Blog milik Ria Rochma, blogger Gresik, Jawa Timur. Tulisan tentang parenting, gaya hidup, wisata, kecantikan, dan tips banyak ditulis di sini.

Acer Aspire E1-432, Notebook Tipis Dengan Spesifikasi Lengkap Dan Harga Bersahabat

| on
Kamis, Oktober 24, 2013

Bagi sebagian masyarakat berpendidikan, guru sudah dipandang sebagai profesi yang membutuhkan notebook atau PC dalam proses belajar mengajar. Memang, dua alat elektronik itu tidak selalu kami pakai setiap saat namun ada saat-saat tertentu seorang guru sebenarnya membutuhkan notebook atau PC. Misalkan saat mengikuti seminar, pelatihan, atau menjelaskan materi di kelas. Begitu juga dengan saya sebagai guru bimbingan dan konseling. Terus terang, saya memang jarang menggunakan notebook untuk menjelaskan materi pada anak-anak. Karena saat saya masuk kelas, yang saya lakukan adalah melaksanakan bimbingan kelompok. Dimana saat bimbingan kelompok ini, tidak menjelaskan suatu materi namun menyelesaikan suatu masalah yang umum terjadi pada anak didik saya.

Masalah yang nantinya saya sampaikan saat bimbingan kelompok, bisa saya sajikan dengan berbagai macam cara. Melalui diskusi pemecahan masalah, pemahaman leaflet yang saya bagikan, menonton cuplikan film dan mendiskusikannya, menampilkan slide, eksplorasi kreatifitas siswa, dan lainnya. Saat berdiskusi, notebook tidak terlalu perlu. Karena temanya bisa saya tulis di whiteboard dan saya tinggal memancing mereka dengan anchor quetion. Notebook baru saya pakai saat membuat leaflet, menampilkan cuplikan film atau menampilkan slide. Kalau sudah begini, biasanya siswa saya berantusias.

Notebook juga saya pakai saat saya menyelesaikan laporan bimbingan kelompok dan konseling pribadi. Memang ada sebagian laporan yang menggunakan tulisan tangan, yaitu saat saya mencatat masalah-masalah siswa saya di buku konseling. Namun, saat saya melaporkan hasilnya pada kepala sekolah, barulah saya menggunakan notebook untuk menghasilkan hard copy. Nggak mungkin dong saya menunjukkan draft yang acak kadut pada kepala sekolah saya. 


Kalau sudah begini, biasanya saya membawa notebook ke sekolah, hampir tiap hari. Untungnya, notebook saya yang sekaran ukurannya kecil, hanya 12" saja. Beratnya juga nggak terlalu, sekitar 3 kg saja. Ini memudahkan mobilitas saya. Mengapa? Yah, namanya juga emak-emak. Kalau pulang dari mengajar, lebih sering mampir kemana-mana buat sekedar beli kebutuhan sehari-hari atau membantu urusan eksternal suami saya. Dengan berat notebook yang ringan, pundak jadi tidak mudah capek dan langkah kaki saya juga tidak melambat.

Tapi, sejak saya kecelakaan empat bulan yang lalu dan mengalami patah tulang di siku kiri, saya jadi tidak leluasa lagi membawa notebook ke sekolah. Karena pundak saya masih belum diperbolehkan dokter membawa barang berat. Gips yang terpasang paska kecelakaan, membuat otot lengan atas saya jadi mengendur karena tak pernah dipakai beraktifitas. Kalau saya paksakan membawa barang berat baik dijinjing atau diletakkan di bahu, akan membuat letak bahu saya melorot *efek gipsnya garang banget*. Kalau saya membawa notebook ke sekolah, otomatis saya hanya menggunakan bahu kanan saja untuk membawa tas berisi notebook dan perlengkapan kerja. Itu sangat melelahkan.

Saya jadi mikir ulang buat memiliki notebook yang nggak berat-berat amat. Kebetulan juga, notebook saya yang sekarang sudah mulai gampang hang alias sering error. Saat search di google, ketemulah yang namanya Acer Aspire E1-432 yang masuk dalam
Acer Aspire E1 Slim Series yang beratnya hanya 2,2 kg saja. Nah lho, cocok banget tuh dengan kondisi saya sekarang.
Acer Aspire E1-432 

Kenapa cocok? Ceritanya begini. Waktu saya semester terakhir kuliah dulu, saya pernah punya notebook Acer Aspire 14”. Tapi tipenya apa saya lupa karena dicuri tiga tahun yang lalu. Bentuk notebook saya ini slim banget lho. Tampilannya terlihat lebih elegan, dengan warna silver yang menggoda. Sepertinya, pihak Acer memang mengkhususkan Aspire ini dalam hal bentuknya yang slim deh. Seperti halnya Acer Aspire E1-432 yang memiliki ketebalan hanya 25.3 mm. Lebih tipis 30% dibandingkan dengan notebook seukurannya. Tipis banget kan? Nggak heran kalau beratnya hanya 2,2 kg saja.
Lebih tipis 30% dibanding notebook lainnya 

