Sesaat ketika aku akan melangkah keluar dari
rumah tua yang sangat menyeramkan ini, aku mendengar suara derik dari pintu
yang terbuka. Aku menoleh. Berusaha mengamati dalam kegelapan dengan
memincingkan mataku untuk memastikan paklek Man ada di sana.
Tapi tak kulihat ada siapa-siapa di sana.
Dengan ragu, kuputuskan untuk memeriksa saja
siapa yang membuka pintu kamar itu, yang lokasinya berdekatan dengan ruang
makan. Syukur-syukur kalau pintu tadi terkena angin atau yang menggerakkan
pintu itu benar-benar adalah paklek Man. Senter yang kupegang, mulai redup
pelan-pelan karena, payahnya, aku lupa mengganti baterainya sebelum melakukan
petualangan menyeramkan ini bersama paklek Man.