Blog milik Ria Rochma, blogger Gresik, Jawa Timur. Tulisan tentang parenting, gaya hidup, wisata, kecantikan, dan tips banyak ditulis di sini.

Review Buku : Cerita di Balik Noda

| on
Minggu, April 07, 2013

Judul       : Cerita di Balik Noda: 42 Kisah Inspirasi Jiwa
Penulis     : Fira Basuki
Penerbit    : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit: Januari 2013
Jumlah Hal. : xii + 235 Halaman
ISBN        : 978-979-91-0525-7


Buku "Cerita di Balik Noda" adalah salah satu dari sekian buku yang saya nanti. Karena di berbagai media sosial, promosi buku ini gencar dilakukan. Saya nanti juga karena dari beberapa review teman, buku ini sungguh menginspirasi meskipun katanya penyampaian ceritanya menggunakan bahasa yang sederhana.

Noda yang ditimbulkan dari perilaku anak-anak adalah hal yang wajar di temui oleh para ibu. Noda adalah bukti bahwa si anak mampu belajar tentang hal-hal baru dan belajar untuk mengembangkan pengetahuan yang diperolehnya dengan cara mengaplikasikannnya di kegiatan sehari-hari mereka. Bahkan kadang, beberapa perilaku dari anak-anak kita yang membuat bajunya kotor, menciptakan decak kagum karena ada ketangkasan di dalamnya. Bagi saya pribadi, berani kotor itu baik.

Apa yang saya sampaikan sebagai pembuka, tercantum dalam kisah-kisah para orangtua di dalam buku ini. Terdapat 42 kisah tentang hikmah-hikmah yang diperoleh dari kotornya baju anak-anak mereka. Masing-masing kisah dituturkan dengan bahasa yang sederhana namun mengalir dengan pas saat membacanya. Mungkin karena kisah-kisah ini diceritakan dalam bentuk yang pendek sehingga memunculkan kesan padat, pas dan tidak bertele-tele.

Hanya saja, ada beberapa penulisan yang salah dan terlewatkan pada saat proses editing di penerbit. Yang saya temukan antara lain :

- Pada halaman 3, saat si penulis menuliskan kalimat langsung "Selamat pagi semua!" yang tidak tertulis menjorok ke dalam
- Pada halaman 8, ada yang kurang dalam menuliskan kalimat "Konon dengan mengasuh anak bak anak sendiri". Mungkin seharusnya yang benar adalah, "Konon dengan mengasuh anak orang lain bak anak sendiri."
- Pada halaman 25, terdapat kesulitan penulisan kata "Buaya". Sedangkan seharusnya adalah kata "Buya"
- Pada halaman 45, huruf 'l' pada kata "Lumpur" yang terdapat pada paragraf pertama harusnya tertulis dengan huruf kecil
- Nama Dewi tertulis dengan nama Wulan. Hal ini bagi saya fatal, karena terjadi dari halaman 57-62. Banyak review yang mengatakan bahwa cerita 'Sarung Ayah' ini adalah kisah yang paling menyentuh. Tetapi karena kesalahan yang fatal inilah, membuat cerita ini bagi saya tidak lagi begitu menyentuh.
- Pada halaman 128 terdapat kalimat "Sering juga saat berlarian kesana kemari, dia tertidur di karpet". Mungkin maksud penulis yang benar adalah menuliskan kata setelah, bukan kata saat. Kan tidak mungkin, seseorang melakukan dua kegiatan sekaligus yang sifatnya berlawanan. Lari dan tidur.

Sejauh buku ini selesai saya baca, beberapa hal itulah yang menjadi perhatian saya jika dilihat dari sudut pandang tata cara penulisan.

Dan timbul pertanyaan setelah saya perhatikan cover buku ini. Saya heran pada penulisan nama pengarang di cover buku yang hanya mencantumkan nama FIra Basuki saja. DI buku ini, ada 42 kisah. Fira menuliskan hanya 4 kisah dan 38 kisah lainnya ditulis oleh peserta lomba menulis bertema "Cerita di Balik Noda" yang diadakan oleh Rinso Indonesia melalui facebook. Tetapi, entah kenapa yang di cover buku hanya tercantum nama Fira saja? Kesan yang timbul pertama kali sebelum saya membuka buku ini adalah 42 kisah di buku ini dituliskan oleh Fira seorang. Padahal tidak.