Saat saya search lagi spesifikasinya di google, saya lega lagi dengan spesifikasi Aspire E1-432. Dengan ketebalan yang hanya 25.3 mm saja, notebook tipe ini tetap memberikan fitur penting yaitu optical drive. Weh, kenapa sih optical drive itu penting? Penting banget dong buat saya. Yang pertama, saya nggak perlu beli DVD-RW eksternal. Yang kedua, optical drive itu saya butuhkan saat saya membaca beberapa materi seminar atau workshop pendidikan yang biasanya diberikan dalam bentuk DVD. Yang ketiga, bisa buat nonton film. Apa nggak berat tuh notebook 14” dibuat nonton film? Nggak dong. Secara resolusinya udah tinggi lho, 1366×768 px. Ditambah lagi, Acer Aspire E1-432 juga memiliki baterai 4-cell (2500mAh). Daya tahan baterai notebook ini bisa dipastikan akan menjadi jauh lebih maksimal karena bisa bertahan sampai 6 jam (359 menit). Cocok banget buat saya saat ikuti seminar yang membutuhkan waktu lama dan cocok untuk keperluan multimedia atau bermain game sekalipun.

Saya juga blogger dan crafter yang membuat scrapbook. Sebagai seorang blogger, perlulah bergabung di grup yang mampu meningkatkan kemampuan menulis saya. Salah satunya adalah grup Kumpulan Emak-Emak Blogger (KEB). Dari KEB inilah saya mendapatkan informasi apa saja dalam dunia kewanitaan. Dan Acer Aspire E1-432 ini cocok buat emak blogger dan crafter macam saya karena juga dilengkapi dengan wireless adapter Acer Nplify 802.11b/g/n, yang bisa dipakai untuk berselancar saat ada sinyal wifi atau saat saya tidak menggunakan modem. Artinya, ngeblog berjalan baik, searching berita, searching informasi bimbingan konseling juga searching layout scrapbook nggak akan terhalangi apapun.

Acer Aspire E1-432 ini sebenarnya malah memiliki keunggulan utama lho. Apa itu? Yaitu penggunaan prosesor Intel 4th Gen terbaru, atau lebih dikenal dengan kode nama Haswell. Dan, Acer mempersenjatai notebook ini dengan prosesor Intel® Dual Core Celeron® Processor 2955U yang memiliki dua buah inti (dual core) dan berjalan pada kecepatan 1.40 GHz.
Ini yang warnanya silver 

Kenapa prosesor ini penting? Karena prosesor ini sudah menggunakan arsitektur Haswell (22nm) yang dapat bekerja sangat efisien dengan TDP hanya 15 Watt saja. Ditambah lagi penggunaan baterai yang bisa tahan sampai 6 jam. Prosesor ini juga terintegrasi dengan Intel HD graphics terbaru. Yang artinya nih ya, aktivitas multimedia, aktifitas berselancar atau bermain game, bisa terpenuhi dengan baik.

Awalnya saya khawatir dengan harga Acer Aspire E1-432 kalau saya jadi memilihnya. Khawatir harganya mahal. Hihihi. Tapi ternyata nggak lho! Harganya terjangkau sekali untuk spesifikasi notebook yang lengkap seperti itu. Berapa? Pihak Acer Indonesia hanya membandrol dengan harga Rp.4.749.000,- saja. Mana dapat garansi pula servis 3 tahun pula kalau belinya sebelum tanggal 31 Oktober 2013 *liat kalender*.

Wah, saya jadi tambah gregetan liat ini notebook. Gregetan ingin cepat beli. Yuk ah, rayu si Papa buat belikan.

**

“Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia.”

Wisata Murah di Kebun Teh Wonosari, Malang, Jawa Timur

| on
Selasa, Oktober 22, 2013

Seminggu yang lalu, saat ada momen cuti bersama hari raya Idul Adha, saya dan keluarga mertua pergi berlibur ke Kebun Teh Wonosari yang letaknya di Lawang, Malang. Sebenarnya ada dua alternatif tempat berlibur yang mau kita kunjungi. Di Songgoriti, Batu atau Kebun Teh Wonosari ini. Setelah rundingan, kita akhirnya sepakat Kebun Teh Wonosari saja deh. Hm, udah ngga rahasia lagi kalau Malang itu jadi tempat tujuan wisata saat liburan dan itu bakal macet banget. Kalau mau ke Songgoriti, kita kudu melewati tiga titik rawan macet yaitu pasar Lawang, pasar Singosari dan Karang Lo. Sedangkan kalau ke Kebun Teh Wonosari hanya melewati satu titik saja yaitu pasar Lawang. Dan lagi, saya sudah pernah ke Kebun Teh Wonosari, jadi recommend banget buat kesana.


