Blog milik Ria Rochma, blogger Gresik, Jawa Timur. Tulisan tentang parenting, gaya hidup, wisata, kecantikan, dan tips banyak ditulis di sini.

(Flash Fiction) Fenina

| on
Senin, Maret 11, 2013


Dear Fenina,

“Kurang ajar, dia sudah berani memanggil namaku tanpa embel apa-apa.” Umpatku dalam hati. Tapi tetap saja aku lanjutkan membaca isi surat yang tadi pagi dia selipkan di tanganku saat kami berpapasan.

Sungguh aku sayang padamu.
Tak ada yang bisa aku ucapkan lagi selain ini. Ribuan kali, pasti aku ucap. Meskipun selalu kamu menolakku, tapi tetap, wajah ketusmu itu kurindukan.
Tak ada pinta lain untukmu, selain maukah kamu jadi kekasihku?

Kuakhiri membaca surat itu. Kulempar begitu saja di atas meja kerjaku. Itu sudah surat kedelapan yang aku terima darinya selama aku mengenalnya 4 tahun ini. Tapi tetap, tak mungkin aku terima cintanya. Cinta yang salah.

Aku 40 tahun, dia 27 tahun. Aku ibu tirinya, dia anak tiriku. Aku Fenina, dia Della.

____

Tulisan ini diikutkan dalam event #postcard fiction edisi valentine yang diadakan oleh Kampung Fiksi

Hari Bersamamu

| on
Senin, Maret 11, 2013


Bersamamu, sungguh berbeda.
Menghimpun segala serpihan cita masa depan.
Bersama.
Semoga badan yang semakin menua ini selalu mampu menikahimu dalam waktu yang tak bisa tertafsir ujungnya.

Menemanimu, sungguh berbeda.
Merasakan candamu yang terlempar spontan,
Menerima usilmu dengan mata terbelalak,
Menelan marahmu bersama tangis yang terhempas lepas.
Serasa mewarnai dinding hati dengan gabungan warna yang tersedia di kaleng cat bernama emosi.

Lampu Bohlam #2 - Pohon

| on
Minggu, Maret 10, 2013
Entah, ini ukiran siapa. Senyum terbentuk di pohon melinjo milik tetangga belakang rumah. 

Ah, pohon saja bisa tersenyum. Apalagi kita yang manusia, yang memiliki banyak otot di wajah.
Mari tersenyum, teman ^_^




Cobalah Berempati Pada Rasa Cepek Seorang Ibu

| on
Sabtu, Maret 09, 2013


credit


Postingan ini sebagai bentuk kekesalan saya terhadap ucapan seorang rekan kerja beberapa hari yang lalu *udah lewat kali*, yang tanpa dia sadari sudah menyinggung saya.

Dimulai dari pertanyaan dia tentang umur dan jenis kelamin anak saya. Kemudian ketika dia tanya anak saya sudah bisa apa, saya jawab dengan semangat kalau sudah bisa lari. Jadinya, saya sebagai ibunya sedikit ngos-ngosan kalau ngejar dia.

Dengan santai dan tertawa mengejek *ups, saya tahu raut wajah mengejek itu seperti apa*, dia bilang, "Halah, orang bukan kamu yang ngasuh."

(Flash Fiction) Prompt Challenge #4 : Bayu si Pembuat Ulah

| on
Kamis, Maret 07, 2013


credit


Memiliki saudara adalah hal yang paling menyenangkan. Mungkin aku pun seperti itu andaikan saudaraku itu bukan Bayu. Dia semenjak kecil selalu saja berbuat yang diluar akal sehat. Bukan, bukan hal mistis maksudku dari 'diluar akal sehat'. Tapi bagiku, itu tidak wajar jika dilakukan oleh anak seumuran dia.

Pernah, pada saat dia kelas satu SMP, dalam seminggu dia memecahkan kaca kelas di sekolah dengan paving yang dia congkel sendiri di halaman sekolah. Masalahnya? Sepele. Diejek. Ah, bukankah saling ejek-mengejek itu menyenangkan untuk remaja? Tampaknya ya, Bayu tidak bisa menerima salah satu aktivitas remaja ini.

[Berani Cerita #1] Rumah Tua Di Ujung Gang

| on
Selasa, Maret 05, 2013


Sesaat ketika aku akan melangkah keluar dari rumah tua yang sangat menyeramkan ini, aku mendengar suara derik dari pintu yang terbuka. Aku menoleh. Berusaha mengamati dalam kegelapan dengan memincingkan mataku untuk memastikan paklek Man ada di sana.

Tapi tak kulihat ada siapa-siapa di sana.

Dengan ragu, kuputuskan untuk memeriksa saja siapa yang membuka pintu kamar itu, yang lokasinya berdekatan dengan ruang makan. Syukur-syukur kalau pintu tadi terkena angin atau yang menggerakkan pintu itu benar-benar adalah paklek Man. Senter yang kupegang, mulai redup pelan-pelan karena, payahnya, aku lupa mengganti baterainya sebelum melakukan petualangan menyeramkan ini bersama paklek Man.

Custom Post Signature

Custom Post  Signature