Setahu saya nih, kalau ditulis bersama-sama, maka di cover buku juga dicantumkan nama penulis lainnya. Kalau terlalu banyak, bisa disingkat dengan kata 'dkk'. CMIIW.

Demikian review saya atas buku ini. Sejauh dari beberapa hal yang menjadi perhatian lebih saya atas buku ini, saya mengacungi dua jempol atas kisah-kisah di dalamnya. Benar memang, kisah-kisahnya sungguh menginspirasi, menyentuh dan membuat kita belajar atas banyak hal dalam memperlakukan anak-anak.

Senangnya Ketemu Teman Lama

| on
Sabtu, Maret 30, 2013

Hal yang paling menyenangkan setelah lulus sekolah adalah ketemu teman lama jaman kita sekolah dulu. Iyalah, secara kalau kita udah ketemu, ngobrol ngalur ngidul, seolah waktu itu nggak akan cukup buat hanya bahas apa ajah yang udah terjadi setelah kita lulus. Apalagi ya, kalau rumah teman-teman kita tuh jauh-jauh.


Setelah saya lulus SMA, masih mending masih sering ketemu teman-teman. Soalnya, tiap tahun ada acara halal bihalal dan tiap beberapa tahun sekali ada reuni angkatan dan reuni akbar. Jadinya kita-kita masih semangat '45 buat datang di acara. Beda dengan saat lulus kuliah. Mungkin karena akrabnya sama satu angkatan dan satu fakultas aja kali yah, jadi kalau ada reuni akbar males datangnya. Hihihi..

(Flash Fiction) Prompt Challenge #7 : Nikahkan Aku, Ma, Pa!

| on
Jumat, Maret 29, 2013
credit
Aku harus segera bicara dengan Mama Papa. Harus sekarang! Tidak bisa ditunda lagi!

Kuambil nafas dalam sebelum melangkahkah kakiku ke ruang tengah. Kulihat Mama sedang asyik berbincang dengan adikku, sedangkan Papa menonton acara show kesayangannya.

"Niki, sini Nak. Ngobrol sama Mama yuk." Ajak Mama saat melihatku mendekati mereka. Aku tersenyum, merasa ini adalah awal yang baik untuk menyampaikan maksudku.

"Ng, Pa, Ma, aku mau ngomong sebentar."

Papa menoleh, menatapku. Aku duduk disamping adikku, lalu memandang keluargaku yang tampak sudah siap mendengarkan aku bicara.

"Aku ingin menikah."

Mama kaget, ditunjukkan dari matanya yang melotot. Tapi kulihat papa tenang, meskipun sempat kaget sebentar.

"Mas enggak bercanda? Mas masih kuliah." Adikku tidak percaya dengan keinginanku. Tapi kutatap adikku dengan tatapan mantap, tidak bisa ditawar lagi.

Mama menoleh ke arah papa, meminta bantuan untuk menengahi. Tapi Papa hanya diam.

"Kamu masih kuliah, Nak. Setidaknya selesaikan kuliahmu dulu."

"Aku ingin segera menikah, Ma. Aku sangat ingin segera memiliki gadis pilihanku."

"Siapa gadis itu?"

Aku menyodorkan sebuah foto. Adikku cepat-cepat mengambil foto itu untuk menghilangkan penasarannya. Kemudian dia teriak tidak percaya saat tahu siapa yang ada di foto itu. Mama dan papa cepat-cepat melihat foto yang dilempar adikku.

"Mas ngawur! Itu kan Yuna!"

"Memang."

Mama menutup mulutnya, tak percaya dengan pilihanku.

"Hilangkan halusinasimu!" Papa berteriak sambil beranjak dari duduknya.

"Papa, aku mencintainya! Nikahkan aku dengan dia!"

Kutoleh mama yang matanya sudah berkaca-kaca. Mama hanya menggeleng cepat, kemudian menyusul papa pergi.

"Mas.."