Rundingan selesai, waktunya pesan kamar. Maunya kita pesan villa yang empat kamar, ternyata udah penuh. Padahal masih sepuluh hari sebelum hari H. Daripada milih ke Songgoriti, akhirnya kita jadilah pesan villa tiga kamar dengan tambahan dua bed tambahan. Hm, besok-besok kudu pesen jauh-jauh sebelumnya ya.

Hari H. Kita berangkat dua mobil. Mobil mertua dan mobil Papa. Maunya kita sih, berangkat bareng gitu, sekitar setengah dua siang setelah saya dan adik ipar saya pulang kerja. Lha kok ternyata, Papa baru pulang dari pabrik (pabrik trouble itu kudu disiapin tang yang banyak *gregetan*) sekitar setengah satu, barengan sama saya. Walhasil, mobil mertua berangkat dulu buat jemput adik ipar yang di Krian, Sidoarjo, sedangkan yang ikutan mobil Papa berangkat habis sholat Asar. Awalnya sih lancar jaya, sampai akhirnya masuk tolTandes, padat merayap kendaraannya. Huwaaa.. alamat macet banget ini. Ternyata, ada truk yang terbakar di km 21 tol Waru. Alhamdulillah, setelah itu lancar jaya sampai tujuan *pijat kaki Papa*.

Masuk ke Kebun Teh Wonosari saat malam itu kesannya angker dan bikin jantung deg-deg ser. Jalan udah dingin, gelap, sempit, berliku, jauh juga ternyata dari persimpangan masuk di pasar Lawang. Kudu hati-hati banget *banyak baca sholawat*. Tapi setelah sampai di lokasi, rame banget. Kendaraan dari motor, mobil sampai bus, sudah memenuhi lapangan parkir dan halaman tiap-tiap villa.

Perjalanan 6 jam hilang akhirnya setelah mertua memberi hidangan di atas meja. Daripada beli, mertua memilih membuat makanan sendiri di rumah dan dibawa lokasi. Santai sejenak dan mengajak Arya tidur karena sudah malam. Tapi ya, namanya tiap hari di rumah Arya cuma ketemu beberapa anggota keluarga saja, pas di sana jadi nggak mau-mau tidur. Setelah tidur di mobil pas perjalanan tadi, lalu ketemu sama banyak orang yang pada liat Indonesia lawan Korea, walah, tidurnya jadi molor. Adegan rewel pun dimulai karena mungkin badannya capek tapi nggak bisa segera mulai tidur *sabar, sabar, lap keringat*. Kasihan Papa juga, nggak bisa segera istirahat. Dan setelah bergelut dengan esmosi jiwa, akhirnya Aryatidur-tidur sendiri sekitar setengah 12!!! *geleng-geleng*.

Paginya, kita pada belum mandi gegara dingin (gegara air panas nggak keluar), sudah pada main-main di taman. Naik komedi putar, liat-liat burung dalam sangkar, liat kolam ikan, foto-foto *abaikan muka tanpa make up*. Maunya liat sekitaran pabrik pembuatan teh, tapi karena ada empat bapak polisi tanpa senyum lagi berdiri dekat situ, keder juga mau kesana. Ceritanya, lagi ada kegiatan jalan sehat keluarga polres Malang gitu lah.
Arena bermain ^^
Arya heboh liar burung sebesar itu :)))
Capek bermain, liat ikan sama Papa jadi andalan :))
Nggak berani ke arah pabrik gegara bapak-bapak ini mukanya sangar :))

Oh ya, Kebun Teh Wonosari ini merupakan proyeknya PTPN XII yang memang menangani perluasan produksi teh dan mendistribusikannya. Berdiri tahun 1910 dan memproduksi teh celup dengan nama teh Rolas. Waktu saya masih SMA dulu, pernah studi wisata ke sini. Lihat saat panen teh, cara meremajakan pohon teh, memproduksi teh dan cara penyajiannya. Tapi detailnya saya sudah lupa, sudah sepuluh tahun yang lalu *maafkan*. Mungkin karena melihat semakin semaraknya wisata ke daerah dingin, akhirnya pihak Kebun Teh Wonosari merekontruksi lokasi wisatanya. Dalam sepuluh tahun itu, saya lihat banyak banget perubahannya. Mulai perbaikan villa yang semakin oke sip, permainan yang banyak banget macamnya, lokasi parkir yang semakin luas, dll. Semakin sering dikunjungi, semakin banyak yang tahu tentang lokasi wisata ini dan tentunya tahu juga dengan teh Rolas.

