Blog milik Ria Rochma, blogger Gresik, Jawa Timur. Tulisan tentang parenting, gaya hidup, wisata, kecantikan, dan tips banyak ditulis di sini.

(Flash Fiction) Bisnis Bos

| on
Selasa, Maret 26, 2013
credit

"Oke, oke, saya cek nanti."

"Ah, enggak usah terlalu dipikirkan. Asal mulus saja ke depannya, saya oke oke saja kok."

"Baiklah. Saya juga ucapkan terima kasih."

Tut. Kemudian handphone diletakkan di atas meja.

"Sudah ditransfer, Bos."

"Jumlahnya?"

"Sesuai dengan perjanjian, Bos."

"Bagus. Ambil lima persennya buat kamu."

"Terima kasih, Bos."

Keduanya diam. Hanya terdengar suara kriet dari kursi putar yang diduduki si bos.

"Kamu percaya dengan keindahan saling membantu, Man?"

"Percaya, Bos."

"Apalagi aku, Man. Sangat percaya. Bapakku yang mengajarkan sejak kecil tentang membantu orang lain."

Yang dipanggil Man, masih terdiam.

"Bapakku juga yang mengajarkan bagaimana cara-caranya. Dia teliti sekali menjelaskannya. Aku sering tahu, bapakku mampu merinci setiap langkah."

"Ohya, bahkan bapakku ketika membantu orang lain, selalu menuliskan detailnya dengan rinci di agendanya. Jumlahnya pun dia rinci."

"Wow, Bos sampai tahu sejelas itu?"

"Bapakku yang memberitahu. Dan mengajariku lho, Man."

"Pantas saja, Bos lihai dan jeli menyelesaikan semua order."

Si bos tertawa. Lalu sunyi kembali.

"Tapi bapakku tidak mujur."

"Ya, mati di penjara."

"Dan Anda yang melanjutkan bisnis bapak Anda."

"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Istilah itu bener lho, Man. Hahaha.."

Si bos kembali diam setelah tertawa. Man juga ikut diam.

"Bapakku yang memulai bisnis pemalsuan ijasah. Aku yang melebarkan sayap bisnisnya ke arah lain."

"Anda enggak takut nantinya seperti bapak Anda? Berakhir di penjara?"

"Ah Man, jalani saja sekarang. Urusan besok masuk penjara atau enggak, bisa diatur dengan uang."

"Aku ini niatnya bantu orang, Man."

Si bos kembali tertawa. Tapi si Man masih diam.

Tiga Wanita

| on
Jumat, Maret 22, 2013
Saya, Ifa dan HM Zwan

Tiga. 

Ya, kami bertiga. Saya, Ifa dan HM Zwan. Kami berkawan dekat setelah kami melaksanakan PKL (Praktek Kerja Lapangan)di sebuah desa terpencil di kota Ponorogo, Jawa Timur. Kami lulus dari fakultas yang sama, Psikologi.

Kami pernah merajut mimpi. Membayangkan mimpi kami masing-masing. Bercerita tentang mimpi kami masing-masing.

Saya, pernah bercita-cita untuk melanjutkan kuliah saya di program Magister Psikologi. Tapi tampaknya masih belum bisa terwujud. Masih tertunda. Saya suka psikologi, pendidikan dan anak-anak. Dan sekarang saya masih terdampar sebagai guru BK. Meskipun mimpi saya untuk terjun pada pengembangan psikologi anak guna memajukan pendidikan Indonesia, masih tertunda, setidaknya saya masih terjun di dunia pendidikan.

Ifa. Dia paling kritis, paling cerdas, paling berwibawa diantara kami. Dan dia yang berhasil melanjutkan S2 di salah satu universitas pendidikan di Bandung. Sebelum menikah dan terbang ke Bandung, dia kerja di sebuah lembaga terapi anak berkebutuhan khusus. Tampaknya, sejak kuliah, kegiatan seperti ini yang paling dia suka. Terapi. Dan saya banyak belajar dari dia.

HM Zwan. Dia yang paling 'gila' dan nature diantara kami. Pemikirannya yang alami, kadang menjadi penengah pemikiran kami. Sekarang, dia di Batam. Ikut suami dan bekerja menjadi guru BK di salah satu sekolah internasional di Batam. Selalu share pengalama-pengalaman mengajarnya yang menarik melalui blognya dan mengambil banyak hikmah dari seringnya dia pindah tempat kerja. Tampaknya, kesukaannya pada anak-anak menurun dari orang tuanya yang memiliki panti asuhan di kota asalnya, Jombang.

Kami, memiliki kesamaan. Sama-sama suka anak-anak. Sama-sama suka dunia pendidikan. Sama-sama suka psikologi. Dan kesamaan kami inilah yang sering menjadi bahan diskusi saat kami masih belum disibukkan dengan aktifitas kami masing-masing seperti saat ini. Dan kesamaan kami inilah yang mengajarkan kami, bahwa kami harus mewujudkan cita-cita kami yang pernah kami perbincangkan dulu.



***



POSTINGAN PENUH RASA SYUKUR INI UNTUK MEMERIAHKAN SYUKURAN RAME RAME MAMA CALVIN, LITTLE DIJA DAN ACACICU

Mengajari Tanggung Jawab Kepada Arya

| on
Selasa, Maret 19, 2013
Arya tuh seneng banget sama yang namanya binatang. Tapi sejauh ini, binatang yang diketahui sama Arya masih sebatas yang ada di sekitar rumah ajah. Kaya kucing, ayam, burung, ikan sama kerbau. Pernah sih diajak jalan-jalan, trus ada perkumpulan pecinta hewan, dia tau yang namanya musang, burung hantu sama ular. Tapi ya karena cuma diajak sekali, sepertinya udah lupa.