"Aku cinta Yuna, Dik."

"Tapi dia hanya di Final Fantasy, Mas. Cuma di game. Ngaco kamu!" Adikku meninggalkanku. Menginjak foto Yuna yang tergeletak di lantai.


credit

Anak Teman Saya Tertimpa Pagar

| on
Kamis, Maret 28, 2013
credit

Ini kisah rekan kerja saya, sebut saja si S. Beberapa hari yang lalu dia mengajukan ijin tidak bisa jaga ujian sekolah kelas 9 karena anaknya sakit. Saya pikir, ada apa lagi? Belum satu bulan, anaknya yang pertama masuk rumah sakit karena usus buntu. Kabar yang beredar, anaknya tertimpa pagar. MasyaAllah, itu adalah kabar yang mengejutkan karena yang tertimpa adalah anaknya yang ketiga yang usianya masih 2,5 tahun.

Setelah mengunjungi di rumah sakit, S bercerita ke kami, kronologi kejadiannya. Sore itu, S akan mengantar anak pertama dan keduanya pergi mengaji menggunakan motor. Karena dia tidak memiliki pembantu, akhirnya anaknya yang ketiga pun diajak juga. Saat mengeluarkan motor dari garasi, anaknya yang ketiga ini tiba-tiba keluar dari pagar dan bermain dengan teman-teman sebayanya di depan rumah tetangganya. Tanpa dikira, pagar tetangganya yang sudah rapuh, tiba-tiba jatuh mengenai dia! Wajahnya terbentur paving, kepalanya tertimpa pagar. S langsung berlari menyelamatkan anaknya dan diantar para tetangga ke rumah sakit.

Ya Allah, sungguh cerita yang memilukan. Apalagi saat S bercerita kalau anaknya sempat muntah-muntah dan darah mengucur terus dari kepalanya, tidak berhenti-henti. Sampai-sampai anaknya harus dibius di hari pertama di rumah sakit supaya tidak selalu menangis kesakitan.

Ya Allah, hati ibu mana yang tidak menangis melihat anaknya merasakan musibah seperti itu?

Kami sempat menanyakan, kok pagar tetangga bisa sampai mengenai anaknya. S bercerita kalau pagar tetangganya itu memang sudah rapuh dan hampir roboh. Sudah sering diingatkan oleh tetangga yang lain supaya cepat memperbaiki pagarnya karena lokasi tinggalnya banyak anak kecil, tetapi dia tetap menunda-nunda memperbaiki. Hingga kejadian ini. Akhirnya, malam itu juga langsung diperbaiki pagarnya yang sudah roboh tadi.

Begitulah bertetangga. Sering kita dengar kalau kita harus rukun dengan tetangga kita dengan cara menjaga sikap supaya tidak menyinggung perasaan tetangga. Cara itu bisa kita lakukan dengan banyak cara. Salah satunya adalah memperbaiki properti yang kita miliki yang sekiranya sudah rapuh, yang mana properti itu posisinya bersinggungan dengan aktivitas tetangga kita.

Ya.. Supaya kejadian seperti teman saya ini tidak terjadi pada tetangga kita. Supaya hubungan kita dengan tetangga tetap terjaga dengan baik.

(Flash Fiction) Bisnis Bos

| on
Selasa, Maret 26, 2013
credit

"Oke, oke, saya cek nanti."

"Ah, enggak usah terlalu dipikirkan. Asal mulus saja ke depannya, saya oke oke saja kok."

"Baiklah. Saya juga ucapkan terima kasih."

Tut. Kemudian handphone diletakkan di atas meja.

"Sudah ditransfer, Bos."

"Jumlahnya?"

"Sesuai dengan perjanjian, Bos."

"Bagus. Ambil lima persennya buat kamu."

"Terima kasih, Bos."

Keduanya diam. Hanya terdengar suara kriet dari kursi putar yang diduduki si bos.

"Kamu percaya dengan keindahan saling membantu, Man?"

"Percaya, Bos."

"Apalagi aku, Man. Sangat percaya. Bapakku yang mengajarkan sejak kecil tentang membantu orang lain."

Yang dipanggil Man, masih terdiam.