Penanda ketinggian :)

Oke, kembali ke cerita saya berlibur. Setelah mandi dan sarapan, saya, Papa dan Arya jalan-jalan ke koperasi buat beli oleh-oleh kemudian lanjut ke lokasi jual makanan. Setelah dapat bakso dan telur puyuh kecap buat makan siangnya Arya, kita balik lagi ke villa. Maunya sih menidurkan Arya, soalnya udah waktunya dia tidur. Tapi pas lihat para tante dan omanya mau berenang, ngintil juga dia. Ya.. Harus rela lagi ke tempat jual makanan karena lokasi kolamnya sekitaran situ. Hah, ambil nafas dulu. Sambil bawa baju ganti, cemilan dan susu punya Arya, ngikut juga saya dibelakang mereka dengan langkah tertatih *maaf lebay* karena Papa memilih tidur karena ntar bakal nyetir lagi.

Pas mau belok ke lokasi kolam, kereta kelinci pun lewat dan Arya minta naik. Uhuk, bolehlah. Secara tadi pagi saya belum sempat keliling di kebun tehnya buat liatin ibu-ibu panen teh. Akhirnya, saya, Arya, Oma dan Oya (mertua laki-laki saya) naik kereta duluan sebelum berenang. Nggak lama sih naik keretanya, hanya 10 menit. Tapi kita sudah diajak keliling melihat lokasi-lokasi penting di sana. Seperti kebun teh, prasati 100 tahun berdirinya kebun teh, liat ibu-ibu panen, gudang penyimpanan pestisida, villa-villa, rumah para pekerja, kebun binatang mini, perkemahan, lokasi outbond dan pohon-pohon teh yang diremajakan. Asyik. Kalau dipikir-pikir, butuh waktu seharian dan kaki tahan pegel buat kelilingi semua lokasi *terima kasih kereta kelinci, sayang*.

Saat di kereta, Arya nutup mukanya pakai tangan. Saya kira karena terpaan angin yang kencang, ternyata dia tidur! Memang sekarang Arya punya kebiasaan baru sih, menutup mukanya pas mau tidur kalau matanya kena silaunya matahari atau kena lampu yang terang banget. Tapi ya gitu, akhirnya acara tidurnya Arya terganggu juga dengan berhentinya kereta yang mengharuskan kita turun. Hap! Arya minta gendong terus deh sampai lokasi renang. Males jalan sudah.

Kolamnya lumayan besar kok. Buat dewasa dan anak-anak ^^

Untungnya, Arya nggak mau renang. Dibujuk model apapun, dia dah ilang mood. Hore!! sayanya yang senang. Arya mau patuh sama saya buat diajak balik ke villa buat tidur siang. Dia tidur, saya beresin barang-barang karena mau check out dan sayanya ngga takut Arya rewel karena jadwal tidurnya ngga terganggu. Ingat ibu-ibu, jadwal tidur balita itu penting. Patuhi itu, meskipun kita sedang berlibur. InsyaAllah balita kita nggak akan rewel dan tumbuh kembang otaknya bagus karena badannya ngga gampang capek.

Karena jam dua kita sudah harus check out, walhasil kita makan siang juga harus cepat-cepat. Nasi goreng pas sarapan tadi yang belum dimakan, dilahap juga. Saya, Papa, Arya, habisin nasi goreng telur. Arya malah pintar, makan sendiri nasi gorengnya dan bakso. Karena Arya termasuk anak yang makannya lama, akhirnya makannya dia berlanjut di mobil. Sambil ngemil telur puyuh. Biarlah, yang penting habis *senyum kemenangan saat Arya lagi GTM*.

Begitulah saudara-saudara kisah perjalanan saya *halah* ke Kebum Teh Wonosari, Lawang. Recomend banget!! Sewa villanya murah, lokasinya bikin otak, mata dan badan segar, banyak lokasi permainan buat anak-anak dan harga oleh-olehnya murah. Pas banget buat wisata keluarga. Selamat mengunjungi ^^.

(Cerfet #MFF1) : Gejolak Masing-Masing Hati

| on
Jumat, Oktober 18, 2013
credit

CERITA SEBELUMNYA :
Satu | Dua | Tiga | Empat | Lima | Enam | Tujuh | Delapan | Sembilan

***

"Kamu panggil dia apa, Al? Mama?" tanya Dio pada Alya. Masih dengan rasa kaget yang luar biasa menghujam, dia menoleh pada Ratih. "Dia anakmu?"

Alya dan Ratih sama-sama terdiam. Bertanya pada masing-masing hati yang tak mungkin memberikan jawaban pasti. Ketiganya bergejolak, namun saling keras berusaha menutupi tingkah yang semakin salah. Dari ketiganya, hanya Ratih yang tak memahami bahwa nyatanya ada benang kusut melingkari pinggang mereka bertiga dengan erat.

"Oh iya Dio, Alya ini anakku." Ratih menjelaskan dengan masih menyungging senyum. Mengelus-elus lengan atas Alya. "Anakku satu-satunya. Anak kebanggaanku."

