebelum beranjak menuju keluar rumah. Saat Roni membuka pintu, bersamaan pula Ririn hendak masuk.

Roni tak sanggup menutupi kekagetannya, apalagi Marni. Cepat-cepat Marni mengambil lembaran yang tadi dilempar begitu saja oleh Roni dan menyembunyikannya di balik punggungnya. Keduanya berharap Ririn tidak mendengar percakapan mereka, tapi tampaknya itu mustahil. Karena raut wajah Ririn menunjukkan bahwa dia butuh jawaban.

Dan akhirnya Marni memberikan lembaran itu ke Ririn dengan tangan gemetar.

***

"Tarjo!" Ririn berteriak saat dia sudah sampai di halaman rumah yang besarnya empat kali rumahnya.

"Tarjo, keluar kamu! Sialan! Berani-beraninya kamu berbuat seperti ini!" Teriakan Ririn menjadi-jadi, membuat napasnya tersengal-sengal. Dibelakangnya ada Marni yang sedang menuntun Roni.

Tak lama, seorang laki-laki pendek berperut tambun keluar dari dalam rumah. Senyumnya mengambang sangat lebar.

"Sialan kamu Tarjo! Aku sudah bilang kalau aku akan melunasi cicilan rumah ibuku minggu depan! Tapi kenapa kamu malah mau mengambilnya sekarang?" Marni masih berbicara dengan nada tinggi.

"Hm, sebentar, Ririn. Kalau dihitung-hitung, hari ini adalah tenggat waktu terakhir pelunasan di bank. Waktu seminggu itu, hanya kelonggaran yang aku berikan untukmu."

Ririn naik pitam. Mencaci maki Tarjo dengan kata-kata yang kasar. Semakin Ririn marah, semakin keras tawa Tarjo.

"Ririn, Ririn. Itu salah ibumu, kenapa mau-maunya menerima usulku supaya aku yang melunasi cicilan rumahnya." Tarjo berkilah sambil menghisap rokok yang sedari tadi tidak juga habis terbakar asap karena tidak dihisap dalam-dalam.

"Lalu, kami bagaimana? Berilah kami kesempatan." Kali ini Ririn melunak, memohon keringanan pada Tarjo akan nasib mereka bertiga.

"Aku sudah beri kesempatan enam tahun lalu saat ibumu yang kaya itu meninggal. Manfaatkan si pincang itu saja!" Tarjo tertawa kencang sambil menunjuk Roni yang masih dipapah Marni.

"Tapi kamu suami ibuku, ayahku!" Ririn berteriak. Hampir saja dia berlari ke arah Tarjo untuk memukulnya, tapi urung karena Tarjo mendekati dia.

"Kalau aku suami ibumu, itu benar. Tapi kalau aku ayahmu, oh, itu salah besar. Sejak kamu lahir, aku tahu kalau kamu adalah anak Roni, si pincang yang pernah ditolong ibumu 22 tahun silam." Tarjo berucap sambil memegang dagu Ririn, lalu menghentakkanya. Meninggalkan mereka.

Ririn terdiam mendengar ucapan Tarjo. Membenarkannya. Dia tahu tentang itu saat ibunya berbicara dengan Roni sebelum meninggal.

Pijat Refleksi Yuk

| on
Kamis, Maret 14, 2013
credit


Jadi ibu itu kan capek sekali ya.. Setuju kan buibu sekalian? Saya neh ya, meskipun paginya nggak ngasuh si Arya karena saya mengajar, dan si Arya diasuh sama neneknya, dan baru bener-bener intens ngasuh si Arya dari sepulang ngajar sampai mau besoknya sebelum berangkat kerja, tapi rasa capek itu kerasa banget lho.

Apalagi sekarang Arya lagi kelebihan energi yang bisa bikin dia seharian riwa-riwi melulu kaya setrika *kecuali kalau dia lagi tidur*.

Saat Selamat Terlepas

| on
Senin, Maret 11, 2013


Malam lalu, terasa sebuah sentuhan lembut di kakiku. Membangunkanku. Terasa dingin ketika tersentuh di tepian kulitku, pahamu yang terbungkus gips memanjang sampai tumit. Rintihan teralun. Gesekan kecil antara ujung kukumu yang menghitam karena oli pabrik dan kulitmu yang merantak karena panas, menciptakan garis-garis putih penanda garukan.

Gatal, katamu.

(Flash Fiction) Fenina

| on
Senin, Maret 11, 2013


Dear Fenina,

“Kurang ajar, dia sudah berani memanggil namaku tanpa embel apa-apa.” Umpatku dalam hati. Tapi tetap saja aku lanjutkan membaca isi surat yang tadi pagi dia selipkan di tanganku saat kami berpapasan.

Sungguh aku sayang padamu.
Tak ada yang bisa aku ucapkan lagi selain ini. Ribuan kali, pasti aku ucap. Meskipun selalu kamu menolakku, tapi tetap, wajah ketusmu itu kurindukan.
Tak ada pinta lain untukmu, selain maukah kamu jadi kekasihku?

Kuakhiri membaca surat itu. Kulempar begitu saja di atas meja kerjaku. Itu sudah surat kedelapan yang aku terima darinya selama aku mengenalnya 4 tahun ini. Tapi tetap, tak mungkin aku terima cintanya. Cinta yang salah.

Aku 40 tahun, dia 27 tahun. Aku ibu tirinya, dia anak tiriku. Aku Fenina, dia Della.

____

Tulisan ini diikutkan dalam event #postcard fiction edisi valentine yang diadakan oleh Kampung Fiksi

Hari Bersamamu

| on
Senin, Maret 11, 2013


Bersamamu, sungguh berbeda.
Menghimpun segala serpihan cita masa depan.
Bersama.
Semoga badan yang semakin menua ini selalu mampu menikahimu dalam waktu yang tak bisa tertafsir ujungnya.

Menemanimu, sungguh berbeda.
Merasakan candamu yang terlempar spontan,
Menerima usilmu dengan mata terbelalak,
Menelan marahmu bersama tangis yang terhempas lepas.
Serasa mewarnai dinding hati dengan gabungan warna yang tersedia di kaleng cat bernama emosi.

Custom Post Signature

Custom Post  Signature