Senin, 05 Agustus 2013

Peran Orangtua Terhadap Penggunaan Mobile Internet pada Anak

http://craigpearce.info/marketing/mobile-web-is-more-important-than-apps-for-business-communication/

Teknologi saat ini sudah menjalari kehidupan kita sebagai usernya. Kenyamanan yang ditawarkan dari sebuah teknologi, mulai menjadi candu bagi sebagian orang. Bukan saja bagi orang dewasa saja, tapi juga bagi anak-anak. Dan salah satu teknologi yang mulai menjadi candu bagi anak-anak adalah internet.

Saat saya remaja dulu, internet diperkenalkan dalam bentuk PC dan masih belum banyak model modem yang ditawarkan oleh para penghasil teknologi. Sehingga hal ini memaksa saya (dan mungkin remaja lain seumuran saya) untuk mengenal yang dinamakan warnet jika ingin berinternet atau sekedar chatting di MIRC. Berbeda dengan anak-anak dan remaja saat ini. Semakin besarnya mobilitas manusia dan sedikitnya waktu luang yang dimiliki, memunculkan teknologi baru yang dinamakan mobile internet. Dan anak-anak mulai akrab dengan istilah itu.


Semua dalam genggaman. Istilahnya begitu. Tinggal memiliki perangkat keras yang bisa dibawa kemana-mana dan terhubung dengan internet, semua informasi sudah bisa kita dapatkan. Semua kesenangan sudah bisa nikmati. Semua kemudahan sudah menjadi sahabat dikehidupan kita.

Pengenalan mobile internet pada anak-anak dikarenakan para pemilik website sudah melempar di pasaran versi mobile websitenya, yang mana versi mobile ini bisa diakses dengan hanya sekali menekan tombol search di handphone. Di sisi lain, pengenalan mobile internet ini bisa saja berubah menjadi kebutuhan hidup saat anak-anak mulai diberi handphone atau tablet oleh orangtuanya dengan alasan klasik, untuk komunikasi.

Penggunaan mobile internet pada anak-anak akhirnya membawa mereka untuk mengenal yang dinamakan media sosial seperti facebook dan twitter versi mobile. Masa anak-anak yang penuh dengan dinamika pertemanan, menempatkan media sosial menjadi hal yang menarik dalam kehidupan mereka. Menulis status, membalas komentar pada status mereka, menjalin hubungan pertemanan yang lebih luas,adalah hal-hal menarik yang ditawarkan oleh media sosial.

Hingga pada akhirnya, anak-anak semakin lihai 'bermain' media sosial dan kita sebagai orang tua akhirnya melakukan perannya sebagai pengawas aktifitas mereka di dunia maya. Mengapa?

Sudah tak jadi rahasia lagi bahwa di dunia maya ini memiliki banyak predator yang menganggu kenyamanan pengguna dunia maya. Seperti pencurian data pribadi, pelecehan melalui tulisan, hingga pada penculikan di dunia nyata. Kekhawatiran pada predator dunia maya inilah yang akhirnya menjadi alasan utama bagi orangtua untuk selalu mengawasi mobilitas anak-anaknya di dunia maya.

Berdasarkan pengalaman saya sebagai guru bimbingan dan konseling di sekolah menengah tingkat pertama, ada beberapa hal yang hendaknya dilakukan oleh orangtua sebagai wujud pengawasan yang efektif kepada anak-anaknya.

1. Selalu belajar tentang perkembangan teknologi terbaru.
Tidak perlu mendetail untuk belajar tentang teknologi yang paling up to date. Kita tak akan bisa mengikutinya karena banyaknya hal-hal lain yang kita pikirkan sebagai orangtua. Dan saya yakin, itu saja sudah menguras tenaga dan emosi. Cukup ketahui saja apa yang sedang up to date, pelajari sejenak sisi positif dan megatifnya bagi perkembangan anak lalu serahkan sisanya pada search engine jika kelak kita membutuhkan.

Artinya begini, tak ada orangtua yang berhenti belajar tentang dunia anaknya. Eksplorasi terus kemampuan kita sebagai orangtua supaya kita tak tertinggal dengan informasi-informasi yang terkadang 'hanya si anak dan teman-temannya saja yang tahu'. Bekal ini akan memudahkan orangtua saat berbicara dari hati ke hati jika suatu saat anak kita mengalami masalah yang berhubungan dengan mobile internet. Dan tentunya, akan mengurangi kesan gagap teknologi pada orangtua.

