Jumat, 18 Juli 2014

Peduli dan Berbagi secara Ikhlas

credit
Bulan Ramadhan sudah terlalui setengahnya, dan tentunya, tiap kita masing-masing pasti memiliki hikmah tersindiri saat melewati bulan Ramadhan. Hikmah yang bisa kita ambil dari suatu kejadian atau hikmah yang kita dapatkan dari orang lain.

Tak hanya teman-teman sekalian, saya pun mendapatkan banyak hikmah di bulan Ramadhan tahun ini. Di awal Ramadhan, saya dan suami sudah didera masalah besar, tapi Alhamdulillah bisa teratasi dengan baik meskipun hasilnya masih belum bisa dengan instan kami peroleh. Caranya? Tentu dengan berusaha sebaik mungkin untuk menebalkan keikhlasan, rasa sabar dan rasa syukur meskipun dengan tertatih-tatih. Ah, kok malah curcol di sini ya? Setidaknya saya mau berbagi pengalaman saja.


Berbagi? Ya, dalam hidup manusia selalu berusaha untuk berbagi pada sesama. Siapa pun itu. Karena kemampuan berbagi itulah yang menunjukkan seberapa baik orang itu peduli pada yang lainnya. Berbagi pada siapa? Siapa saja, baik pada manusia, pada hewan atau pada tumbuhan. Dan dalam berbagi, ada satu sosok yang membekas di hati saya selama lebih dari 4 tahun ini.

Namanya Halim. Saya biasa panggil dia dengan sebutan 'Mas Halim'.

Siapa dia?

Ah, bukan siapa-siapa. Dia hanya laki-laki usia 20 tahunan yang menjadi salah satu marbot masjid. Dia adalah saudara jauh saya, saudara jauh dari garis keturunan Ibu, yang sudah tinggal di kota kami selama 4 tahun lamanya. Yang selain menjadi marbot masjid, dia juga bekerja di salah satu CV penyedia tenaga kerja dan saat ini ditempatkan di salah satu pabrik pupuk terbesar di kota Gresik.

Lalu, apa hebatnya?

Kalau dia dibilang hebat, selalu nggak pernah mau. Bilangnya selalu begini, "Mbak, aku iki gak hebat. Cuma beruntung."

Eh, beruntung?

"Ya karena keluarga sampean mau nerima aku," jawabnya kala itu.

Kok bisa nerima?

Singkat saja ya ceritanya. Sejak kecil, Mas Halim tak pernah tahu bagaimana wajah bapaknya karena meninggal ketika ibunya mengandung dia diusia 4 bulan. Yang dia tahu hanyalah ayah tiri yang sekarang tinggal Sulawesi. Ibunya meninggal saat dia masih kecil. Sejak kecil sampai SMK, dia tinggal di pesantren di Banyuwangi. Tetapi karena setelah lulus SMK dia seperti tidak memiliki tempat bernaung, akhirnya Mbah Kakung saya meminta tolong Ibu untuk bersedia merawatnya.

Dengan sigap, Bapak dan Ibu berusaha untuk mencarikan pekerjaan buat Mas Halim. Alhamdulillah, masjid di perumahan saya membutuhkan marbot karena kekurangan tenaga. Tetapi karena dipikir-pikir lagi penghasilan dari menjadi marbot masjid dirasa kurang untuk masa depannya, Mas Halim dicarikan pekerjaan oleh ketua ta’mir masjid dan Alhamdulillah lagi, dia bisa menjadi pegawai di salah satu CV penyedia tenaga kerja untuk lingkup industri.

Awalnya, sering kali Mas Halim mengeluh ini itu saat menjalankan tugasnya menjadi marbot. Hanya saja, sering kali juga Bapak dan Ibu memberi nasehat supaya memasukkan rasa ikhlas dalam bekerjanya karena akan menjadi ladang pahalanya. Dan tampaknya, berjalannya waktu, keinginan untuk terus ikhlas itu semakin terpupuk.

Keikhlasan yang semakin terpupuk itu tampak dari semakin giatnya dia bekerja merawat masjid. Pun juga dalam membantu orang lain. Semisal saja, saat pemotongan hewan Qurban, Mas Halim yang paling akhir membersihkan alat-alat yang digunakan saat pemotongan hewan Qurban dan membersihkan area kegiatan. Atau, pada saat Ramadhan, Mas Halim yang paling awal menyiapkan ta’jil (disamping dibantu oleh pengurus masjid) dan membersihkan area makan ta’jil dan peralatan yang digunakan. Atau, saat sahur di setiap hari Rabu, Mas Halim menyediakan makan sahur dan teh hangat untuk ustadz pengisi pengajian subuh yang bermalam di masjid supaya beliau tidak terlambat memberi tausiah. Atau, pada saat pembagian zakat, Mas Halim dengan giat membantu pelaksaan zakat sampai pada pembagian zakat sampai ke pelosok-pelosok. Dan masih banyak lagi keikhlasan yang lainnya.

Saat membersihkan halaman masjid :)


Saat membantu pembagian ta'jil :)

Ini lho orangnya :)
Namun tetap saja, tiada gading yang tak retak. Segiat-giatnya dia mengerjakan tugasnya dan membantu orang lain, pastinya tetap saja ada orang lain yang tidak suka padanya karena dianggap pekerjaannya masih dianggap kurang baik. Tempat curhatnya? Tentunya pada keluarga kami. Namun tetaplah Bapak dan Ibu kembali pada prinsip ikhlas yang sedari awal selalu ditanamkan dalam bekerja.

Kadang iseng saya ungkit-ungkit masalah dia yang berhubungan dengan orang lain itu. Jawabnya singkat, “Aku malas, Mbak, memperpanjang masalah-masalah seperti itu. Aku nggak mau masalahku ini berimbas ke keluarga Bapak, Mbak. Soalnya nanti nama Bapak sama Ibu jadi ikutan jelek juga.”

Bersama Kita Sebarkan Kebaikandengan #SemangatBerbagi. Ikuti acara puncak Smarfren #SemangatBerbagi tanggal19 Juli 2014 di Cilandak Town Square Jakarta



2 komentar:

  1. Assalamu'alaikum...
    Terima kasih sudah berbagi cerita inspiratif ini, ya!
    Good luck! ^_^
    Emak Gaoel

    BalasHapus

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^