"Bapakku juga yang mengajarkan bagaimana cara-caranya. Dia teliti sekali menjelaskannya. Aku sering tahu, bapakku mampu merinci setiap langkah."

"Ohya, bahkan bapakku ketika membantu orang lain, selalu menuliskan detailnya dengan rinci di agendanya. Jumlahnya pun dia rinci."

"Wow, Bos sampai tahu sejelas itu?"

"Bapakku yang memberitahu. Dan mengajariku lho, Man."

"Pantas saja, Bos lihai dan jeli menyelesaikan semua order."

Si bos tertawa. Lalu sunyi kembali.

"Tapi bapakku tidak mujur."

"Ya, mati di penjara."

"Dan Anda yang melanjutkan bisnis bapak Anda."

"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Istilah itu bener lho, Man. Hahaha.."

Si bos kembali diam setelah tertawa. Man juga ikut diam.

"Bapakku yang memulai bisnis pemalsuan ijasah. Aku yang melebarkan sayap bisnisnya ke arah lain."

"Anda enggak takut nantinya seperti bapak Anda? Berakhir di penjara?"

"Ah Man, jalani saja sekarang. Urusan besok masuk penjara atau enggak, bisa diatur dengan uang."

"Aku ini niatnya bantu orang, Man."

Si bos kembali tertawa. Tapi si Man masih diam.

Tiga Wanita

| on
Jumat, Maret 22, 2013
Saya, Ifa dan HM Zwan

Tiga. 

Ya, kami bertiga. Saya, Ifa dan HM Zwan. Kami berkawan dekat setelah kami melaksanakan PKL (Praktek Kerja Lapangan)di sebuah desa terpencil di kota Ponorogo, Jawa Timur. Kami lulus dari fakultas yang sama, Psikologi.

Kami pernah merajut mimpi. Membayangkan mimpi kami masing-masing. Bercerita tentang mimpi kami masing-masing.

Saya, pernah bercita-cita untuk melanjutkan kuliah saya di program Magister Psikologi. Tapi tampaknya masih belum bisa terwujud. Masih tertunda. Saya suka psikologi, pendidikan dan anak-anak. Dan sekarang saya masih terdampar sebagai guru BK. Meskipun mimpi saya untuk terjun pada pengembangan psikologi anak guna memajukan pendidikan Indonesia, masih tertunda, setidaknya saya masih terjun di dunia pendidikan.

Ifa. Dia paling kritis, paling cerdas, paling berwibawa diantara kami. Dan dia yang berhasil melanjutkan S2 di salah satu universitas pendidikan di Bandung. Sebelum menikah dan terbang ke Bandung, dia kerja di sebuah lembaga terapi anak berkebutuhan khusus. Tampaknya, sejak kuliah, kegiatan seperti ini yang paling dia suka. Terapi. Dan saya banyak belajar dari dia.

HM Zwan. Dia yang paling 'gila' dan nature diantara kami. Pemikirannya yang alami, kadang menjadi penengah pemikiran kami. Sekarang, dia di Batam. Ikut suami dan bekerja menjadi guru BK di salah satu sekolah internasional di Batam. Selalu share pengalama-pengalaman mengajarnya yang menarik melalui blognya dan mengambil banyak hikmah dari seringnya dia pindah tempat kerja. Tampaknya, kesukaannya pada anak-anak menurun dari orang tuanya yang memiliki panti asuhan di kota asalnya, Jombang.

Kami, memiliki kesamaan. Sama-sama suka anak-anak. Sama-sama suka dunia pendidikan. Sama-sama suka psikologi. Dan kesamaan kami inilah yang sering menjadi bahan diskusi saat kami masih belum disibukkan dengan aktifitas kami masing-masing seperti saat ini. Dan kesamaan kami inilah yang mengajarkan kami, bahwa kami harus mewujudkan cita-cita kami yang pernah kami perbincangkan dulu.



***



POSTINGAN PENUH RASA SYUKUR INI UNTUK MEMERIAHKAN SYUKURAN RAME RAME MAMA CALVIN, LITTLE DIJA DAN ACACICU

Custom Post Signature

Custom Post  Signature