Alya dan Dio saling pandang, tak lama. Kikuk.

"Alya ini baru mulai kuliah S2, lho. Lulus S1-nya barusan saja. Sebenarnya kusuruh magang dulu di tempatku, atau setidaknya kerja di mana gitu. Tapi dia ngotot pengen kuliah lagi. Ya sudah."

Alya menoleh pada Ratih, memeluk pundaknya kemudian menciumnya. "Ma, udah ah. Malu sama pak Dio." Alya pura-pura merajuk dan menggunakan kata 'pak' yang terasa mengganjal di lidahnya.

"Untuk apa malu, Sayang? Kalau nyatanya memang kamu seperti itu?"

Mendapat pertanyaan seperti itu dari Ratih di depan Dio, membuat Alya dongkol. Selama dirinya dekat dengan Dio, dia selalu berusaha untuk menjadi perempuan yang berani dan mandiri. Karena dia menyadari perbedaan umur di antara mereka haruslah terhubung oleh sikap yang tak kekanak-kanakan.

"Oh ya, kalian sudah saling kenal?" Ratih akhirnya bertanya pada Dio dan Alya. Menoleh bergantian pada kaduanya. Pertanyaan yang akhirnya muncul juga, tapi bukanlah pertanyaan yang harus ditunggu.

Alya salah tingkah, pun juga Dio. Wajah Alya nampak kegugupan, matanya berkedip-kedip, mulutnya membuka-menutup seolah hendak mengucapkan sesuatu namun bimbang.

"Ng, kami.." ucap Alya sambil menatap Dio sesaat.

"Beberapa kali Alya meminta perusahaanku untuk menjadi sponsor di kegiatan perkuliahannya. Dia perempuan yang menonjol, energik. Lebih menarik perhatian daripada teman-teman perempuannya. Haha.." Dio menjelaskan dengan diselingi candaan. Mencairkan suasana yang sebenarnya membeku namun tak ketara.

"Ya, Alya memang energik. Seperti Papanya," ucap Ratih dengan senyum lebar. Alya ikut tersenyum, kemudian mengaitkan lengannya di pinggang Ratih dan menaruh kepalanya dipundaknya. Sedangkan Dio, hanya bisa memoles senyum seapik mungkin. Menutupi cemburu yang ternyata masih tersisa meskipun hatinya sudah beku karena cinta yang tak berjalan mulus.

"Ini lho Al, teman yang pernah Mama ceritakan dulu." ucap Ratih tiba-tiba sambil mengerlingkan mata. Alya tersenyum, dibuat-buat. Karena sejak awal dia mengetahui bahwa laki-laki yang ada di buku harian mamanya adalah Dio, hatinya selalu gundah.

"Kalian pernah membicarakan aku?" tanya Dio, sambil memiringkan kepalanya saat melirik Ratih. Namun Ratih hanya tertawa ringan.

"Urusan wanita ya." kilahnya. Kemudian Ratih dan Dio bersama tertawa, meskipun tak terbahak-bahak. Membuat cemburu muncul di pikiran Alya.

"Udah yuk Ma, berdiri di sini. Nggak seru tuh pestanya ditinggal." Alya melepas pelukannya dan menarik Ratih menuju tengah ruangan. Dio mengikuti, namun tak lagi meletakkan lengannya di pinggang Ratih yang masih langsing meskipun wajahnya sudah nampak ada keriput.

Suasana pesta semakin semarak meskipun malam sudah semakin larut. Penampilan dari musisi jalanan dan sorakan pengunjung pesta, menambah riuhnya pesta dan membuat adrenalin meningkat. Beberapa orang mulai menggoyangkan tubuhnya dan tak mempedulikan peluh yang pelan-pelan meluncur dari tubuh bagian atas. Ratih menikmati malam ini. Selain disebelahnya berdiri laki-laki idaman hatinya, pun juga karena lama Ratih membentengi diri dari riuhnya dunia dan memilih menenggelamkan diri dalam berkas-berkas kasus para kliennya.

"Ma, aku ambilkan minum ya?" Alya menawarkan bantuan pada Ratih. Dia sebenarnya tak ingin berlama-lama di samping dua orang terdekat dalam hidupnya itu. Ada cemburu yang belum matang.

Alya sengaja tak mengambilkan cepat-cepat minum untuk Ratih. Yang ingin dilakukannya sekarang adalah memperhatikan mamanya dan Dio. Gestur tubuh keduanya yang sejenak kaku dan saling membatasi, sejenak lagi tarik-menarik namun masih malu. Tingkah mereka seperti dua kekasih yang lama tak bertemu namun tak segera mengurai kerinduan. Alya bukan anak kemarin sore yang tidak menyadari bahwa mamanya sedang bahagia berjumpa kembali dengan lelaki pengisi masa lalunya itu.