Dan kegiatan yang paling Arya senangi adalah memberi makan hewan-hewan tadi. Dan, kalau udah ngasih makan, nggak mau berhenti dianya. Akhirnya, kitanya yang dirumah kudu sabar bangeeettt ngeladeni pengennya dia yang maunya ngasih makan terus *ikan udah melembung perutnya*.

(Flash Fiction) Prompt Challenge #5 : Sengketa

| on
Jumat, Maret 15, 2013
credit

Roni menghempaskan lembaran itu ke lantai. Marni terdiam melihat Roni yang tampak gelisah.

"Tidak, jangan sekarang. Kasihan Ririn jika dia tahu semua ini." Ucapnya pada diri sendiri. Dia tampak mondar-mandir di depan Marni, adik Ririn. Kegelisahan Roni, juga menjadi kegelisahan Marni.

"Tapi kalau kita enggak bilang mbak Ririn, kalau dia tahu dari bajingan itu langsung, apa mbak Ririn enggak semakin kecewa?" Marni mencoba menyampaikan pendapatnya yang langsung dibalas dengan goyangan telapak tangan Roni. Tanda tidak setuju.

"Biar aku saja nanti yang ngomong ke Ririn pelan-pelan. Tapi tidak hari ini." Roni mencoba menenangkan Marni sebelum beranjak menuju keluar rumah. Saat Roni membuka pintu, bersamaan pula Ririn hendak masuk.

Roni tak sanggup menutupi kekagetannya, apalagi Marni. Cepat-cepat Marni mengambil lembaran yang tadi dilempar begitu saja oleh Roni dan menyembunyikannya di balik punggungnya. Keduanya berharap Ririn tidak mendengar percakapan mereka, tapi tampaknya itu mustahil. Karena raut wajah Ririn menunjukkan bahwa dia butuh jawaban.

Dan akhirnya Marni memberikan lembaran itu ke Ririn dengan tangan gemetar.

***

"Tarjo!" Ririn berteriak saat dia sudah sampai di halaman rumah yang besarnya empat kali rumahnya.

"Tarjo, keluar kamu! Sialan! Berani-beraninya kamu berbuat seperti ini!" Teriakan Ririn menjadi-jadi, membuat napasnya tersengal-sengal. Dibelakangnya ada Marni yang sedang menuntun Roni.

Tak lama, seorang laki-laki pendek berperut tambun keluar dari dalam rumah. Senyumnya mengambang sangat lebar.

"Sialan kamu Tarjo! Aku sudah bilang kalau aku akan melunasi cicilan rumah ibuku minggu depan! Tapi kenapa kamu malah mau mengambilnya sekarang?" Marni masih berbicara dengan nada tinggi.

"Hm, sebentar, Ririn. Kalau dihitung-hitung, hari ini adalah tenggat waktu terakhir pelunasan di bank. Waktu seminggu itu, hanya kelonggaran yang aku berikan untukmu."

Ririn naik pitam. Mencaci maki Tarjo dengan kata-kata yang kasar. Semakin Ririn marah, semakin keras tawa Tarjo.

"Ririn, Ririn. Itu salah ibumu, kenapa mau-maunya menerima usulku supaya aku yang melunasi cicilan rumahnya." Tarjo berkilah sambil menghisap rokok yang sedari tadi tidak juga habis terbakar asap karena tidak dihisap dalam-dalam.

"Lalu, kami bagaimana? Berilah kami kesempatan." Kali ini Ririn melunak, memohon keringanan pada Tarjo akan nasib mereka bertiga.

"Aku sudah beri kesempatan enam tahun lalu saat ibumu yang kaya itu meninggal. Manfaatkan si pincang itu saja!" Tarjo tertawa kencang sambil menunjuk Roni yang masih dipapah Marni.

"Tapi kamu suami ibuku, ayahku!" Ririn berteriak. Hampir saja dia berlari ke arah Tarjo untuk memukulnya, tapi urung karena Tarjo mendekati dia.

"Kalau aku suami ibumu, itu benar. Tapi kalau aku ayahmu, oh, itu salah besar. Sejak kamu lahir, aku tahu kalau kamu adalah anak Roni, si pincang yang pernah ditolong ibumu 22 tahun silam." Tarjo berucap sambil memegang dagu Ririn, lalu menghentakkanya. Meninggalkan mereka.

Ririn terdiam mendengar ucapan Tarjo. Membenarkannya. Dia tahu tentang itu saat ibunya berbicara dengan Roni sebelum meninggal.

Pijat Refleksi Yuk

| on
Kamis, Maret 14, 2013
credit


Jadi ibu itu kan capek sekali ya.. Setuju kan buibu sekalian? Saya neh ya, meskipun paginya nggak ngasuh si Arya karena saya mengajar, dan si Arya diasuh sama neneknya, dan baru bener-bener intens ngasuh si Arya dari sepulang ngajar sampai mau besoknya sebelum berangkat kerja, tapi rasa capek itu kerasa banget lho.

Apalagi sekarang Arya lagi kelebihan energi yang bisa bikin dia seharian riwa-riwi melulu kaya setrika *kecuali kalau dia lagi tidur*.

Saat Selamat Terlepas

| on
Senin, Maret 11, 2013


Malam lalu, terasa sebuah sentuhan lembut di kakiku. Membangunkanku. Terasa dingin ketika tersentuh di tepian kulitku, pahamu yang terbungkus gips memanjang sampai tumit. Rintihan teralun. Gesekan kecil antara ujung kukumu yang menghitam karena oli pabrik dan kulitmu yang merantak karena panas, menciptakan garis-garis putih penanda garukan.

Gatal, katamu.

Custom Post Signature

Custom Post  Signature