2. Memberi tahu anak informasi mana yang layak untuk dibagikan, dan mana yang hanya mereka dan orangtua saja yang tahu. 
Hal ini bisa dilakukan dengan beberapa cara, seperti tidak sembarangan memberitahukan password akun media sosial mereka, tidak secara gamblang mencantumkan identitas pribadi dalam akun media sosial dan tidak menuliskan rencana liburan dan waktunya. Mungkin larangan ini akan menimbulkan sedikit konflik dengan anak karena anak dilarang untuk 'pamer' sebagai bentuk eksistensi diri di depan teman-temannya. Namun, tetap berikan alasaan yang dapat diterima si anak mengapa mereka harus tetap menjaga rahasia-rahasia pribadi mereka pada publik.

Sebagai pembelajaran, beberapa bulan yang lalu saya menangani masalah siswa saya yang berhubungan dengan media sosial. Singkat cerita, teman-temannya menggunjing dia karena memasang foto syur di akun facebook miliknya. Sedangkan dia datang ke saya dan menangis-nangis karena tidak merasa memasang foto tersebut. Akhir cerita, ternyata kejadian ini disebabkan oleh kelalaian dia menaruh alamat email dan password akun facebooknya, yang akhirnya dihack oleh orang lain.

3. Selalu memberikan ketegasan pada anak kita untuk tetap mengungah foto-foto yang sopan. Berikan penjelasan pada si anak bahwa orang lain bisa saja menyalahgunakan foto-foto yang sifatnya tidak baik, apalagi jika akun si anak tidak diberi proteksi maksimal.

4. Ajari anak kita cara-caranya untuk memproteksi akun media sosial mereka dengan hasil maksimal.
5. Tegaskan pada anak kita untuk berhati-hati dalam menerima pertemanan. Ajarilah untuk selalu mencermati dulu profilnya sebelum menerima pertemanan. Jika memang meragukan, lebih baik ditolak saja. Berilah pengertian bahwa lebih baik memiliki teman yang sedikit namun mengenal baik daripada teman banyak namun tidak saling mengenal.

6. Bertemanlah dengan anak anda di dunia maya. Tujuannya adalah memantau namun jangan terlalu berlebihan. Posisikan diri kita di dunia maya mereka sebagai teman bukan sebagai orangtua yang memiliki aturan yang ketat. Jika anak kita salah, jangan semena-mena memarahi mereka di media sosial tapi tegur mereka di dunia nyata. Kita tidak mau kan dihapus sebagai teman di media sosial mereka hanya karena kita terlalu cerewet?

7. Tetap sampaikan pada anak kita bahwa di dunia maya pun mereka harus berbicara dengan bahasa yang sopan dengan siapapun. Baik saat menulis status, membalas status, berkomentar, dan lain sebagainya. Hal ini akan mengurangi perselisihan yang mudah terjadi di dunia anak-anak.


8. Tetap batasi penggunaan handphone atau tablet pada anak. Alihkan perhatian mereka dengan hal-hal menarik selain gadget sebagai bentuk pemberdayaan kemampuan sosial dan ketrampilan. Misalnya, ajak role playing, berkebun, membuat suatu kreeasi, dan lain-lain.

Demikian tips dari saya, semoga ini bisa bermanfaat untuk menghadapi anak-anak kita yang sudah masuk di era teknologi modern. Juga bisa membantu kita untuk tetap mengasah kemampuan bersosialisasi mereka.

6 komentar:

  1. mantap nih tipsnya.
    kalau mengatasi masalah pornografi di dunia internet gimana?

    BalasHapus
  2. setuju miss, penggunaan ponsel dan tablet harus dibatasi, sayangnya saya sering lihat orangtua malah bangga anaknya bawa2 benda canggih itu

    BalasHapus
  3. kl era gdaget gini orang tua memang sebaiknya jgn gaptek :)

    BalasHapus
  4. iya bener miss rochma. ortu hendaknya jadi temen anak di socmed mereka. jadi bisa tetap memantau perkembangan anak2 mereka. kalo aku, bahkan selain berteman dengan anakku, aku juga berteman dengan teman-teman anakku dan bahkan sekarang berteman juga dengan orang tua teman-teman anakku... xixixixi... dan kami para orang tua suka ngerumpiin anak2 di inbox jadi up date apa yang terjadi di lingkungan anakku

    BalasHapus
  5. hmm... ini bisa ditiru mbak.. memang harus gitu ya. biar ortu nggak kebablasan taunya saat si anak terkena masalah :)

    BalasHapus
  6. Meskipun anakku msh kecil,,tp perkembangan teknologi n informasi emank bikin parno di smpg sangat bermanfaat juga. Mg2 kl anakku udah gede nanti aku bs memantau penggunaan internet dgn bijaksana (tdk berlebihan tp sesuai porsinya :) susah y mak)

    BalasHapus

Jangan lupa kasih komen setelah baca. Tapi dimoderasi dulu yak karena banyak spam ^____^