"Alya, kok bengong?"

Alya menoleh, Salsa -sahabat karibnya- sedang berdiri di samping seorang musisi jalanan yang tadi dia lihat tampil dengan memukul genderang.

"Hai Sa."

"Keluar yuk. Bosan." Salsa mengajak. Tak perlu waktu lama Alya menyetujui. Dirinya sekarang hanya ingin keluar dari hiruk pikuk pesta. Meninggalkan mamanya dan Dio dalam cengkrama kebahagiaan. Pula untuk menampik kesedihan yang merajam hatinya.

Sekitar lima menit kemudian Ratih menerima pesan singkat dari Alya.

Ma, aku balik duluan ya.

Dan sekitar sepuluh menit kemudian, Dio menerima pesan singkat dari Alya yang membuatnya kaget luar biasa.

Meskipun aku tahu mama adalah masa lalumu, tak akan kuserahkan kamu begitu saja padanya.

***

Tongkat estafetnya sekarang kuberikan pada Mbak Carra ya. DL 21 Oktober 2013 ^^

Ingat, Tak Ada Hasil Belajar Yang Sia-Sia

| on
Rabu, Oktober 16, 2013
Lembaran ijasah yang harus selesai sebelum DL :)

Tak ada hal yang sia-sia dari hasil belajar kita. Tampaknya itu menjadi quote yang harus saya pegang erat. Ya, tak ada yang sia-sia. Bahkan saat kita coba-coba sekalipun.

Cerita ini sebenarnya sudah lama, sejak empat bulan yang lalu. Tapi kok saya baru punya feel baik buat menuliskannya sekarang *ketok-ketok meja*. Ceritanya begini. Sekitar bulan Juni kemarin, saya dapat titah langsung dari kepala sekolah untuk masuk dalam tim penulisan ijasah kelulusan yang terdiri dari enam orang. What? Seneng banget saya dapat perintah ini lho. Padahal tulisan saya nggak bagus-bagus amat. Meskipun saya akui bahwa tulisan saya memang rapi *kibas-kibas jilbab*.

(Flash Fiction) MFF #29 : 27 Maret

| on
Jumat, Oktober 11, 2013
credit

James memperhatikan ruangan di lantai bawah ini. Tidak terlalu luas, penuh dengan rak-rak buku berukuran besar yang tersusun rapi di sisi-sisi ruangan. Dan sebuah rak dengan tinggi sepinggang laki-laki dewasa yang terisi dengan buku-buku cerita anak-anak. Beberapa bukunya sudah tak rapi lagi, lecek di mana-mana karena seringnya dibaca oleh si pemilik toko. Disentuhnya rak yang sebenarnya masih tampak kokoh, namun sayangnya catnya sudah mulai mengelupas.

"Aku tak ingin mereka membongkar toko buku ini, James. Tempat ini terlalu berharga untuk kami," kata Emely sambil menyentuh pundak nenek Jo.

"Tapi toko ini sepi pengunjung akhir-akhir ini, Emely." James memperjelas situasi yang sedang dialami Emely dan nenek Jo saat ini. Emely sebenarnya membenarkan ucapan James, namun dalam hatinya tetap tak ingin toko buku ini pindah tangan.

"Semua karena mereka mendirikan toko buku yang lebih menarik,"kata Emely sambil memandang di seberang jalan. Di sana ramai, di sebuah toko buku besar yang lebih lengkap koleksinya dan sudah tiga minggu ini menggelar diskon sejak grand openingnya.

Nenek Jo berjalan menuju Emely, menyentuh punggungnya sejenak kemudian meninggalkan mereka berdua untuk mengurus buku-buku yang barutiba, yang hendak mereka jual hari ini. Emely memandang nenek Jo dengan pandangan sedih. Dia memahami perasaan nenek Jo jikalau toko buku ini akan benar-benar dirobohkan oleh para pengembang.

"Mungkin ada baiknya kamu menerima saran Julian,"ucap James dengan sangat hati-hati.

"Tidak! Tidak akan pernah!" tukas Emely kasar. Dia marah pada usulan James.

"Emely, tenanglah." James menyentuh lengan Emely lembut. "Cobalah berfikir jernih sejenak. Hutang kalian pada bank akan bisa kalian tutup dengan cek dari Julian."

"James, oh tidak! Aku masih belum bisa membayangkan bagaimana sakitnya kami kehilangan toko buku ini." Emely mulai terisak.

"Tapi kalian bisa membuka toko buku baru di sana," ucap James sambil menunjuk sebuah mall yang sedang dalam proses pembangunan.

"Dengan konsep toko buku seperti di mall yang juga belum tentu akan menyenangkan?"

"Kau terlalu menutup diri dengan perubahan, Emely."

