"Mesin jahit ini berharga, Mas." Rani menyentuh mesin jahit tua peninggalan eyang canggah.
"Ya, berharga," Ucap Arif sambil bergerak perlahan ke arah Rani yang asyik mengayuh pijakan mesin jahit sambil mengulir benang yang berputar. Kaki Arif tinggal beberapa langkah saat Rani menoleh dan terkesiap karena Arif sudah memegang pisau lipat dengan erat.
"Mas, kenapa kamu bawa pisau milik bapak?"
Arif tidak menjawab, malah mengarahkan pisau itu ke Rani. Rani berteriak keras, lari, menabrak apapun yang ada di depannya. Badannya basah oleh keringat yang keluar karena ketakutan.
"Mas, jangan!! Maksudmu apa?! Salahku apa?!"
Arif terus mengejar Rani. Tak satu pun jawaban keluar dari bibirnya. Matanya garang, mulai kalap.
Bruk! Rani tersandung mobil remote milik Dio, anaknya. Saat akan bangkit untuk menghindari tangkapan Arif, Rani tak sanggup berdiri. Kakinya keseleo. Nyeri sekali di pergelangan kaki kanannya. Dia limbung.
"Mas, maksudmu apa?! Sadar, Mas!" Rintihan Rani tak digubris sama sekali oleh Arif. Sekarang dia hanya bisa mundur, menggeret badannya.
"Ingat enggak Ran, tentang kesialan keluarga kita akibat ulah eyang canggah yang rela menumbalkan keturunannya yang menjadi anak pertama?" Arif bertanya, masih dengan langkah mendekati Rani yang telah terhenti di belakang pintu. Rani mengerutkan dahi, tapi tak ayal dia juga mengangguk ketika kakaknya bertanya.
"Aku ingin mengakhiri kesengsaraan kita, Ran."
"Kesengsaraan apa, Mas? Kita baik-baik saja. Usaha konveksi ini maju, cukup untuk keluarga kita."
"Iya, cukup! Tapi usaha ini malah merenggut nyawa bapak dan ibu!" Teriak Arif, membuat Rani semakin ketakutan.
"Mas! Bapak dan ibu meninggal bukan karena jadi tumbal! Tapi karena kecelakaan! Beda dengan pakdhe Umar yang tak jelas sakit apa!"
"Ah, sama saja! Nyatanya bapak ibu mati kan?"
"Lalu, mau Mas apa?"
"Aku enggak mau mati, Ran! Aku enggak mau jadi tumbal buat mesin jahit pertama eyang canggah!"
"Nyebut, Mas! Nyebut! Yang bikin kamu mati itu Gusti Allah, bukan mesin jahit!" Rani berteriak. Arif menutup telinganya dengan kedua tangannya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku maunya kamu yang jadi tumbal, penggantiku!" Arif berteriak. Kali ini sambil mengayunkan pisaunya ke arah Rani.
Cress! Ujung pisau itu menggores lengan Rani. Meskipun berdarah, lengan Rani masih bisa mendorong tangan Arif sehingga pisau pun terpelanting jauh.
"Mas! Sadar Mas! Usaha eyang canggah memang sukses. Dan itu diturunkan ke anak cucunya. Itu usaha beliau sendiri, Mas! Bukan karena mengorbankan kita jadi tumbal! Itu hanya berita miring dari orang yang iri pada beliau!" Rani berteriak, masih berusaha menenangkan kakak satu-satunya.
Namun telinga Arif sudah buntu oleh gelitik setan. Rani yang semakin lemas karena darah yang mengucur deras di lengannya, membuat Arif semakin mudah menjangkaunya. Mencekiknya sekuat tenaga.
Rani terkapar. Arif tertawa.
"Konveksi ini aku saja yang melanjutkan, Ran. Tumbalnya sudah lengkap, lima keturunan." Arif kembali tertawa sambil menggeret jasad Rani ke kebun belakang untuk dikuburkan dekat kolam ikan.
Di balik korden yang memisahkan ruang usaha konveksi dengan ruang tengah, Dio menutup mulutnya rapat-rapat supaya tak ada suara yang keluar dari mulutnya saat menyaksikan ibunya tewas di tangan pamannya. Arif sepertinya salah menghitung. Jika gosip tumbal lima keturunan itu benar, artinya masih ada satu keturunan lagi di bawah dia yang akan menjadikan dia tumbal.
______
*Eyang canggah adalah salah satu istilah pada level keturunan leluhur dalam bahasa jawa. Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat di : http://orgawam.wordpress.com/2012/11/02/10-level-istilah-silsilah/
QUIZ MONDAY FLASHFICTION #2 - Sekilas Sekitarmu