"Aku tak menutup diri, James! Hanya saja toko buku ini sudah jadi hidup kami."
Bersamaan dengan Emely menghembuskan kalimatnya, James memasukkan tangannya ke saku celana. "Kapan batas pembayaran hutangmu?"

"27 Maret."

"Dua minggu lagi," batin James.

"Dan sebelum 27 Maret, aku akan usahakan apapun untuk menutup hutang itu." Emely berucap sambil meninggalkan James di tengah toko, yang biasanya digunakan Emely untuk membaca dongeng bagi para pengunjung.

Saat keluar toko, ponsel di dalam jaket James berdering. Ada nama Julian tertera.

"Sedang kuusahakan. Tak mudah mengubah keputusannya. Beri aku waktu lagi." James memohon tambahan waktu pada Julian.

"Persulit akses peminjaman Emely pada bank lain. Itu kuasamu, Julian. Akan kubuat dia menyetujui perjanjianmu."

Mengajari Anak Menjaga Diri Saat di Tempat Umum

| on
Senin, Oktober 07, 2013


Menjaga anak-anak kita merupakan hal yang harus kita lakukan terus-menerus bukan? Bukan hanya saat dia dalam kondisi bahaya namun kita juga perlu mempersiapkan mereka disaat bahaya itu tak mendatangi mereka. Penjagaan pada anak-anak, juga dilakukan saat sedang di rumah atau di ruang publik, saat sendiri atau saat ramai.

Penjagaan pada anak, sering kali luput dari kita saat kita sedang di ruang publik. Karena kadang kita merasa, suatu tempat yang disediakan untuk ruang publik, terutama jika ruang publik itu sudah biasa kita datangi, adalah tempat yang aman dan tidak terlalu membutuhkan pengawasan lebih.

Seperti cerita saya siang ini.

Dua hari yang lalu saya sedang antri di poli rehabilitasi medik di RSUD. Meskipun saat itu hari Sabtu, tapi rumah sakit seperti tak ada matinya. Ramai. Di depan saya duduk, ada seorang ibu-ibu muda yang memiliki dua orang anak laki-laki. Anak yang pertama, si kakak, setidaknya sudah TK B. Sedangkan adiknya, sepertinya umurnya masih 3 tahun.
Si ibu menyerahkan tugas menjaga anak pada suaminya saat mengantri di poli yang sama dengan saya.

Anak- anak yang sepertinya tidak nyaman di jaga ayahnya, memilih untuk berlari-lari di koridor rumah sakit. Supaya tenang, akhirnya ibunya membelikan mie instan di kantin rumah sakit 'mungkin' dengan tujuan supaya anak-anaknya tidak berlarian di koridor rumah sakit. Namun tetap saja, setelah mie habis, anak-anaknya terus saja berlarian kesana-kemari dengan berteriak-teriak.

Si ibu yang sepertinya tidak bisa banyak bergerak, meminta si ayah untuk lebih menjaga lagi anak-anaknya. Dari obrolan suami istri ini, akhirnya si ibu memanggil si
kakak. Saya pikir untuk dimintai tolong menjaga si adik. Ternyata tidak!

Si Kakak malah dipukul kepalanya menggunakan botol air minum, berulang-ulang. Sambil berucap begini, "Kamu itu, disuruh jagain adik nggak mau. Jangan ikut-ikutan adik."

MasyaAllah! Si kakak dipukul di kepala, berulang-ulang, di depan umum pula.

Kami yang sedang mengantri hanya melongo saat itu. Bahkan ada beberapa ibu-ibu yang memalingkan wajah dengan maksud mungkin tidak tega pada si kakak karena pukulan si ibu.

Saya pikir drama itu berhenti sampai di situ. Agak lama, si adik malah menirukan perilaku ibunya. Memukul kepala kakak berulang-ulang. Bahkan saat si kakak berdiri dan si adik tak bisa menggapai kepala si kakak. Si adik memilih melompat supaya bisa memukul si kakak. Orangtuanya? Diam saja. Hingga akhirnya ada seorang ibu-ibu paruh baya menegur si adik supaya tidak memukul si kakak, terutama di bagian kepala. Baru si ibu menarik tangan si adik dan memisahkan mereka berdua. Ya Allah.

Saya pikir, drama itu pun juga selesai sampai di situ. Saat saya sudah selesai menjalani fisioterapi,saya lihat dua anak ini ada di dalam ruang poli dan berlarian di lorong ruangan poli sambil teriak-teriak. Saya tegur baik-baik bahwa yang mereka lakukan itu bisa menganggu orang lain yang sedang menjalani terapi, barulah si kakak tergerak untuk memangku adiknya.

Dan... saat saya mengantri toilet, saya melihat orangtua dua anak ini berjalan bergandengan tangan menuju luar rumah sakit tanpa anaknya! Entah dimana kedua anaknya. Seolah mereka tak peduli dan tetap saja asyik mengobrol menuju luar rumah sakit.

Huft... saya ambil nafas dalam-dalam.

Saya jadi teringat cerita bunda Pipiet Senja saat beliau terpisah dengan anaknya, Butet, saat berada di rumah sakit untuk kontrol rutin. Saat itu, kalau tidak salah bunda Pipiet Senja sedang mengantri untuk mendaftar. Dan Butet disuruh untuk terus di sampingnya dan terus menggandeng tangannya. Setelah urusan mendaftar itu selesai, bunda Pipiet Senja baru menyadari bahwa Butet terlepas dari genggamannya, mungkin saat beliau sedang tanda tangan. Hati beliau langsung terasa copot dan mencari Butet kesana-kemari. Bahkan saat itu sudah dibantu satpam dan disiarkan melalui bagian informasi. Tak bisa saya bayangkan, kondisi beliau yang saat itu butuh transfusi darah, malah kebingungan mencari anaknya.

Alhamdulillah, Butet ditemukan oleh salah satu perawat di ujung tangga dan dibawa ke poli tempat bunda Pipiet Senja kontrol. Perawat itu ingat pada Butet karena seringnya Bunda kontrol ke rumah sakit dengan membawa Butet.

Ah, antara ibu dua anak yang terapi bersama saya dan bunda Pipiet Senja adalah dua pribadi yang berbeda. Namun mereka memiliki kesamaan, sama-sama memiliki anak yang masih kecil.

Kembali bahwa anak-anak adalah titipan Tuhan yang mana kita memiliki tanggung jawab di sana untuk menjaganya. Ya, bukan saja menjaga mereka saat sedang menghadapi bahaya tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menghadapi situasi di luar kontrol orangtua. Semisal, saat di tempat umum.

Sekiranya, kita sebagai orangtua, guru pertama bagi anak-anak kita, perlulah juga memberikan edukasi tentang menjaga diri sendiri dan orang lain saat di tempat umum. Edukasi ini meliputi menjaga diri sendiri dari bahaya, menjaga fasilitas milik umum dan menjaga tata krama di tempat umum. Dan penekanan dari saya adalah, edukasi ini diberikan sejak kecil, perlu contoh baik dari orangtua dan dilakukan secara terus-menerus.

Menjaga diri sendiri untuk menghadapi bahaya, bisa dilakukan terutama saat si anak tidak bersama orangtua. Semisal, saat ditempat umum, menghubungi satpam akan lebih daripada hanya menangis kencang saat terpisah dengan orangtua. Atau, memilih untuk tidak melakukan hal-hal ceroboh yang bisa membahayakan diri sendiri. Dan masih banyak lagi. Namun tetaplah untuk poin ini, orangtua tetap memberikan penjagaan lebih pada anaknya.

Supaya anak tak merusak fasilitas umum, berilah edukasi tentang pentingnya fasilitas tersebut. Bahwa fasilitas itu dipakai bersama, bahwa dia pun suatu saat akan menggunakannya juga. Dan berilah contoh-contoh nyata apabila fasilitas tersebut rusak dan dampaknya bagi masyarakat. Ya, bisa dilakukan dengan melihat langsung di lokasi atau melihat tayangan melalui video atau televisi.

Sedangkan menjaga tata krama di depan orang lain memiliki tujuan supaya anak-anak mampu menjaga perasaan orang lain. Bagaimana sikap yang sopan saat di tempat umum, bagaimana memperlakukan orang yang lebih tua, bagaimana menjaga harga diri sendiri, dan masih banyak lagi. Seperti ibu dua anak yang saya ceritakan tadi, ada baiknya dia lebih peduli pada tata krama anak-anaknya di rumah sakit. Rumah sakit adalah tempatnya orang susah, menumbuhkan empati dengan cara menjaga tata krama, itu adalah hal baik. Bukan malah memukul kepala anaknya sendiri, yang akhirnya ditiru adiknya kemudian membuat orang lain merasa terganggu. Saya yakin kok, jika kedua anak itu ditegur, mereka pasti mau mndengarkan. Buktinya, saat mereka saya tegur, si kakak mau kok menghentikan si adik berlarian dan memangku si adik supaya bisa diam.

Membiasakan untuk menjaga diri sendiri pada anak memang tidak mudah. Bapak saya saja,harus rela meluangkan waktunya untuk mengajak saya dan adik jalan-jalan di lokasi yang 'rawan' untuk mengajari kami bagaimana harus menjaga diri kami sendiri. Karena itu adalah modal bagi saya dan adik saat kami jauh dari orangtua untuk menuntut ilmu.

Marilah bersama teman, menjadi orangtua yang peduli pada anak-anak kita. Saya ingat status mbak Dey, bahwa kehilangan anak sendiri itu rasanya sakit sekali. Terutama jika itu dikarenakan kecerobohan kita sebagai orangtua.

Custom Post Signature

Custom Post  Signature